Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 46 tidak tau untung


__ADS_3

Pov Farid


Lama menunggu akhirnya Vina pun datang dengan membawa Secangkir Kopi, lalu disimpan di atas meja.


"Terima kasih sayang!" ujarku sambil mengambil kopi yang terlihat masih mengepul kemudian aku meneguknya sedikit.


"Ternyata rumah bapak gede juga ya!" Jawab Vina tak mempedulikan ucapanku.


"Iya, dulu ketika Bapak sukses. dia membeli rumah ini dengan harga murah, namun ketika bangkrut semua hartanya Habis tak tersisa. Hanya menyisakan rumah ini saja, beruntung ada saudara kamu, Erni yang membantu modal usaha, sehingga bapak bisa menghasilkan uang kembali." jawabku setelah meletakkan kopi, aku sedikit mengulang kisah masa lalu bapak.


"Kalau kita sudah punya rumah seperti ini, Kayaknya hidup kita akan bahagia. kalau untuk makan kita bisa menahannya, tapi kalau untuk tempat tinggal kita tidak bisa menahan karena kalau ditahan pasti orang yang memiliki kontrakan akan nyap-nyap, bisa-bisa kita diusir dan tidur di jalan, seperti gelandangan,"


"Amin..!" semoga saja secepatnya kita bisa memblii rumah, emang tabungan uang kita sekarang ada berapa?"


"Hanya ada 7 jutaan Rid, sedangkan harga rumah di Jakarta paling murah saja 400 juta. kita butuh waktu selama 40 tahun untuk mempunyai rumah yang sederhana," jelas Istriku yang terlihat menghela napas pelan, Mungkin dia tidak berani membayangkan berapa lama kita akan memiliki rumah.


"Iya benar, tapi kalau kita tinggal di sini bersama Bapak. hidup kita tidak akan tenang, karena kamu tahu sendiri kan sifat Bapak seperti apa?"


"Aku juga ngerti kok! sekarang, kamu harus lebih giat lagi bekerja agar kita bisa cepat menghasilkan uang banyak dan memiliki rumah sendiri."


"Amin...! Terima kasih doanya."


"Ya Udah aku tinggal dulu, aku mau merapikan kamar untuk Kita menginap nanti malam, aku yakin kamar itu akan berdebu, soalnya sudah lama tidak ditempati."


"Aku bantu ya!"


"Nggak usah lah Rid, kamu istirahat aja! kamu pasti capek Apalagi setelah seharian bekerja di kantor," tolak Vina.


"kalau butuh bantuan, kamu kasih tahu aku!"

__ADS_1


Vina hanya mengangguk sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam kamarku namun tak lama dia pun keluar kembali.


"Ada apa?" tanyaku yang merasa heran.


"Aku mau ngambil sapu dulu, tapi kalau melihat kasurnya  Kayaknya masih bersih, karena ditutup dengan plastik. aku mau nyapu lantainya saja, sekalian dipel saya agar tidak berdebu."


"Bagaimana kalau kamu yang nyapu, aku yang ngepel!" jawabku sambil bangkit kemudian mengikuti Vina menuju ke dapur.


Awalnya Vina menolak namun aku tetap memaksa, karena aku yakin Vina pun sebenarnya merasa lelah, apalagi selama di rumah sakit dia belum sempat tidur dengan nyenyak. Vina membiarkanku membantunya membersihkan kamar kita, Vina dengan telaten mulai menyapu dan membersihkan debu-debu yang menempel di lemari dan di dinding, sedangkan aku mengepel lantai yang sudah disapu.


Kita berdua terlarut dalam pekerjaan, sehingga terdengar adzan maghrib berkumandang, beruntung pekerjaan membersihkan kamar Sebentar lagi selesai.


Setelah selesai merapikan kamar, aku membuka lemari untuk mengambil handuk, Kebetulan lemariku juga ditutup oleh plastik, sehingga tidak ada debu yang menempel hanya sedikit apek saja. Sesudah menemukan barang yang aku cari dengan bergegas aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarku, untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat magrib.


Sehabis salat, vina meminta izin keluar untuk membeli makan, namun aku tolak, karena Seharusnya aku yang lebih bertanggung jawab Menyiapkan makan malam.


"Ya sudah Kalau kamu memaksa,  tolong belikan makanan serta bubur buat bapak!" seru Vina sambil mengeluarkan selembar uang merah.


"Makan yang biasa aja, yang terpenting bubur buat bapak! Beliau harus banyak makan karena sedang dalam masa pemulihan,"


"Gak Apa-apa! sekarang kita makan enak, kan uang pemberian dari Pak Arfan masih belum kita pakai." tanggapku karena Emang benar uang pemberian dari Arfan dan Dali belum sedikitpun terpakai, Karena untuk pembayaran rumah sakit dan keperluan keperluan bapak aku menggunakan uangnya sendiri. aku tidak mau rugi apalagi kalau uangku dipakai oleh Bapak, sedangkan dia itu saja sangat pelit sama anaknya.


"Ya terserah kamu aja, lagian kamu ini kan yang nyari!" ujar Vina memberi izin


Akhirnya aku pun keluar dari rumah bapak untuk mencari makanan buat makan malam aku dan Vina. tak susah mencari karena Ketika aku keluar dari komplek perumahan, di sana sudah banyak orang yang menjajahkan jualannya.


Setelah mendapat apa yang aku mau, dengan cepat aku pun pulang ke rumah bapak. "Vin....! vina...!" panggilku setelah masuk ke dalam rumah.


"Yah, ada apa, Aku di kamar bapak," jawab Vina yang terdengar samar.

__ADS_1


Dengan bergegas Aku menuju kamar bapak, terlihat Vina sedang menyeka keringat yang keluar di dahi orang tua itu.


"Kamu lagi ngapain?" tanyaku.


"Kayaknya badan Bapak harus dilap Rid! kasihan berkeringat terus."


"Orang tua nggak tahu di untung nggak usah diurusin vin, Ya udah ayo kita makan," ketusku karena melihat wajah Bapak yang tak berubah sedikitpun, Dia terlihat mengacuhkanku dengan membalikan wajah ke lain arah.


"Nggak boleh seperti itu! Ya sudah mana buburnya?" Tanya Vina sambil mengulurkan tangan meminta box bubur.


"Tapi kita makan dulu, baru mengurus tua Bangka ini!"


"Kita urus Bapak dulu, biar kita bisa makan dengan tenang.


"Alah...! kamu tuh selalu saja Memikirkan orang tua yang tak pernah menghargai kita! Ya sudah sini aku yang suapin."


"Nggak usah, biarin aku aja!" Tolak Vina sambil membuka kap sterofom yang berisi bubur kemudian dia mulai mengaduk bumbunya agar tercampur rata.


Setelah buburnya teraduk, istriku mulai menyendok sedikit lalu didekatkan ke arah mulut Bapak. namun yang membuat aku kesal, tua bangka itu bukan membuka mulutnya, malah dia mempererat rapatan mulut, seperti enggan disuapi oleh Vina. "Bapak makan dulu ya! nanti setelah makan baru minum obat," ujar Istriku yang masih terlihat lembut.


"Ya Allah...! bapak! bapak! kenapa sih Bapak seperti itu?" gerutuku yang merasa kesal, kemudian aku mengambil kursi lalu didekatkan di samping Vina, yang masih mendekatkan sendok ke mulut bapak, seperti anak kecil yang sedang ngambek tidak mau makan.


"Bapak maunya apa sih! diurus aja susah betul, apa Mau mampus sekalian?"


"Farid...! jaga bicaramu, walau bagaimanapun ini adalah orang tua kamu, jangan sampai menyakiti hatinya nanti kamu bisa kualat," bentak Vina yang terlihat membela bapak.


"Sini aku saja yang nyuapin!" Jawabku tak menghiraukan bentakkan istriku kemudian aku mengambil bubur yang ada di tangannya. Lalu menyuapi Bapak dengan memaksa agar sendok itu masuk ke dalam mulutnya.


"Bukan Seperti itu menyuapinya! biarkan aku saja." Tahan Vina yang terlihat tidak suka mertuanya dipaksa untuk makan.

__ADS_1


"Sudah..! yang wajib kamu rawat itu adalah suamimu, bapaknya suamimu biar aku yang mengurus. sekarang sana siapkan makan malam kita," seruku dengan sedikit menaikkan intonasi suara, rasa kesal sama bapak, hingga akhirnya tak bisa mengontrol emosi.


__ADS_2