Dua Penghianat

Dua Penghianat
season 3 bag. 1


__ADS_3

Pov Ira


Hari ini Aku merasa bahagia, karena aku bisa masuk kerja kembali, setelah mendapat libur cuti sepulang menemui klien di Bogor. karena Entah mengapa, bekerja di perusahaan Mandiri group rasanya sangat nyaman, tidak ada tekanan. tetapi Walau begitu semua karyawan sangat tanggung jawab dengan pekerjaan yang ditugaskan.


Setelah sampai di kantor, aku yang sekarang sudah memiliki ruangan sendiri. aku mulai merapikan file-file dan berkas-berkas yang terlihat kurang rapi, mengelap mejanya agar tidak berdebu. setelah semuanya dirasa sudah rapi, Aku membawa vas bunga ke kamar mandi, untuk membuang airnya digantikan dengan yang baru. setelah terisi dengan air, aku menaruh bunga mawar kesukaanku, yang tadi aku beli ketika berangkat ke kantor.


Cahaya mentari menerobos masuk melewati jendela yang aku buka gordennya, sehingga membuat sedikit udara pagi yang terasa segar. tapi udara itu akan berubah ketika datang siang hari menjadi panas dan gerah. makanya tidak heran di setiap kantor akan ada AC yang tertempel di dinding.


Setelah ritual pembersihan uang kerja, aku mulai menyalakan Komputerku untuk mengecek file-file yang belum dikerjakan, aku mulai terlarut dengan pekerjaan sambil menunggu orang memanggilku.


Kira-kira pukul 10.00, telepon yang ada di atas mejaku berbunyi. setelah diangkat ternyata aku disuruh menemui asisten Manager perusahaan, membuat sudut bibirku terangkat sedikit. karena aku sudah kangen Tak sabar ingin menatap wajah yang selalu mengganggu setiap detik dalam hembusan nafasku. Padahal baru sehari saja aku tidak bertemu dengannya, namun rasaannya sudah setahun lebih aku tak jumpa.


Dengan hati yang yang berdebar, jantung yang berdegup, perasaan yang tidak karuan, aku meletakkan gagang telepon. kemudian keluar dari ruangan kantor tempat aku bekerja. aku terus berjalan menuju ke ruangan Asisten Manager, setelah sampai aku pun mengetuk pintunya.


"Masuk....!" seru orang dari dalam.


Ceklek!


Pintu ruangan Asisten Manager aku dorong, terlihat pria gagah yang sedang menatap ke arah layar komputer yang berada di hadapannya, sikapnya yang begitu cuek, membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentangnya.


"Kakak, eh Bapak memanggil saya?" Tanyaku yang sering disengaja memanggilnya antara Kakak dan bapak, agar dia tahu bahwa aku menginginkan lebih dari hubungan atasan dan bawahan.


"Yah, Silakan duduk...!" seru Kak Dali mempersilahkan.


"Ada apa ya pak?" Tanyaku setelah duduk sambil mencuri pandang menatap ke arah wajahnya.


"Pak Farid gak masuk kerja hari ini?" jawab Kak Dali balik bertanya.


"Belum tahu pak, Saya belum mengecek di kantor pemasaran. Emang ada apa?"


"Nggak ada apa-apa, sejak Kemarin sore saya menghubungi beliau, tapi tidak diangkat. bahkan tadi pagi handphonenya sudah tidak bisa dihubungi  saya mau mengambil mobil, soalnya nanti sore saya diajak oleh Pak Arfan untuk menemui kliennya," jawab Kak Dali menjelaskan.

__ADS_1


"Oh begitu, kirain bapak, eh kakak memanggil saya, karena kangen." ujarku sambil menyunggingkan senyum sinis, membuat pria tampan itu menekuk muka, membuatku semakin bergairah untuk menggodanya.


"Jaga bicaramu....! Ini kan di kantor. kamu semakin dibiarkan, semakin melunjak!" ujar Dali dengan wajah ketusnya.


"Ya Maaf...! Maaf! sebentar saya akan coba menghubungi nomornya," jawabku kemudian mengambil handphone lalu menelepon nomor Farid lewat aplikasi berwarna hijau, namun panggilan itu tidak bisa terhubung karena sudah tidak aktif. Merasa penasaran aku pun memanggil lewat telepon biasa.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area, the nomor calling is dizzy!" jawab Mbak operator menandakan nomor itu tidak aktif, merasa masih, penasaran aku pun mencoba mengulang memanggil kembali namun hasilnya tetap sama, setelah aku melihat Kapan terakhir dia aktif, membuatku sedikit mengerutkan dahi.


"Sama nggak aktif Pak!" Ujarku sambil menatap ke arah Asisten Manager yang berada di hadapan.


"Bagaimana ya, soalnya saya butuh banget kendaraan. mobil yang ada di rumah untuk berjaga-jaga kalau istri saya membutuhkan sesuatu," ujar Kak Dali yang terlihat kebingungan namun berbeda denganku yang merasa kesal, karena dia selalu memprioritaskan Calista.


Sebelum menjawab aku menarik nafas terlebih dahulu, mengatur emosi yang memenuhi jiwa. padahal harusnya Kak Dali berpikir bahwa ada seorang wanita yang sedang mengharapkan cintanya, seharusnya dia bisa menjaga perasaan hati wanita yang sedang berada di hadapannya. "Bagaimana kalau kita datangi saja ke rumahnya pak, Siapa tahu saja Pak Farid sedang terkena musibah, atau bagaimana," ujarku memberi saran, Siapa tahu saja kita bisa pergi keluar bersama, kemudian makan siang berduaan.


"Iya benar..! ya sudah terima kasih atas informasinya," ujar Kak Dali seolah tidak membutuhkanku lagi.


"Emang Bapak tahu rumahnya di mana?:


"Sudah pindah Pak!"


"Ke mana?" tanya Kak Dali sambil menatap wajahku, membuat hatiku yang sudah berdebar dari tadi semakin terasa bergejolak, mungkin kalau hati itu berada di luar tubuh sudah loncat-loncat kayak kodok.


"Ada deh, kalau Kakak mau nanti saya bisa antar!"


"Halah malas...! mendingan Saya nyari tahu sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, saya mohon undur diri dulu...!" ujarku tanpa menunggu jawabannya, aku pun keluar dari kantor Asisten Manager dengan membawa kekecewaan, kembali ke ruang kantor tempatku bekerja.


Setelah sampai di kantor, aku jatuhkan tubuhku di atas kursi, kemudian menatap ke arah luar jendela yang terlihat sangat terik, Entah mengapa hari itu rasanya sangat malas bekerja, Mungkin perbauan hati yang sedang kecewa, sehingga tidak mau melakukan apa-apa.


Merasa bosan melihat mobil-mobil yang berlalu Lalang yang terlihat dari jendela kantor, aku pun membalikkan tubuh menatap ke layar komputer, aku mulai mengecek kembali file-file yang hendak tadi aku kerjakan, beberapa saat berlalu telepon yang berada di atas mejaku kembali berbunyi.

__ADS_1


"Halo ini siapa?" Tanyaku dengan sedikit nada Ketus.


"Saya dali,"


"Mau apa kakak menelpon saya, bukannya saya tidak penting?" jawabku masih dengan nada Ketus.


"Semua karyawan yang kenal dengan Pak Farid, mereka tidak tahu rumahnya berada di mana. Tolong antarkan saya ke rumah Pak Farid, soalnya sampai sekarang dia masih belum bisa dihubungi."


"Maaf Pak kerjaan saya masih menumpuk," jawabku menolak permintaannya.


"Tolonglah Bu...! soalnya saya sangat butuh mobil itu, nanti Sehabis pulang dari rumah Pak Farid kita makan."


"Serius...!" Tanyaku dengan tidak sadar, padahal Seharusnya aku lebih menjaga imageku sebagai seorang perempuan yang anggun.


"Serius....! Tapi tolong antarkan saya ke rumah Pak Farid.


"Ya sudah ayo, tapi beneran ya makan di luar!"


"Terima kasih...! saya tunggu di lobby," ujar Kak Dali dengan suara dinginnya sambil memutus telepon.


Yes...! yes! yes!


Ujarku sambil mengepalkan tangan seperti seorang pejuang yang sudah mencapai kemerdekaan, hatiku yang awalnya layu sekarang mulai mekar kembali, seperti sudah disiram dengan air.


Sebelum keluar aku mengambil cermin untuk melihat wajahku, karena aku tidak mau kalau bertemu dengannya dengan wajah yang biasa-biasa saja, Aku ingin dia selalu Terpukau menatapku dengan penuh kekaguman. aku hiasi pipiku dengan make up yang tidak terlalu tebal agar terlihat Natural, setelah selesai memoles dan dirasa sempurna, aku menyemprotkan parfum untuk menyamarkan bau keringat.


Dengan percaya diri, aku pun keluar dari kantor keranjang sayur. para karyawan yang bertemu denganku, Mereka manggut memberi hormat. karyawan laki-laki terus menatapku penuh kekaguman, hanya kak Dalilah yang selalu Acuh, seolah tidak tertarik dengan wanita. tapi kalau tidak tertarik dengan wanita, kenapa dia harus menikahi si Calista.


Sesampainya di lobby, terlihat dali sudah menungguku di kursi yang berada di ruangan itu. melihat kedatanganku dia pun bangkit namun hidungnya terlihat mengkerut seperti menangkap bau yang aneh.


"Sudah sering saya bilang kalau memakai parfum itu cukup disemprot, jangan ditumpahkan seperti ini!" ketusnya yang selalu seperti itu, harusnya dia senang ketika memiliki partner sewangi dan secantik wanita sepertiku.

__ADS_1


__ADS_2