
Pov Arfan
Setelah menyelesaikan pekerjaanku, dengan cepat aku pun merapikan alat-alat kebersihan ke dalam gudang. kemudian berjalan menuju ke ruangan Karla, karena menurut Mukti karyawan cleaning service, hanya kerja setengah hari tergantung sipnya.
Truk! truk! truk!
Setibanya di depan pintu, dengan cepat aku pun mengetuk pintu ruangan supervisor ku.
"Masuk!" seru suara wanita dari dalam.
Aku pun mendorong pintu itu, kemudian masuk ke dalam. terlihat Karla yang sedang mengecek beberapa kerjaannya.
"Siang! maaf mengganggu, Bu!" ujarku sambil manggut memberi penghormatan.
"Silakan duduk!" seru Karla.
"Terima kasih!"
"Ada keperluan apa?" tanya Karla sambil menyimpan kertas yang ada di tangannya.
"Itu, menurut Mukti. setelah pekerjaan saya selesai, sebagian karyawan boleh pulang! dan sebagiannya Lagi harus stand by di sini. Terus saya masuk ke ship yang mana?" Aku bertanya sambil menatap supervisorku.
"Oh begitu! Jadi kamu mau tahu, apa kamu boleh pulang atau enggak?" tanyanya setelah mendengar pertanyaanku.
"Iya begitu!"
Karla pun memainkan jemarinya di atas dagu, seolah Lagi berpikir, dengan keputusan apa yang hendak ia ambil.
"Kamu bisa jaga rahasia?" tanya Karla membuatku sedikit menatap heran ke arahnya. karena pertanyaan itu, tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku sekarang.
"Maaf! Maksudnya bagaimana bu?"
"Kalau kamu bisa jaga rahasia! Saya ingin meminta pendapat kamu." ujar Karla mengutarakan maksudnya.
"Boleh! pendapat apa yang Ibu minta?"
Karla pun mulai bercerita tentang kejadian yang menimpa salah satu karyawannya, yang dihamili oleh supervisor yang sudah dipenjara. Supervisor yang hendak merenggut kesucian wanita aneh yang sedang bercerita di hadapanku.
"Kira-kira! bagaimana caranya, agar aku bisa menolong Ratna." tanya Karla setelah selesai bercerita yang membuatku semakin merasa aneh dengan sikap wanita ini. tadi pagi dia marah-marah karena difitnah oleh wanita yang bernama Ratna, namun sekarang dengan semangat ingin membantu, orang yang telah menghinanya memfitnahnya.
__ADS_1
"Ya gampang! seperti yang tadi ibu ceritakan, kuncinya ada di Mukti. dianya mau, apa nggak menyelamatkan orang yang dia sayangi." saranku yang Terdengar agak tega, karena harus mengorbankan seseorang untuk mempertanggungjawabkan kesalahan orang lain.
"Apa kita nggak tega, kalau melakukan hal seperti itu." tanya karla yang sepemikiran.
"Tega atau enggaknya, itu tergantung Tanggapan orang. yang terpenting kita berusaha terlebih dahulu, masalah hasil atau enggaknya, itu urusan belakangan."
"Tapi kalau langsung kita menyuruh Mukti untuk menikahi Ratna, itu sangat tega! sangat tidak ada attitude, masa kita harus menyuruh menikah. orang lain yang berbuat, dia yang harus bertanggung jawab!" kekhawatiran Karla sama seperti yang tadi aku pikirkan.
"Ya! jangan langsung disuruh Menikah, lah! kita cari tahu terlebih dahulu. Apakah dia bersedia, atau bisa menerima. ketika ada orang yang sangat ia cintai, sudah memiliki hasil perbuatan terlarangnya dari pria lain."
"Caranya?" Tanya Karla sambil mengerutkan dahi.
"Ibu bisa serahkan itu semua terhadapku, itu masalah gampang. ibu tinggal duduk manis menunggu hasilnya, tapi jangan lupa gajiku dinaikkan." ujarku sedikit bercanda.
"Ya sudah! jangan buang-buang waktu, sekarang kamu cepat temui Mukti, agar aku bisa cepat memberi keputusan kepada Ratna. Dan kita bisa menentukan dengan cara apa menolong wanita itu." seru karla mengusirku.
"Kok gitu! habis manis sepah dibuang, aku kan masih pengen ngobrol dengan kamu."
"Udah buruan sana! aku masih banyak pekerjaan." Usir karla sambil membulatkan mata.
"Terus urusanku yang tadi bagaimana?" tanyaku mengulang kembali ke permasalahanku.
"Siap, laksanakan!" aku pun menyanggupi, kemudian berpamitan meninggalkan ruangan supervisor.
Setelah berada di luar, aku pun berjalan menyusuri koridor mencari keberadaan Mukti. setelah bertanya kepada beberapa karyawan cleaning service. akhirnya aku mengetahui bahwa Mukti sedang beristirahat.
Setelah mendapat keterangan, akupun berjalan Kembali menuju ruangan yang biasa dijadikan tempat beristirahat para karyawan cleaning service.
"Mukti!" sapaku setelah melihat seorang pria yang sedang duduk menyandar ke tembok.
"Eh kamu, Fan! bagaimana sudah mendapat kejelasan apa belum, tentang shipnya?" tanya Mukti sambil membenarkan posisi duduknya.
"Belum! Tapi Sekarang aku boleh pulang. nantiĀ Bu karla akam melihat formasinya terlebih dahulu, takut ketika aku kerja longship, tidak ada senior di dalamnya."
"Oh begitu! Iya sih, kasihan kalau longship diisi oleh karyawan yang baru-baru. nanti mereka tidak mengerti dengan apa yang harus mereka kerjakan."
"Oh ya! boleh duduk. Sebelum pulang aku mau beristirahat terlebih dahulu."
"Boleh, mumpung aku juga waktunya istirahat." jawab Mukti mempersilahkan.
__ADS_1
Aku pun duduk di samping Mukti, kemudian aku mengajaknya terus mengobrol ,agar dia semakin nyaman berbicara dan kita semakin akrab. Seperti seorang penghipnotis yang sedang membuat nyaman korbannya.
Obrolan itu mulai dari tempat tinggal, keseharian, keluarga, hobi dan lain-lainnya. sampai akhirnya tiba di pembahasan masalah calon pasangan hidup atau pacar.
"Oh iya! Bagaimana kalau kamu sangat mencintai seorang wanita, namun wanita yang kamu cintai, kamu kagumi Dia sudah mengandung dari hasil perbuatannya, dengan laki-laki lain. namun lelaki yang menghamili wanita pujaanmu dia tidak mau bertanggung jawab, malah pergi meninggalkannya. Hanya meninggalkan jejak kenikmatan di perempuan yang kamu kagumi?" Tanyaku dengan hati-hati takut keceplosan.
"Aku sebagai manusia biasa, yang tidak lepas dari kesalahan, aku akan tetap menerima wanita itu, ketika dia mau berubah dan menyayangiku seperti aku menyayangi dirinya."
"Terus anaknya?"
"Kita urus! Lagian Anak itu tidak berdosa, yang berdosa itu adalah orang tuanya, yang tidak kuat menahan nafsu."
"So! sweet banget, siiiiih! kamu. Kalau aku perempuan aku mau jadi pendampingmu Mas. ujarku sambil menopang kedua dagu ku dengan kedua tangan, menirukan artis-artis yang suka ada dalam drama.
"Iya harus, Dong! lagian kita tidak bisa memilih kehidupan, Apa yang harus kita jalani. kita hanyalah wayang yang terus mengikuti alur cerita yang dibuat dalangnya. Oh iya! kalau kamu bagaimana tentang percintaanmu. kayaknya umur kita agak beda jauh ya!" tanya Mukti sekarang giliran dia yang balik bertanya.
"Belum, Aku sekarang lagi mengagumi seseorang. namun perbedaan yang sangat mencolok, sehingga aku hanya bisa menjadi pengagum rahasianya." ujarku sedikit mengarang cerita.
"Sama dong! aku juga seperti itu, wanita itu tidak pernah menerima cintaku, meski beberapa kali aku utarakan. namun walaupun begitu, Aku tidak menyerah dengan keputusannya. aku terus berusaha dan berdoa agar suatu saat wanita itu bisa datang ke pelukanku." Timpal Mukti, tatapannya yang kosong menyimpulkan betapa Dia sangat mengagumi sama wanita yang ia ceritakan.
Akhirnya kita pun mengobrol masalah perempuan, dengan banyak bercerita yang kita alami. dan sedikitpun Mukti tidak curiga, bahwa aku sedang mengetes sejauh mana dia akan menerima orang yang ia Puja, dengan segala kekurangannya.
"Kalian malah asik ngobrol! bukannya bekerja." ujar seorang wanita yang berdiri menatap ke arah kita berdua.
"Kan lagi istirahat dulu Bu!" Jawab Mukti.
"Oh begitu! ikut gabung dong! aku punya makanan nih." ujar Karla sambil tersenyum kemudian menunjukkan plastik yang ada di tangannya.
"Boleh, ayo gabung sini! Emangnya ibu gak malu bergabung dengan karyawan?" tanya Mukti.
"Apaan sih! Sudahlah jangan ngebahas itu, walau Bagaimanapun aku sekarang, Aku tetaplah Karla yang dulu. yang selalu akan menjadi teman siapa saja." Jawab Karla sambil duduk setara denganku dan Mukti, yang duduk di atas lantai. kemudian dia membuka plastik yang ia bawa, ternyata isi di dalamnya adalah cilok.
"Kamu sudah sebesar ini, masih jajan beginian? eh, Maaf! Ibu." ucapku sambil menutup mulut karena keceplosan memanggil Karla dengan sebutan kamu.
"Jaga bicaramu! nanti aku bisa pecat kamu. anak baru Sombongnya minta ampun." ujar Karla mendengus kesal, namun diakhiri dengan tersenyum. Menunjukkan apa yang dilakukannya hanyalah bercanda.
"Emang kalian berdua sudah lama berteman?" tanya Mukti, sambil menatap ke arah kita berdua.
"Iya, tapi baru sekarang akrab lagi, karena dulu dia sangat sombong." jawab karla seperti biasa dia akan menyudutkanku, Padahal aku dan dia hanya baru kenal beberapa minggu.
__ADS_1