
POV FARID
Penyesalan-penyesalan mulai keluar dari khayalan itu, kenapa dulu aku berbuat bodoh dengan tidur bersama istri sahabatku. harusnya akulah yang menjaga keutuhan rumah tangga mereka. kalau kejadian itu tidak terjadi, mungkin sekarang aku masih bisa menikmati hidupku dengan penuh kebahagiaan, penuh kecukupan, tanpa harus ngemis-ngemis untuk mendapatkan uang yang hanya berjumlah Rp100.000.
Namun sayang, penyesalan hanyalah tinggal penyesalan. kejadian yang lalu tidak bisa terulang lagi kejadian yang akan datang, aku belum tahu seperti apa. hingga terasa kepalaku mengenut tak mampu memikirkan kejadian itu, tetesan cairan bening mulai mengalir membasahi pipi, dikarenakan aku tidak mampu menemukan solusi untuk memperbaiki jalan hidupku.
Dengan cepat aku susut cairan yang keluar dari mata, agar tidak ada orang yang mengetahui. aku mulai meminum kembali kopi yang tinggal seperempat gelas lagi. aku habiskan kopi itu sampai tak tersisa, karena kopi itu aku dapat beli bukan dapat minta. kemudian aku bangkit dari tempat duduk untuk melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar dari masalah yang sedang aku hadapi. namun sebelum beranjak aku memindai area sekitar, terlihat dari arah ujung trotoar, ada seseorang yang aku sangat mengenalnya.
Di ujung trotoar itu sebenarnya dua wanita yang menggunakan baju terusan, berwarna hitam bergaris merah dengan panjang sepah4, mataku terbelalak kaget karena setelah aku perhatikan dua orang itu, salah satunya adalah Vina istriku.
Aku yang tadinya hendak meninggalkan tempat kios penjual kopi. dengan segera menundukkan kembali lalu memperhatikan Istriku yang sedang bekerja. terlihat di tangannya ada dua slop rokok yang hendak dia tawarkan. Vina terus mendatangi para penjual yang berjualan di sekitar trotoar, sambil terus menawarkan barang jualannya. hatiku merasa teriris ketika melihat perjuangan istriku seperti itu, harusnya akulah yang berjuang mati-matian untuk membahagiakannya.
Vina terus berjalan dari kios satu ke kios lain, dari penjual yang satu ke penjual yang lain, sambil terus menawarkan rok0k yang ada di tangannya. ketika dia sampai ketempat kios kopi yang tak berada jauh denganku, dia mulai menawarkan rok0knya kembali kepada para pemuda yang sedang duduk mengobrol dengan teman-temannya.
Vina belum mengetahui kalau aku sedang memantaunya, karena dia terus terfokus menawarkan jualannya.
"Kakak suka merok0k?" tanya Vina sambil tersenyum layaknya SPG yang sudah profesional.
"Suka, nih lagi ngerokok! Apalagi kalau di Rok0k juga suka hehehe," jawab seseorang yang terlihat agak tua, sambil mengulum senyum, matanya yang jelelatan menatap ke arah pah4 vina yang tak tertutup dengan sempurna.
"Tapi kalau di rok0k yang keluar bukan asap ya, tapi cairan kental gitu," jawab Vina yang terlihat menyahuti.
"Hehehe, iya benar....! kok kamu pintar sih!" jawab pria itu sambil tetap mengulum senyum, namun berbeda denganku yang sudah mengancingkan gigi.
"Cobain rok0k baru, rok0k racing yang bisa membuat hari para kakak-kakak sangat menyenangkan," ujar Vina sambil menunjukkan bungkusan rok0k yang ada di tangannya.
"Sebungkus berapa?" Tanya pria itu yang terlihat mulai penasaran.
__ADS_1
"Rp15.000 aja kak ! murah banget kan, ayo di beli kak mumpung lagi promosi."
"Bagaimana kalau saya borong semuanya, tapi adek tolong rok0k punya saya," pinta pria itu semakin berani.
"Beli dulu rok0knya Kak, baru ngomong yang lain," jawab Vina sambil mengulum senyum.
"Gampang......! kalau adek mau, kakak akan kasih lebih, bukan hanya membeli rok0k tapi Kakak akan memberikan kenikmatan yang tak kalah jauh nikmat dari sebatang rok0k, dan kakak akan membayar lebih dari harga rok0k yang adek tawarkan," ujar pria itu semakin berani, disambut gelak tawa teman-temannya yang sedang nongkrong di Warkop itu.
Vina pun mengambil satu bungkus rok0k dari selopnya, kemudian menyerahkan ke pria itu. namun pria yang tadi menggodanya, bukan mengambil rok0k yang diulurkan malah dia mengambil tangan Vina, lalu mengelusnya dengan lembut. Membuat mata Vina terbelalak kaget mendapat sentuhan yang kurang ajar seperti itu, dengan cepat istriku menarik kembali tangannya yang terulur.
"Bapak jangan kurang ajar, Kalau bapak tidak mau membeli rok0k, Bapak nggak usah merendahkan kami." ujar teman Vina membentak pria yang tidak terlalu tua, mungkin umurnya 3 tahun di atasku.
"Emang rendahan kok, kalau kalian tidak rendahan ngapain kalian berpakaian seperti ini," jawab laki-laki itu tidak terima dibentak oleh seorang wanita.
"Kita cari tempat yang lain aja!" ajak teman Vina sambil menarik tangan istriku.
"Ayo kita cari penginapan, aku akan kasih segini..! daripada kamu harus capek-capek berpanas-panasan mencari uang yang hanya menghasilkan beberapa ribu rupiah saja," tahan pria itu sambil mengeluarkan uang dari kantong celananya berapa lembar uang berwarna merah.
"Mendingan kami bersusah payah mencari rezeki yang halal seperti ini, daripada harus melayani laki-laki yang tidak tahu malu, laki-laki yang tidak bisa menghormati perempuan. Mending kalau lu ganteng," ujar teman Vina sambil menepis tangan laki-laki itu, kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
"Eh, j4lang tunggu.....!" tahan laki-laki itu yang terlihat sudah terpancing emosinya, karena mungkin merasa direndahkan dengan cepat dia pun mengejar istriku dan temannya.
Plok!
Dia menepuk pantat Istriku yang terlihat seksi, karena hanya dibalut dengan kain yang agak tipis, sehingga menampakan lekuk tubuhnya yang sangat indah.
Plak!
__ADS_1
Teman Vina membalas tepukan itu dengan tamparan yang sangat keras, tamparan yang dilayangkan ke arah wajah laki-laki itu. membuat laki-laki penggoda terlihat meringis menahan panas yang menjalar di area pipinya. dengan cepat dia menarik tubuh orang yang menamparnya dengan mendekap.
Aku yang sudah terbakar emosi dan cemburu, dengan cepat bangkit dari tempat dudukku. tanpa berpikir panjang aku layangkan beberapa pukulan mengarah ke wajah pria itu.
Bugh! Bugh! Bugh!
Serangan itu tepat mengenai sasaran, sehingga membuat laki-laki yang menggoda istriku terhuyung ke belakang, sambil memegangi pipinya. aku yang sedang dilanda frustasi seperti ada pelampiasan, dengan cepat aku menyusul tubuh pria itu yang masih terhuyung, kemudian melancarkan beberapa serangan lagi.
Melihat temannya dipukulin, para teman-temannya yang tadi masih diam menonton. Mereka pun bangkit lalu menghampiri, tanpa ada perkataan mereka mulai menyerangku, memukulku, menendangku. aku yang awalnya bisa mengimbangi, namun aku yang hanya seorang diri sehingga kalah jumlah kalau dibandingkan dengan keempat atau lima orang yang mengeroyok.
Jeritan jeritan Vina dan temannya, ditambah ibu-ibu penjual yang melihat pertikaian itu , membuat suasana semakin terlihat riuh. aku terus menahan serangan-serangan teman laki-laki yang tadi, menggunakan tangan melindungi wajahku dari hantaman hantaman bogem mentah.
Bugh! Bugh! Bugh!
Pukulan demi pukulan terus mendarat di tubuhku, membuat orang-orang di sana berteriak memisahkan. namun orang yang menyerangku begitu banyak, sehingga susah untuk berhenti
Nguing.....! nguing.....! nguing.....!
Terdengar sirine mobil polisi, yang membuat orang-orang yang menghajarku dengan bergegas berlari pergi meninggalkan tempat keributan. meninggalkanku yang sudah terkapar lemas tak berdaya. terasa tanganku ada yang menggenggam dengan lembut, membuatku membuka mata karena ketika tadi aku diserang, aku tidak kuat menahan sehingga aku memejamkan mataku.
"Farid.....! Farid.....! bangun Rid!" Panggil suara seorang wanita yang memegang tanganku.
"Pak Farid tidak apa-apa?" tanya seorang laki-laki yang belum aku ketahui.
Mataku memindai area sekitar, menatap ke arah orang yang masih berkerumun, hingga mataku Terhenti Di wajah Vina istriku. aku menatap ke arah orang yang berdiri di samping Vina, ke arah orang yang tadi bertanya , dan ternyata itu adalah Dali asisten Arfan.
Perlahan tubuhku ditarik untuk dibangunkan, kemudian dibopong menuju ke kursi yang tadi aku tinggalkan. terlihat ada botol air mineral yang diserahkan, aku menatap ke arah orang yang menyerahkan botol itu.
__ADS_1
"Minum dulu Pak!" ujar Dali yang terlihat khawatir.