Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 26 kebahagian Datang


__ADS_3

Pov Farid


"Tadinya kalau nggak betah, saya akan menawarkan beberapa jabatan yang lain. Atau kalau nggak Bapak boleh memilih di bagian mana bapak ingin bekerja."


"Terima kasih banyak Pak! Saya hanya memiliki kemampuan didivisi pemasaran, kalau didivisi yang lain, Saya harus belajar terlebih dahulu." jawabku sambil mengangkat pandangan, ingin memastikan bahwa Arfan benar menawarkan posisi lain.


Setelah aku lihat wajahnya, ternyata tidak ada raut dendam atau kebencian, atau raut membalas kejahatanku, waktu dulu. yang ada hanya raut wajah yang dipenuhi dengan senyuman, Entah hatinya terbuat dari apa sehingga bisa seperti itu.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi kalau bisa, Bapak bantu Perusahaan kita, agar lebih maju. Saya yakin setelah melihat konsep yang Bapak tawarkan, orang-orang akan tertarik menggunakan jasa Mandiri Group," puji Arfan yang terlihat dilebih-lebihkan.


"Baik Pak, saya akan berusaha semampu saya. Tolong bimbingannya!"


"Terima kasih kalau Pak Farid betah berada di divisi pemasaran. sekarang silakan lanjutkan bekerja kembali. kalau bapak Butuh sesuatu, bilang sama saya atau sama Pak Dali."


"Baik Pak, terima kasih atas semuanya."


Aku pun bangkit dari tempat duduk, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak atasanku bersalaman. setelah dirasa tidak ada pembicaraan lagi, aku keluar dari kantor Arfan, Kembali ke tempat kerja. sebelum masuk ke dalam ruangan terlihat ira sedang berdiri di ambang pintu menghalangiku.


"Jadi keluar dari kantor?" tanya Ira sambil menatap tajam ke arahku.


"Maksudnya bu?"


"Kamu dipanggil menemui pak Arfan, bukannya untuk membicarakan hasil kinerjamu yang buruk, sehingga perusahaan akan memutus kerja. Ditambah kelakuan masa lalumu yang telah menghianati atasanmu itu." Ujar Ira yang membuatku terperanga kaget karena ternyata dia sudah mengetahui latar belakangku.


"Nggak bu, nggak seperti itu. saya hanya diperintahkan untuk menangani Project baru." Jawabku berbohong menyembunyikan kekagetanku.


"Project apa?" tanya Ira sambil membulatkan mata, seolah tidak percaya dengan jawabanku.


"Mohon maaf Bu, Pak Arfan tidak boleh bercerita tentang Project yang akan kita garap." Jawabku yang kepalang tanggung telah berbohong.

__ADS_1


"Aku adalah orang penting di kantor ini, masa gua nggak diberitahu sih?" gerutu Ira.


"Maaf bu...! saya mau melanjutkan kerja lagi, nanti Project yang saya tangani tidak kelar." jawabku dengan sedikit menyunggingkan senyum sinis, menyombongkan diri. agar membuat hati gadis itu semakin penasaran, padahal tidak ada proyek apapun yang akan aku tangani.


Tanpa Menunggu jawabannya, aku masuk ke dalam ruangan, duduk kembali di tempat kerja, yang berada di samping pak Karto.


"Ada apa?" tanya Pak Karto yang terlihat penasaran.


"Nggak ada apa-apa Pak, nanti saya ceritakan kalau kita lagi makan. sekarang kita harus fokus kerja dulu," jawabku sambil Menatap layar komputer, kemudian melanjutkan pekerjaanku yang tadi tertunda karena dipanggil oleh atasan.


****


Setelah selesai salat. karena tadi ketika mau makan terlihat antriannya sangat panjang, sehingga kita berdua memutuskan untuk salat terlebih dahulu. Hingga akhirnya baru sekarang kita masuk ke aula tempat makan, di mana orang-orang Di sana sudah mulai berkurang, karena mungkin para karyawan lain sudah selesai menyantap makan siangnya.


Aku dan Pak Karto seperti biasa mengambil piring untuk diisinya dengan nasi dan lauk pauknya. Sekarang aku tidak canggung lagi untuk mengambil ikan-ikan yang aku suka. walaupun sedikit agak sedih karena memikirkan Vina yang ada di rumah. entah makan dengan apa dia sekarang, uang tabungan Vina pemberian dari Dali, sudah mulai menipis, waktu gajian tinggal beberapa hari lagi. kalau tidak malu, Mungkin aku akan meminta membungkuskan nasi buat Vina.


Selesai makan siang aku dan Pak Karto masih duduk, karena waktu masuk kerja masih ada beberapa menit lagi, sambil mengobrol-ngobrol ringan, menceritakan tentang kejadian ketika tadi aku dipanggil oleh Pak Arfan.


"Nggak tahu, saya juga kan baru setahun kerja Pak. kalau beliau sudah bekerja dari awal pertama berdirinya perusahaan Mandiri Group. Namun meski sangat menyebalkan, Pak Arfan selalu mengutamakan Gadis itu, entah mengapa bisa terjadi, mungkin hasil kinerjanya nggak buruk-buruk amat, dia selalu mampu menaikkan pendapatan perusahaan. Namun sayang sifatnya Emang seperti itu, Awalnya saya juga tidak betah bekerja dengannya. namun saya sangat nyaman bekerja di sini, sehingga saya memutuskan bahwa Ira hanya gangguan kecil, yang harus saya hadapi setiap hari. Hingga akhirnya saya terbiasa dengan sifat-sifatnya yang sangat menyebalkan."


Mendengar penjelasan Pak Karto aku mulai paham tentang sifat wanita yang satu ini, sifat yang angkuh dan sombong, karena memiliki kepercayaan dari atasan. Mungkin memang begitulah sifat manusia, ketika diagung-angungkan oleh orang yang lebih tinggi, sehingga mereka berbuat semena-mena.


Obrolan itu terhenti, setelah melihat jam dinding menunjukkan waktu bekerja dimulai 5 menit lagi. kita berdua bergegas menuju ke ruang staf pemasaran kantor Mandiri group, aku mulai bekerja kembali seperti biasa hingga akhirnya waktu pulang pun tiba.


Aku yang sudah bekerja setiap hari, membuat kehidupanku sedikit berwarna. otakku mulai mencair kembali, karena mungkin sering dilatih memikirkan konsep-konsep yang nyata tentang pekerjaan, Bukan khayalan khayalan yang biasa aku pikirkan.


Satu hari aku dipanggil ke staf keuangan, Awalnya aku bingung kenapa aku harus dipanggil seperti itu. namun setelah menghadap, ternyata aku mendapat gaji pertamaku. Tadinya aku sudah pesimis bulan ini tidak mendapat gaji karena aku baru pertama bekerja, ditambah para karyawan-karyawan lain sudah menerima gaji melalui transfer. Tapi ternyata aku yang belum mempunyai buku tabungan, gajiku dikasih langsung dan staf keuangan memintaku agar secepatnya membuat rekening, agar mereka tidak susah ketika mau memberikan gaji. sebelum keluar dari ruang keuangan, aku disuruh menemui Pak Arfan atasanku terlebih dahulu.


Sebelum menemui Arfan, aku mampir ke toilet terlebih dahulu, ingin mengecek Berapa gaji Pertamaku. setelah berada di toilet, dengan hati yang berdegup kencang. aku mulai melihat perincian total gajiku, ternyata setelah aku perhatikan gajiku tidak kurang dari Rp2.500.000, membuatku menarik nafas lega. yang awalnya aku hanya menganggap paling Rp500.000, ternyata itu berada jauh di atas ekspektasiku.

__ADS_1


Kalau tidak Mengingat sedang berada di toilet umum, mungkin aku sudah berteriak kegirangan. karena aku mendapat uang sebesar itu, uang yang sudah lama tidak aku dapat dengan jerih payah sendiri, Biasanya aku mendapat uang hanya minta dari bapak atau dikasih oleh Vina.


"Alhamdulillah," gumamku dalam hati sambil memasukkan kembali amplop itu ke kantong Celana, aku pastikan bahwa uang itu tidak akan terjatuh. kemudian setelah semuanya kembali rapi aku keluar dari kamar mandi menuju ke lantai empat.


Truk! truk! truk!


"Assalamualaikum," ujarku sambil mengetuk pintu ruangan presiden perusaanku.


"Waalaikumsalam, Silakan masuk!" terdengar jawaban dari dalam.


Perlahan aku dorong pintu itu, kemudian manggut menyapa sahabat yang sudah menjadi atasanku.


"Bapak manggil saya?" Tanyaku sambil menatap ke arah Arfan.


"Benar Silakan duduk Pak Farid," jawab Arfan yang terlihat ramah seperti biasa. Kalau tidak malu Mungkin kita bisa ngobrol seakrab dulu.


Mendapat perintah dari atasan, aku hanya manggut kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Arfan.


"Maaf ada apa bapak manggil saya ke sini?"


"Saya mau mengucapkan terima kasih, Walaupun Bapak baru bekerja sebentar di perusahaan kami, namun perusahaan sudah mengalami keuntungan yang sangat banyak. Untuk itu saya ingin memberikan bonus sebagai ucapan terima kasih dari pemilik perusahaan." ujar Arfan sambil mengulurkan amplop berwarna coklat lalu diserahkan kepadaku.


"Ini apa?" Tanyaku sambil menatap nanar ke arahnya.


"Ini hadiah untuk bapak, Tadinya saya mau transfer, namun menurut staf keuangan Bapak belum menyerahkan buku rekening ke mereka. Kenapa Bapak belum memberikan buku rekening?"


"Saya belum bikin Pak karena yang dulu Sudah terblokir,"


"Ya sudah, ini tambahan untuk membuat buku tabungan!"

__ADS_1


"Gaji saya saja sudah cukup pak..! terima kasih bukan saya menolak, namun saya tidak sehebat itu, sehingga Bapak tidak usah berlebihan, harus memberikan bonus seperti ini." tolakku yang merasa tidak enak, karena memang benar Begitu adanya. Aku hanya baru mendatangkan beberapa klien ke kantor, itu pun tidak semua jadi memakai perusahaan Mandiri group.


__ADS_2