Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. Eps 3 Karla istriku


__ADS_3

POV Arfan


"Siap! bilang cheese ya!" Seru fotografer sambil mengangkat jari jempol memberikan isyarat, ketika aku melakukan sesi foto bersama rekan bisnisku.


"Ciiiiiis!"  jawab kita serempak.


"Selamat ya Pak Arfan! semoga yang sekarang pernikahan pak Arfan bisa langgeng, sampai maut memisahkan." Doa seseorang sambil mengulurkan tangan memberikan selamat.


"Amin! Terima kasih atas doanya. silakan nikmati jamuannya." jawabku sambil mengulum senyum merasa bahagia. akhirnya orang yang melakukan sesi foto turun dari atas panggung, memberikan keleluasaanku untuk menatap kembali gadis aneh yang baru dua hari lalu kupersunting menjadi istriku.


"Ngapain sih lu, masih tetap senyum-senyum, kayak embe mau kawin aja." ujar Karla tanpa sedikitpun ada manis di wajahnya.


"Usil amat sih! bibir bibir aku, yang senyum aku, Kenapa kamu yang sewot?" jawabku tak kalah Ketus, namun perdebatan itu dilakukan dengan perlahan, menyembunyikan dari pantauan orang tua kita, yang sejak dari tadi duduk di samping kanan dan kiri.


"Ya Emang bibir-bibir lu! tapi kalau senyum lu menghadap ke gua. gua resi tahu! Mending kalau gigi lu putih." Balas Karla Sambil memalingkan wajah tak mau menatap ke arahku.


"Hey! hey! Mana wajahmu? biarkan suamimu menikmatinya. dosa Kalau memalingkan wajah seperti itu. sekarang kamu seutuhnya sudah menjadi milikku." Godaku sambil mendekatkan bibir ke telinganya.


Mendengar penuturanku, Karla hanya mengeratkan gigi, Tak sedikitpun dia menunjukkan keramahan dalam hidupnya. dia masih sama seperti dulu, sebagai wanita yang sangat menyebalkan. dia hanya menangis ketika aku sudah mengucapkan ijab qobul. setelah aku tanya kenapa dia bisa menangis, ternyata Karla menangis bukan karena bahagia, setelah menjadi istriku. menurut pengakuannya dia menangis, Kenapa jodohnya harus orang yang sepertiku. yang menurutnya, aku tidak memiliki pendirian, namun walau seperti itu. dia tetap menghormatiku sebagai suami sahnya. meski Baru beberapa hari aku sudah mulai merasakan ada getaran getaran cinta yang mengalir di matanya. walaupun aku belum bisa melakukan hubungan layaknya hubungan suami istri.


Perdebatan kecil itu pun terhenti, setelah ada rekan bisnisku yang menghampiri. seperti biasa kita melakukan sesi foto untuk mengabadikan momen bahagia dalam hidupku.


Setelah melakukan sesi foto, Karla kembali ke mode awalnya mode memasang wajah yang sangat menyebalkan.


"Bu Karla......!" terdengar ada suara teriakan yang sangat riuh dari arah pintu. terlihat anak-anak yang berlari menghampiri ke arahku dan ke arah Karla. melihat anak-anak pengajiannya datang, dia pun bangkit lalu turun dari kursi, menghampiri anak-anak yang baru datang tampa memperdulikanku lagi. begitulah dia yang selalu perhatian terhadap anak- anak muridnya.


"Kalian datang ke sini?" tanya Karla sambil jongkok menyapa anak-anak yang menghampirinya.


"Iya Bu! tadi bang Saiful jemputnya telat. jadi kita datangnya telat." jawab salah seorang anak memberi penjelasan.


"Ayo kita makan dulu!" ajak Karla sambil bangkit  menggendong anak yang paling kecil, menuju meja hidangan. aku hanya bisa tersenyum menatap ke arah istriku.


"Wooooow! makanannya mewah-mewah Bu! Apakah kita boleh memakan yang ini?" tanya anak kecil yang berbadan gembul.


"Boleh! kalau kamu mampu, semuanya boleh kamu habiskan!" jawab Karla sambil mengulum senyum, kemudian tanpa memperdulikan orang lain, dia mulai melayani anak-anak yang hendak makan.


Di arah belakang terlihat Saipul yang menghampiriku. "maaf gua telat Bro!"


"Nggak apa-apa! untung kamu cepat datang, sehingga Karla tidak jadi marah."

__ADS_1


"Marah kenapa lagi dia?"


"Biasa! kayak kamu nggak tahu sikapnya aja seperti apa." jawabku sambil menatap kagum ke arah Istriku, yang sedang sibuk bermain dengan anak anak pengajiannya.


"Hahaha! maklumlah Bro. emang dia seperti itu. lu harus banyak bersabar menghadapi sikapnya."


"Terima kasih! ya sudah kamu juga sana makan dulu! Sambil temani anak-anak." pintaku sama Saiful.


"Okelah kalau begitu! tapi gratis kan?"


"Nggak! buat kamu harus bayar 10 juta." Candaku sambil tersenyum membalas candaan saipul.


Orang yang diajak berbicara hanya tersenyum, kemudian dia berjalan mengikuti anak-anak yang sedang makan. aku melihat ke berbagai arah, untuk mencari keberadaan Farid, namun hanya dali yang menghampiri.


"Ada kebutuhan apa Pak?" tanya Dali, seperti biasa dia selalu hadir dalam setiap kebutuhanku.


"Farid ke mana?" tanyaku sambil celingukkan mencari orang yang aku tanyakan.


"Sudah pulang Pak! Tadi katanya mau minta izin sama bapak, tapi bapaknya lagi sibuk berfoto. Menurut Pak Farid beliau tidak mau mengganggu kebahagiaan bapak."


"Padahal kalau mau izin pulang, izin aja! nggak apa-apa, nggak harus takut mengganggu. Oh ya, bagaimana tentang perintahku."


"Perintah yang mana Pak?"


"Nggak Pak! namun saya takut salah menjawab. Karena pertanyaan Bapak ambigu."


"Maafkan aku Dal! aku selalu merepotkanmu, Terima kasih sudah menemaniku sampai saat ini."


"Sama-sama Pak! saya juga Terima kasih sudah dipercaya menjadi asisten bapak. Tapi Maaf pak! perintah yang mana yang Bapak tanyakan?"


"Tentang tawaran kita buat Farid."


"Masalah itu, tadi sudah saya sampaikan kepada beliau, namun beliau menolak. karena menurut pengakuannya beliau malu kalau harus merepotkan bapak."


"Kenapa malu? justru aku sangat berterima kasih dengan Farid, kalau tidak ada Farid, aku tidak mungkin bisa menikah dengan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istriku." jelasku menyayangkan.


"Mungkin Pak Farid merasa tidak enak aja Pak! Tapi siapa tau aja ke depannya, beliau bersedia bekerja di tempat kita. Saya sudah melihat trek recordnya, ketika Pak Farid bekerja di perusahaan Pak David, beliau bekerja sangat rajin dan bisa diandalkan di sektor pemasaran."


"Baiklah! tolong kalau nanti Farid meminta bantuan sama kamu, tolong bantulah. atau kalau nggak, kamu tolong kasih tahu saya."

__ADS_1


"Baik Pak!"


Selesai membahas tentang Farid, aku  menghampiri ke arah Karla yang sedang bermain dengan anak-anak. wajahnya yang menyebalkan hilang seketika, terlihat bagai Pri yang sedang mengayomi anak-anaknya.


Aku terlarut bermain dengan anak-anak itu, anak-anak sekaligus teman seangkatan belajar ngaji di rumah pak Umar. anak-anak kecil yang sangat riang, apalagi ketika karla mengajak mereka ke atas panggung, untuk memeriahkan acara.


Pak Umar dan ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat kelakuan anak dan menantunya seperti itu. bahkan beberapa rekan bisnisku yang meminta foto bareng, harus aku tolak, karena aku tidak mau mengganggu kebahagiaan istriku.


Pukul 01.00. akhirnya acara itu selesai, aku dan Karla pulang ke rumah Ibu, sedangkan Pak Umar bersama Saiful dan anak-anak pengajian pulang ke rumahnya masing-masing. padahal pak Umar Sudah aku paksa untuk ikut ke rumah ibu, namun beliau menolak. menurutnya tidak nyaman kalau tinggal di rumah orang lain, meski rumah itu sangat mewah. lebih enak tinggal di rumah sendiri, meski keadaannya sangat sederhana.


Sesampainya di rumah, Karla mengajakku untuk salat berjamaah bersama ibu. selesai melaksanakan salat dzuhur berjamaah, aku mengajak Karla untuk naik ke lantai atas, di mana kamarku berada.


"Kita istirahat dikamar yuk! aku yakin kamu capek." ajakku sambil menatap istriku yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Di ruang itu hanya ada kita berdua, karena Ibu setelah melaksanakan salat berjamaah, beliau langsung ke kamar. menurut pengakuannya, ibu ingin istirahat terlebih dahulu, setelah melakukan acara yang sangat padat beberapa hari ini.


"Ngapain? Istirahat di sini aja!" jawab Karla, matanya yang indah terus menatap ke arah layar televisi, padahal menonton televisi bukan kesukaannya, tapi Entah mengapa sekarang dia melakukan hal itu.


"Ya nggak apa-apa! kalau di kamar kan bisa istirahat sambil berbaring."


"Ya di sini juga bisa! kamu tinggal berbaring di situ!" Jawab Karla sambil menunjuk ke arah karpet yang tergelar di depan televisi.


"Nggak enak! kalau di situ nggak empuk."


"Ya sudah! bentar aku ambilkan kasur." Ujarnya sambil bangkit.


"Mau ke mana?"


"Ngambil kasur!" jawabnya dengan Ketus, sambil terus naik ke lantai atas. melihat istriku naik, dengan cepat aku mengikutinya. "Mau ngapain ngikutin Gua?" Bentaknya sambil membulatkan mata.


"Nggak apa-apa!" jawabku sambil menggaruk-garuk kepala.


"Dasar gak jelas" gumamnya sambil terus berjalan kembali menapaki anak tangga, kemudian dia masuk ke kamar.


Ceklek!


Pintu pun segera aku kunci, membuat mata Karla membulat sempurna, menatap ke arahku. "Kenapa Pintunya dikunci, lagian rumah Ibu pengamanannya sangat ketat. Jadi tidak mungkin ada maling yang masuk ke kamar Kita."


"Nggak apa-apa!" jawabku yang menatap sayu wajah cantik istriku.


Mendengar jawabanku seperti itu, Karla hanya memalingkan wajah, kemudian dia mengambil kursi untuk mengambil kasur lantai.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanyaku sambil menata Heran ke arahnya.


"Katanya Lu nggak bisa tidur, kalau karpetnya gak empuk." jawab Karla yang sudah menurunkan kasur dari atas lemari, membuatku menggaruk-garuk kepala, tidak paham dengan apa yang ada dalam isi kepalanya.


__ADS_2