Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps 103 Masalah Mukti


__ADS_3

Keesokan paginya. Seperti biasa aku dan Karla berjalan beriringan menuju ke kantor Atri Group, meski Karla sudah melarang untuk mengikutinya, namun Entah mengapa aku sangat senang ketika melihat ekspresi wajahnya yang sangat menggemaskan.


"Kamu ngapain sih pakai ngikut-ngikut segala, Bukannya Kamu anaknya bu Aisyah?" tanya Karla sambil melirik ke arahku


"Emang kenapa kalau aku anaknya bu Aisyah?"


"Ya ngapain kamu kerja sebagai cleaning service, Bukannya kamu sudah memiliki perusahaan sendiri?"


"Karena ada kamu!"


"Bugh!"


"Maksud lo apaan?" tanyanya seperti biasa sambil melayangkan tinju ke arah pundaku.


"Bisa nggak sih! kamu nggak usah mukul-mukul segala. sakit tahu!" gerutuku sambil mengusap bekas pukulan Karla


"Lagian lu nya kebiasaan, ditanya ke mana Jawab ke mana.."


"Serius!"


"Apanya yang serius?" tanya Karla sambil mengkerlingkan mata ke arahku.


"Ya aku bekerja menjadi cleaning service, karena ada kamu di situ."


Mendengar penuturanku seperti biasa dia mengangkat tangan hendak memukul. namun sekarang aku yang sudah siap, dengan cepat menangkap tangan karla, lalu aku genggam dengan begitu erat. Lantas kudekatkan wajahku ke wajahnya. "jangan galak-galak, apa! nanti cantikmu hilang." ujarku sambil menghempaskan tangannya.


"Gak jelas banget! lu tadi sarapan apa?"


"Nasi uduk?"


"Pantes! kayaknya kamu kebanyakan makan micin jadi otaknya agak miring sedikit." ujarnya sambil mendengus membuat wajahnya semakin terlihat lucu.


"Biarin miring juga, sama kamu ini, bukan sama orang lain." aku terus menggodanya, hingga tak terasa kita berdua sampai ke tempat kerja.


"Ikut gua ke kantor dulu!" Serunya di pertigaan koridor.


"Mau ngapain bu? saya takut!"


"Takut apa?"


"Takut Ibu ngapa-ngapain saya! Maaf saya masih polos." ujarku sambil menarik kedua sudut bibir meledeknya.


"Kurang ajar! Emangnya gue cewek apaan." ujar Karla sambil menarik paksa tanganku. tenaganya yang kuat membuat pergelanganku terasa sakit.


"Bisa nggak sih Kamu lembut sedikit, kalau kamu mau, kamu tinggal minta!" Gerutuku setelah sampai di ruangan.


"Mau apa?" tanyanya sambil membulatkan mata.

__ADS_1


"Mau, ya mau, Mau mengajak ke ruangan kamu." jawabku agak tergagap.


"Kalau nggak dipaksa. lu orangnya susah diatur, sudah duduk Jangan banyak omong!" seru Karla, sambil dia pun duduk di kursi supervisornya. dengan malas aku pun ikut duduk di hadapan wanita aneh itu.


"Ada apa sih?" Tanyaku mengawali pembicaraan.


"Kamu harus bantu gua!"


'"Bantu apa?" Tanyaku sambil menatap serius ke arah Karla.


"Ini tentang Mukti! semenjak kemarin aku terus memikirkan hal itu, tadinya Kemarin gua Mau ngomongin kerisauan hati gua sama lu, setelah pulang kerja. namun sesampainya di rumah lu malah menghilang, kayak orang yang nggak tahu berterima kasih. main pergi begitu aja!" ujar Karla menyampaikan tujuan, Kenapa dia mengajakku ikut masuk ke ruangannya.


"Kenapa dengan Mukti?"


"Ya Gua merasa bersalah, karena Gua adalah orang yang memberikan saran terhadap Ratna, agar mendekati kembali Mukti."


"Terus kamu mau ngapain?"


"Makanya gua ngobrol sama lu, gua bingung gua harus ngelakuin apa?"


"Oh jadi kamu mau minta solusi, begitu?" Tanyaku sambil terus menatap wajah lucunya.


"Kenapa sih lu nyebelin banget! kalau nggak mau nolongin ngapain lu datang ke sini."


"Yeeeey Siapa juga yang mau ke sini, Tadi kan kamu yang maksa!" Jawabku tak mau kalah.


"Ya kamu tinggal ngomong aja sih! sama Mukti, ngomong jujur apa adanya!"


"Nggak berani!"


"Ya sudah kalau gak berani, kamu akan terus dihantui dengan rasa bersalah selama kamu hidup!" jawabku sambil bangkit dari kursi hendak pergi meninggalkan ruangan itu, namun tanganku ditahan oleh Karla, membuatku menatap sambil tersenyum ke arahnya.


"Ngapain lu malah senyum, kayak kambing pengen kawin aja." ujar Karla yang terlihat salah tingkah, setelah mendapat tatapan dariku, dengan segera dia melepaskan genggaman tangannya.


"Ya ngapain kamu megang-megang, nanti tanganmu kotor!"


"Tolong temenin aku ngobrol sama Mukti ya!" Pinta Karla tak memperdulikan perkataanku.


"Hmmmmmzzzz!" Gumamku sambil melipat tangan lalu mengetuk-ngetuk Dagu dengan telunjuk, menirukan orang yang sedang berpikir.


"Sok amat sih lu!"


"Boleh, aku menemani kamu berbicara sama Mukti, tapi nggak gratis!"


"Perhitungan amat sih!"


"Ya sudah, kamu ngomong sendiri aja." jawabku sambil membalikkan tubuh.

__ADS_1


"Oke! oke! lu mau apa?" tahan Karla menghentikan langkahku, membuatku dengan segera membalikkan tubuh menetap ke arahnya. "Mau dibayar berapa, tapi nanti ya setelah gajian!" Tanya Karla sambil menatap tajam ke arahku, namun aku hanya tersenyum sambil menunjuk pipi dengan telunjuk.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipiku, membuatku meringis menahan sakit. "Kamu kenapa sih pake main tampar segala?" Gerutuku sambil mengusap-usap bekas tamparan Karla


"Terus, Bukannya barusan Lu ngasih isyarat minta ditampar." Tanyanya sambil menatap heran ke arahku.


"Bod0h!" gumamku dengan kesal.


"Ya Lu yang bod0h! ngapain pake nunjuk-nunjuk pipi segala?"


"Ciuuuuum!" jawabku sambil tersenyum penuh harap.


"Kurang ajar!" ujar Karla sambil melayangkan kembali tamparannya, namun sekarang aku yang sudah siap dengan cepat membalikkan tubuh, lalu berlari menuju ke arah luar ruangan, tak mempedulikan lagi Karla yang terdengar masih mengumpatku.


*****


Pukul 11.00, pekerjaanku dan karyawan-karyawan  cleaning service lainnya sudah selesai. hari ini adalah hariku bekerja full dari pagi sampai sore. terlihat Mukti yang raut wajahnya masih murung, sedang beristirahat di ruang yang biasa. dengan cepat aku pun menghampiri.


"Kenapa Bro, Masih Murung aja?" Tanyaku yang merasa kasihan.


"Bingung gua bro!" Jawabnya sambil menjatuhkan tubuh duduk di lantai. melihatnya duduk aku pun mengikutinya duduk berdampingan dengan Mukti.


"Bingung kenapa? Cerita dong! Siapa tahu saja temanmu ini bisa membantu."


"Gua bingung Fan! Setelah gua membulatkan tekad untuk menikahi Ratna. tapi ternyata masalahnya tak semudah itu, ternyata menikahi itu sangat menyusahkan, selain harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang bapak, aku juga harus mempersiapkan uang untuk biaya pernikahan. Aku bingung fan, bingung banget!" Keluh Mukti menjelaskan masalah yang sedang dihadapi.


"Kita temui Karla yuk! siapa tahu aja dia mempunyai solusi."


"Solusi bagaimana?"


"Dia kan sangat dekat sama pemilik perusahaan, Siapa tau aja kamu dapat bantuan dari perusahaan ,untuk modal menikah."


"Emang iya tah, begitu?" tanya Mukti antusias terlihat raut mukanya sedikit cerah.


"Ya namanya juga usaha, siapa tahu aja seperti itu!".


"Yah kirain beneran." ujar Mukti merubah raut wajahnya kembali ke seperti semula.


"Apa kamu mau terus termenung berpikir tanpa melakukan apapun?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Tapi benar juga ya! Ya sudah, Apa salahnya kita coba." jawab Mukti sambil bangkit, kemudian dia berjalan mendahuluiku menuju ruangan Karla.


Truk! truk! truk! truk!


Pintu ruangan supervisor diketuk oleh Mukti. "Permisi Bu!"

__ADS_1


__ADS_2