Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 41 sikap Bapak


__ADS_3

POV Farid


Ketika aku mendengar pintu ruang ICU terbuka, dengan segera aku menghampiri, keluarlah Seorang perawat kemudian dia menutup pintu kembali. "Bagaimana keadaan Ayah saya sus?" tanyaku sambil menatap wanita yang memakai setelan putih-putih itu.


"Pak Gufron sedang ditangani oleh dokter, bapak doakan saja agar pak Gufron cepat siuman," jawab Suster itu kemudian dia pun melanjutkan niatnya yang hendak keluar dari ruangan ICU.


"Bagaimana?" tanya Vina yang menghampiri, sambil menatap ke arahku dengan penuh kekhawatiran, matanya terlihat lembab Mungkin dia terus menangis.


Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa belum ada perkembangan apapun dari dalam. dengan perlahan Aku berjalan menuju kursi tunggu, kemudian menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi, kepalaku terasa mengenut tak tahu harus melakukan apa .


"Yang sabar ya sayang!" ujar Vina menenangkanku tangannya dengan perlahan memegang tanganku, kemudian mengelusnya seolah sedang mentransfer energi, agar aku kuat menghadapi semua cobaan yang sedang aku hadapi.


"Aku kasihan sama bapak Vin, karena beliaulah satu-satunya keluargaku yang masih ada. meski Dia sangat menyebalkan, meski Dia sangat pelit, meski tutur katanya tidak lembut, tak seperti tutur orang tua pada umumnya. namun Bapak adalah orang yang selalu hadir di tengah-tengah kesusahanku."


"Iya aku juga tahu, tapi Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, aku yakin Bapak tidak akan apa-apa, aku yakin bapak akan baik-baik saja.


"Semoga aja begitu," jawabku yang menghempaskan nafas kasar.


Sejam berlalu, akhirnya pintu ruangan ICU pun terbuka kembali. aku yang menyangka bahwa itu adalah suster yang keluar, sehingga aku mengacuhkannya. Dari tadi pintu ruang IC itu sering terbuka namun tidak membawa kabar tentang bapak yang sedang dirawat.


"Keluarga Pak Gufron?" Panggil salah seorang membuat mataku melirik ke arah datangnya suara, terlihat ada pria berbaju putih yang sedang berdiri di ambang pintu. Dengan cepat aku pun menghampiri.


"Yah Ada apa Pak?" jawabku setelah berdiri di hadapannya.


"Maaf Bapak siapanya Pak Gufron?"


"Saya anaknya Pak, bagaimana dengan keadaan bapak saya?" Tanyaku yang mengkhawatirkan kondisi bapak.


"Alhamdulillah Pak Gufron sudah siuman, namun untuk memeriksa kondisi jantungnya, kita harus melakukan beberapa tes mulai dari rontgen dada, tes darah, elektrokardiogram, ekokardiografi, biar kita bisa mengambil tindakan selanjutnya."


"Emang bapak sebenarnya terkena penyakit apa?"


"Pak Gufron mengalami gangguan jantung koroner, di mana pembuluh darah menyempit atau menyumbat di koroner. biasanya penyumbatan ini terjadi oleh lemak atau kalsium. Tapi itu baru analisa sementara, Karena untuk membuktikannya Kita harus melakukan tes terlebih dahulu."


"Terus bagaimana sekarang?"

__ADS_1


"Untuk Sekarang Pak Gufron akan dibawa ke ruang CT Scan, untuk merontgen dadanya, serta melihat hasil tes darah, nanti Setelah semuanya diperiksa baru kita akan melakukan tindakan selanjutnya."


"Baik terima kasih kalau begitu dok!"


"Sama-sama, Semoga pak Gufron bisa lekas sembuh."


"Amin...!"


Dokter pun masuk kembali ke ruangan ICU, tak lama dia pun keluar kembali, mungkin hendak mengecek pasien-pasien yang lain. tak lama setelah itu terdengar ranjang transfer pasien yang didorong lalu muncullah bapak yang terlihat lemas, matanya terpejam nafasnya pelan namun tak beraturan.


Melihat kondisinya yang seperti itu, membuat hatiku merasa lemas, tak menyangka bapak bisa seperti ini. dengan segera aku pun membantu mendorong ranjang transfer pasien, dari arah samping.


"Yang kuat ya Pak! Bapak Yang sabar ya!" ujarku memberi semangat.


Mata bapak perlahan terbuka sedikit, kemudian melirik ke arahku. namun itu tak lama, karena beliau langsung membuang muka, membuatku sedikit meringis menahan sakit, tidak dianggap seperti itu. padahal aku sudah berusaha menjadi yang terbaik buatnya.


Ranjang transfer Pasien itu terus didorong memasuki ruangan CT Scan, kemudian aku dan Vina pun menunggu kembali di ruang tunggu. setelah selesai melakukan pengecekan bapak pun dipindahkan ke ruang inap. aku terus mendampinginya, melaksanakan kewajibanku sebagai seorang anak yang bertanggung jawab.


Selesai ditempatkan di ruang inap, suster pun datang menghampiri untuk mengambil sampel darahnya, setelah menyelesaikan pekerjaannya dia pun berpamitan Kembali keluar ruangan. sehingga membuat ruang inap itu terasa sepi kembali.


"Bapak mau minum?" tanya Vina memecah heningnya suasana.


"Ya sudah, kalau Bapak tidak mau minum, Bapak istirahat aja yang cukup, agar jantung bapak kembali normal." pinta Vina sambil menyimpan kembali botol minum yang dia pegang.


"Pak...! Kenapa sih Bapak membuang muka, bapak boleh mendiamkan Farid, tapi jangan sama Vina. Karena istriku tidak tahu apa-apa, Kalau Bapak mau marah marahilah aku yang anakmu! kalau bapak mau benci bencilah aku sepuas hati bapak. dan yang perlu Bapak ketahui, istriku sangat baik, Buktinya dia mau menemani bapak di sini." ujarku yang tak kuat menahan kesal melihat perlakuan bapak.


"Sabar Sayang....! nggak apa-apa, namanya juga sedang sakit. mungkin Bapak butuh istirahat," tahan Vina mengingatkan.


"Kesel lah Vin, kita bela-belain datang ke sini untuk merawatnya, Tapi orang yang dirawat malah cuek seperti ini."


"Nggak apa-apa, udah mendingan sayang sana salat dulu, nanti kita gantian menjaga Bapak di sini." Ujar Vina mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terfokus dengan kekesalanku.


"Bapak dengar ya...! seharusnya Bapak itu berterima kasih sama kita, karena kita mau direpotkan sama bapak. bukan apa-apa, ini adalah bentuk kepedulian kami sama orang tua. namun apa balasannya, Bapak hanya diam bahkan seperti menghindar." ujarku sambil menatap tajam ke arah orang tua yang sedang bersandar di ranjang pasien.


Melihat Kondisi semakin panas, Vina pun mendorong tubuhku agar keluar dari ruang inap, agar tidak menimbulkan keributan. "biarkan sayang, biar aku ingatkan orang tua tidak tahu diri itu," ujarku sedikit menaikkan intonasi suara.

__ADS_1


"Sudah....! sudah....! walaupun kita menolong beliau, tapi kita tidak boleh berkata seperti itu. kita harus sabar, dan kita harus banyak-banyak memaklumi, karena beliau sudah sepuh. sehingga tidak tahu pengungkapannya ,seperti yang sudah sayang bilang, bahwa Bapak sangat baik, mungkin sekarang sedang sakit saja, sehingga beliau cuek seperti itu.


"Sudah lama Bapak seperti ini sama kita, padahal kita tidak pernah merepotkan Bapak, bahkan kita bela-belain ngontrak agar tidak mengganggu ketentramannya. kalau aku minta uang 100, 200 ribu itu hal yang wajar, karena sama siapa lagi aku harus meminta selain sama bapaknya."


"Udah ah, Jangan diterusin...! mendingan kamu salat dulu, nanti kita gantian," usir Vina yang terlihat enggan melanjutkan perdebatan.


Mendengar perkataan Istriku yang tak bergeming sedikitpun, dia seperti tidak menganggap perlakuan Bapak terhadapnya, membuat sedikit pun merasa tenang namun sedih karena aku tidak bisa membahagiakan Istriku yang baik.


"Sana Buruan salat....! Nanti keburu asar loh," usir Vina setelah tidak mendapat tanggapan dariku.


"Kamu yang sabar ya! kalau bapakku melukai hatimu."


"Di sini tidak ada yang terluka Rid! aku sudah memakluminya."


"Terima kasih ya sayang...!" ujarku sambil mengelus lembut rambutnya, Kemudian aku pun pergi menuju ke masjid.


Setelah selesai melaksanakan salat dzuhur, aku pun bergegas kembali menuju ke ruang inap. Namun ketika masuk ke dalam terlihat Vina menghampiri, lalu mengajakku keluar kembali, Entah mengapa istriku seperti itu."


"Ada apa?" tanyaku setelah berada di luar.


"Bapak nanti malam akan dipasangkan ring jantung, karena pembuluh darahnya sudah sangat menyempit, sehingga jantungnya tidak bekerja dengan maksimal," jawab istriku menjelaskan.


"Yah, Kadang aku bingung. padahal bapak sedang sakit seperti itu, Namun sepertinya dia tidak ingin diurus sama kita. rasanya ingin meninggalkan saja, tapi kalau kita tinggalkan Siapa yang mau mengurusnya." Tanggap ku yang masih merasa kesal.


"Sudahlah Rid..! jangan membahas itu terus, sekarang kamu temenin Bapak. Tapi ingat, bicaranya jangan keras-keras, karena jantung bapak sekarang lemah. dan coba kamu ajak bicara dari hati ke hati, siapa tahu saja beliau akan luluh dan menerima Kita sebagai anak dan menantunya."


"Ya, yah! Kamu perhatian banget sih sama bapak."


"Kalau kita nggak merhatiin, terus siapa lagi yang akan memperhatikannya?"


"Benar juga, ya sudah, katanya kamu mau salat. nanti setelah salat, aku akan keluar untuk membeli makan."


"Yah nih, mau. Tapi aku nitip Bapak sebentar," ujar Vina membuat hatiku merasa tentram, karena lelaki mana yang tidak akan bahagia melihat istrinya seperhatian itu kepada orang tuanya.


"Terima kasih ya, kamu selalu mengingatkanku, selalu sayang terhadapku, terhadap keluargaku." Ungkapku yang menatap nanar ke arahnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Nanti! kalau aku salah tolong kamu Ingatkan juga, agar kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.


Akhirnya vina pun berpamitan untuk pergi ke mushola, sedangkan aku masuk kembali ke dalam ruangan inap. terlihat bapak yang melirik ke arahku sebentar, kemudian seperti biasa dia membuang muka kembali, mungkin dia tak sudi menatap ke arah anaknya.


__ADS_2