Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps 83 Erni Lagi


__ADS_3

Pov erni


Seminggu berlalu, setelah bertemu dengan mantan suamiku. hidupku terasa hampa, karena setiap saat aku selalu memikirkannya. Entah mengapa rasa itu hadir, setelah dia tidak ada di sisiku. mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang, Penyesalan akan dirasakan Setelah orang itu tidak ada.


Pagi itu, Sesampainya di kantor, pintu ruanganku ada yang mengetuk dari luar, setelah aku mempersilahkan. masuklah manajer keuangan kantorku.


"Ada apa pagi-pagi sudah menemui saya?" Tanyaku setelah orang yang menemuiku duduk di kursi.


"Gawat Bu! Pak Waskito dia mau menarik sahamnya."


"Sejak kapan saham bisa ditarik? itu kan modal!" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Maksudnya Pak Waskito, dia mau menjual sahamnya ke orang lain, kalau saham itu pindah ke orang lain. Saya tidak menjamin aturan kantor kita akan masih tetap sama, karena selama ini, Pak Waskito tidak pernah neko-neko dengan aturan yang perusahaan tetapkan." adu manajer keuanganku


"kok bisa! Kenapa dia bisa menarik saham itu tiba-tiba?"


"Menurut keterangan yang saya dapat, Pak Waskito sudah tidak mau bekerja sama dengan kita. karena dia ingin menginvestasikan uangnya di perusahaan lain. Mungkin dia ketakutan karena presiden perusahaan ini bukan pimpinan yang dulu, dia takut kalau usaha kita tidak semaju ketika dipegang oleh Pak Arfan." jelas manajer keuanganku.


"Emang berapa saham dia di kantor kita?"


"40% Bu! lebih tepatnya 38%."


"Kalau diuangkan sekitar berapa M tuh?"


"Sekitar 10 sampai 12 Miliar Bu, tapi itu harga dulu, entah sekarang dia Mau jual berapa?"


Aku pun memijat-mijat keningku yang terasa pening, kepalaku merasa sakit, karena uang segitu bukan uang kecil. aku harus menabung beberapa bulan, kalau ingin mengumpulkan uang segitu.


"Apa kamu udah punya bocoran, siapa yang akan membeli saham Pak Waskito, di perusahaan kita." 


"Sampai saat ini belum! namun saham itu sudah ada di bursa lelang."


"Ya sudah! kamu boleh Kembali ke tempat kerja, nanti kalau saya sudah mendapatkan solusi, Saya akan menghubungi kamu kembali. dan ketika ada perkembangan, tolong segera kamu hubungi saya!" pungkas ku pagi itu.


Manajer keuangan kantorku, Setelah berpamitan, dia pun pergi meninggalkan ruanganku. seperginya manajer keuangan, aku sandarkan tubuhku ke atas kursi dengan sandaran yang begitu tinggi, seperti kursi-kursi pejabat pada umumnya.


"Ada aja Trouble, kalau sebentar lagi gua nggak mau menikah dengan Farid, mungkin uang Gua cukup. untuk membeli saham itu, Lagian si Farid, jadi cowok nggak bisa diandelin banget! masa semuanya harus gua yang menyiapkan." gumamku dalam hati, sambil terus memijat-mijat kembali keningku. sekarang semakin terasa bahwa sosok suami seperti Arfan, adalah suami ideal. dia selalu menghandleku dalam masalah keuangan. semenjak aku menikah dengannya, aku tidak pernah memikirkan keuanganku seperti sekarang.


Merasa tidak kunjung mendapat solusi dari semua masalah yang sedang kuhadapi, Aku pun menekan tombol telepon yang ada di meja.

__ADS_1


"Tolong Panggil Ari ke sini!" pintaku sama resepsionis yang berada di ujung telepon sana.


"Baik bu!" jawab suara seorang wanita, Kemudian aku pun menyimpan kembali gagang telepon yang ku genggam.


Truk! truk! truk! truk!


Setelah menunggu agak lama, pintu ruanganku ada yang mengetuk.


"Masuk!" pintaku sedikit berteriak.


Pintu ruanganku didorong, masuklah seorang pria berkulit coklat, dengan tubuh yang atletis, wanginya yang khas memenuhi rongga hidungku.


"Ibu memanggil saya?" tanya Ari sambil manggut memberikan penghormatan.


"Iya saya manggil kamu!" ujarku sambil berdiri lalu menghampirinya.


"Ada apa, ya!" ujar pria tangguh itu menundukkan pandangan.


"Ayo ikut saya! kamu ada kerjaan di lapangan." tanpa menunggu persetujuannya, aku berjalan mendahuluinya.


Tanpa ada pertanyaan Ari pun mengikutiku di belakang. kita menuruni lantai dengan menggunakan lift, tidak ada pembicaraan ketika menuruni lantai-lantai gedung yang begitu tinggi.


"Maaf! saya nggak bisa bu."


"Ya sudah! ayo masuk! nanti kapan-kapan kamu kursus ya! Biar semakin keren!"


"Maksudnya bu?" tanya Ari sambil menatap heran ke arahku.


"Iya kamu belajar nyetir! nanti kalau kamu bisa, kan, gampang. Lagian ilmu kan nggak berat dibawa." ujarku sambil membuka pintu, Kemudian duduk di belakang kemudi. "Ayo masuk!" Seruku, karena melihat pria lugu itu hanya berdiri menatap ke arah dalam.


"Maaf Bu! saya jadi merepotkan." ujarnya sambil membuka pintu mobil kemudian dia duduk di sampingku.


Setelah melihat pria lugu itu duduk dengan nyaman, aku pun mulai menginjak pedal, meninggalkan area parkir kantorku. perasaan mumet yang memenuhi pikiranku, sehingga aku harus sedikit berekreasi untuk melemaskan otot-otot otakku, yang sudah semakin tegang. Karena setelah pemindahan kepemimpinan di kantor Erni Group, perusahaan itu omsetnya menurun, walaupun tidak signifikan. namun itu cukup mengganggu pikiranku.


Kalau aku bisa memilih, aku akan memilih kembali ke masa-masa di mana aku menjadi seorang istri, yang sangat dibahagiakan, dibanggakan di depan keluarganya, dipuji dengan semua yang kumiliki, Meski aku tidak sempurna. tanpa harus memikirkan keuanganku.


"Tunggu dulu, sebentar! Saya mau beli obat terlebih dahulu." ujarku yang menghentikan mobil di salah satu apotek.


"Emang ibu sakit? kalau sakit ibu beristirahat dulu saja, jangan dipaksakan! nanti drop." Bawahanku memberikan perhatian, membuat bibirku sedikit mengembang, merasa bahagia diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Enggak apa-apa! Ya sudah, kamu tunggu dulu. saya nggak lama kok, Saya cuma mau beli obat penghilang pusing." ujarku sambil tersenyum, kemudian keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam apotek.


Setelah berada di dalam, akupun mendekati salah satu apoteker, yang sedang berjaga. kebetulan waktu masih pagi, sehingga Apotek itu tidak terlalu ramai.


"Mau cari obat apa Bu? kami juga di sini melayani resep dokter." sapa wanita berkerudung Navy berbaju putih itu.


Aku pun memberi isyarat untuk mendekatkan telinganya, karena yang akan kusampaikan adalah hal yang sensitif.


"Ada obat, yang membuat suami bersemangat dan tahan lama?" Tanyaku setelah telinga wanita itu berada di dekat bibir.


Setelah mendengar apa yang aku sampaikan, wanita itu pun tersenyum. "tunggu sebentar!" ujarnya sambil berlalu pergi menuju ke arah belakang, namun tak lama Ia pun kembali, sambil membawa beberapa jenis obat yang aku inginkan.


"Gak ada yang serbuk atau yang cair gitu?" Tanyaku setelah melihat obat itu.


"Kenapa emang Bu? Kan khasiatnya sama aja. ini yang terbaik loh!"


"Kasihan kalau suami saya disuruh minum obat seperti ini, nanti dia kehilangan kepercayaan dirinya, yang tidak bisa memuaskan istrinya. kalau yang serbuk, saya bisa campurkan dengan makanannya secara diam-diam. Agar kepercayaan dirinya kembali." Aku menjelaskan.


"Baik, tunggu sebentar!" ujar wanita penjaga Apotek itu, sambil kembali masuk ke dalam ruangan, sama seperti tadi dia dengan cepat kembali.


"Ini yang serbuk! dan ini yang cair! kalau yang serbuk cara pemakaiannya sedikit saja, Nah, kalau yang cair Ibu bisa gunakan tetesan." jawab wanita itu menjelaskan.


Setelah memperhatikan sekian lama, dan memikirkan cara menggunakannya, Pilihanku jatuh kepada obat berbentuk cair. selain mudah dibawa, cara penggunaannya pun sangat mudah. berbeda dengan yang serbuk, karena aku tidak bisa menakarnya.  setelah menentukan pilihan, Aku pun membayar sesuai harga, tak lupa Aku membeli obat Paracetamol, untuk mengelabui Ketika nanti orang yang akan aku kasih obat curiga. Setelah semuanya selesai aku kembali menemui Ari yang masih menunggu di dalam mobil.


"Maaf menunggu agak lama!: ujarku yang duduk kembali di belakang kemudi.


"Nggak apa-apa Bu! padahal Saran saya, Ibu istirahat aja, jangan terlalu bekerja keras!"


Tanpa mempedulikan perkataannya, aku pun kembali memasang seat bel, kemudian menginjak pedal gas menuju ke salah satu Cafe.


"Maaf Kita mau ke mana, dan ada pekerjaan apa untuk saya?" tanya Ari sambil tetap memperhatikan arah depan.


"Kerja sesuai dengan kemampuanmu!"


"Kok kita masuk ke sebuah Cafe! Emang kita bertemu klien di sini?"


"Kamu rewel deh! sudah ikuti saja, kamu bekerja kepada saya, maka kamu tidak boleh banyak bertanya, dengan apa yang saya suruh." tegasku sambil memasukkan mobil ke dalam carport salah satu Cafe.


Setelah mobil itu terparkir dengan aman, aku pun mengajak Ari untuk keluar, kemudian berjalan diikuti oleh bawahanku, menuju ke salah satu private room yang ada di cafe itu, ruangan yang sedikit remang-remang, cocok buat orang berkelas ketika mereka membicarakan bisnis.

__ADS_1


"Kita sarapan dulu! sebelum tamu kita datang." Ajakku setelah kita duduk berdampingan dikursi sofa yang ada di ruangan private room.


__ADS_2