
Pov Erni
Aku mulai memfokuskan kembali ke pekerjaanku yang sempat tertunda, karena terganggu oleh kehadiran sosok pria yang mampu mengganggu saraf otak kiriku. Namun pekerjaanku, tidak bisa membuatnya berpaling, untuk tidak memikirkan Wajah pria yang menghantuiku.
"Tumben banget sih! aku seperti ini." gumamku sambil mengulum senyum, mataku terus memperhatikan berkas-berkas yang ada di tangan. Mencoba untuk mengalihkan pikiranku dari pria yang baru saja aku temui.
Merasa bingung harus berbuat apa, karena aku tidak bisa fokus bekerja. pikiranku melayang kemana-mana, membayangkan hal-hal indah yang akan aku lakukan bersama Ari, pria tampan berkulit kecoklatan itu. akhirnya aku pun memutuskan, untuk pergi ke kantin mencari kopi agar otakku kembali press. apalagi mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Jadi aku bisa beristirahat, sambil mengatur pola pikirku yang sudah berantakan. supaya Ketika aku mulai bekerja lagi, aku bisa fokus dengan pekerjaan yang akan aku kerjakan.
Sesampainya di cafe Shop aku pun segera memesan kopi, sekaligus memesan makanan untuk makan siang. Agar bisa satu kali dayung Dua pulau terlampaui. setelah selesai menyampaikan pesananku kepada waiter, aku pun mencari tempat duduk paling pojok, meski kafe ini terlihat masih sepi, karena waktu istirahat kantor belum dimulai. Namun aku tetap memilih duduk di tempat paling pojok, agar bisa leluasa untuk membayangkan wajah Tampan itu.
15 menit berlalu, akhirnya kopi pesananku lengkap dengan makanan yang tadi aku pesan, diantar oleh waiter ke mejaku. tak lama setelah pesananku datang, Coffee Shop itu pun mulai sedikit rame. karena para karyawan yang ada di gedung ini, mulai beristirahat dari pekerjaannya. untuk makan siang atau beribadah.
Aku yang tidak fokus terhadap keadaan sekeliling, Karena mataku terus memantau ke layar gawai menonton video-video cuplikan tentang film drama kesukaanku. Namun telepon yang aku pegang itu berdering, sehingga menghentikan aktivitas menonton itu.
"Jangan lupa makan!" Seru suara dari ujung sana mengingatkan.
"Dah, nih aku lagi makan!"jawabku sambil memindai area sekitar cafe, yang nampak sudah rame, keasikan menonton video-video film drama. sehingga tidak sadar akan keadaan sekitar.
Semua kursi yang ada di cafe shop itu, nampak penuh. hanya mejaku saja yang seorang diri, mungkin mereka merasa tidak enak, kalau harus mengganggu kenyamanan bosnya, padahal aku tidak sesombong itu. Karena sebelum aku memimpin perusahaan, Aku juga sama seperti mereka, sebagai salah satu karyawan.
"Baguslah! kalau begitu. takutnya belum makan." ujar Farid seperti biasa dia selalu perhatian.
"Iya! kamu juga jangan lupa makan! terima kasih, sudah mengingatkan. Oh iya, kamu telepon cuma mau bilang itu aja?" jawabku sambil terus memindai keadaan sekitar. karena hanya aku saja yang duduk seorang diri, sehingga merasa tidak enak takut orang-orang beranggapan Aku adalah pemimpin yang sombong.
Tempat kerja baru, sehingga aku belum mengenal dekat dengan orang-orang yang bekerja di perusahaanku. Apalagi sampai saat ini aku belum mendapatkan asisten pribadi. Sehingga untuk makan saja aku tidak mempunyai teman.
"Nggak! aku baru dapat informasi, tentang Kenapa suami kamu dirawat di ICU!" jelas Farid sehingga membuatku membenarkan posisi duduk, agar tidak ada berita yang terlewat. Mengingat hal penting yang akan disampaikan oleh Farid.
"Suamiku sakit apa?" Tanyaku mulai antusias.
"Nggak, suamimu nggak terkena penyakit apa-apa! namun dia keracunan obat."
"Obat apa ?"dengan cepat aku memotong penjelasan Farid.
"Obat penenang!"
__ADS_1
"Lah, kok bisa! seperti itu."
"Kurang tahu juga, Alasannya kenapa sampai suamimu nekat minum obat penenang sebanyak itu. aku dapat info ini, dari rumah sakit yang menangani suamimu."
Mendengar penjelasan Farid, seketika aku terdiam. Hati kecilku tidak bisa berbohong , Aku adalah orang yang paling berdosa, sehingga membuat Suamiku tega melukai dirinya sendiri, dengan minum obat penenang dengan dosis yang begitu banyak.
"Namun Kamu nggak usah khawatir! karena nyawa suamimu sudah tertolong." ucap Farid seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan.
"Terus sekarang suamiku ada di mana?" aku bertanya kembali.
"Menurut rumah sakit yang sempat menangani suamimu. Arfan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih canggih oleh keluarganya. namun pihak rumah sakit tidak mengetahui Arfan dipindahkan ke rumah sakit mana. Yang jelas Arfan sudah tidak ada di rumah sakit itu." jelas Parit yang Terdengar agak berbelit.
"Terus sekarang suamiku ada di mana?" susulku yang tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh kekasihku itu.
"Untuk saat ini, aku belum bisa memastikan suamimu berada di mana. Namun kamu nggak usah khawatir, karena Anak buahku sudah mulai mencari keberadaan suamimu. Aku menugaskan mereka untuk menyusur setiap rumah sakit rumah sakit terbesar di Jakarta. Siapa tahu saja ada salah satu rumah sakit yang menangani Arfan." Jelas Farid.
Aku menghembuskan napas pelan, merasa tidak puas dengan apa yang farid kerjakan.
"Sabar ya! semuanya butuh proses, lagian aku sudah bilang. ngapain kamu mencari suami yang sudah mau menceraikanmu." jelas Farid yang tidak suka dengan pekerjaan yang aku tugaskan, namun Walau begitu dia tetap mengikuti semua kemauanku, tidak berani membantah.
"Bentar dulu, Rid! izin ku di tengah-tengah Obrolan, setelah aku berada di belakang pria itu.
"Maaf Pak! Bapak sedang mencari tempat duduk, Kalau iya, Bapak bisa duduk di meja saya!" tawarku ramah, selain untuk membangun kedekatan dengan karyawan, aku bukanlah wanita yang tak punya hati, sehingga membiarkan orang lain kesusahan.
Mendengar tawaranku, pria itu pun membalikkan wajah menatap ke arah datangnya suara. dengan cepat aku menyambutnya dengan senyum ramah, namun dia hanya menundukkan pandangan.
"Maaf bu! saya takut mengganggu, kayaknya ibu sedang serius bertelepon." tolak pria itu dengan sopan.
"Enggak kok, Ri! kamu boleh duduk di sana, Lagian kalau aku duduk sendiri. kayak orang yang tidak punya teman." jawabku masih tetap mengulum senyum.
"Terima kasih, Bu!" ucap Ari sambil berjalan mengikuti, mendekati mejaku sambil membawa baki yang berisi makanannya.
"Udah dulu ya, Rid! aku ada urusan." pamitku sama Farid yang sudah menunggu dari tadi. dengan cepat handphone itu aku matikan, tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu. kemudian aku duduk kembali di tempat semula. sambil menikmati pemandangan indah yang ada di hadapanku.
"Maaf, gara-gara saya! teleponan Ibu jadi terganggu." ucap Ari sambil tetap menundukkan pandangan wajahnya yang masih polos, membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Sudah kamu makan siang saja dulu! Jangan banyak bicara, nggak baik kalau makan sambil mengobrol!" Ujarku sambil mengalihkan pandangan ke layar handphone, menonton video-video yang tak di sempat tertunda. agar pria yang ada di hadapanku tidak merasa risih.
Ari pun tidak menjawab, Dia hanya fokus menyantap makan siangnya. tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. aku yang sedang Menatap layar handphone, sesekali mencuri pandang ke arah pria, yang sedang mengunyah makanannya.
Melihat dia mengunyah nasi, membuatku membayangkan bagaimana ketika dia mengunyah diriku, dalam pelukannya. sehingga Membuatku menjadi tidak nyaman. ada hasrat yang bergejolak dalam tubuh, yang sulit diungkapkan oleh kata-kata.
Setelah Ari selesai menyantap makanannya, kemudian ia mengambil minum, lalu meneguknya. jakun yang turun naik, membuatnya semakin terlihat menggoda.
"Terima kasih! atas tumpangan tempat duduknya, saya pamit duluan Bu!" ucap Ari yang terlihat tergesa-gesa, ingin cepat pergi dari hadapanku.
Aku hanya mengulum senyum, batinku meronta ingin menolaknya. namun aku harus terlihat profesional sebisa mungkin, tidak menunjukkan sifat nakalku. di hadapan karyawan, nanti bisa-bisa image aku jatuh. Dan aku juga lebih suka dikejar daripada mengejar.
Akhirnya aku pun merelakan pria yang sedang kukagumi, menatap kepergiannya yang berjalan meninggalkanku, untuk Kembali ke tempat kerjanya. merasa malas duduk sendirian, aku pun segera membayar makananku. kemudian aku juga kembali ke ruanganku, untuk melanjutkan pekerjaan.
*****
Pukul 16.30. seperti biasa aku pun sudah bersiap-siap untuk segera pulang dari tempat kerjaku. namun ketika aku keluar dari lift menuju tempat parkiran, handphone-ku berbunyi tanda ada orang yang menghubungiku.
"Aku sudah berada di parkiran!" ucap orang yang nelpon itu, tanpa menunggu jawabanku dengan cepat ia memutus teleponnya, membuatku sedikit mengulum senyum, merasa terhibur dengan sikap yang selalu susah ditebak seperti itu.
Aku mempercepat langkah kakiku, agar segera sampai di tempat parkiran. Sesampainya di tempat parkiran, terlihat Farid yang sedang menungguku, di dekat mobilnya. menyambut kehadiranku, dengan senyum yang menghiasi wajahnya .
"Ngapain kamu repot-repot! pakai jemput segala, Padahal aku juga kan bawa mobil sendiri." tolakku sambil membalas senyum pria itu.
"Jangan mentang-mentang, sudah punya karir yang sukses. sampai-sampai kamu melupakan pengorbanan si jagur." jawab Farid sambil menepuk bemper mobilnya.
"Iya! iya! ya sudah, ayo kita pulang!" ajakku agar tidak terlalu lama berada di parkiran. sambil mendahului Farid masuk ke dalam mobilnya.
"Kita Mau ke mana?" aku bertanya, karena mobil yang dikemudikan oleh Farid tidak menuju arah rumahku.
"Sesuai janjiku kemarin, aku akan mengajakmu melihat tempat usaha untuk bapak!" jelas Farid tanpa menatap ke arahku, matanya tetap terfokus melihat ke arah depan.
"Oh begitu! kirain." tanggapanku sambil mencembungkan kedua pipi.
"Wajahmu jangan dibuat seperti itu, aku gemes melihatnya!" jelas Farid mencubit pipiku dengan tangan kirinya.
__ADS_1
Dengan cepat aku memegang tangan Farid, untuk tetap berada di pipiku. seolah paham dengan apa yang aku maksud, Farid pun memainkan pipku dengan cara mengelusnya, sehingga aku menyandarkan Pipiku di tangannya.