Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 20 permintaan Istriku


__ADS_3

Pov Farid


"Sangat nggak apa-apa, Karena beliaulah yang menyuruh saya untuk menggandeng Bapak, untuk mengisi bagian pemasaran. agar perusahaan Mandiri group bisa berkembang dengan pesat. mohon maaf nih Pak, saya Bukannya tidak mau mengobrol banyak dengan bapak. saya sedang menemani istri jalan-jalan, Besok kita berbicara dan ngobrol banyak di kantor," pungkas Dali meminta izin.


"Aduh, maaf mengganggu hari libur Bapak, Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya."


"Saya yang harusnya berterima kasih, karena bapak sudah mau membantu perusahaan kami. ya sudah Sampai bertemu besok di kantor!"


"Baik, Pak Dali."


Akhirnya telepon itu terputus, kemudian aku menyimpan kembali handphone yang sedang dicas. Vina yang sejak dari tadi terdiam dia menatap penuh rasa penasaran yang terlukis di wajahnya.


"Bagaimana?" tanya Vina Padahal dia juga sudah tahu keputusannya Seperti apa, namun Mungkin dia ingin lebih meyakinkan.


"Besok aku mulai kerja di perusahaan Mandiri Group," jawabku menjelaskan.


"Alhamdulillah.....! Alhamdulillah.....!" ujar Vina mengucap syukur dengan penuh haru, perlahan dia mendekat lalu memelukku.


Terdengar suara tangis wanita itu pecah kembali, mungkin dia merasa terharu dengan apa yang aku lakukan, membuat tanganku perlahan memeluk tubuh wanita itu. air mataku pun seolah terpanggil ingin menyaksikan rasa haru penuh kebahagiaan.


"Terima kasih ya! terima kasih kamu sudah mau bekerja!" Ujar Vina yang terdengar Suaranya sangat Parau, karena dia berbicara sambil menangis.


"Sama-sama Sayang...! maafkan aku, kalau selama ini aku belum bisa membahagiakanmu, aku selalu merepotkanmu."


"Sudah yang lalu kita kubur, biarkan menjadi pelajaran ke depan. sekarang kita harus menatap masa depan, kalau keadaan keuangan kita sudah mulai membaik, Aku ingin cepat memiliki momongan," ujar Vina mulai mengungkapkan keinginannya.


"Amin....! amin....! semoga aja kita cepat dikaruniai anak."


"Oh iya, sekarang kamu mau dimasakin apa, atau Kamu mau makan apa? biar nanti aku belikan!" tawar istriku sambil melepaskan pelukan, matanya yang sembab setelah mengeluarkan cairan, menatap lekkat penuh cinta ke arahku. dengan perasaan Haru, aku usap air yang mengalir di pipi lembutnya.


"Makan seperti biasa aja sayang, uang pemberian dari Pak Dali kamu harus hemat, agar uang itu cukup, sampai aku mendapat gaji pertamaku."

__ADS_1


"Ya sudah, tunggu sebentar....! aku belikan dulu," ujar Vina sambil menyeka cairan-cairan bening yang masih terus menetes.


Setelah merasa cairan itu tidak keluar lagi, dia mengambil cermin yang ada di dalam tasnya. kemudian dia melihat wajahnya di cermin, setelah memastikan bahwa tidak ada cairan yang menetes, dia menyamarkan matanya yang sembab dengan pensil alis.


"Aku ke warung dulu! kamu tunggu saja di sini," ujar Vina sambil bangkit, setelah merasa wajahnya kembali seperti semula dia pun berangkat menuju warung nasi.


Aku hanya mengangguk, menatap kepergiannya yang hendak membeli nasi ke warung yang berada tidak jauh dari kosan. tak lama menunggu Akhirnya dia kembali dengan membawa plastik berisi dua bungkus nasi.


"Ini rok0k kamu!" ujar Vina sambil memberikan rok0k yang biasa aku isap.


"Kenapa harus pakai beli rok0k segala, Kita kan harus hemat?"


"Nggak apa-apa, kan sebentar lagi kamu akan gajian," jawab Vina sambil mengulum senyum, kemudian dia bangkit Kembali menuju ke arah dapur. tak lama dia pun datang dengan membawa piring beserta sendoknya.


Setelah itu kita berdua makan bersama, di selingi dengan sendau gurau seperti awal kita menikah. perbawaan hati yang sudah mulai terbuka, mulai menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang kita hadapi, membuat obrolan itu mengalir begitu saja.


*****


Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. aku sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, meski bajuku tidak baru, Namun Vina mengurusnya dengan begitu teliti, sehingga baju itu terlihat rapi dan pas ketika aku pakai.


"Nggak...! kamu simpan aja, kebetulan kemarin aku menemui bapak, aku dikasih uang Rp100.000 namun tinggal rp85.000, karena dipakai ngopi di trotoar." aku menolak pemberian itu karena aku masih memegang uang.


"Ya sudah bawa aja, buat jaga-jaga..!" paksa Vina dengan memasukkan uang itu ke dalam kantong kemejaku.


"Terima kasih banyak ya sayang, kamu baik banget!"


"Sama-sama sayang! aku yang harusnya berterima kasih karena kamu mau berkorban untukku. kamu mau menurunkan ego demi kelangsungan rumah tangga kita," jawab Vina yang terlihat matanya mulai mengembun kembali.


"Sudah ah! jangan mellow seperti itu, Kita seharusnya semangat karena kehidupan baru yang penuh kebahagiaan sudah menunggu," ujarku sambil mengecup lembut kening istriku.


"Ya sudah sana berangkat nanti kesiangan. jangan buat Pak Dali menunggu!"

__ADS_1


"Siap Bu Bos....!" ujarku sambil menyimpan tangan di atas alis menirukan prajurit yang memberikan hormat kepada atasannya, lalu menurunkan tangan itu untuk mengajak Vina bersalaman.


Dengan cepat istriku mengambil tangan yang kuulurkan lalu menciumnya. setelah acara berpamitan itu selesai, aku keluar dari pintu kosan menuju motorku yang terparkir sedang dipanaskan.


"Assalamualaikum...!" ujarku sebelum pergi meninggalkan Vina.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan!" ingat Vina sambil tetap mengulum senyum.


Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal, aku pun mulai menarik tuas gas motor bututku, terlihat asap mengepul dari arah knalpotnya.


"Punya motor butut aja belagu!" terdengar suara seorang dari rumah depan kosan, yang mungkin merasa terganggu oleh suara knalpot yang begitu bising. padahal bukan disengaja Memang begitulah keadaan motorku Yang Sudah usang, suara keras namun tenaga tidak ada.


"Sudah sana berangkat!" Seru Vina seolah mengusir, Mungkin dia tidak mau ada keributan yang ditimbulkan olehku.


Aku hanya mengulum senyum kemudian pergi meninggalkan kosan, menyusuri Gang kecil hingga akhirnya masuk ke Jalan Raya. motor butut yang aku kendarai terus melaju di arah samping kiri, walaupun motor itu tidak bisa berlari. namun ini cukup membantu agar aku tidak harus merasa capek ketika hendak pindah tempat.


Lama di perjalanan akhirnya aku sampai di kantor perusahaan Mandiri Group. kantor berlantai 4 dengan desain estetik, mungkin perusahaan ingin menunjukkan bahwa mereka bisa membuat konstruksi bangunan yang megah namun terlihat elegan.


Setelah mematikan motor, Aku berjalan menuju ke arah lobi gedung. terlihat di sana ada satpam yang menunggu untuk membukakan pintu.


"Selamat pagi Pak! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya satpam itu sambil mengulum senyum ramah, layaknya satpam satpam bank yang menyapa nasabahnya.


"Saya mau bertemu dengan Pak Dali, apa beliau sudah sampai?"


"Oh mau bertemu pak Dali, Ini baru jam 07.30. Mungkin sebentar lagi beliau sampai, Bapak tunggu aja di sana!" ujar satpam itu sambil menunjuk ke kursi tunggu yang ada di lobby.


"Terima kasih banyak Pak!" Jawabku sambil manggut, kemudian mengikuti perintahnya duduk di bangku panjang yang disediakan untuk menunggu.


Suasana Kantor masih terlihat sepi karena mungkin kantor akan mulai hidup ketika sudah pukul 08.00. namun beberapa saat menunggu, terlihat para karyawan sudah datang Meski waktu kerja sekitar 15 menit lagi baru dimulai.


Aku tertegun kagum melihat loyalitas para karyawan yang direkrut oleh Arfan, mereka bisa datang setepat itu bahkan lebih pagi. berbeda dengan tempat kerjaku dulu yang asal-asalan.

__ADS_1


Para karyawan yang baru datang terlihat raut wajah mereka mengulum senyum seolah hendak menemukan kebahagiaan di kantor. tak terlihat sedikit teraut wajah yang lesu, Mereka terlihat bersemangat. namun raut wajah Bahagia itu terlihat memudar setelah mereka melihat keberadaanku yang duduk sambil menundukkan pandangan. karena mungkin hampir semua karyawan lama tahu kejelekanku di masa lalu.


Rasa malu, rasa takut, rasa sedih bercampur menjadi satu. kalau tidak ingat dengan Vina yang begitu bahagia ketika melihat aku bekerja. Mungkin aku sudah kabur meninggalkan kantor Mandiri group. namun setelah dipikir-pikir semakin lama, semakin terpikir. kalau aku tidak mengambil kesempatan baik ini, mungkin aku tidak akan mendapatkannya lagi.


__ADS_2