Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 54 Tawaran Bapak


__ADS_3

Pov Farid


Hari-hari pun berlalu begitu cepat, tak terasa aku bersama Vina sudah hampir sebulan tinggal di rumah bapak. keakraban Kami pun mulai terjalin, layaknya sebagai keluarga yang hangat.


Malam itu Kami bertiga berada di ruang tengah, sambil menonton televisi  Bapak yang sudah mulai kembali merokok terlihat Dia sedang menikmati asap yang berada di tangannya, padahal aku sudah mengingatkan agar dia menyayangi dirinya. namun orang yang sudah kecanduan dengan benda berasap itu, susah untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. sehingga ruangan tengah pun terlihat memutih dengan kepulan asap yang keluar dari mulut kita masing-masing.


"Rid...!" panggil Bapak memecah heningnya suasana.


"Yah kenapa Pak?" jawabku sambil melirik ke arah orang yang bertanya, karena acara di TV sedang di jeda oleh iklan.


"Bapak sudah sepuh, Bapak sudah tidak kuat untuk bekerja, namun meski seperti itu bapak masih butuh uang."


"Maksudnya bagaimana Pak?" tanyaku sambil menatap serius.


"Istrimu kan nganggur di rumah, Bagaimana kalau istrimu membantu bapak mengurus toko kelontong," ujar Bapak menjelaskan.


"Nggak usah lah Pak, kasihan dia sudah sangat kecapean mengurus rumah kita. bebannya jangan ditambah lagi,"  tolakku yang tidak setuju, karena melihat kesibukan sehari-hari Vina yang sangat padat membuatku tidak tega, kalau istri sebaiknya harus ditambah pekerjaan.


"Bukan begitu rid! suatu saat umur bapak pasti akan habis, bapak cuma punya harta satu-satunya, yaitu ruko. jadi mulai sekarang Bapak sudah ingin mengajarkan cara memanage usaha sembako, awalnya ingin kamu yang mengurus namun melihat kesibukanmu di kantor, bapak jadi nggak tega, apalagi kalau mendengar kebaikan Arfan yang menolongmu, sehingga Bapak berpikir ulang untuk menyuruhmu membantu bapak  Jadi Bapak putuskan biar istrimu saja yang mengurus ruko kita, agar ketika Bapak meninggal usaha itu tetap berjalan buat kehidupan kalian ke depan." jelas Bapak panjang lebar, Mungkin dia ingin aku paham dengan apa yang beliau sampaikan.


Satu sisi aku senang mendengar ketika Bapak hendak mewariskan sebuah usaha terhadap keluargaku, namun di sisi lain aku masih merasa tidak enak kalau Vina bekerja ekstra dengan membantu bapak di ruko.


"Saya tetap nggak setuju Pak, Kalau Vina bekerja di kantor. kasihan istri saya kalau harus bekerja di dua tempat, Lagian istri saya bukan pembantu."


"Terus kalau bukan kalian, Bapak mau minta tolong sama siapa lagi. untuk masalah pekerjaan di rumah, nanti bapak akan usahakan untuk mencari asisten rumah tangga agar istrimu bisa fokus membantu bapak mengurus ruko," tawar bapak yang paham Ke mana arah pembicaraanku.


"Nah, kalau seperti itu saya setuju. tapi itu tergantung Vina. kalau dia mau silakan, kalau nggak jangan sampai dipaksa." jawabku memberi keputusan.

__ADS_1


"Bagaimana Vin, Apa kamu mau membantu bapak?" tanya orang tuaku sambil menatap menantunya yang sejak dari tadi hanya diam memperhatikan.


"Kalau Farid mengizinkan, saya mau mau aja sih Pak. Soalnya kalau di rumah terus, saya bosan." jawab Vina yang terlihat mengulum senyum, Mungkin dia bahagia karena tidak harus mengurus rumah lagi.


"Nah sekarang istri kamu terserah kamu. bagaimana kamu setuju atau enggak, Kalau Vina bekerja membantu bapak di ruko," ujar Bapak membalikkan pertanyaan sambil melirik ke arahku.


"Kalau Vina setuju, saya boleh boleh saja, tapi saya harap bapak jangan mengasih pekerjaan yang berat-berat terhadap Vina."


"Nggak berat lah Rid, paling cuma mengatur manajemen keuangannya saja, agar Ketika nanti bapak sakit atau bapak ada keperluan, Vina bisa menghandle pekerjaan di ruko," jawab Bapak menjelaskan.


"Kalau Seperti itu saya setuju aja Pak,"jawabku yang mengalah namun. Namun Entah mengapa Hati kecilku tidak mengizinkan, karena ada sesuatu yang mengganjal tapi tidak bisa diungkapkan.


Akhirnya kita bertiga pun terlarut dalam obrolan obrolan tentang rencana kehidupan di masa yang akan datang, rencana rencana indah yang harus diwujudkan oleh keluarga kecil kami.


Keesokan paginya, Kami bertiga sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. bapak dan Vina mereka menaiki taksi daring untuk menuju ke ruko, sedangkan aku masih tetap Menaiki motor bututku untuk bekerja di perusahaan Mandiri Group.


Sesampainya di kantor, Kebetulan aku datang tepat waktu. sehingga aku tidak membuang dengan berleha-leha, aku mulai bekerja seperti hari Biasanya.


"Lagi mengerjakan proyek dengan perusahaan Chucky yang mau merenovasi pabriknya Bu," jawabku sambil menatap ke arah Ira yang sedang berdiri menatap ke arah layar komputerku.


"Oh begitu. Oh iya, kalau jadi nanti minggu depan kita akan ada rencana pergi ke Bogor, untuk menemui klien, membahas tentang pembuatan rumah minimalis," jelas Ira menyampaikan bocoran.


"Aku bisa mangkir nggak Bu?" tanyaku yang merasa berat kalau harus pergi jauh keluar kota.


"Emang kenapa?" tanya Ira yang terlihat penasaran Mungkin dia merasa heran karena semenjak aku bekerja di perusahaan Mandiri group, Aku tidak pernah menolak perintah siapapun.


"Minggu depan istri saya ulang tahun, Saya ingin mengajaknya makan malam di restoran, soalnya saya sudah lama tidak melakukan hal itu," ujarku sambil menundukkan pandangan.

__ADS_1


"Oh begitu, Ya sudah Nanti saya sampaikan ke Kak dali, tapi itupun kalau kita jadi berangkat ke Bogor," jelas Ira.


"Aduh....! Terima kasih banyak Bu, terima kasih banyak, Ibu memang sangat baik," jawabku sambil manggut memberi hormat.


"Sama-sama, Oh iya tolong nanti kalau sudah mengerjakan proyek dengan perusahaan Chucky, tolong buatkan laporan untuk berkas yang ini," ujar Ira sambil memberikan berkas yang ia bawa.


Aku pun mengangguk kemudian mengambil berkas itu, lalu disimpan di samping Komputerku. setelah menyampaikan tugasnya, Ira pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai staf kepala manajer pemasaran.


Aku terus terlarut dalam pekerjaan pekerjaan sesuai dengan bidang dan keahlian yang kumiliki. walau aku sempat berhenti selama setahun lebih tidak bekerja, aku masih bisa menggunakan kepiawaianku dalam memasarkan produk yang ditawarkan oleh perusahaan Mandiri Group. hingga Arfan dan dari sering memuji hasil kinerjaku yang begitu luar biasa, karena semenjak aku bergabung dengan perusahaan Mandiri group, omset lumayan meningkat.


Sore hari setelah semua pekerjaan selesai, aku pun kembali ke rumah bapak. sesampainya di rumah. ternyata Vina dan Bapak belum pulang, aku pun menelepon istriku untuk mengetahui kabarnya.


"Halo ada apa sayang?" tanya Vina dengan suara tertahan.


"Kamu belum pulang, bukannya toko tutup jam 03.00?"


"Ini baru mau sayang, Aku sedang makan dulu, kamu mau bakso nggak?" tawar Vina yang terdengar mendesah kepedasan.


"Hati-hati kamu makan pedas, kan perutmu tidak ramah untuk cabe seperti itu."


"Enggak Kok, dikit Sayang. Hah!" jawab Vina.


"Ya sudah, kalau sudah selesai makan Kamu langsung pulang!"


"Baik Sayang," jawab Vina dengan cepat dia pun menutup teleponku.


"Dasar wanita..! kalau makan tidak pedas apa hidup mereka akan lemas," gumamku sambil masuk ke teras kemudian membuka pintu dengan kunci yang kubawa. karena Sekarang bapak sudah menduplikat beberapa kunci, agar ketika aku masuk atau aku pulang telat, tidak harus merepotkan orang lain.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam kamar, aku pun membersihkan tubuh dari keringat dan debu setelah seharian bekerja. selesai mandi aku membuat kopi lalu membawanya ke teras, menikmati senja sambil menunggu kepulangan istriku. Aku mengambil sebatang rokok lalu membakarnya, kepulan asap memenuhi area kepalaku. Mataku terus terfokus ke arah gerbang yang tertutup berharap orang yang ditunggu cepat pulang. Mungkin beginilah Vina ketika menungguku pulang dia akan harap-harap cemas sepertiku.


Tin! Tin! Tin!


__ADS_2