Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 56 MOBIL BUAT VINA


__ADS_3

Pov Farid


Mendengar penjelasan kedua orang yang berada di hadapanku, aku hanya menghela nafas pelan, karena tidak seharusnya seorang mertua, apalagi laki-laki terlalu dekat dengan menantu. namun untuk berbicara rasanya lidahku terasa kelu. bukan apa-apa, aku takut kejadian sebulan yang lalu terjadi kembali, kejadian di mana Vina marah gara-gara prasangkaanku yang tak beralasan.


"Ya sudah aku mandi dulu ya! soalnya Gerah banget," ujar Vina sambil masuk lagi ke dalam rumah.


"Kamu harus menyayangi istrimu, seperti bapak menyayangi ibumu. karena istrimu adalah wanita yang sangat baik, dulu bapak salah menilainya, bapak kira sifatnya mirip dengan mantan istrimu yang jahat itu," nasehat bapak setelah Vina Tak Terlihat Lagi.


"Iya pak! aku memang sangat sayang sama Vina, namun aku takut dia berubah sikap saja."


"Berubah sikap bagaimana?"


"Aku takut dia melirik pria lain, atau dilirik pria lain. walau bagaimanapun Istri saya sangat cantik, pasti banyak laki-laki yang menginginkannya," ujarku mengungkapkan kekhawatiran.


"Hush! nggak boleh berburuk sangkar seperti itu, kalau ketahuan istrimu nanti bisa marah mana. Mana mungkin orang sebaik Vina melakukan hal bodoh seperti yang kamu tuduhkan."


"Iya aku juga takut kalau mau ngomong seperti itu, karena perasaanku selalu buruk terhadapnya."


"Benar, kami jangan ngomong yang nggak-nggak! itu bisa jadi mau bumerang ke hubungan keluarga kamu. Kalau kamu bisa mempercayai istrimu, Bapak yakin kalian bisa hidup dengan rukun, kalau didasari dengan kepercayaan."


"Iya Pak! Farid nggak bisa nemenin Vina setiap waktu karena Farid harus bekerja. jadi Farid minta tolong sama Bapak tolong awasi Vina, agar tidak melakukan hal yang macam-macam."


"Tidak diminta pun bapak akan melakukannya, karena Vina adalah tanggung jawab bapak!"


"Terima kasih banyak Pak!"


Akhirnya kita pun terus mengobrol bermacam-macam tema, mulai dari pekerjaan, kehidupan dan Tetangga. matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh lampu-lampu jalan yang sudah mulai menyala. dari arah Masjid terdengar suara orang yang bersholawatan karena sebentar lagi waktu magrib pun tiba.


Kita mengakhiri obrolan setelah terdengar adzan berkumandang aku masuk ke kamar, untuk melakukan salat Berjamaah dengan Vina. selesai melaksanakan kewajiban kita pun duduk di kursi yang berada di kamar.


"Bagaimana kamu betah bekerja di tempat bapak?" Tanyaku membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah betah sayang, ternyata enak ya kalau Memiliki pekerjaan, jadi kita tahu tujuan hidup.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Iya kalau kita punya uang, kita bisa memanage ke mana hidup kita mau dibawa."


"Emang mau dibawa ke mana kehidupanmu sayang?" Tanyaku yang belum paham.


"Secepatnya aku ingin memiliki anak, agar nanti ketika sudah tua ada yang mengurus kita."


"Amin...! Semoga aja Kebahagiaan itu akan cepat hadir. Oh iya, ngomong-ngomong rencana ulang tahun kamu mau dirayakan di mana?"


"Nggak usah dirayakan juga nggak apa-apa, yang terpenting aku diberikan kesehatan, keselamatan dan umur yang panjang, agar aku bisa terus menemanimu," jawab Vina yang selalu bijak.


"Tapi nggak apa-apa, kalau kita makan berdua, yang romantis." Ucapku memberi saran.


"Emang mau?" tanya Vina tatapannya memenuhi seluruh wajahku.


"Kalau kamu nggak keberatan, aku mau!"


"Ya sudah tapi jangan di restoran yang mahal, yang biasa aja. kita harus nabung untuk masa depan kita."


"Baik Sayang!" jawabku sambil menarik tubuhnya kemudian aku kecup kening istriku.


"Minta apa?"


"Ajarin aku bawa mobil, biar kalau Kepepet aku bisa memanfaatkan ilmunya!" Pinta Vina.


"Mau diajarin pake Mobil siapa, kan kita nggak punya mobil?"


"Tadi ketika kita pulang, bapak menyuruhku untuk belajar mengemudi. aku juga sempat bertanya seperti apa yang kamu tanyakan, menurut Bapak kita bisa pakai mobilnya, karena Bapak membeli mobil itu sebenarnya buat Vina, eh buat kita!' jawab Vina menjelaskan.


"Malu lah Vin, gak enak kalau memakai barang orang, walaupun itu barang orang tua."


"Kenapa malu sayang, kalau kita menolak itu akan menjadi kesalahan bagi kita, seolah tidak menghargai tawaran kebaikan bapak."


Aku pun terdiam mencerna apa yang diinginkan oleh istriku, namun setelah dipikir-pikir memang benar apa yang diutarakan oleh Vina kalau aku menolak memakai mobil Bapak nanti hatinya bisa terluka.


"Bagaimana, boleh ya please!" ujar Vina sambil mengedipkan mata membuatku tak sanggup menolak.

__ADS_1


"Ya sudah, boleh! tapi besok setelah aku pulang kerja dan nanti kita meminta izin sama bapak."


"Terima kasih banyak Sayang, terima kasih..!" ujar istriku dengan sumringah.


Obrolan pun terus berlanjut hingga terhenti ketika azan Isya berkumandang, setelah melaksanakan salat aku bersama keluarga kecilku makan malam bersama, rasanya begitu bahagia ketika berkumpul seperti sekarang.


Keesokan paginya, setelah sampai di kantor aku diajak Ira untuk menemui klien di kantornya, untuk mempresentasikan hasil kinerja perusahaan Mandiri Group. Tentang perencanaan pembangunan.


"Cuma kita berdua saja bu yang berangkat?" Tanyaku sambil menatap wanita yang terduduk di hadapanku.


"Iya Cuma kita, kan ini tugas kita."


"Oh iya benar, Kapan mau berangkat?"


"Mendapat pertanyaank,  Ira melihat jam yang ada di handphonenya. "nanti pukul 10.00, sekarang siapkan saja dulu berkas yang mau dipresentasikan," ujar Ira.


"Baik Bu, kalau begitu saya siapkan terlebih dahulu."


"Ya silakan!"


Setelah mendapat izin, aku pun keluar dari ruangan kemudian masuk ke tempat kerjaku untuk menyiapkan berkas-berkas yang hendak dibawa untuk dipresentasikan.


Kira-kira pukul 09.30 aku dan Ira udah berangkat menggunakan taksi daring, hingga kira-kira 15 menit ke acara pertemuan yang diadakan di sebuah restoran yang ada di hotel, kita pun sudah sampai. Karena klien kita merubah lokasi meeting.


"Mana orangnya Bu?" Tanyaku setelah masuk ke restoran.


"Mungkin belum datang, ya sudah kita tunggu saja!" jawab Ira sambil mencari tempat duduk yang paling pojok, agar nanti ketika mempresentasikan pekerjaan tidak terganggu oleh orang lain.


Kita berdua pun duduk, lalu waiter pun datang menghampiri untuk menawarkan menu yang berada di restoran. Ira memesan minuman chocolate sedangkan aku memesan kopi. kita berdua terus membahas presentasi yang akan kita presentasikan sambil menunggu klien kita datang.


Kira-kira pukul 10.10 orang yang ditunggu pun menghampiri akhirnya aku dan Ira terlalut membahas tawaran tawaran dan rencana rencana tentang pembangunan yang diinginkan oleh klien. namun ketika aku sedang sibuk menjelaskan dari ujung tangga terlihat ada orang seperti yang aku kenali, mereka dengan bergandengan tangan hendak naik ke lantai 2, sehingga membuat pembicaraanku terhenti.


"Kenapa Pak Farid?" tanya Ira yang merasa heran.


"Boleh saya izin sebentar, untuk ke toilet dulu!" Jawabku dengan berbisik.

__ADS_1


"Oh ya sudah!" jawab Ira kemudian dia pun mengambil alih pembicaraan.


__ADS_2