
POV Arfan
"Kenapa kamu garuk-garuk kepala? Makanya kalau mandi itu keramas." ujar wanita yang berdiri di hadapanku, di tangannya penuh dengan kasur lantai yang sedang ia peluk. tanpa menunggu jawabanku, Dia mendekati ke arah pintu melewatiku yang masih menatap penuh tanya.
"Mau ke mana?" Aku membalikan tubuh menatap ke arah mana perginya.
"Ke bawah, mau gelar kasur lantai. katanya kan kamu mau istirahat?"
"Aku bisa tidur di sana!" jawabku sambil menunjuk ke arah ranjang yang sudah tertata rapi.
"Jadi mau menggelar kasur lantainya di sana?" tanyanya sambil mengangkat satu alis.
"Buat apa?"
"Katanya biar badanmu nggak sakit."
"Kan di sana udah ada kasurnya La, ngapain harus pakai kasur lantai segala!"
"Oh begitu, Jadi sekarang kamu nggak membutuhkan ini lagi?" tanya gadis aneh itu sambil manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
Karla pun kembali sambil membawa kasur lantai mendekat ke arah lemari, kemudian dia memanjat ke kursi untuk menaikkan kembali kasur lantai ke atasnya. aku yang dari tadi melihat kelakuan anehnya, hanya terdiam menikmati tingkah konyol itu. Karla yang sudah terlihat naik ke atas kursi, namun ketika dia hendak menyimpan kasur lantai, Dia sangat kesusahan. karena ketika tadi menurunkan dia hanya perlu menariknya, namun ketika dia mau menyimpan, kasur lantai itu harus diangkat, agar tersimpan dengan rapi.
"Eh, kamu Kenapa diam? buruan bantuin!" Panggil Karla yang masih terlihat kesusahan.
Aku hanya tersenyum kemudian mendekat ke arahnya. "Ya sudah, Awas turun.
Karla menarik kembali kasur lantai yang belum bisa disimpan, kemudian Dia turun dari kursi lalu menyerahkan kasur itu. "Tolong yah!"
"Yah!" Jawabku sambil tersenyum, kemudian naik ke atas kursi lalu menyimpan kasur itu. Setelah menyimpan kasur lantai dengan terapi, dan memastikan takkan terjatuh. aku pun turun kembali, namun aku tidak melihat keberadaan Karla.
"Karla.......! Karla.......!" panggilku sambil merapikan kursi ke tempatnya, mataku menatap ke arah pintu yang sudah terbuka.
Aku keluar dari kamarku, kemudian mencari di area sekitar. namun orang yang kucari tidak dapat kutemukan. aku turun ke lantai bawah, terlihat Karla sedang menatap bingung ke arah layar televisi.
"Aku cari-cari! ternyata kamu sudah ke sini lagi."
"Bukannya tadi kamu mau istirahat?"
"Iya! tapi temenin ya!" jawabku sambil mengangkat satu sudut bibir lalu duduk di sampingnya.
"Buat apa?"
"Kok buat apa?"
"Ya buat apa! kan kamu sudah gede, sudah besar, udah tua. masa tidur aja harus ditemenin, Lagian ini kan masih siang hari," jawabnya polos tanpa dosa.
"Ya kan kamu istri aku, kemarin-kemarin kita disibukkan dengan mempersiapkan acara pernikahan. kita belum mengobrol serius di dalam kamar, layaknya seorang suami istri." Ujarku sambil mengangkat-angkat alisku.
__ADS_1
"Ngobrol serius seperti apa?"
"Ya bercengkrama begitu, biar kita semakin akrab, biar kita pacaran halal."
"Oh begitu!" tanyanya sambil menyembungkan pipi, menunjukkan Sisi termanisnya.
"Iya begitu!"
"Kalau mau ngobrol di sini aja, nanti kalau di kamar takut menjadi fitnah."
"Fitnah apa?"
"Fitnah berduaan, berbeda jenis."
"Ya nggak akan menjadi fitnah, Kan kita sudah sah menjadi suami istri."
"Oh iya, yah! aku harus cari alasan apa?"
"Alasan buat apa?" Tanyaku sambil mengerinyitkan dahi tidak mengerti apa yang dimaksud.
"Ya biar gak ngobrol di kamar sama kamu, aku takut!"
Oh kamu nggak mau menemani aku di kamar, karena takut. kalau boleh tahu takut apa?"
"Takut kamu lah! takut apa lagi."
"Lebih dari itu!"
Akhirnya kita pun terus terlarut dalam obrolan obrolan yang tidak terlalu penting, namun itu Cukup membuatku bisa menjalin kedekatan dengan gadis aneh itu. karena ketika aku menikahi dia aku tidak pacaran terlebih dahulu, saat aku mengungkapkan perasaanku untuk beberapa kali, dia menantangku untuk menemui bapaknya, hingga akhirnya pernikahan itu terjadi.
Sebelum adzan Ashar berkumandang, Karla meminta izin ke kamar, untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. karena sejak datang dari acara pesta, dia belum sempat membersihkan tubuh. akhirnya dia naik ke lantai atas, Karla memintaku agar tidak boleh masuk kekamar terlebih dahulu, sebelum dia menyelesaikan aktivitas mandinya.
Mendapat perintahnya seperti itu, Aku hanya mengangguk namun sedikit tersenyum. karena melihat kelakuan konyolnya. setelah beberapa menit berlalu, aku yang sudah berencana mengikutinya dengan cepat ikut naik ke lantai atas. kemudian masuk ke kamarku, dari arah kamar mandi terdengar suara guyuran air yang menimpa tubuh. Otaku mulai melayang masuk ke kamar mandi, di mana istriku berada.
Namun itu tidak terlalu lama, karena terdengar guyuran air itu sudah berhenti. aku yang berdiri di ambang pintu Kemudian menutupnya lalu berjalan menuju kursi yang berada di kamarku, menunggu Karla keluar dari kamar mandi. Dengan membayangkan dia hanya menutup tubuhnya menggunakan lilitan handuk, berharap aku bisa menikmati tubuh istriku hanya lewat tatapan
Ceklek!
Terdengar suara handle pintu yang diputar. mataku terus terfokus menatap ke arah kamar mandi, lalu muncullah Karla yang sedang mengeringkan rambut dengan handuknya. hatiku tiba-tiba menciut, karena itu tidak sesuai dengan ekspektasiku. karena Karla mengganti bajunya di kamar mandi, sehingga ketika keluar dia sudah terlihat rapi, hanya rambutnya saja yang masih basah.
"Kenapa menatapnya seperti itu, baru lihat orang mandi apa?" ujarnya sambil menatap penuh heran ke arahku.
"Nggak! nggak, kenapa kamu pakai baju di kamar mandi?:
"Ya! kalau di luar aku sudah tahu akal bulus.
"Akal bulus apa?"
__ADS_1
"Halah ngelas aja! sana buruan mandi kita salat berjamaah lagi," Pintanya.
"Mandiin dong!"
"Apaan sih nggak jelas, buruan mandi!" serunya tanpa memperdulikanku lagi dia menuju ke arah balkon untuk menjemur handuknya. Setelah menjemur handuk dia pun masuk ke kamar kembali, lalu keluar melewati pintu tanpa menunggu pembicaraanku, terdengar langkah kakinya yang menuruni tangga.
Aku hanya menggeleng-geleng kepala, kemudian dengan malas aku bangkit dari kursiku, lalu mengambil handuk yang ada di balkon, untuk membersihkan badan, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Karla. memang benar aku harus mandi karena tubuhku terasa lengket oleh keringat setelah melaksanakan rutinitas pesta.
Selesai melaksanakan salat ashar. aku dan Karla diajak ngobrol oleh ibu di samping rumah halaman yang penuh dengan bunga-bunga segar, sehingga banyak kupu-kupu yang Menikmati keindahan itu.
"Kapan kalian mau bulan madu?" tanya ibu sambil membagi tatap ke arah kita berdua.
"Bulan madu buat apa Bu?" tanya Karla dengan polosnya, entah gak mengerti atau emang pura-pura.
"Untuk memberikan Ibu cucu."
"Cucu apa, Aku kan nggak punya Bu,"
"Ya makanya kamu harus bulan madu, biar punya!"
"Ke mana?" tanya Karla sambil menatap ke arah ibu.
"Emang kalian belum memiliki rencana bulan madu?" tanya ibu sambil menatap ke arah gadis polos itu.
"Sudah kok, Bu! sudah cuman aku malu Bu." jawab Karla berbohong, karena Semenjak dia mau menerimaku menjadi suaminya, kita tidak pernah ngobrol seserius itu.
"Kenapa malu?"
"Ya Malu ibu! kan nggak semua urusan rumah tangga kita harus diketahui oleh orang lain, walaupun itu keluarga."
"Hehehe, bener juga! Ya sudah kapan mau berangkat?"
"Besok Bu! rencananya kita mau berangkat." jawabku menimpali dengan cepat.
"Ke mana?"
"Mungkin untuk awal-awal yang dekat-dekat aja dulu Bu! kita mau ke puncak.
"Oh ya sudah! bagus kalau seperti itu. nanti Ibu hubungin teman ibu yang memiliki villa di Puncak agar lebih privasi."
"Terima kasih banyak Bu! terima kasih."
"Emang Karla sudah siap untuk memiliki momongan?" tanya ibu sambil mengalihkan tatapannya ke arah Karla yang terdiam.
"Siap, nggak siap Bu! itu kan sudah suatu keharusan perempuan Bu. keharusan yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa di mau." jawab Karla yang terlihat sangat dewasa, tak menyebalkan seperti biasa ketika berbicara denganku.
"Bagus kalau seperti itu, Ibu sangat senang. karena tujuan pernikahan itu selain beribadah, yaitu memiliki keturunan agar kelangsungan Trah keluarga terus berlanjut."
__ADS_1