
Pov farid
"Bapak makan ya...! nanti setelah makan bapak minum obat," ujar Vina dengan lembut, seperti sedang berbicara dengan anak kecil. kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya. "Pelan-pelan kalau menyuapi Bapak, jangan sampai Bapak semakin drop!" pinta Vina sebelum pergi meninggalkan kamar.
"Iya kamu tenang aja, Kalau tidak mau pakai sendok nanti akan aku coba pakai sekop, biar mudah membuka mulutnya!" jawabku sambil menyendok kembali bubur lalu didekatkan sama mulut bapak, namun sekarang dia tidak menolak, Bapak membuka mulut lalu mengunyahnya.
"Enakan....! diurus saja sangat menyusahkan!" ujarku sambil melempar senyum sinis ke arah bapak.
Aku terus menyuapi bapak hingga akhirnya setengah dari bubur yang kubeli sudah dia habiskan, ketika mau aku menyuapinya lagi, dia pun menggelengkan kepala.
"SUdah makannya?" tanya Vina yang kebetulan baru masuk kembali ke dalam kamar bapak.
"SUdah belum Pak?" Tanyaku sambil menatap ke arah bapak.
Bapak hanya mengangguk sebagai jawaban, bahwa dia sudah merasa kenyang, Vina dengan bergegas memilih obat-obatan yang harus diminum oleh Bapak.
"Berapa biji obat yang harus diminum bapak?" Tanyaku sama Vina.
"Empat, kalau pagi Ada Lima," jawab Vina sambil menyerahkan obat yang ada di tangannya kepada bapak, kemudian dia mengambil minum yang berada di di atas nakas.
"Minum dulu Pak obatnya, agar Bapak cepat pulih," seru Vina sambil menyerahkan air minum.
Bapak hanya mengangguk, kemudian dia memasukkan obat yang ada di tangannya ke mulut, lalu didorong oleh air putih. setelah meneguk beberapa teguk diatur memberikan gelas ke Vina, untuk ditaruhnya lagi ke atas nakas.
Selesai memberi makan dan memberi obat, aku dan Vina pun keluar terlihat nasi yang tadi aku beli, sudah berada di atas karpet di ruang tengah.
"Makan di sini aja ya! sambil nonton TV," ujar Vina.
"Yah, di mana aja lah! yang penting kita makan," Jawabku sambil duduk.
"Iya, Tolong nyalain dong tv-nya!"
"Emang kamu nggak bisa?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Gak bisa, gak ngerti...! kan TVkita tv tabung. ini kan tv-nya Slim, soalnya ketika aku cari tombol on off-nya tidak ada."
__ADS_1
"Kasihan banget sih kamu," jawab aku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian mencari remote control setelah ketemu aku pun memberikan sama Vina.
Dia pun menekan tombol on, kemudian TV pun menyala. akhirnya kita berdua makan sambil ditemani menonton acara TV kesukaan Vina.
Sehabis makan, Vina merapikan piring di bawa ke dapur. kemudian dia kembali sambil membawa Secangkir Kopi, kemudian disimpan di atas meja yang ada di ruang tengah.
"Ngopi lagi, tadi kan sudah ngopi?"
"Nggak apa-apa, nggak beli ini kan!" Ujar vina sambil mengulum senyum, kemudian dia pun duduk di sampingku, lalu merebahkan kepalanya.
"Enak ya kalau punya rumah sebesar ini, ada ruang tamu, ada ruang tengah, ada dapur. tv-nya juga gede, kita bisa menonton dengan bermanja-manjaan seperti ini," ujar Vina sela-sela jeda iklan.
"Amiin..! doakan saja, agar kita secepatnya memiliki rumah sebesar ini."
"Aku selalu doakan kok! yang terpenting Kamunya harus tetap giat berusaha dan bekerja, jangan sampai Pak Arfan merasa kecewa.
"Siap sayang?"
"TV ini berapa inc?" tanya Vina.
"Berarti ini TV kamu?"
"Iya, dulu aku yang membeli TV ini."
"Terus apa aja yang kamu beli, ketika waktu kerja di perusahaan Pak David."
"Banyak. kulkas, lemari, kasur dari perabotan-perabotan lainnya."
"Kenapa kamu nggak minta sama Bapak?"
"Malu lah Vin, ini sudah aku berikan sama rumah ini, jadi doakan saja agar aku bisa memberikan buat kamu."
Akhirnya ruang tengah pun Hening kembali, hanya suara TV yang sedang menunjukkan sinetron kesukaan Vina. kita berdua terus menonton TV, sembari ditemani obrolan obrolan ringan tentang masa depan yang begitu indah.
"Kira-kira pukul 10.00 malam, aku dan Vina pun masuk ke kamar untuk beristirahat melepaskan lelah. setelah seharian bekerja dan merawat bapak, sebelum masuk ke kamar aku mengecek dulu kondisi bapak, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena terlihat Bapak sudah tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Keesokan paginya, ketika aku bangun hendak melaksanakan salat subuh, istriku sudah tidak ada di ranjangnya. dengan segera aku mencari ke setiap penjuru rumah, hingga akhirnya sampai di dapur terlihat Vina sedang memasak nasi.
"Kamu sudah bangun?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Iya aku bangun, kebetulan tadi malam aku melihat beras, dan di kulkas masih penuh dengan lauk makan. jadi aku putuskan untuk pagi ini aku masak. enak ya, kalau bangun pagi bisa menyiapkan makanan untuk suami. kalau di kontrakan kita hanya bisa membeli, karena kita tidak punya peralatan masak dan persediaan makanan sebanyak ini." ujar Vina yang sedang mengiris bawang.
Mendengar ucapannya, membuat hatiku terehenyuh merasa sedih, karena Sampai sekarang aku belum bisa memberikan kehidupan yang layak bagi istriku, aku hanya bisa menghela nafas pelan lalu menghempaskannya.
"Sana mendingan mandi! kemudian kita salat berjamaah, agar nanti pagi, kamu tidak harus mandi lagi, ketika kamu mau berangkat kerja." seru Vina setelah tidak mendapat jawaban.
"Yah, kamu mau wudhu di mana?"
"Aku udah di sini aja, nanti kalau kamu sudah mandi kasih tau aku ya!"
"Siap...!" jawabku sambil kembali ke kamar lalu mengambil handuk untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, selesai mandi aku memberitahu Vina mengajaknya salat berjamaah.
Selesai melaksanakan salat, kopi panas pun sudah terhidang di ruang tamu, lengkap dengan goreng pisang membuat hatiku merasa semakin sedih, karena aku tidak bisa memberikan kehidupan seperti ini Sama istriku. sedangkan Vina dia masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan kami.
Aku mengambil sebatang rokok, lalu dinyalakan untuk menemani sarapan terbaik yang beberapa bulan tidak pernah aku dapatkan. biasanya kita hanya sarapan nasi uduk ditambah Goreng bakwan itu pun agak kesiangan.
"Mau ke mana?" tanyaku ketika melihat Vina hendak keluar dari rumah.
"Mau beli bubur buat sarapan bapak, kan beliau harus Minum obat!"
"Emang di dapur sudah beres?"
"SUdah, kalau kamu mau sarapan, nanti setelah Aku membeli bubur aku siapkan."
"aku saja yang mau beli bubur, kamu di rumah aja, Oh iya! tolong check bapak udah bangun apa belum?"
"Ya sudah, kalau kamu yang mau pergi, nih uangnya!"
"Nggak usah, kan uang yang tadi malam aja masih sisa." jawabku sambil meneguk kopi kemudian bangkit dari tempat duduk ,untuk membeli bubur buat bapak.
Sepulang membeli bubur aku ditemani Vina sarapan nasi goreng yang baru saja dibuat oleh istriku. pagi itu Aku merasa bahagia karena kehidupanku sangat normal, sangat layak. tidak seperti biasanya yang hanya pengap di ruangan empat kali lima.
__ADS_1