
Pov Arfan
"Tapi bagaimana, Apa benar yang baru saja aku alami itu benar-benar kenyataannya seperti itu?" Aku bertanya sambil menatap ke arah asistenku.
"Untuk menjawabnya! kita harus menemui Ari."
Merasa tidak mendapatkan titik temu dari permasalahan yang aku alami, akhirnya aku setuju dengan saran Dali. "kamu tahu rumahnya di mana?"
"Tahu Pak! Kebetulan saya pernah main ke rumahnya."
"Ya sudah ayo antar saya ke sana!"
"Pakai motor nggak apa-apa?"
"Jalan kaki aja saya siap!" jawabku sambil bangkit tak mau membuang waktu.
Akhirnya kita berdua pun berpamitan sama para karyawan yang belum pulang. kemudian menuju parkiran di mana motor Dali terparkir. setelah berada di parkiran asistenku memberikan helm. Kebetulan dia membawa helm cadangan, dia mulai menyalakan motornya. setelah aku naik Dali mulai menarik tuas motornya pergi meninggalkan restoran.
Motor yang dikendarai terus melaju membelah kemacetan, di mana jam-jam sore hari adalah waktunya bergelut dengan penyakit Kota Jakarta. dengan penuh perjuangan akhirnya motor itu berbelok ke salah satu gang perkampungan, Dali terus memacu motornya melewati gang yang berbelok-belok dan sangat sempit. hingga akhirnya motor itu terhenti disalah satu rumah tua, namun terlihat rapi.
"Ini rumahnya?" Tanyaku sambil melepas helm
"Iya pak! Ini rumahnya!" jawab Dali sambil turun dari motornya.
Tanpa pikir panjang aku dan Dali mendekat ke arah pintu rumah, kemudian mengucapkan salam. Tak menunggu berapa lama akhirnya pintu rumah itu terbuka, terlihatlah seorang perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu.
"Mau ngapain kalian datang ke sini, apa kalian belum puas dengan apa yang Bos kalian lakukan terhadap anak saya?" ujar wanita itu membuat aku dan Dali saling menatap penuh keheranan.
"Maaf Bu Maksudnya bagaimana?" tanya Dali karena mungkin mereka sudah saling mengenal.
"Mental anak saya terganggu itu gara-gara perbuatan Bos kalian!" jelas ibu Ari membuat aku semakin tak paham.
"Kok bisa?" tanya Dali sambil mengerutkan wajah.
__ADS_1
"Halah! kalian jangan pura-pura nggak tahu. kalian mau ngapain ke sini?"
"Maaf Bu! saya sudah hampir 8 bulan tidak bekerja di perusahaan Erni group, tempat Ari bekerja. Jadi Saya tidak paham dengan apa yang terjadi kepada anak Ibu. saya datang ke sini karena mendengar kabar bahwa anak ibu sakit dan mengundurkan diri dari perusahaan. Kebetulan saya dengan pemilik perusahaan yang lama mau mendirikan perusahaan baru. tadinya kami berencana mengajak anak ibu untuk bergabung." ujar Dali menjelaskan kedatangannya.
"Arfan Bu!" aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan Ibu Ari, namun dengan segera beliau menepis uluran tanganku.
"Sari! Nggak boleh seperti itu, tangan Ibu kotor!" tolaknya.
"Maaf kalau kedatangan kita berdua mengganggu ketentraman Ibu, namun ibu harus yakin kita berdua tidak ada niat jahat." jelasku memberi pengertian.
"Apa benar, ini Pak Arfan pemilik perusahaan yang dulu. soalnya Ari sering bercerita tentang bapak, dia sangat mengagumi Pak Arfan yang begitu bijak dalam menyikapi masalah. tapi entah mengapa tiba-tiba Bapak pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tahu-tahu istri bapak sudah melangsungkan lamaran dengan pria lain." Ujar Ibu Sari menjelaskan pengetahuannya tentangku.
"Benar saya Arfan, bu! namun Maaf sebelumnya kalau saya saya tidak bertanggung jawab atas semua yang menimpa terhadap semua karyawan saya. karena ada masalah yang tidak bisa saya ceritakan, Sekali lagi saya mohon maaf!" Jawabku yang merasa bersalah melepaskan tanggung jawabku sebagai seorang pemimpin.
"Terus maksud kedatangan Pak Arfan ke sini mau apa?" tanya ibunya Ari yang sudah sedikit melunak.
"Saya datang ke sini. pertama, mau menjenguk karena mendengar bahwa anak Ibu sedang sakit. yang kedua, Saya mau mengajak ari bergabung dalam perusahaan baru saya. kebetulan perusahaan yang dulu Sudah dialih namakan atas nama Erni."
Namun setelah mendengar nama Erni disebut, tiba-tiba raut wajah Sari berubah seketika, seperti orang yang sedang menghadapi masalah yang sangat berat. "Maaf Bu, kalau kedatangan saya dan Pak Dali mengganggu kenyamanan Ibu sekeluarga." Lanjutku menjelaskan.
"Ari kenapa? Ari sakit apa!" Tanyaku walaupun sudah mengerti namun aku ingin mendapat informasi yang lebih jelas.
"Ayo masuk dulu! nanti Ibu ceritakan detailnya seperti apa." Ajak Ibu Ari mempersilahkan.
Akhirnya aku dan Dali pun masuk ke dalam rumah yang berukuran 6 kali 8 meter, mengikuti Ibu Sari. Setelah berada di dalam ruangan dengan cepat Sari Pun menggelar karpet sebagai alas duduk.
"ira! Tolong ambilkan minum buat tamu kita." Pinta ibu Ari menyeru anak perempuannya yang duduk di ruang tv.
Gadis remaja yang disuruh mengangguk, kemudian dia bangkit menuju dapur, tak lama dia pun kembali sambil membawa dua gelas air untuk dihidangkan. "Silakan diminum Pak!"
"Terima kasih!" ujar Dali.
"Sama-sama!" jawab Ira kemudian dia pun bangkit lalu melanjutkan aktivitasnya yang sedang menonton TV.
__ADS_1
"Maaf kalau penyambutannya kurang baik, karena beginilah keadaan rumah saya yang berantakan." ujar Ibu Sari mengawali pembicaraan dengan berbasa basi.
"Nggak apa-apa bu! saya sangat berterima kasih, karena sudah diperkenankan masuk ke rumah ibu." Jawabku sambil mengulum senyum, menghormati penyambutan tuan rumah.
"Ibu yang seharusnya berterima kasih. karena Pak Arfan sudah berkenan menjenguk anak saya."
"Sebelumnya saya mohon maaf Bu, kenapa Ari bisa seperti ini?" Tanyaku kembali ke pokok permasalahan.
"Dua minggu yang lalu, anak saya pulang dari kantor agak telat. Saya tidak bertanya karena itu sudah menjadi kebiasaannya, ketika ada pekerjaan yang harus membuatnya lembur. namun ada sesuatu yang membuat saya merasa heran dengan perubahan sikapnya. yang biasanya dia sangat supel dan rame, tiba-tiba menjadi pendiam. keanehan itu terus berlanjut karena Keesokan paginya, biasanya dia selalu semangat ketika mau berangkat kerja. Pagi itu dia malah mengurung diri di kamarnya. Saya yang merasa penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang masalah apa yang menimpanya. awalnya dia tidak mau bercerita. namun setelah saya paksa dia menceritakan bahwa dia dilecehkan oleh pemimpin perusahaannya. saya kira orang yang melecehkannya itu adalah seorang laki-laki, karena Setahu saya pemimpin perusahaan itu adalah Pak Arfan. Namun ternyata yang melecehkannya adalah seorang wanita yang bernama Erni. Saya tidak tahu Erni itu siapa, karena dia tidak pernah menceritakan Lebih Detail wanita itu." Ibu Sari menjelaskan kronologi yang menimpa anaknya
"Kenapa Ibu tidak membuat laporan, atas kejahatan yang dilakukan oleh wanita yang bernama Erni?"
"Saya sudah berniat melaporkan hal itu, namun setelah berbicara dengan Ari, dia melarang. karena apa yang menimpanya adalah satu hal yang memalukan, dia gak berani untuk menanggung rasa malu yang akan menimpanya. Dan dari semenjak kejadian itu dia lebih sering mengurung diri di kamar, tanpa mau diajak berbicara oleh siapapun." lanjut Sari menerangkan kondisi anaknya.
"Apa aja yang sudah ibu lakukan untuk menolongnya?"
"Saya pernah mendatangi kantor tempat dia bekerja, untuk meminta pertanggungjawaban terhadap wanita yang sudah melecehkan anak saya. namun sebelum saya bertemu dengan wanita yang bernama Erni, saya bertemu dengan satpam yang bernama Wardi. Dari situ saya menceritakan semua yang menimpa anak saya sehingga Dia memberikan saran agar saya menghentikan niat meminta pertanggungjawaban terhadap bosnya. karena wanita yang bernama Erni itu, sangat kejam. bisa-bisa bukan Ari saja yang dilukai, namun keluarga saya akan menjadi sasaran kemarahannya. melihat dari keseriusan pembicaraan pak Wardi, saya merasa ngeri hingga akhirnya mengikuti semua saran satpam itu. Tidak meneruskan niat untuk mendatangi Erni." jelas Ibu Sari.
Mendengar penuturannya, aku menghela nafas kasar, tidak menyangka Erni bisa berbuat seberutal itu, bahkan sudah melewati batas kewajarannya sebagai seorang perempuan.
"Terus apa sudah membawa Ari ke psikiater?" Tanya Dali yang sejak dari tadi diam menyimak.
"Maaf anak saya tidak gil4! namun trauma." jelas sari yang terlihat tidak terima.
"Mohon maaf Bu! ke psikiater bukan untuk penyembuhan ODGJ. namun untuk mengembalikan kepercayaan diri atas trauma yang menimpa Pasien itu." Jelas Dali meluruskan.
"Saya kurang paham pak! saya juga sudah bingung harus mengobatinya seperti apa."
"Boleh saya bertemu dengan Ari?" Tanyaku yang merasa penasaran dengan kondisi karyawanku.
"Boleh tapi saya tanya dulu sama orangnya! takut dia berbuat yang aneh-aneh. karena selain mengurung diri, Dia juga sering berteriak-teriak." Jawab Sari.
"Terima kasih Bu"
__ADS_1
Akhirnya Ibu Sari Pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menuju salah satu kamar, lalu masuk ke dalamnya. tak terdengar Apa yang dibicarakan karena pintu kamar itu ditutup kembali. tinggallah aku dan Dali yang saling menatap.
"Diminum Airnya Pak!" tawar ira.