
POV Farid
Setahun semenjak kematian Erni yang sangat mengenaskan. dia mati terbunuh oleh pistolnya sendiri, awalnya aku merasa heran kenapa dia berani melakukan hal seperti itu. ternyata setelah beberapa minggu berlalu. ke rumahku, ke rumah pemberian Arfan ada pihak bank yang datang. ternyata Erni sudah menggadaikan sertifikat rumahnya ke bank. pantas saja ketika aku mencari sertifikat rumah, aku tidak pernah menemukannya. Bahkan bukan sampai di situ, saham Erni yang berada di perusahaan Erni Group Yang 60%. itu juga sudah dijual sama orang, dia terpengaruh oleh Sinta, orang yang dulu mau aku kenalkan, agar Erni mau berinvestasi di rumah sakitnya. Namun ternyata Sinta adalah penipu yang ulung, karena setelah Erni berinvestasi di rumah sakitnya. tidak ada satu kejelasan tentang investasi itu. sehingga kekayaan Erni habis tak tersisa, hanya menyisakan 10% saham di perusahaan Erni Group.
Aku sebagai pewaris dari Erni, hanya bisa menjual saham itu dengan harga murah. karena tidak ada yang mau berinvestasi di perusahaan yang terlihat sedang goyang. harga yang murah itu aku harus membagi dengan keluarga Erni, sehingga aku hanya kebagian sedikit.
Akhirnya rumah besar peninggalan istriku disita oleh bank, saham dijual dengan murah. hingga dari saat itu aku mulai memutuskan untuk membuka usaha sendiri, namun sayang beberapa kali aku mencoba membuka usaha, namun tak ada satu usaha pun yang membuahkan hasil. hanya rugi dan rugi yang aku alami, mungkin ini adalah balasan terbaik bagi penghianat sepertiku.
"Sudah siap Rid?" tanya Vina yang baru keluar dari dalam rumah dengan berpakaian rapi. benar Sekarang aku sudah menikahi sepupu mantan istriku dulu.
"Sudah! ayo kita berangkat." ajakku yang sejak dari tadi menunggu di kursi depan, sambil menatap orang yang berlalu Lalang di depan rumah.
"Bentar aku kunci dulu pintu kontrakannya." jawab Vina sambil memasukkan kunci lalu memutarnya.
Dan ini Benar juga, sekarang aku tinggal di salah satu kontrakan petak yang jauh dari kata layak. kegagalan demi kegagalan yang aku alami, mengharuskanku tinggal di rumah sewa itu.
Setelah Vina Mengunci pintu. akupun bangkit lalu mengeluarkan motor tua yang masih tersisa. mobil yang dulu pernah aku punya, sekarang sudah habis aku jual buat modal usaha.
Setelah motor aku keluarkan, aku mulai mengkik starter motor itu. namun beberapa kali aku kick motor butut itu tidak mau nyala. maklum motor sudah tua jadi sangat sulit ketika hendak diajak jalan seperti sekarang.
"Kenapa mogok lagi?" Tanya Vina sambil menatap ke arahku.
"Nggak tahu nih Vin, aku juga bingung." Jawabku sambil mencoba kembali mengkick starter, namun tetap saja motor itu tidak mau jalan.
"Apa bensinnya habis?" tanya Vina memberikan saran.
Mendengar saran itu, aku pun turun dari motor lalu membuka kunci joknya. kemudian membuka penutup tangki. ternyata benar apa yang disampaikan oleh Vina, motor itu bensinnya tidak ada.
"Hehehe." ujarku tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.
"Kenapa nyengir?"
"Iya habis Vin."
"Kebiasaan Ya sudah, ayo dorong ke depan! nanti di depan kita isi."
__ADS_1
"Emang kamu masih punya uang?" Tanyaku sambil menatap ke arah istriku.
"Ada, namun nggak banyak. Ayo buruan dorong nanti acaranya keburu dimulai." ujar Vina sambil meletakkan tangan di behel motorku, Walaupun dia sangat cantik Dia tidak malu melakukan hal seperti itu. karena mungkin dia sama sepertiku yang sudah tidak memiliki keluarga. hingga akhirnya kita saling berjanji, untuk menitipkan satu sama lain, apapun kenyataannya kita akan terap terima.
Aku menuntun motorku keluar dari gang, rasanya sangat bahagia ketika bisa berjalan bersamaan seperti itu. Berjalan dengan orang yang saling mengerti, saling memahami, meski banyak kekurangan sedang menguji keutuhan keluargaku, namun sampai sekarang Vina masih tetap bersabar, masih menerima kekurangan itu. Dan semoga saja sampai akhir hayat kita dia masih akan tetap menjadi orang yang baik, wanita yang selalu menerima kekurangan suaminya.
Setelah sampai di tukang bensin eceran. Vina membeli 2 botol bensin, lalu dimasukkan ke dalam tangki motor. setelah dibayar, aku mencoba mengengkol motor tuaku. dan akhirnya motor itu bisa menyala sambil mengeluarkan asap pekat dari knalpotnya.
Setelah motor menyala, vina pun naik lalu memegang Pinggangku. perlahan aku tarik tuas gas, hingga motor itu melaju dengan pelan, pergi meninggalkan tukang bensin eceran.
"Vin!' panggilku sambil menoleh ke arah wanita yang sedang kubonceng.
"Iya Kenapa Rid?"
"Apa kita gak malu menghadiri acara pesta, menggunakan motor seperti ini?" Tanyaku yang merasa kasihan, takut dia minder memiliki suami yang gagal sepertiku.
"Kenapa harus malu? justru kalau kita nggak hadir, itu yang akan membuat malu. ingat Arfan sudah memaafkanmu, maka dari sekarang sampai ke depan, kamu jangan sampai mengecewakannya lagi." jawab Vina sambil mendekatkan wajahnya ke telingaku, agar suaranya bisa terdengar.
"Takut aja kamu malu."
"Terima kasih ya!" ujarku yang tidak tahu harus dengan cara apalagi mengucapkan rasa syukur atas kebaikan istriku.
"Buat apa?"
"Kamu sudah mau menemani lelaki yang payah ini."
"Sudahlah! jangan merendah terus. kita semua sama-sama sedang berjuang .Harusnya kita saling memotivasi, agar kehidupan kita cepat kembali ke kehidupan Yang Semestinya."
"Terima kasih Sayang!"
Motor yang kukendarai terus melaju membelah jalan Kota Jakarta. Aku berjalan di samping, karena motorku tidak bisa di bawa ngebut. bisa-bisa kalau aku membawanya dengan kencang, motorku akan batuk. Kalau sudah batuk bisa-bisa masuk rumah sakit. Sedangkan kalau masuk rumah sakit harus membutuhkan biaya. Karena sampai saat ini Pemerintah belum memberikan jaminan kesehatan bagi kendaraan. namun walau mengendarai motor dengan pelan akhirnya aku sampai di salah satu gedung resepsi pernikahan. perasaanku mulai minder, melihat dekorasi pernikahan yang begitu megah. Kalau tidak ada Vina, mungkin aku lebih memilih untuk balik badan. Setelah memarkirkan motor, Aku mulai berjalan masuk ke dalam gedung.
"Pak Farid!" sapa seseorang sambil tersenyum.
"Oh Dali!" jawabku setelah melihat orang yang menyapa, kemudian menghampiri lalu memeluknya. begitu pula dengan Vina yang memeluk Calista istrinya Dali.
__ADS_1
"Dari tadi Pak Arfan nanyain Pak Farid terus. takut bapak tidak datang." ujar Dali menyampaikan kekhawatiran bosnya.
"Pasti datang kok dal! kalau nggak mau datang, pasti akan aku paksa." jawab Vina menyahuti.
"Ya sudah, ayo kita temui mereka." ajak Dali sambil berjalan mendahului menuju ke arah panggung pengantin. terlihat di sana ada raja dan ratu sedang duduk di singga sananya. mereka tersenyum membagi kebahagiaan kepada para tamu yang datang. ketika melihat kedatanganku, Arfan pun dengan cepat menghampiri, meninggalkan karla yang sudah sah menjadi istrinya.
"Sini Rid! sini!" ajak Arfan Tak sedikitpun ada raut dendam di wajahnya, membuat hatiku semakin merasa teriris, karena dulu aku tega menghianatinya.
"Sudah jangan meninggalkan singgasanamu kasihan ratunya, nanti sendirian." jawabku sambil mengulum senyum menyembunyikan penyesalan yang begitu dalam.
"Apaan sih lu Rid, ayo kita foto dulu." ajak Arfan sambil menarik tanganku naik ke atas panggung. Dali dan Calista dia hanya terdiam memperhatikan hubungan sahabat yang sudah kembali baik.
"Foto yang banyak ya!" pinta Arfan sama fotografer yang sudah siap memotret Kami berempat.
Fotografer pun mengacungkan tangan, Tanda menyetujui apa yang dipinta oleh customernya.
Pret! pret! pret!
Suara lensa yang mengambil fotoku, bersama keluarga baru itu. terlihat wajah Arfan dan wajah Karla yang terus berseri-seri, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka.
Setelah selesai berfoto ria. aku memeluk sahabatku, sahabat yang pernah aku kecewakan. "selamat menempuh hidup baru, semoga pernikahanmu langgeng Sampai Akhir hayat. Dan tidak ada yang mengganggu keutuhan rumah tanggamu, seperti sahabatmu yang bod0h ini. Maafkan aku fan!" ujarku tanpa melepaskan pelukan tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi pundaknya.
"Terima kasih Bro! Sudah jangan nangis! yang lalu biar berlalu. kita mulai melukis dengan buku dan tinta yang baru, agar kehidupan kita semakin membaik." jawab Arfan sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Terima kasih Fan! sekali lagi gua minta maaf." ujarku hanya kata itu dan itu yang selalu aku ucapkan, ketika bertemu sahabatku itu. Rasa Sesal yang memenuhi lorong jiwa, sehingga sampai sekarang aku belum masih bisa memaafkan diriku sendiri, yang telah tega menghianati sahabatku.
"Sudahlah kamu semakin ke sini, semakin ngelantur. mending sekarang ajak istrimu untuk makan."
"Maaf aku datang ke sini, cuma datang aja. Aku nggak Membawa apa-apa, atau hadiah untukmu." Ujarku dengan jujur, karena tadi saja membeli bensin aku sudah menggunakan uang istriku.
"Sudah sudah sana buruan!" Usir Arfan sambil mendorong tubuhku turun dari atas panggung pengantin. "Dali titip Farid! Tolong Awasi dia. kalau tidak makan, Jangan biarkan dia pulang." ujar Arfan dengan suara pelan, menyeru bawahannya yang berdiri di tangga panggung.
"Siap pak!" jawab Dali sambil manggut, kemudian dia pun mengajakku untuk menuju meja makan, yang sudah terhidang berbagai makanan makanan yang mewah.
Aku dan Vina mulai mengambil makanan yang ada di meja hidangan. karena sebenarnya dari tadi pagi kita belum sarapan. Ketika ada makanan gratis seperti sekarang, kita berdua tidak menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Dari arah tamu undangan terdengar bertepuk tangan. setelah melihat ada orang tua yang berdiri menghampiri kedua pengantin. ternyata orang tua itu adalah bu Aisyah ibunya Arfan dan Pak Umar bapaknya Karla. mereka berfoto bersama dengan menghiasi bibirnya dengan senyum, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh anaknya.