
Pov Arfan
Mendengar jawaban istriku seperti itu, Aku hanya tertegun, membayangkan Bagaimana malunya kalau aku harus membeli benda terahasia perempuan itu.
"Kenapa diam, Kak?" tanya Karla yang meringis mungkin masih merasakan sakit di area perutnya.
"Nggak apa-apa! mau dibeliin berapa banyak, satu kontainer cukup?" Tanyaku sambil merubah raut wajah menjadi tersenyum yang dipaksakan.
"Halah kalau ngomong itu jangan kebanyakan dupus, satu Pack aja sudah cukup. Ya sudah sana buruan!" pergi usir Karla yang masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut. kemudian dia pun dengan perlahan berjalan menuju ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Aku hanya menggaruk-garuk kepala, tidak mengerti apa yang harus dilakukan. namun meski dengan berat hati, aku tetap melangkahkan kakiku menuju keluar kamar, lalu menuruni tangga. setelah berada di lantai bawah Aku menuju ke rak penyimpanan kunci mobil.
"Mau ke mana Pak, pagi-pagi buta begini sudah keluar. bukan mau kerjakan, soalnya bapak nggak berpakaian seperti yang mau kerja," corocos Arman yang menghampiriku.
"Ada tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan." jawabku tanpa sedikitpun menoleh, kemudian memasukkan tubuh ke dalam mobil.
Melihat majikannya sudah masuk. Arman dengan cepat berlari menuju ke arah pintu gerbang, untuk membuka pintu itu agar mobil yang ku kendarai bisa lewat. setelah pintu gerbang terbuka, perlahan aku mulai mengeluarkan mobil dari halaman rumah. namun sebelum pergi aku masih membayangkan bagaimana malunya membeli pembalut.
Tin! tin! tin!
Klakson Aku tekan, hingga Arman yang hendak menutup pintu dengan cepat bergegas menghampiri, setelah melihat Arman berdiri didekat pintu mobil, aku membuka jendelanya.
"Ada apa Pak?" tanya Arman yang memunculkan kepalanya ke dalam.
"Ikut!"
"Ke mana?"
"Sudah jangan banyak tanya, Ayo ikut aja!" Pntaku sambil menatap kembali ke arah depan.
Mendapat perintah seperti itu, Arman kembali ke dekat pintu gerbang, untuk menutup rapat pintu yang masih terbuka. kemudian dia berlari kembali lalu masuk ke kursi belakang.
"Ngapain Kamu duduk di belakang, Emangnya aku sopir?" gerutuku sambil melirik sebentar ke arah Arman, kesal sama Karla hingga melampiaskan ke orang lain. begitulah kebiasaan majikan yang akan mencari pelampiasan ke bawahnnya.
"Hehehe, maaf Pak!" jawab Arman sambil keluar kembali dari pintu belakang, Lalu masuk ke pintu depan kemudian dia duduk di sampingku.
Setelah Arman duduk dengan nyaman, aku mulai menginjak pedal gas, melepas kopling meninggalkan rumah Ibu. Mataku Terus terfokus ke arah depan memindai jalan yang hendak dipijak oleh mobil yang kukemudikan.
"Mau ke mana Pak, pagi-pagi sudah keluar?" Tanya Arman memecah kesunyian.
"Mencari apotek?"
"Siapa yang sakit, kok mencari apotek?"
"Sudah kamu jangan banyak tanya, kamu ikut aja!"
__ADS_1
"Baik Pak!"
Mobil itu terus melaju membelah pagi yang masih terasa sepi, karena waktu seperti itu kota Jakarta seperti kota mati. hanya ada tukang jualan yang menjajakan sarapan yang tersedia di trotoar trotoar jalan. mobilku terhenti setelah aku melihat ada Apotek yang buka 24 jam.
"Ayo turun!" ajakku sambil melepaskan seat bel yang mengikat tubuh, kemudian membuka pintu lalu keluar dari mobil diikuti oleh Arman.
Aku diantar oleh Arman masuk menuju ke dalam apotek, disambut oleh pelayan yang tersenyum ramah, matanya sedikit memerah mungkin malam ini dia tidak tidur.
"Mau mencari apa Pak? Ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan klasik dari apoteker menyapaku.
"Saya mau cari," aku tidak meneruskan perkataan itu, mataku memindai area sekitar, takut ada yang mendengar apa yang hendak aku bicarakan.
"Mau mencari apa?" tanya pelayan itu sambil menatap penuh keheranan.
"Pem.....! Pem......! pembalut," jawabku sedikit tergagap, rasanya jiwaku keluar dari tubuh tak kuat menahan malu.
"Hahaha......!" Arman yang mengantarku seketika tertawa. entah apa yang lucu, sehingga membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Dengan cepat aku membulatkan mata menatap ke arahnya, dia hanya membuang wajah untuk menyembunyikan tawanya.
"Kenapa kamu tertawa, ada yang lucu?" Tanyaku masih tetap menatapnya.
"Nggak Pak.....! maaf......!" jawab Arman sambil menutup mulut, mungkin masih menyembunyikan tawanya. Padahal aku tak mengerti apa yang lucu dengan apa yang ku ucapkan.
"Maaf Pak! kalau pembalut biasanya di supermarket, kalau obat pereda nyeri ketika haid, ada di sini!" jawab Pelayan toko bibirnya yang bergerak-gerak, mungkin dia juga sama tidak kuat ingin tertawa seperti Arman.
"Baik! Mau obat yang seperti apa?"
"Apa aja! yang penting itu obat pereda nyeri!" jawabku yang sebenarnya tidak mau berlama-lama di tempat itu. Meski hanya dua orang yang menertawaiku, namun itu Cukup membuat tubuhku minder.
"Baik....! tunggu sebentar...!" akhirnya Apoteker itu pergi masuk ke dalam ruangan, tak lama dia pun kembali sambil membawa beberapa obat di tangannya. aku yang tidak mengerti, aku mengambil salah satu obat berbentuk cair kemudian membayarnya.
Setelah mendapatkan obat pereda nyeri ketika haid, dengan bergegas aku buru-buru keluar dari Apotek, rasa malu, rasa jengkel sama Arman masih menyelimuti.
"Kamu kenapa masih senyum-senyum, kayak rmbe mau kawin aja!" ujarku yang menghentikan langkah menatap ke arah Arman.
"Ya lagian bapak lucu sih!"
"Lucunya?"
"Masa membeli pembalut ke Apotek, warung pinggir jalan saja banyak Pak!"
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?"
"Karena Bapaknya nggak nanya, bahkan saya nanya Bapak nggak jawab."
"Terus sekarang kita ke mana?"
__ADS_1
"Yah ke minimarket yang buka 24 jam pak!"
"Emang ada?"
"Pasti ada Pak, Saya jamin.....!"
Akhirnya aku masuk kembali ke dalam mobil diikuti oleh Arman, meninggalkan parkiran penjual obat. di perjalanan Arman terlihat masih senyum-senyum, seperti orang yang kurang waras membuatku sedikit kesal dengannya. namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini adalah kesalahanku, kecerobohanku, ketidaktahuanku tentang masalah perempuan.
Terlarut dalam penyesalan penyesalan bodoh, akhirnya mobilku tiba di salah satu minimarket yang buka 24 jam. dengan segera aku keluar dari mobil diikuti oleh Arman, tanpa ada pembicaraan kita berdua pun masuk ke dalam minimarket itu.
"Selamat pagi Kakak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya kasir minimarket itu sambil senyum, dengan kedua tangan yang dirapatkan di depan dada.
"Saya mau mencari pembalut?"
"Ukurannya berapa Kak?" Tanya kasir minimarket membuatku mengerutkan dahi, menatap ke arah Arman, yang ditatap hanya menggelengkan kepala, karena mungkin dia juga tidak tahu.
"Emang ada ukuran apa aja?"
"Kalau pembalut digunakan untuk malam hari Mulai dari 29 sampai 42 cm, untuk siang biasanya 22 sampai 26cm," jawab kasir minimarket menjelaskan.
Walaupun sudah dijelaskan seperti itu, namun aku tidak langsung mengerti, tidak langsung paham dengan apa yang dimaksud. ternyata pengaman wanita saat haid ada siang ada malam ada ukurannya juga.
"Mau ukuran berapa?" tanya kasir itu sambil menatap tersenyum ke arahku.
Ditanya oleh kasir, Aku hanya menatap kasir minimarket dari atas sampai bawah, membuat mata orang itu membulat dengan sempurna. "jangan kurang ajar kamu Pak!" ujar kasir minimarket sambil membulatkan mata, Mungkin dia merasa risih ditatap seperti itu.
"Maaf Mbak! saya nggak bermaksud seperti itu, namun ukuran buat istri saya mungkin tubuhnya seperti Mbak. biasanya mbak memakai ukuran berapa?" tanyaku dengan malu-malu.
"Nggak tahu Pak! saya nggak pernah pakai," jawab kasir minimarket itu dengan."
"Ambil yang 42 cm saja Pak! sama yang 26 cm. Lebih baik kebesaran daripada kekecilan Kalau kebesaran kan nanti bisa dipotong ke tukang jahit." ujar Arman memberi saran.
"Ya itu aja Mbak!"
"Nggak kebesaran Pak?" tanya perempuan itu.
"Nggak tahu juga, istri saya mungkin bentuk tubuhnya seperti Mbak, namun dia lebih cantik," jawabku membanggakan yang tidak penting.
Mendengar penuturanku seperti itu perempuan kasir hanya mendengus kesal, karena mungkin tidak suka dibandingkan dengan istriku.
"Jadi beli nggak?" tanyanya mulai kesal.
"Jadi mbak! Ya sudah saya beli Semua ukuran yang ada di minimarket ini."
"Apa Bapak nggak sebaiknya tanya dulu sama Bu Karla, ukurannya seperti apa!" saran Arman.
__ADS_1