
Pov arfan
Mendengar jawaban Karla yang tak sedikitpun tersentuh dengan pujian, Aku hanya terdiam tanpa tak tau berkata apa lagi.
"Kenapa diam Mas?" ledeknya sambil menaikkan sebelah alis.
"Nggak, nggak apa-apa!"
"Ya sudah ayo makan, Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang." ajak Karla sambil menunjukkan jam yang ada di tangannya.
"Bungkus aja! nanti makannya bareng anak-anak." jawabku yang seketika Kehilangan selera makan, setelah bertemu dengan mantan istriku.
"Anak-anak mana?"
"Anak-anak pengajian, semenjak aku kenal sama mereka, aku belum pernah memberikan sesuatu. berbeda dengan kamu, hampir setiap bulan kamu menyisihkan sebagian gajimu untuk memberikan jajan kepada anak-anak pengajian.
"Serius?" tanya Karla seolah tidak percaya.
"Seriuslah! kadang aku merasa ngiri sama kamu, karena walaupun kamu selalu kekurangan, namun kamu selalu berbagi."
"Kagum gitu?" tatapannya memenuhi seluruh area wajahku.
"Ya!" jawabku yang sedikit menganggukan kepala.
"Maaf Mas! aku tak Tersanjung dengan apa yang kamu ucapkan. ingat! aku tidak akan tertarik dengan pria yang tak punya pendirian. apalagi kalau melihat barusan, kamu hanyalah pria bod0h yang tak mampu membentak mantan istrimu, Padahal kamu sudah direndahkan serendah-rendahnya. apa jangan-jangan kamu masih sayang?"
"Emang kagum, harus mendapat kekaguman balik?" Aku menyembunyikan rasa malu, setelah mendengar apa yang dituturkan oleh Karla.
"Nggak juga sih! cuman aku memberikan peringatan sejak dini, agar kamu nggak harus capek-capek terus memujiku."
"PD amat! cantik aja kagak." jawabku yang tidak mau kalah.
"Cantik lah! buktinya ibu kamu suka sama gua." bibir indahnya dipenuhi dengan senyum kemenangan.
"Udah! ayo kita pesan makan. Nanti keburu sore," ajakku tak mau memperpanjang perdebatan, karena Sekuat apapun aku berusaha, Aku akan tetap kalah berdebat dengannya.
Akhirnya kita berdua mendekati waiter, untuk menyampaikan pesanan. Setelah selesai memesan makanan untuk dibawa pulang, aku dan Karla memilih duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Oh iya, emang lu ngikutin tender apa?" tanya Karla memecah Hening suasana di antara kita berdua. kalau jauh rasanya ingin berbicara banyak, namun ketika berdekatan seperti ini obrolan itu menghilang tiba-tiba. Hanya perdebatan dan perdebatan yang hadir di antara kita.
"Maksudnya apa?" tanyaku yang belum paham, karena dari tadi aku terus terus berpikir untuk mencari topik pembahasan.
"Tadi mantan istri lu mengancam, elu gak usah ikut tender, Emang tender apa?"
__ADS_1
"Oh, masalah tender!"
"Iya, kenapa sampai istri lu mengancam seperti itu?"
"Tadi pagi Dali menyampaikan bahwa ada perusahaan yang menyelenggarakan tender pembuatan apartemen 50 lantai. yang nominalnya sangat besar, dan salah satu peserta yang diundang adalah perusahaan Mandiri Group, perusahaanku mungkin. perusahaan Erni group juga ikut, untuk memenangkan tender itu."
"Wah hebat dong! kenapa nggak perusahaan yang besar yang diundang, Kenapa perusahaan antah berantah seperti perusahaan milik lu yang harus ikut?" Puji Karla diakhiri dengan sedikit meledek.
"Dulu aku pernah bekerja sama dengan pihak penyelenggara, mungkin hasil kinerjaku sangat memuaskan, Jadi mereka ingin menjalin kerjasama kembali.
"Oh begitu, ngomong-ngomong kenapa sih perusahaan dikasih nama Mandiri Group? padahal lu nggak ada Mandiri mandirinya, lu masih membutuhkan orang lain, bahkan untuk makan aja, lu minta ditemenin." Tanya Karla mengalihkan pembicaraan.
Ada satu cerita yang membuatku mengambil nama Mandiri grup. dulu ada seorang laki-laki yang hendak mengakhiri hidupnya, dengan cara menghanyutkan diri ke sungai cimandiri. namun laki-laki bod0h itu diselamatkan oleh bidadari yang turun dari kayangan, Bahkan bukan hanya diselamatkan laki-laki bodoh itu dirawat, diberi semangat diberi ilmu yang tak terhingga. sehingga pria itu perlahan mulai bangkit dan mulai menata kembali kepingan kepingan kehidupan yang sudah hancur."
"Cerita apa itu? fiksi apa nyata?" Tanyanya dengan muka datar, Tak sedikitpun terlihat perubahan di raut wajah Karla, padahal aku sedang memuji dia.
"Nyata!" jawabku yang menggaruk-garuk Alis, berbicara dengannya membuat otaku harus bekerja keras.
"Kalau nyata, kenapa bidadari yang sudah ada di kayangan harus turun segala?" selidik Karla semakin menguji kesabaranku. Wajahnya yang ditopang oleh ibu jari, menatap ke arahku menirukan orang yang serius lagi bertanya.
"Tau ah!" jawabku sambil mencubit pipinya yang sedikit tembem, namun akan terlihat manis ketika dia tersenyum.
"Aduh! apa-apaan sih!" Kata Karla sambil menepis tanganku agar melepaskan cubitannya.
"Nggak nyambung bagaimana, kamu yang nggak nyambung, Masa ada Bidadari turun dari kayangan, ngapain mereka repot-repot harus turun, sedangkan di kayangan semuanya sudah tersedia. Bukannya itu cerita sangat ngawur dan cacat logika."
"Tau ah, kamu mendingan ngobrol sama ini!" ujarku sambil menggeserkan kotak tisu yang ada di tengah-tengah meja.
"Emang di kayangan nggak ada bidadara, sehingga sang Bidadari harus menyelamatkan pria bod0h yang mengakhiri hidupnya. Terus apa hubungannya nama perusahaan sama orang yang mau bunuh diri." tanya Karla sambil menatap ke arah kotak tisu yang baru aku geserkan, membuatku tak bisa menahan untuk menggeleng-gelengkan kepala.
"Pesanan atas nama Pak ArFan!" panggil seorang waiter dari meja pelayan.
mendengar Namaku dipanggil, aku yang dari tadi memperhatikan wajah polos Karla, dengan segera bangkit dari tempat duduk. kemudian menghampiri orang yang baru saja memanggil. "saya Mbak!" Jawabku setelah berada di hadapannya.
"Chicken Kranz! dengan jumlah 60 box sudah selesai dibuat. mau diantar, apa langsung mau dibawa sendiri?"
"Tolong bawakan ke mobil saya! totalnya jadi berapa?"
"Baik! totalnya semuanya Rp1.800.000."
Aku mengeluarkan kartu kredit, untuk membayar semua pesananku. setelah selesai melakukan pembayaran, water itu pun membantu membawakan Semua pesanan ke parkiran.
"Ayo pulang!" ajaakku sama Karla yang masih terduduk.
__ADS_1
"Emang sudah selesai?"
"Sudah, ayo! Nanti keburu magrib."
Akhirnya kita berdua pun berjalan beriringan. seperti biasa kita mengobrol meski tidak nyambung, namun Entah mengapa aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya.
Setelah memasukkan semua pesananku ke dalam bagasi mobil. aku dan Karla pergi meninggalkan Mall itu, untuk pulang ke rumahnya. Tak di ceritakan lamanya di perjalanan, akhirnya mobilku sudah terparkir di dekat Gang yang menuju ke rumah Karla.
Terlihat Saiful pun menghampiri, karena tadi sebelum berangkat menuju ke sini, Aku sudah memintanya untuk membantu membawakan nasi box yang aku beli.
*****
Setelah selesai melaksanakan salat Isya, anak-anak pengajian pun riuh, karena mereka merasa senang sekali, setelah mendapat Nasi box yang dibagikan oleh Karla.
"Adnan ke mana, Kok nggak kelihatan?" tanya Karla yang hafal dengan semua anak yang belajar ngaji kepadanya.
"Katanya sakit Bu! Jadi nggak ikut ngaji." jawab salah seorang anak yang tahu dengan kondisi teman sepengajiannya.
"Ya sudah, ibu nitip ini sama Adnan." Pinta Karla sambil memberikan bok nasi, untuk diantarkan ke anak yang bernama Adnan.
Setelah selesai membagikan semua nasi, akhirnya aku yang sejak dari tadi menunggu dengan Saiful diajak Pak Umar untuk masuk ke rumahnya.
Seperti biasa sebelum melanjutkan pembelajaran tentang ilmu agamaku, Kami berempat makan malam bersama terlebih dahulu.
*****
Keesokan paginya, aku beserta semua stafku mulai bekerja untuk mengikuti tender yang diadakan oleh perusahaan Pak Bagas. mendengar ucapan Erni kemarin yang meremehkanku, membuat motivasiku sekarang berlipat ganda.
Hari-hari berikutnya, aku disibukkan dengan fokus menangani tender yang sedang digarap oleh perusahaan. hingga ketika sebentar lagi deadline, semua ide yang kita tuangkan dalam bentuk Berkas, sudah bisa disampaikan ke perusahaan Bagaskara Sebagai penyelenggara tender.
"Semoga aja ya Pak! Usaha kita tidak sia-sia." ujar Dali mengawali pembicaraan, sehari setelah penyerahan berkas.
"Amin! semoga saja begitu." jawabku menyembunyikan kekhawatiran, Karena perusahaan yang mengikuti tender bukan hanya perusahaanku saja, ada perusahaan ibu dan perusahaan Erni group, yang ikut andil meramaikan perebutan pekerjaan itu.
"Tapi hebat ya pak?" ujar Dali yang memecah lamunan.
"Hebat apanya?"
"Saya kira Perusahaan Erni group akan tumbang, setelah pemimpin perusahaannya diganti. namun perusahaan itu tetap berdiri, karena mungkin Pondasi yang dibangun dulu sangat kokoh." Jawab Dali mengungkapkan kekaguman, yang tak bisa kupungkiri karena memang benar begitu adanya.
"Memang dari dulu juga, seperti apa yang kamu ketahui, Erni adalah orang yang tekun dalam bekerja, jadi aku tidak kaget ketika perusahaannya masih bisa bertahan. Oh iya sekarang bagaimana keadaan istrimu." Tanyaku mengalihkan pembicaraan agar tidak keterusan membahas penghianat itu.
"Alhamdulillah! sudah mulai membaik Pak, meski dia masih belum bisa menerima tentang kepergian anak kita. Tapi sekarang sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan, sekarang istri saya sudah mulai mau berbicara, meski belum seakrab dulu, sebelum kejadian Nahas menimpa keluarga kami." Dali menjelaskan kondisi istrinya, yang kehilangan anak pertama sesaat setelah dilahirkan.
__ADS_1
"Semoga cepat sembuh, seperti sedia kala!" doaku.