Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 49 BERGURU


__ADS_3

Pov Arfan


"Insya Allah, kalau luka seperti ini. dua atau tiga lagi hari nak Arfan sudah bisa berjalan kembali." ujar Pak Umar sambil mengelap tangannya dengan kain yang ada di sampingnya.


"Jorok banget sih, Pak! kenapa nggak cuci tangan saja, siapa tahu pria ini banyak dakinya." Celetuk karla sambil memicingkan mata ke arahku.


"Hush! kamu nggak boleh berbicara seperti itu." Dengus Pak Umar memperlihatkan raut wajah yang tidak suka.


"Emang bener, kan! siapa tahu saja seperti itu. soalnya tadi pas aku memberikan nafas buatan, ketika aku buka mulutnya. bau mulutnya seperti naga yang baru bangun tidur." ujarnya sambil menutup mulut, dengan mata terbelalak sempurna.


"Apa kamu bilang? berarti kamu mencium pria ini?" tanya Pak Umar sambil membenarkan posisi duduknya.


"Iiiiiih, nggak seperti itu Pak!  Kan dulu kita pernah belajar cara memberikan napas buatan. Dan nafas buatan itu, bukan dicium tapi ditiup mulutnya. agar ada udara yang masuk kedalam parunya. namun sialnya dia malah muntah Di bajuku." ujar Karla menepis prasangka bapaknya.


"Iya, walaupun sebenarnya itu tidak boleh menurut agama kita. namun dalam kondisi terdesak, maka itu boleh dilakukan. ingat ya, Dalam keadaan terdesak!" Ucap pak Umar mengingatkan anaknya.


"Iya Pak! Lagian siapa sih, yang mau sama cowok dekil seperti ini." ucap Karla yang terus meledekku.


"Hush! kamu tuh Sudah Bapak bilangin jaga bicaramu. Kalau berbicara itu dijaga. ya sudah! Sana kamu siap-siap terlebih dahulu, untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah." sanggah Pak Umar yang terus-terusan menasehati anaknya.


Dengan Malas Karla pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia naik ke lantai atas. tak lama Ia pun turun kembali sambil membawa handuk, Mungkin dia hendak membersihkan badan terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat dhuhur. aku hanya menatap gemas ke arahnya, kalau kakiku nanti sudah sembuh, aku akan balas semua perlakuannya.


"Maafin anak saya, ya! kalau ucapannya menyinggung hati Nak Arfan. namun dia orangnya baik, kok." ujar Pak Umar, matanya yang terfokus melihat Karla yang tertelan oleh balik pintu.


"Nggak apa-apa, Pak! Memang anak bapak sangat baik, Buktinya dia mau menyelamatkan nyawa saya." ucapku menyembunyikan perasaan kesal kepada anaknya.


"Ya sudah! kalau begitu. Bapak izin ke masjid terlebih dahulu, sebentar lagi Azan dzuhur berkumandang. kamu salat di rumah saja! kalau belum bisa jalan." ujar Pak Umar.


Aku hanya menundukkan pandangan, tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi pipi. karena aku baru sadar, melihat kehidupan mereka yang jauh dari kata layak, Masih sempat mengingat penciptanya. sedangkan aku yang diberi kelapangan yang begitu luas, tidak pernah mengingat Allah sebagai penciptaku.


"Kenapa bersedih? maaf kalau bapak salah ucap!"


"Aku nggak bisa salat, Pak! aku lupa bacaannya seperti apa." Jawabku dengan suara lirih, karena aku hanya salat ketika di berada rumah Ibu. itu pun hanya pura-pura saja, hanya menggelar sajadah.


"Ya sudah! nanti kalau sudah sembuh nak Arfan belajar lagi. karena walaupun hidup seribu tahun, tapi tak pernah sembahyang, apalah gunanya." jelas Pak Umar sambil tersenyum menepuk bundaku, kemudian ia bangkit keluar dari rumah.

__ADS_1


Setelah kepergian Pak Umar, terdengar suara langkah kaki yang menapaki tangga. kemudian muncullah Carla sambil menenteng baju yang baru ya cuci. tanpa ada sapaan keluar dari mulutnya, dia berjalan menuju balkon rumah, yang tadi dijadikan tempat memandikanku. Untuk menjemur pakaian yang baru di cucinya.


Tanpa ada perkataan ataupun ledekan setelahnya, dia hanya berjalan naik ke lantai 2. tak lama setelah itu karla pun turun, dengan menggunakan mukena putih membuatnya terlihat sangat Anggun. berbanding terbalik 180 derajat ketika dia menjahili ku. aku hanya bisa menatap kagum wanita yang hendak melewatiku.


"Jaga matamu, Mas! nanti di neraka matamu ditusuk jarum sol panas!" ujar karla sambil terus berjalan tanpa memperdulikanku.


Tak lama setelah itu, Azan Dzuhur pun berkumandang. Suaranya sangat dekat, seperti berada di samping rumah. ketika aku tadi datang, aku tidak memperhatikan area sekitar. sehingga aku tidak bisa tahu persis mushola itu berada di mana.


15 menit berlalu, Akhirnya bapak dan anak pun kembali, memasuki rumah. kemudian Pak Umar mengajakku untuk bersalaman, sedangkan karla, dia terus naik ke lantai 2, untuk menyimpan mukenanya dan tak lama dia pun turun kembali.


"Siapkan makanannya!" seru pak Umar kepada anaknya.


Karla pun mengangguk, tanpa ada penolakan. ia berjalan menuju ke arah dapur, tak lama setelah itu ia pun kembali sambil membawa panci magic com, kemudian ia kembali ke dapur untuk mengambil persiapan makan siang.


"Ayo makan dulu, tapi Maaf lauknya tidak ada apa-apa!" ajak Pak Umar sambil menyendok nasi mengisi piring kosong, kemudian didekatkan ke arahku.


Aku hanya menatap nanar ke orang yang berhati malaikat ini, meski baru kenal mereka sangat baik terhadapku.


"Kenapa menatap Bapak seperti itu! kalau kurang kamu boleh Nambah kok." ujar Karla menghancurkan situasi haru itu.


Pak Umar pun mulai memimpin doa, kemudian Kami bertiga menyantap makan siang itu dengan begitu lahap. walau hanya dengan lauk sayur bayam dan tempe goreng. namun rasanya sangat nikmat, kenikmatan makan yang tak pernah aku temukan di restoran manapun. kalau tidak malu rasanya ingin aku habiskan nasi yang tinggal sedikit itu, namun aku cukup tahu diri, dengan Posisiku yang sekarang. Sehingga aku makan hanya dua piring.


"Ayo nambah lagi! Tenang nanti bapak suruh Karla untuk masak lagi." tawar Pak Umar sambil mendekatkan panci Magic Com ke dekatku.


"Terima kasih, Pak! namun saya udah kenyang." jawabku sambil mencuci tangan di mangkok yang sudah disiapkan oleh Karla, kemudian mengelap tanganku dengan lap yang terbuat dari baju bekas.


Setelah selesai makan. karla pun kembali merapikan bekas makan kami, membawanya ke dapur untuk dirapihkan.


"Rok0k!" tawar Pak Umar sambil mendekatkan bungkus rok0k kretek, yang baru aku melihatnya.


"Nggak, Pak! Terima kasih." jawabku menolak, karena memang aku bukan perok0k aktif.


"Cowok tuh! harus ngerokok. biar kelihatan keren, meski tidak punya duit. Dan bisa menjadi penyemangat untuk lebih giat bekerja." ujar Pak Umar sambil tersenyum, kemudian dia menyalakan korek api untuk membakar rok0k yang ada di tangannya.


"Emang boleh, pak?" Tanyaku yang merasa tidak enak, karena menolak tawarannya.

__ADS_1


"Boleh! Coba saja!" ujar Pak Umar sambil membuang asap yang ada di mulutnya.


Aku pun mengambil sebatang, dari bungkusan yang tadi diserahkan oleh pak Umar. kemudian mengambil koreknya lalu membakar tembakau yang dibungkus oleh papir itu, dah perlahan aku mulai menghisap.


Uhuk! uhuk!


Tiba-tiba aku terbatuk,tersentak karena memang aku belum pernah menghisap rokok yang Aku saja belum tahu namanya. Biasanya aku kalau harus merok0k, aku akan merok0k yang lebih kecil dan memakai gabus.


"Hahaha! anak muda itu, rok0knya harus yang ada sepatunya. biar nggak batuk." ujar Pak Umar yang menertawakan tingkah lakuku.


Aku pun hanya tersenyum, kemudian mulai mencoba kembali menghisap rok0k yang ada di tanganku, setelah beberapa kali mencoba,aku pun mulai terbiasa, mulai menikmati, benda yang mengandung nikotin itu.


"Oh iya! kalau bapak boleh tahu kamu tinggal di daerah mana?" tanya Pak Umar yang terlihat membenarkan posisi duduknya.


"Saya dari Jakarta Timur, Pak! tepatnya Pulau Gebang." jawabku sedikit berbohong, karena sebenarnya rumahku dengan tempat ini sangat dekat, mungkin sekitar satu jam saja sudah sampai.


"Kalau boleh tahu, kenapa sampai bisa tersesat ke sini, maaf Bapak banyak tanya."


Aku pun hanya menundukkan kepala, mengingat kembali kejadian 5 bulan yang lalu, ketika aku dikhianati oleh dua orang yang sangat aku percayai.


"Ya sudah! kalau tidak mau bercerita. nggak usah sedih seperti itu! semua orang punya jalan cerita masing-masing, yang terpenting kedepannya, Bapak harap nak Arfan bisa lebih bersabar, karena sia-sia hidup kalau hanya untuk putus asa." nasehat Pak Umar.


"Terima kasih, Pak! atas semua bantuannya, semoga Tuhan membalas semua kebaikan Bapak sekeluarga." Ujarku yang tak tahu lagi harus berkata apalagi. untuk membalas kebaikan kedua orang yang menolongku.


"Amin! Terus rencana ke depan nak Arfan, mau seperti apa?" ujar Pak Umar sambil bertanya kembali.


"Kalau boleh saya ingin tinggal di sini, Saya ingin belajar salat, belajar mengenal Tuhan saya." ujarku dengan serius.


"Alhamdulillah! kalau seperti itu, namun." ucapan Pak Umar terhenti seolah lagi menimbang sesuatu


"Maaf, Pak! namun apa?"


"Kalau untuk tinggal di sini, Bapak bukan melarang. karena rumah bapak yang lantai bawah jarang ada yang menempati. namun seperti yang Arfan tahu, bapak memiliki anak gadis. itu tidak etis, Jika seorang pria tinggal serumah dengan seorang perempuan, tanpa ada ikatan pernikahan. tapi Arfan nggak usah berkecil hati, nanti saya akan bicarakan dengan Saiful, Siapa tahu saja dia bisa mengajak nak Arfan untuk tinggal sementara bersamanya." ujar Pak Umar menjelaskan dengan hati-hati, Mungkin beliau takut membuatku tersinggung. Setelah mendapat penjelasannya aku pun mengerti dengan keadaan sebenarnya.


"Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak."

__ADS_1


__ADS_2