Dua Penghianat

Dua Penghianat
eps 23 DUA PRIA TERBAIK


__ADS_3

Pov Erni


Setelah aku bertemu ibu mertuaku. dan mendapatkan ancaman, bahwa dia yang akan mengurus perceraianku dengan anaknya. Aku hanya melongo menatap kepergian Ibu Aisyah, tidak menyangka, ada seorang ibu yang tega merusak kebahagiaan keluarga anaknya. Lama terdiam aku pun segera berlalu pergi, melanjutkan perjalananku. untuk menemui Farid yang masih dirawat di kamar rawat inap. seperti biasa aku akan meminta pendapatnya, dengan apa yang terbaik, yang harus aku lakukan.


Sesampainya di ruangan. terlihat Farid yang sedang duduk, dia sudah agak napak baikan, Karena setelah dicek menggunakan rontgen dan city scan, tidak ada luka dalam yang ia Derita. Perbannya sekarang sudah dibuka, hanya menutupi bagian luka-luka kecilnya. nggak seperti semalam, yang semuanya dibalut dengan perban.


"Kenapa, kok kamu cemberut, seperti itu? habis ketemu hantu ya!" sapa Farid, seperti biasa dia selalu hafal dengan perubahan sikapkum


"Aku bertemu lagi Bu Aisyah, Setelah aku pulang berbelanja di supermarket untuk membeli cemilan. dia mengancamku, aku akan diceraikan oleh anaknya!" ujarku merajuk, sambil menyimpan barang belanjaan di atas nakas.


"Harusnya kamu senang dong! kamu mau diceraikan. jadi kita nggak harus ribet mengurus itu, biarkan saja mereka yang mengurusnya." ucap farid sambil meregangkan tangannya, mengajakku untuk berpelukan.


"Tapi aku bingung, kalau harus bercerai dengan Arfan." Aku mengutarakan kegundahanku, walau bagaimanapun Arfan adalah orang yang terbaik juga, yang ada dalam kehidupanku.


"Jangan bingung sayang! kan masih ada aku, yang akan selalu mencintaimu, menyayangimu dengan tulus, tak akan pudar diterpa oleh waktu!" Gombal Farid sehingga membuatku dengan refleks naik ke ranjangnya, kemudian aku Sadarkan kepalaku di dadanya.


"Terima kasih ya! Kamu selalu ada dalam kehidupanku. Baik dalam keadann suka, maupun duka." ucapku manja.


"Sama-sama sayang! Lagian kalau kamu cerai dengan Arfan, semua harta kekayaannya, sudah menjadi hak milik kamu. Jadi kamu nggak usah takut berlebihan seperti itu!" jelas Farid sambil mengusap rambut panjangku, kemudian diselingi dengan kecupan lembut, yang ia daratkan di ubun-ubun. membuatku semakin merasa nyaman berada di dekatnya.


Kalau begini terus, Farid memperlakukanku. Kehilangan suami mungkin tidak akan terasa, ketika ada pengganti yang sepadan bahkan lebih menyayangiku dari Arfan.


*****


Pukul 19.30. Pintu kamar rawat inap Farid ada yang mengetuk. setelah aku mempersilahkan, masuklah seorang perawat untuk mengecek perkembangan kondisi Farid. mulai dari mengecek dekuk jantung, tekanan darah, dan memberikan obat yang harus diminum Parit malam ini.


"Kira-kira! kapan teman saya bisa pulang, Sus?" aku bertanya karena melihat kondisi Farid yang begitu signifikan, dalam perubahan kebugarannya.


"Melihat kondisi Pak Farid seperti sekarang, mungkin besok juga sudah boleh rawat jalan. karena menurut pengecekan, yang dilakukan tadi siang. Pak Farid hanya luka luar, Jadi tidak harus ada perawatan yang berlebih." jelas perawat itu, sambil terus melaksanakan tugasnya.


"Terima kasih!"

__ADS_1


"Sama-sama! Namun untuk lebih jelasnya, besok Ibu bisa menanyakan langsung ke dokter, yang menangani Pak Farid!" saran perawat.


Setelah selesai mengecek keadaan kondisi Farid, Ia pun berpamitan, untuk mengecek pasien-pasien lainnya. setelah kepergian perawat itu, aku dan Farid saling menatap, dilanjutkan dengan senyum yang mengembang dari kedua bibir kita.


"Kalau kamu tidak bisa tidur di sini, kamu boleh pulang ke rumah! biarkan aku di sini sendirian." ujar Farid yang mungkin merasa kasihan denganku, yang terus menemaninya.


"Enggak kok, rid! Justru Aku senang berada di dekatmu! aku bisa merawatmu dengan tulus. untuk masalah tidur, Aku bisa tidur di sofa. tadi malam aja Aku nyenyak kok! tidur di situ." tolakku, karena kalau aku sendirian di rumah, Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi harus tinggal di rumah, sebesar rumah yang baru aku tempati. Karena suamiku sudah mengusirku dari rumah milik ibunya. aku belum bisa membayangkan, ketika harus tinggal sendirian di rumah yang baru.


"Kamu udah mencoba menghubungi kembali, nomor suamimu?" tanya Farid mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Lagian sampai saat ini, nomor hp-ku masih di blok sama dia. coba kamu yang menghubungi, Siapa tahu saja kalau sahabatnya yang nelpon, dia mau mengangkat!"  jawabku menyuruhnya.


Farid pun meminta tolong, untuk mengambilkan handphonenya yang ditaruh di atas nakas. kemudian dia terlihat membuka aplikasi pesan, berwarna hijau, berlogo telepon. untuk mengecek Apakah nomor suamiku bisa dihubungi.


"Sama, di blok!" ungkap Farid sambil menatap ke arahku, memperlihatkan nomor kontak suamiku, yang tidak terlihat menggunakan fota profil. menandakan Apa yang diucapkan oleh Farid benar adanya.


"Coba telepon lewat panggilan biasa, jangan pakai aplikasi!"


"Emang kamu nggak bisa?" Farid bertanya, sambil menautkan kan kedua alisnya


Farid pun mengangguk, tanpa bertanya lagi, kemudian dia mengalihkan layar handphone, ke menu telepon. untuk mencari nomor Arfan, setelah ketemu dia langsung memencet tombol Panggil.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif! atau berada di luar service area!" peringatan yang keluar dari handphone Farid, setelah ia memanggil nomor suamiku.


"Ke mana ya?" tanpa sadar aku bertanya seperti itu, Entah mengapa. mungkin Rumah tanggaku yang sudah 4 tahun, Membuatku sedikit merasa kehilangan.


"Palingan! dia mencari hiburan, untuk menenangkan kembali perasaannya. Aku tahu Arfan itu orangnya seperti apa. dia sangat mencintaimu! pasti dia akan mempertahankanmu, untuk tetap menjadi istrinya. hanya butuh waktu saja, agar dia bisa menerima. membagi istri yang dia sayangi, dengan sahabatnya."  jawab Farid sedikit memberi pengertian.


Aku hanya menarik napas dalam, rasa kangen yang hadir menyelimuti jiwaku. Karena hampir 5 hari aku tidak bertemu dengan suamiku. dan ketika bertemu, kita tidak di waktu yang tepat. sehingga hatiku Yang Terdalam, sedikit merasa bersalah, telah menghianati pengorbanan suamiku. Yang sangat begitu mencintaiku.


Aku tidak bisa memilih menentukan siapa yang jadi pemenang hatiku. Arfan yang begitu loyal terhadapku, sedangkan Farid yang begitu pengertian sebagai sahabat, membuatku merasa pusing harus memilih yang mana.

__ADS_1


"Sudah, jangan banyak pikiran! Lagian kalau si Arfan sudah tidak mau dengan kamu. masih ada aku, yang akan terus mencintaimu, menerima kekuranganmu, menjadikanmya sebagai kelebihan." jelas Farid sambil meregangkan tangannya, mengajakku berpelukan.


Aku yang dilanda rasa Bimbang, dengan tak sadar, mengangkat kakiku, untuk naik ke atas ranjang. lalu menyandarkan kepala di tubuh Farid yang sedang berbaring.


Pria yang sudah bertahun-tahun menemaniku, meski hanya sebagai seorang sahabat. perlahan tangannya mulai mengusap-usap lenganku, memberikan ketenangan di saat gundah seperti sekarang.


"Emang beneran, Kalau Arfan menceraikanku, kamu mau menikah denganku?" aku bertanya sambil memainkan jemariku di atas perutnya.


"Aku nggak pernah bohong, dengan apa yang aku ucapkan!" ujar Farid.


"Terima kasih ya! sudah mau menerimaku" ucapku mendongakkan kepala, menatap ke arah wajah pria yang sedang memelukku. senyum termanis aku berikan kepadanya.


"Oh iya! kalau kita menikah apa kamu mau melepaskan suntik KB?" tanya Farid yang mengetahui ku aku suka melakukan suntik KB. Bahkan dia beberapa kali mengantarku untuk melakukan hal itu.


"Semenjak kemarin aku ketahuan oleh Suamiku, aku melakukan suntik KB. aku sudah berjanji sama dia tidak akan menunda lagi kehamilanku. Aku sebenarnya juga ingin cepat punya momongan, Rid! Sama seperti wanita-wanita pada umumnya. apalagi ketika mendengar beberapa teman kantor, yang mencibirku. Meraka menganggap bahwa aku tidak subur. rasanya sangat geram, namun aku menahan hinaan mereka, karena aku tidak mau memiliki anak, yang tidak tahu siapa Bapak sebenarnya." ungkapku menjelaskan alasan kejadian beberapa hari yang lalu.


"Begitu ya ceritanya! tapi kalau kita menikah, aku minta kamu menunda kehamilanmu setahun lagi! aku takut, anak kita nanti terganggu kesehatannya. Apalagi aku yakin, masalah yang akan kita hadapi kedepan sangat besar." pinta Farid sambil mempererat pelukannya, kemudian Ia mendaratkan satu ciuman di keningku.


Mendapat permintaannya yang seperti itu, aku terdiam sesat. Menimbang baik dan buruknya, berpikir dengan permintaan yang ingin menunda kehamilanku.


"Kenapa diam, setahun kan nggak lama?" susul Farid, ketika aku tidak memberikan respon dengan permintaannya.


"Nggak apa-apa! memang benar apa yang kamu ucapkan. mungkin setahun ini. aku akan berusaha, bagaimana aku bisa mendapatkan semua hak hartaku, mulai dari mengambil semua aset yang dimiliki oleh suamiku. yang sudah dia berikan atas Namaku." Setelah aku berpikir agak lama, aku pun membenarkan pendapat Farid.


"Pintar!" ucap farid sambil mengecup kembali keningku.


"Tapi aku bingung.  bagaimana caranya, supaya aku bisa menguasai semua harta yang sudah di atas namakan dengan Namaku?"


"Gampang, itu soal mudah. Serahkan saja semuanya kepadaku! Kamu tinggal duduk manis, dan menunggu hasilnya. apalagi kalau beneran si arfan menggugat cerai, itu akan sangat mudah mengurusnya!"


" Are you sure? Terima kasih ya! memang Kamu adalah pria terbaik, yang selalu mengertikanku." ujarku manja sambil mempererat pelukan.

__ADS_1


Kemudian kita pun terhanyut dengan obrolan-obrolan, dan rencana-rencana yang begitu indah, setelah kita bisa bersatu. dan menguasai seluruh harta yang sudah Arfan berikan.


Lama mengobrol, akhirnya Farid pun meminta jatah, seperti yang Iya suka lakukan. ketika kita sedang berdua seperti sekarang. dengan senang hati aku pun menerima permintaan itu. Farid yang sedang dirawat, dia tidak kesusahan untuk memanjakan dan memperlakukanku, sebagai wanita yang sempurna.


__ADS_2