
Pov Arfan
"Oh begitu!" ujar Mukti sambil mencembungkan pipinya.
"Iya begitu! dia orangnya sangat sombong." Timpal Carla memalingkan pandangan ke arahku.
Akhirnya kami pun melanjutkan obrolan itu sampai akhirnya Mukti pun meminta izin, karena dia mau melanjutkan pekerjaannya, waktu istirahat dia sudah selesai. sedangkan aku diajak Kara masuk kembali ke ruangannya.
"Bagaimana?" tanya Karla sambil menatap ke arahku.
"Apanya, yang bagaimana?" aku balik bertanya pura-pura nggak tahu.
"Awas aja! kalau lu bilang, lupa dengan tugas kamu." ujar Karla sambil mengangkat telunjuk ke arah mukaku, memberikan ancaman yang serius.
"Beres!" jawabku sambil mengangkat jempol, lalu ditautkan dengan jari telunjuk karla,
"Apaan sih!" ujar Karla sambil menarik tangannya.
"Ya Kamu, ngapain! pakai harus nunjuk-nunjuk segala." ucapku sambil tersenyum, melihat tingkah lakunya yang begitu menggemaskan, bak bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.
"Sudah! buruan Bagaimana hasilnya." tanya Karla kembali ke pokok permasalahan.
"Ya sudah! beres." jawabku terus mencandainya.
"Iiiihhhhhhh! Kamu tuh." Ucap Karla sambil mencembungkan pipi, dan menautkan tangannya di atas perut.
"Sudah! Mukti, menurut Keterangan Yang aku dapat, dia akan menerima semua kekurangan wanita yang sangat ia cintai. Asal wanita itu mau berubah, mau saling menyayangi." aku menjelaskan temuanku ketika tadi aku mengobrol dengan Mukti.
"Nah! tinggal ngomong gitu, Apa susahnya?" ujar Karla sambil tetap menekuk wajahnya.
"Terus langkah selanjutnya, kamu mau bagaimana?" aku bertanya, karena Aku ingin tahu Langkah apa yang hendak dia ambil untuk menolong Ratna.
"Anak kecil, nggak boleh tahu!" jawabnya masih tetap menunjukkan muka datar.
"Kamu nakaaaaal!" Dengan gemas aku pun mencubit hidung wanita itu.
__ADS_1
"Awwwww, sakit tahu!" ujarnya yang hendak melancarkan tamparan ke tangan yang aku cubitkan ke hidungnya , namun dengan cepat aku menghindar.
"Lagian kamu seperti itu!" ujarku sambil terus menghindar dari serangan wanita aneh itu.
"Awas kamu, jangan lariiiiiii!"
"Tangkap kalau bisa!" aku menantang sambil terus berlari menghindar.
Merasa lelah dan frustasi, karena dia tidak bisa mengejarku. Karla mengambil tisu yang ada di mejanya, kemudian membulatkannya seperti bola kasti. lalu ia melemparkan ke arahku, yang berdiri di dekat pintu. ketika bola tisu itu datang dengan cepat aku pun menundukkan badan, sehingga bola itu lewat tidak mengenaiku.
Cklek!
Plak!
Tiba-tiba pintu ruangan supervisor ada yang membuka dari arah luar, sehingga tak bisa ditahan lagi, bola tisu itu kena ke orang yang baru masuk, membuat wajah orang yang melemparnya menjadi merah padam.
"Maaf bu! saya tidak sengaja!" ujar Karla sambil mendekat ke arah wanita yang baru datang.
"Kalian lagi ngapain di dalam berduaan?" tanya ibu yang baru datang, dia menatap ke arahku dan ke arah wanita aneh yang berdiri di samping.
"Anu, Bu! anu!" ucap Karla yang kikuk, dia tidak bisa menjelaskan.
"Jawab!" bentak ibu dengan suara tinggi. beliau memasang wajah berwibawanya, menunjukkan siapa dia sebenarnya di sini."
"Anu Bu! Anu, maaf, aduh apa ya!"
"Dia mau melempar ku, bu! Padahal saya baru kerja di sini, hari ini."
"Ngapain kalian! seharusnya kalian orang yang mempelopori menjaga kebersihan di kantor saya! bukan malah mengotori dengan sampah seperti ini." gerutu ibu.
"Tahu tuh Bu! saya kan cuma karyawan, dan saya hanya korban." jawabku dengan memasang wajah memelas, memojokkan Karla. mungkin saat inilah, waktu yang tepat aku membalas semua perlakuannya.
"Kamu siapa ? berani-beraninya menjawab ucapan saya?"
"Maaf kalau saya lancang, Saya karyawan baru di sini Bu. Sekali lagi saya mohon maaf kalau saya lancang! saya pamit dulu Bu!" ujarku sambil melangkahkan kaki dari tempat di mana Karla berdiri. terlihat dia hendak menghentikanku, namun itu tidak jadi, karena Mata Ibu masih mengawasi gadis aneh itu.
__ADS_1
Setelah melewati ibu, aku pun kembali menengok ke arah Karla, kemudian tersenyum sinis menunjukkan kemenanganku.
"Makan tuh! puaaas!" Ucapku dengan isyarat mulut tanpa mengeluarkan suara. sehingga membuat Karla semakin terlihat beringas, pupil matanya tertuju ke arahku.
"Kamu ngapain, Masih Berdiri di situ!" tanya ibu yang ikut melirik ke arahku.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Aku pun dengan bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. entah mengapa Ibu bisa ikut ke dalam sandiwaraku, karena kita belum pernah mengobrol banyak kembali, setelah mengantar pulang dari rumah Karla.
Setelah berada jauh dari ruangan, dengan cepat aku pun bergegas keluar dari dalam kantor, tempat perusahaan ibuku, di mana sekarang Aku bekerja sebagai cleaning service. Setelah berada di luar area kantor, aku terus berjalan menyusuri trotoar. matahari yang terasa terik, karena matahari itu berada tepat di atas ubun-ubun, hanya bergerak ke arah barat beberapa mili. jalananĀ yang penuh dengan kendaraan yang berlalu Lalang, tak membuat aku tertarik untuk memperhatikannya. aku terus berjalan, hingga akhirnya aku sampai di salah satu kios mie ayam. Terlihat Dali yang sedang sibuk memasang tenda jualannya.
"Assalamualaikum!" Sapaku sambil tersenyum, setelah berada di dekatnya.
"Waalaikumsalam!" jawab Dali sambil melirik ke arahku, setelah tahu siapa orang yang menyapanya, dia pun menghampiri kemudian menguluarkan tangan untuk mengajakku bersalaman.
"Sebentar ya, Pak! saya memasang tenda terlebih dahulu. bapak bisa istirahat di sana! tapi maaf bangkunya jelek." Seru dali sambil menunjuk ke arah bangku yang dia tempatkan di pojok toko, bangku yang tidak tersinari oleh terik matahari.
"Terima kasih! kamu jangan terganggu." jawabku sambil mendekati bangku yang tadi Dali ditunjukkan, kemudian duduk sambil memperhatikan Dali, yang sedang bekerja.
"Jam segini, baru jualan dal?"
"Iya Pak! biasanya saya jualan dari jam 10.00 pagi. namun semenjak saya berjualan sendirian, saya tidak punya banyak waktu. kalau kemarin-kemarin istri saya selalu membantu saya. sekarang hamilnya sudah besar, kasihan kalau harus terus bekerja." jawab Dali sambil terus menyiapkan tendanya.
Aku yang merasa tidak enak, aku pun kembali berdiri, lalu membantunya memasangkan tenda. Awalnya dia menolak, namun setelah aku memaksa beberapa kali. Akhirnya dia pun membiarkanku membantunya memasangkan tenda.
Selesai memasang tenda, Dali pun mulai menyalakan kompor, untuk memanaskan air untuk merebus mie. lalu ia menyiapkan peralatan-peralatan jualan, yang ditata rapi di dalam gerobak. aku terus membantunya, sebisaku, sepengetahuanku.
"Harusnya kamu sudah memiliki pegawai Dal!" saranku setelah semuanya persiapan itu selesai.
"Iya Pak! Dulu saya beberapa kali punya karyawan. tapi begitulah, nggak ada yang betah! karena kerjanya sangat menguras tenaga, kita mulai bekerja dari jam 04.00 Pagi, mulai dari belanja di pasar, kemudian memasak bumbu-bumbu dan menyiapkan bahan-bahan lainnya." jawab Dali. Memang tidak bisa dipungkiri sekarang orang orang lebih memilih kerja yang enak tapi gajinya besar.
"Betah berjualan begini?"
"Betah, gak betah, Pak! mau bagaimana lagi, Kita kan butuh. apalagi istri saya sebentar lagi melahirkan. Pasti itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit." jawab Dali sambil mengelap tangannya, kemudian dia duduk di hadapanku, menunggu pembeli pertama datang.
"Saya minta maaf, Dal! saya tidak bisa menjadi pemimpin yang baik, dahulu saya terlalu percaya sama orang. sehingga saya sendiri sekarang yang rugi." ucapku yang merasa bersalah, karena walau bagaimanapun Dali bisa seperti sekarang. itu adalah kesalahanku, yang tak bisa mengontrol diri, hingga akhirnya nyawaku hampir menghilan. karena frustasi tidak kuat menahan cobaan yang begitu berat.
__ADS_1
"Sudah Pak! yang lalu biar berlalu, sekarang bagaimana kita bisa menatap masa depan. Oh iya, selama ini Bapak ke mana?" tanya dali mengalihkan pembicaraan.
Aku pun menceritakan kejadianku, semenjak pulang dari rumah sakit. sampai akhirnya aku diselamatkan oleh Karla wanita yang kemarin datang membeli mie ayamnya. "Terus kenapa, kamu bisa keluar dari perusahaanku?" ceritaku diakhiri dengan pertanyaan.