
Pov Erni
Terlarut dalam semua data-data perusahaan, sehingga waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Sampai-sampai aku baru tersadar sudah pukul 16.30. Di mana waktu kerja Sudah selesai. Aku bangkitkan tubuhku yang terasa kaku, lalu menarik tanganku ke atas merenggangkan otot -otot yang keram. Sehingga terdengar tulangku bergeretek karena tertarik. Setelah dirasa tubuhku kembali normal, dengan cepat aku merapikan data-data penting milik perusahaanku. untuk dibawa ke rumah, sebagai bahan kajian dan pembelajaran seorang pemimpin di perusahaan. karena ternyata waktu sehari saja tidak cukup untuk mempelajari semua data yang ada di perusahaan ini.
Pukul 17.00. aku sudah sampai di depan gerbang pintu rumah yang belum selesai dibangun, namun sudah bisa aku tempati, karena kamar rumah ku sudah selesai dibangun, dengan sangat estetik. sehingga tak kalah dari hotel bintang lima.
Tin! tin! tin!
Kutekan klakson mobilku, tak lama Pintu itu terbuka, setelah seorang satpam mendorongnya. benar, aku sudah memiliki satpam dan seorang pembantu sesuai yang disarankan oleh Farid, agar aku bisa nyaman dan tenang ketika tinggal di rumah yang begitu megah. apalagi mengingat karirku yang sangat bagus, dan hartaku yang lumayan banyak. jadi tidak menutup kemungkinan, akan ada orang-orang yang jahat, yang menginginkan semua yang kumiliki. Karena menurutnya juga, menjaga lebih baik daripada mengobati.
Kuarahkan kemudiku untuk masuk ke halaman rumah, kemudian memarkirkan mobilku di carportnya. Setelah mobilku terparkir dengan sempurna, aku pun turun dari mobil pemberian suamiku beberapa tahun yang lalu.
"Maaf, Bu!" ujar seorang pria berseragam putih biru, yang sudah berdiri menunggu dari tadi aku keluar dari mobil .
"Iya ada apa, Der?" tanyaku sambil melirik sedikit ke arahnya. Karena tanganku masih sibuk mengambil berkas-berkas kantor yang kubawa.
"Ini ada surat, Bu!" ujar satpam yang bernama Deri.
"Surat dari siapa, Der?" Aku bertanya kembali sambil menatap heran ke arahnya, karena aku baru sehari tinggal di sini, udah ada yang tahu alamat rumahku.
"Maaf, saya tidak tahu, Bu! namun melihat kop pengirimannya, ini dari pengadilan Agama." jelas Deri sambil menyerahkan amplop putih yang ada di tangannya.
Aku pun mengambil amplop itu, kemudian membaca pengirimnya, ternyata memang benar, surah itu dikirimkan oleh pengadilan Agama. membuatku sedikit mengeringitkan dahi, karena aku tidak pernah berurusan dengan kantor itu.
"Terima kasih, ya sudah, Kamu lanjut kerja!" seruku sambil berlalu pergi meninggalkan Deri, satpam rumahku.
Aku terus melangkahkan kakiku menuju ke dalam rumah, yang masih berantakan, karena ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. langkahku Terhenti Di sebuah pintu kamar yang terlihat mewah. dengan cepat aku membuka kunci pintu kamar itu, kemudian masuk ke dalamnya.
Truk! truk! Truk!
Baru saja aku menutup pintu, sudah terdengar suara ketukan dari luar.
__ADS_1
"Maaf Bu, mau minum apa?" tawar suara seorang wanita paruh baya, dari balik pintu.
"Air jeruk, panas!" pintaku yang baru sadar bahwa aku sudah memiliki pembantu rumah tangga, kebiasaan di rumah Yang Dulu, ketika aku masih tinggal bersama suamiku, yang tidak mau memakai jasa ART. Sehingga akulah yang akan menyiapkan semua kebutuhan Rumah tanggaku, padahal sering kali Arfan menyarankan untuk mempunyai pembantu. namun aku menolak, karena menurutku mengurus rumah tangga itu adalah kewajiban seorang istri. Apalagi di dalam keluarga kecil kita belum hadir seorang bayi, sehingga aku tidak terlalu repot kalau hanya untuk mengurus seorang suami.
Aku melepas semua baju kerjaku, menggantinya dengan handuk kimono. kemudian aku keluar dari kamar untuk memberitahu Si Bibi, ketika sudah membuat minuman yang aku pesan, agar dia mengantarkan langsung Minuman itu ke kamar mandiku.
Setelah selesai menyampaikan permintaanku, aku kembali masuk ke kamar, terus berjalan menuju kamar mandi. Untuk merendam tubuhku dengan air hangat. ditemani aroma lavender yang keluar dari lilin yang ku bakar, Membuatku menjadi wanita berkelas, meski tidak ada suami di sampingku.
Lagi memejamkan mata dan menikmati aroma terapi. terdengar pintu kamar mandiku, ada yang mengetuk. setelah aku mempersilahkan, Bi Iyem pun masuk membawa nampan berisi air jeruk panas, sesuai dengan permintaanku. setelah menaruh gelas berisi minuman itu, Ia pun berpamitan untuk kembali ke dapur. aku hanya melirik sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kembali menikmati sensasi hangat di tubuhku, yang membuat diriku nyaman.
30 menit berlalu aku membersihkan tubuhku, dari Busa busa sabun yang menempel, setelah aku merendam tubuhku di bathtub. Kemudian aku kembali ke kamar, dengan menggunakan handuk kimono. Sambil mengeringkan Rambutku dengan handuk, sebelum mengeringkannya dengan hair dryer.
Setelah Rambutku kering, aku mulai menggunakan lotion ke seluruh tubuh, dan melakukan aktivitas aktivitas perawatan tubuh, seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
Setelah selesai merawat tubuh, aku baru memakai baju tidur. karena menurutku lebih nyaman memakai baju itu, ketika berada di dalam rumah. namun setelah selesai memakai baju, mataku menangkap kembali kertas surat dari pengadilan agama, yang diberikan oleh satpam tadi. dengan penasaran, aku pun mengambil surat itu, kemudian membukanya untuk melihat Apa isi di dalamnya.
Setelah kertas berukuran 33 cm x 21,9 Cm itu terbuka, dengan cermat aku membaca tulisannya. tertera di atas kertas itu, ada kop surat pengadilan agama, sesuai dengan kop yang ada di amplop. Aku terus meneliti setiap baris tulisan yang ada di dalam kertas.
"Kok!" ucapku sambil menutup mulut, walaupun aku sudah mengira kejadiannya yang akan seperti ini, dan aku sudah memiliki Farid sebagai pengganti suamiku. namun rasa kaget seolah tak percaya, Arfan suami yang paling menyayangiku dia berani mengeluarkan surat gugatan cerai. Dan ada rasa tidak ikhlas ketika dia melakukan hal seperti itu.
"Kamu tidak seharusnya berbuat seperti in. Kamu harusnya bertanya terlebih dahulu! Apakah aku masih sayang sama kamu! Kamu terlalu egois, Fan." gumamku sambil menundukkan tubuh di atas tepian ranjang, mataku tetap terfokus menatap kertas yang masih ada di tanganku.
Aku mengulang membaca surat itu, meyakinkan aku tidak salah membacanya. namun sudah tiga kali aku membaca surat itu, isinya tetap sama, tidak berubah sama sekali. yaitu pemanggilan diriku, untuk menghadapi Arfan di persidangan.
"Kamu tegaaaaa!" Aku berteriak sambil meremas kertas pemanggilan dari pengadilan agama, kemudian melempar kertas itu, agar menjauh dari hidupku. tak terasa butiran bening pun membasahi pipi, kebersamaan yang begitu lama dan begitu melekat dalam Ingatan, tidak akan mudah untuk menerima perpisahan ini.
Aku mengambil handphoneku, yang sedang aku charge di atas nakas. kemudian melihat nomor kontak Arfan, Siapa tahu saja dia sudah membuka blokiran nomorku. Berniat mengajak Arfan untuk berdamai.
Aku hanya menarik nafas kasar, lalu menghembuskannya. karena nomor Arfan tidak berubah sama sekali, nomor kontak dipesan aplikasi masih tetap sama, tidak menggunakan profil, menandakan suamiku belum membuka blokiran itu.
Merasa penasaran aku pun menghubungi dia lewat telepon, namun tetap aja sama, nomorku tidak terhubung dengan nomor suamiku. masih merasa penasaran aku pun keluar dari kamarku, kemudian memanggil Bi Iyem asisten Rumah tanggaku.
__ADS_1
"ada keperluan apa, Bu?" tanya bi Iyem yang tergesa-gesa menghampiri, Sambil menganggukan kepala.
"Kamu punya handphone?" aku bertanya.
"Ada Bu! kan Ibu juga sudah menyimpan nomor saya." jawab bi Iyem.
"Coba saya lihat telepon kamu, Bi!" Pintaku.
Bi iyem pun mengeluarkan handphone yang di milikinya dari dalam saku daster. handphone polik-ponik yang layarnya masih berwarna hitam dan putih. kemudian ia menyerahkan HP itu kepadaku.
"Ini handphone saya, bu!"
Aku hanya menggeleng-geleng kepala, karena di zaman semodern ini, masih ada orang yang menggunakan handphone purba seperti itu.
"Panggil si Deri! untuk menghadap." seruku.
"Baik Bu! oh iya, kalau ibu mau makan, semuanya sudah siap di meja." ujar bi iyem sambil berlalu pergi, untuk memanggil satpam rumahku.
Aku yang merasa bingung harus duduk di mana, karena ruangan tengah masih berantakan. dengan perlahan aku berjalan menuju ruang dapur, yang sudah lumayan agak rapih, karena aku meminta sama mandor pembangunan rumahku. setelah menyelesaikan kamar, maka yang harus mereka selesaikan adalah dapur. walaupun masih dalam tahap penyelesaian. Namun terlihat cukup rapih Kalau dibandingkan dengan ruangan tengah. terlihat di ruang dapur ada meja makan yang sudah penuh dengan makanan-makanan yang aku pesan, Sesuai kesukaanku.
Aku dudukan tubuhku di atas kursi, kemudian mengambil piring dan mulai memasukkan makanan makanan ke dalamnya.
Aku adalah orang yang berprinsip dan berintegritas, walau pikiranku sedang kacau. Aku bukan orang bodoh, yang harus mengacuhkan kesehatanku, sehingga lupa mengisi energi dalam tubuh.
Setelah beberapa suap nasi itu masuk ke mulut, Bi Iyem pun datang kembali menghampiri, diikuti oleh Deri satpam rumahku.
"Ada apa, Bu?" tanya Deri sambil menundukkan pandangan.
"Lihat handphone kamu!" pintaku setelah menghabiskan kunyahan yang ada di dalam mulut.
Deri pun mengeluarkan handphonenya, kemudian menyerahkan kepadaku. dengan cepat aku pun mengambil handphone itu, kemudian mengirimkan nomor Arfan dari handphoneku, ke handphone satpam itu. setelah nomor suamiku terkirim, aku save nomor itu di handphone Deri.
__ADS_1