
Pov Farid
"Yah, bapak akan berusaha menyayangi kembali kamu. Oh iya Vin, kamu juga semoga betah tinggal di sini!"
"Vina pasti betah Pak, yang penting Vina bisa hidup bersama Farid," jawab Vina sambil menggandeng tanganku.
"Hmmmm!" Gumam bapak yang membalikkan wajah seolah sedang menyembunyikan kekecewaan.
"Yah....! bersama Farid, bersama Bapak juga," tambah Vina yang mengulum senyum seperti mencadai bapak.
"Syukurlah kalau kalian bisa betah tinggal di sini, karena Bapak sekarang memiliki teman untuk mengobrol," jelas bapak.
Akhirnya kami sekeluarga terlarut dalam obrolan obrolan ringan, obrolan kebahagiaan yang sempat hilang.
Hari-hari berikutnya, aku disibukkan dengan bekerja di kantor Mandiri group dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilku.
Suatu sore, aku pulang dari kantor. Bapak dan istriku tidak menunggu di teras, membuatku merasa aneh karena Tidak seperti biasanya. namun aku tidak memiliki prasangka apapun, mungkin Bapak belum pulang dari ruko sedangkan istriku berada di dalam rumah.
Namun ketika aku melepas sepatu, terlihat sendal Bapak yang dipakai oleh Bapak sudah ada, membuatku semakin merasa heran karena biasanya mereka akan di teras sambil menikmati sore hari.
Selesai melepaskan sepatu, aku pun mendekat ke arah pintu, lalu aku dorong dengan perlahan namun ternyata pintu itu terkunci membuatku mengerutkan dahi.
"Pada ke mana mereka, apa jangan-jangan Tidur?" gumamku dalam hati kemudian mendekat ke arah bel lalu menekannya.
Namun tak terdengar suara orang yang mendekat ke arah pintu, membuatku sedikit khawatir takut terjadi sesuatu sama bapak yang memiliki penyakit jantung, Aku terus menekan bel berulang kali hingga akhirnya pintu rumah pun terbuka, muncullah bapak yang terlihat sedikit berkeringat.
"Tumben-tumbenan pintu dikunci Pak?" Tanyaku sambil menatap penuh introgasi.
"Iya bapak kunci, soalnya istrimu sedang tidur kebetulan Bapak juga capek, jadi Bapak kunci pintu rumah takut ada orang yang iseng masuk ke rumah kita," jawab bapak
"Capek habis ngapain Pak?"
"Anu....! anu," jawab bapak tergagap. "membetulkan Keran air, iya membetulkan membetulkan kran air," lanjut bapak.
"Kran air yang mana?"
__ADS_1
"Itu yang wastafel, kata Vina tanya bocor Jadi Bapak betulkan. Ya sudah kamu masuk, terus mandi...!" seru Bapak sambil masuk duluan ke dalam, kemudian dia langsung masuk ke kamar, membuatku sedikit mengerutkan dahi karena menurut pengakuannya dia sedang membetulkan keran.
Namun aku tidak terlalu memikirkannya, aku membuka pintu kamarku mataku menangkap satu hal yang aneh, karena kamarku terlihat ajak-acakan, biasanya Vina tidak suka kalau kamarnya berantakan seperti sekarang dan yang dibicarakan oleh Bapak tidak benar,.karena ternyata Vina tidak sedang tidur.
"Vina...! sayang kamu di mana?" Tanyaku sambil sedikit menaikkan intonasi suara.
"Maaf sayang...! aku sedang di toilet," jawab Vina.
Setelah mengetahui bahwa istriku berada di kamar mandi, aku merapikan tas Kerjaku di tempat biasanya, kemudian membuka kemeja Hanya menyisakan kaos daleman.
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun terbuka, muncullah istriku yang tak terlihat seperti bangun tidur. "maafkan aku, tadi aku gak kuat mulas, jadi tak sempat membukakan pintu," ujar Vina sambil menatapku penuh rasa salah.
"Mules kenapa? kamu nggak apa-apa kan," tanya aku sambil menghampiri untuk mengajak keadaannya.
"Nggak... Nggak apa-apa, cuman mungkin kebanyakan makan pedes, jadi buangnya nggak lancar."
"Syukurlah....!" aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Oh ya, kata bapak tadi kamu tidur, tumben amat tidurnya sampai berantakan seperti ini?:
"Oh seperti itu, sekarang bagaimana punggungnya masih terasa sakit,?" jawabku sambil menghembuskan nafas lega, karena mungkin aku yang pernah berkhianat sama Arfan. sehingga aku berpikiran bermacam-macam, padahal mana mungkin seseorang Bapak tega berkhianat dengan anaknya.
"Lumayan sudah agak baikan, soalnya sudah istirahat cukup lama. sekali lagi aku mohon maaf ya!kalau aku tidak bisa membuahkan pintu, Soalnya tadi lagi tanggung," ujar Vina.
"Gak Apa-apa sayang, kamu kayak ngelakuin kesalahan yang fatal saja, sehingga harus meminta maaf terulang kali," ujarku sambil mencubit hidung Vina.
"Sakit tahu...!" ujar Vina yang terlihat manja kemudian dia memeluk tubuhku lalu mendongakkan wajah, hingga kita saling menatap penuh cinta. walaupun sudah setahun menikah tapi rasa itu tidak sedikitpun berkurang, karena Vina memang wanita yang pantas untuk dicintai dan dikagumi.
Perlahan wajah kita pun mulai mendekat, hingga Vina mulai sedikit memejamkan mata siap menerima dengan apa yang akan terjadi hingga akhirnya kedua bibir kita pun bersentuhan, lalu saling menarik mengungkapkan rasa cinta.
Bibirku mulai turun menuju ke arah leher, namun aku sedikit mencium bau aneh keluar dari leher Vina, namun hasrat kelakianku sudah memenuhi jiwa, sehingga aku tidak memperdulikan hal itu.
Vina yang sudah mulai terpancing dia pun menuntunku ke ranjang, dengan segera aku membuka pakaian istriku, hingga terlihatlah buah dada yang sangat putih dan besar, membuatku Tak sabar ingin meremasnya.
Perlahan bibirku mulai mendekat ke gondokan besar milik istriku, namun ketika Aku mulai mau ******* hidungku menangkap kembali bau yang tidak biasa yang keluar dari tubuh Vina, sehingga membuatku menghentikan Aktivitas, membuat Vina membuka mata kemudian menatapku.
__ADS_1
"Kenapa berhenti sayang?" tanya Vina yang sudah sayu.
"Kok dadamu bau rokok?" Tanyaku penuh curiga.
"Ya Gimana nggak bau, kan suaminya perokok berat," jawab Vina.
"Tapi aku belum ngapa-ngapain dadamu?" sanggahku tidak terima.
"Belum ngapa-ngapain bagaimana, kan kita sudah ciuman?"
"Tapi ini baunya di dadamu Vin?"
"Sudahlah kalau nggak mau dilanjutkan," jawab Vina yang kembali menutup bagian dada menggunakan selimut, Dia terlihat kecewa membuatku merasa tidak enak.
"Kenapa kok bau rokok apa jangan-jangan!"
"Jangan-jangan apa?" tanya Vina yang mendengus dengan kesal.
"Jujur siapa yang menyimpan bau di dadamu!'
"Ya ampun Farid...! ya Kamu sendiri lah, siapa lagi emang kamu kira aku ini cewek apaan?"
"Tapi kan aku belum menciumnya, Lagian aku belum merokok. kamu Sekarang jujur sama aku, siapa yang berani menyentuhmu?" Tanyaku sambil terus menatap ke arah Inaya memalingkan wajah.
"Kamu tuh aneh Rid! aku nggak nyangka kamu bisa punya pikiran seburuk itu tentangku."
"Ya gimana Nggak, aku belum ngapa-ngapain Tapi sudah ada bau yang berbeda dengan wangi tubuhmu, jujur aku tidak akan marah kok," ujarku meminta penjelasan.
"Jujur apa!"
"Jujur....! siapa yang memberikan bau di dadamu!" betaku sambil menarik tangan Vina agar bangkit dari tempat tidurnya, agar dia bisa berbicara menetap ke arahku.
"Kamu ke sambet apa sih Rid! Kamu aneh banget."
Plak!
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak jawab, kenapa kamu malah ngomong ke mana-mana?"