
Pov Erni
Tring!
Tring!
Tring!
Setelah selesai makan, handphoneku berbunyi. dengan cepat aku mengambilnya, lalu melihat Siapa yang menelepon.
"Halo Sayang! kebetulan kamu telepon." ucapku setelah mengangkat panggilan itu.
"Kebetulan bagaimana? Oh iya! orang tuamu sudah datang apa belum? Aku mau berkunjung ke sana." Farid balik bertanya.
"Justru, orang tuaku sudah datang. makanya kamu cepat ke sini! Aku butuh bantuanmu!" jelasku.
"Bantuan apa?"
"Kamu ke sini dulu! jangan banyak tanya, nanti juga kamu tahu." Ujarku sambil memutus telepon Farid.
"Siapa yang telpon?" tanya Bapak yang menghampiriku. Mungkin dia penasaran.
"Farid Pak, Ya sudah! bapak siap-siap dulu, kita akan jalan-jalan." seruku sama bapak.
"Nggak besok aja? kita masih capek."
"Kalau besok, akunya kerja. Lagian waktunya sudah mepet, jadi tolong bapak siap-siap sekarang dan suruh yang lainnya." pintaku sambil masuk ke kamar, hendak mengganti handukku dengan baju.
Setelah mengganti baju, dan memoles wajahku dengan Skin Care. Aku pun keluar dari kamar, kemudian menghampiri keluargaku, yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Kita mau jalan-jalan ke mana sih, Nak?" Tanya ibu matanya yang tetap terfokus ke arah layar televisi.
"Aku mau membelikan baju untuk kalian. aku nggak mau Kalian ada di acara sakralku dengan baju yang jelek seperti ini. nanti orang-orang akan menganggap buruk terhadapku." ujarku sambil mendudukkan tubuh di atas kursi sofa yang begitu empuk.
"Wah! kita belanja ya Kak, asikkk! boleh nggak, aku membeli baju kesukaanku, baju yang mirip artis-artis Asia itu?" tanya Erna yang antusias.
"Boleh, dong! Bukan boleh lagi itu harus! kalian harus menyesuaikan dengan keadaanku yang sekarang. yang sudah menjadi presiden direktur perusahaan properti, terbesar kedua di kota Jakarta." jawabku menjelaskan sedikit memperlihatkan keadaan yang sekarang.
"Ya sudah! ayo kita berangkat, kak!" ujar Ardi.
"Tunggu dulu! tunggu sampai Farid datang, karena mobilku tidak akan cukup untuk membawa kalian." ucapku memberi pengertian.
"Halo semua!" tak lama menunggu, akhirnya Farid pun datang menghampiri dari ruang tamu, menyapa kita semua.
"Lama banget sih, Yang! dari mana saja?" Sambutku yang merasa bosan menunggu.
"Kamu kayak nggak tahu kota Jakarta saja." Elak Farid sambil menyalamiku kemudian menc1um pipi kanan kiriku.
__ADS_1
"Oh iya, ini Bapak! dan ini semua keluargaku. kecuali wanita yang satu ini." Aku memperkenalkan Seluruh keluargaku kecuali Vina.
"Ardi!" ujar adikku yang paling besar sambil mengulurkan tangan ke arah Farid.
Akhirnya satu persatu dari keluargaku memperkenalkan diri sama calon suamiku, hanya Vina yang tidak memperkenalkan dirinya. Mungkin dia merasa takut karena aku sudah memberikan sinyal ancaman kepadanya.
"Ini saudara sepupu Erni, namanya Vina! dulu dia tinggal didekat rumah kami, bahkan Erni sama Vina sempat sekelas bareng ketika waktu SMP." jelas Bapak yang memperkenalkan keponakannya.
"Farid!" ujar Farid sambil mengulurkan tangan mengajak berkenalan dengan Vina.
"Vina!" jawab Vina tanpa menyentuh tangan Farid.
"Kapan kita mau berangkat?" tanya Erna yang terlihat sudah tidak sabar, ingin segera pergi ke mall.
"Sekarang aja! nanti mallnya keburu tutup kalau malam-malam." jawabku.
"Ngomong-ngomong, kita mau ke mall, Emang mau ngapain ke sana?" tanya Farid, yang baru tahu aku mengundangnya ke sini, untuk mengantar keluargaku pergi jalan-jalan.
"Beli baju buat mereka. aku gak mau mereka memakai baju butut seperti ini." Jawabku
"Kenapa? kan buat acara lamaran kita sudah pesan baju seragam." tanya Farid sambil mengeringitkan dahi.
"Ya, memang sudah, Tapi nanti aku malu, Kalau warga Komplek sini, mengetahui bahwa keluargaku sangat miskin. Padahal aku adalah presiden direktur di salah satu perusahaan properti terbesar di Jakarta." Aku memberi penjelasan sama calon suamiku.
"Ya Sudah! ayo kita berangkat!" ajak Farid sambil menatap ke arah keluargaku.
"Kamu mau ke mana, kamu kan bukan keluarga saya?" tolakku ketika Vina yang mengikuti rombongan.
"Nggak apa-apa kali Er! Vina ikut dengan kita. lagian kasihan kalau dia tinggal di rumah sendirian, apalagi setelah orang tuanya meninggal dengan tragis." Bela bapak yang menimpali.
"Ya sudah! kamu boleh ikut, tapi kamu jangan ikut belanja!" Ancamku sama Vina. kalau tidak melihat Bapak aku malas sekali mengajak wanita itu ikut berbelanja.
"Iya Er! aku cuma ingin tahu kehidupan di kota metropolitan, kalau malam seperti ini. Lagian bajuku masih bagus-bagus kok." jawab Vina yang terlihat kalem, dia tidak menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun.
"Siapa yang mau ikut dengan saya" tanya farid memecah sedikit keributan itu.
"Yang laki-laki ikut sama kamu! yang perempuan biar ikut mobilku." dengan cepat aku memutuskan agar Farid tidak tertarik dengan sepupuku Yang sok Kecantikan itu.
Setelah aku memberi keputusan, Akhirnya kami pun masuk ke mobil masing-masing. Erna, Vina serta Ibu, ikut dengan mobilku. sedangkan Bapak, Ardi sama Ferdi ikut dengan mobil Farid.
"Ibu duduk depan saja! Ngapain duduk di belakang."
"Kalau ibu duduk di depan, ibu takut nanti kalau nabrak, ibu yang akan mati duluan." jawab ibu yang terlihat norak.
"Ya, Siapa juga yang mau nabrak, Ayo duduk di depan! masa ibu sendiri, duduk di belakang." Pintaku.
"Enggak mending si Vina saja yang duduk di kursi depan, ibu dan Erna biarkan duduk di belakang." pinta Ibu sambil membuka pintu mobil kemudian diikuti oleh Erna.
__ADS_1
"Maaf ya! ER, aku ikut mobil kamu." Ucap Vina sebelum masuk ke dalam mobil.
Setelah semuanya masuk, aku menghidupkan mesin mobilku. kemudian membunyikan klakson agar Farid cepat mengeluarkan mobilnya, untuk memberi jalan mobilku. setelah mobil Farid keluar, dengan cepat aku pun mengeluarkan mobilku, lalu melaju membelah gemerlap kota Jakarta di malam hari.
"Lu! nonton apa sih, kayaknya serius banget." Tanyaku yang merasa penasaran dengan sikap Vina, yang sejak dari tadi dia terfokus dengan layar HPnya.
"Ini loh Er, kasihan banget pria ini, dulu pas aku membuka cafe di daerah Jawa. aku sempat bertemu dengan pria ini. dia mengaku sebagai pemilik perusahaan, yang sedang mengerjakan proyek tempat wisata di daerahku.namun sekarang dia terlihat memperhatikan, kakinya yang pincang, bajunya yang lusuh. sedang ditawari makan oleh youtuber." jelas Vina dengan semangat.
"Coba gua lihat, masa sih! Sekasihan itu." ucapku sambil memalingkan pandangan ke layar handphone Vina, karena mobil di depanku sedang macet.
Dengan antusias Vina pun menunjukkan potongan video yang ada di layar handphonenya, yang membuatku sedikit tercengang dengan apa yang aku lihat.
"Arfan!" gumamku dalam hati, setelah melihat pria yang ada di video itu, Dia sedang menolak tawaran seorang wanita yang hendak mentraktirnya makan, di salah satu restoran termewah yang ada di kota Jakarta.
Tin! tiiiiiiiiiiiin! tiiiiiiiin!
Tin! tiiiiiiiiiiiin! tiiiiiiiin!
Suara klakson yang berbunyi dari arah belakang, membuatku dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah depan mobilku. terlihat mobil yang di depan, sudah bergeser menjauh, dengan cepat aku menekan pedal gas agar mobilku melaju.
"Tolong lu kirimkan linknya ke nomor kontak gua!" pintaku sama Vina setelah mobil berjalan dengan sedikit lancar.
"Baik, Er!" jawab Vina.
"Satu lagi! kamu jangan panggil nama gua! kamu panggil gua, dengan sebutan ibu! Karena sekarang derajat kita berbeda jauh. Agar orang-orang tidak menganggapku rendah." ingatku sama Vina.
"Baik Bu! maaf kalau Panggilan saya kurang sopan dan kurang mengenakan hati ibu." jawab Vina sambil manggut, entah hatinya terbuat dari apa, atau memang dia tidak memiliki hati. karena dia nampak cuek walaupun aku sudah merendahkannya.
"Ya sudah! kamu kirimkan linknya."
Akhirnya pandanganku, aku fokuskan kembali ke arah depan jalanan, yang sudah mulai melenggang. sehingga mobilku bisa melaju dengan lancar. meski tidak cepat, namun itu cukup menghemat waktu.
Sesampainya di parkiran Mall, kami sekeluarga keluar dari mobil masing-masing, kemudian masuk ke dalamnya.
"Sayang! tolong bantu Bapak dan adik adikku untuk memilihkanbaju yang cocok untuk mereka." pintaku sama Farid.
"Siap tuan putri!" ujar Farid sambil mengangkat tangan di atas dahinya. menirukan Seorang Prajurit yang sedang memberi hormat.
"Ibu, Erna! Kalian ikut aku! untuk membeli kebutuhan kalian." ajakku sama kedua wanita itu.
"Ayo pak! pakaian pria adanya di lantai atas." ajak Farid sama bapak, kemudian dia berjalan duluan sebagai petunjuk arah.
"Kita mau beli apa Kak?" Tanya Erna.
"Beli pakaian, Kan tadi kakak sudah bilang! kamu tidak boleh memakai pakaian butut seperti ini, di rumah Kakak." jawabku sambil menjewer baju Erna.
Aku terus berjalan diikut oleh ketiga wanita yang berjalan di belakangku, menuju salah satu tempat busana wanita terbaik di mall ini. kemudian aku menyuruh keluargaku masuk ke dalam, untuk memilih pakaian yang mereka suka. hanya Vina yang masih menunggu berdiri disamping kursi tempat menunggu.
__ADS_1
"Oh iya? dari mana kamu bisa kenal dengan pria yang ada di video tadi." aku mulai mengintrogasi Vina, sambil mendongak menatap wajahnya.