Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 78 Terus Fokus


__ADS_3

Pov Arfan


"Sekali lagi, saya mohon maaf!" ujar Sopir itu.


"Yah Pak! nggak apa-apa!" jawabku tersenyum sambil menyimpan uang lembaran merah itu di jok depan, Kemudian aku pun keluar dari dalam taksi itu.


"Pak, ini kembaliannya!" ujar Sopir itu.


"Enggak Pak! buat jajan si Dedek. Oh iya, kalau tidak ada acara, mendingan Bapak Tunggu saya sebentar. nanti Tolong antarkan ke rumah ibu saya yang satunya lagi, Saya hanya mengambil kunci."


"Baik Pak! saya tunggu!" jawab Sopir taksi itu menyanggupi.


Setelah itu aku pun menekan bel, agak sedikit lama akhirnya pintu gerbang rumah Ibu Pun terbuka, lalu muncullah Arman sebagai penjaganya.


"Selamat siang pak Arfan!" ujar Arman sambil tersenyum menyambut kedatanganku.


"Siang juga! Oh iya, kamu punya nomor ibu?" tanyaku.


"Ada Pak!"


"Tolong telepon! aku mau berbicara dengannya." pintaku sama satuan pengamanan rumahku.


Arman pun mengangguk, kemudian dia mengeluarkan handphone dari kantong celananya, lalu memanggil nomor ibu. Setelah beberapa saat menunggu, telepon itu tersambung. terdengar Arman pun menjelaskan maksud Kenapa dia menelpon majikannya.


Setelah menjelaskan Arman pun memberikan handphone-nya kepadaku. dengan cepat aku pun mengambil telepon itu, lalu menempelkan ke telinga.


"Iya, ada apa Fan? tumben kamu menelepon pakai nomor Arman." tanya ibu berbasa-basi.


"Aku kan nggak punya handphone Bu! Makanya nelpon pakai nomor Arman."


"Belilah! masak anak pengusaha tersukses di kota, tidak mampu beli handphone."


"Ibuuuuuuuuuu!"


"Ya! jangan teriak-teriak apa! Ibu juga dengar. kamu mau ngomong apa?" tanya ibu.


"Aku mau ngambil kunci rumahku, rumah yang dulu aku tempatin. karena aku ingin mengambil berkas-berkas penting di rumah itu."


"Mau ngapain?"


"Aku mau mulai kembali membuka usaha, kemarin aku sudah bertemu dengan Dali."

__ADS_1


"Dimana?" tanya ibu antusias.


"Sekarang Dia jualan mie ayam, Bu! tak jauh dari kantor ibu."


"Kok Ibu nggak tahu, padahal dari dulu Ibu mencari kabarnya. Ibu sudah telepon beberapa kali, namun dia tidak pernah mengangkat, Ibu kira dia marah sama ibu."


"Enggak Bu! dia malu karena dia menolak tawaran ibu. Dali juga dia bercerita, seperti itu. Terus di mana kuncinya?" aku kembali ke pokok permasalahan.


"Tanya Mbok iyem saja! dia tahu kok, ibu nyimpen kunci itu di mana." ujar ibu menjelaskan.


"Tapi rumahnya, nggak ada yang isi kan, Bu?"


"Nggak! tapi seminggu sekali, Ibu tugaskan Mbok Iyem sama Arman untuk merawat rumah itu."


"Ya sudah! terima kasih kalau begitu, maaf mengganggu!"


"Bentar! bentar! jangan dimatikan terlebih dahulu."


"Kenapa?" aku bertanya.


"Terima panggilan videonya!" terdengar suara Ibu memerintah.


"Mau apa?" tanyaku dengan malas.


Dengan malas aku pun menerima pengalihan panggilan itu, terlihat ibu yang sedang berada di sebuah restoran.


"Apaan sih, Bu! gak jelas!" Ujarku dengan kesal.


"Lihat nih!" ujar Ibu sambil mengalihkan kamera video itu ke kamera belakang, terlihat ada seorang wanita yang sedang duduk di hadapannya, sedang menikmati makan siang.


"Maksudnya apa?" Tanyaku pura-pura nggak tahu.


"Calon mantu ibu harus berkelas! Makanya sekarang ibu training terlebih dahulu." ujar Ibu sambil terus mengarahkan video itu ke arah Karla. mendengar calon mantu Karla pun menatap ke arah kamera, dengan membulatkan mata. bahkan terlihat dia tersendat, Mungkin dia kaget mendengar perkataan ibu.


"Apaan sih, Bu!" jawabku malu-malu. membuat Rona wajahku sedikit memerah.


"Halah! pura-pura! Bukannya kamu senang!" ujar ibu membuat karla semakin terlihat semakin salah tingkah.


"Udah ya, Bu! aku masih banyak urusan." ujarku sambil memutus panggilan video itu. setelah selesai Menelpon, aku pun mengembalikan handphone itu ke Arman.


"Sudah, Pak?" tanya Arman sambil mengambil handphonenya.

__ADS_1


"Sudah! terima kasih ya." ujarku sambil tersenyum kemudian Aku berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah, yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman bunga yang sedang Mekar. wanginya semerbak memenuhi area itu, membuat rumah itu terlihat Asri.


Sebelum masuk ke dalam rumah. aku menatap ke arah lantai atas terlebih dahulu. terlihat kacanya sudah dibetulkan, kalau aku mengingat kembali ke masa itu, aku merasa orang paling bod0h, paling bl0on. karena hanya disakiti oleh seorang wanita, aku sampai berbuat seperti itu.


Tak lama berdiri aku pun segera masuk ke dalam rumah, Tak mau mengingat masa kelamku. aku langsung menuju ke arah dapur, Di mana orang yang aku cari berada.


"Assalamualaikum, siang Bi!" sapaku sama mbok iyem.


"Den Arfan sudah pulang, Den?" tanya Mbok Iyem.


"Nggak, Mbok! Saya cuma mampir sebentar! hanya ingin mengambil kunci rumah ibu yang satunya lagi. Mbok tahu kan, Ibu menyimpannya kunci itu di mana." ujarku menjelaskan.


Mbok iyem pun mengangguk, kemudian dia berjalan menuju ke arah kamar ibu. dengan cepat dia pun membuka kunci kamar itu. lalu dia masuk ke dalam, tak lama dia pun kembali sambil memberikan apa yang aku minta.


"Terima kasih ya, Mbok! saya pamit dulu." ujarku setelah mendapat apa yang aku mau.


"Nggak makan dulu Den, bibi masak makanan kesukaan Aden loh!" Tawar mbok iyem.


"Enggak Mbok! Terima kasih. Soalnya di depan ada taksi yang menunggu saya." ujarku sambil mengajaknya bersalaman, tak lupa aku mencium punggung tangan itu. membuat Mbok iyem menarik tangannya dengan cepat.


"Kenapa, kok gitu?" tanya mbok iyem yang menatap Aneh ke arahku.


"Nggak apa-apa! Mbok, maaf kalau selama ini saya kurang hormat, atau ada kata-kata saya yang menyakiti perasaan mbok!" ujarku yang mengingat perkataan Pak Umar. dengan siapapun kita, seperti apapun kita, ketika orang itu orang tua, maka kita harus menghormatinya.


"Ah, Aden bisa aja! mbok yang harusnya minta maaf, kalau selama ini mbok, kurang baik dalam bekerja. Mbok sering melakukan kesalahan."


"Lah, malah ngobrol! saya pamit dulu mbok, ujarku sambil mengambil tangan orang yang sudah lama bekerja di rumah ibu, kemudian mencium punggungnya. tanpa menunggu jawaban lagi, aku pun segera keluar dari rumahku.


Namun yang membuat aku heran, karena mobil taksi yang tadi aku pesan untuk menunggu, sekarang sudah tak terlihat.


"Kamu lihat mobil taksi di depan?" tanyaku sama Arman.


"Lihat Pak! tadi ketika Bapak sudah masuk ke dalam rumah, mobil itu pergi. kenapa ada yang ketinggalan di mobil itu?" Arman balik bertanya sambil menatap heran ke arahku.


"Nggak! saya Tadi hanya berpesan sama supir itu, agar menunggu saya terlebih dahulu, namun begitulah orang yang sudah tidak percaya sama orang lain." ujarku yang sedikit kesal, padahal kalau dia tidak bersedia Kenapa tadi mengiyakan.


"Mau saya carikan taksi yang lain Pak?" tanya Arman memberi tawaran.


"Nggaklah, Man! aku lapar, mending aku makan dulu di rumah. Kamu sudah makan apa belum?:


"SUdah Pak! sudah! makanya tadi saya agak telat membukakan pintu, karena saya baru selesai makan. Hehehhe!"

__ADS_1


"Ya sudah, Ayo! kalau mau makan lagi!" ajakku sambil berjalan kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke arah dapur.


__ADS_2