
Pov Farid
"Pentas Bagaimana Pak?" Tanyaku sama Pak Karto, karena tidak paham dengan apa yang beliau sampaikan.
"Ya kalau sudah bekerja seperti itu, saya tidak heran kenapa Bapak Farid bisa mengerjakan pekerjaan dengan begitu enjoy, dan begitu sangat menguasai materi, karena dulu pernah bekerja juga kan?:
"Iya Pak...! tapi Mohon bimbingannya, karena saya sudah lama menganggur hampir setahun lebih."
"Sama-sama, kita akan saling membantu!"
Akhirnya obrolan itu terus dilanjutkan dengan obrolan obrolan ringan, mulai panca kaki Dari mana asal, keluarga, hobi dan yang lain-lainnya. setelah dirasa perut yang baru diisi sudah mulai agak longgar. Pak Karto pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia membawa piring bekas makan ke arah tempat piring kotor yang disediakan. aku yang anak baru hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan oleh seniornya.
"Bayarnya di mana Pak?" Tanyaku setelah menyimpan piring, karena sejak dari tadi aku tidak melihat ada kasir yang menerima uang pembayaran makanan.
"Bayar apa?" tanya Pak Karto sambil mengerutkan dahi.
"Bayar Nasi lah, Pak. terus bayar apa lagi?"
"Hehehe, Saya lupa Pak Farid karyawan baru. semua makanan di sini gratis Pak, Karena perusahaan sudah menyediakannya, namun makanannya seadanya."
"Masa sih gratis?" Tanyaku yang sedikit tidak percaya.
"Iya Pak, bos kita. pak Arfan, sudah menyiapkan ini semua buat kita para karyawannya. makanya Kenapa perusahaan akan marah ketika ada orang yang waktunya istirahat masih tetap bekerja, karena Perusahaan tidak mau hanya memeras tenaganya, tanpa dipenuhi haknya. kelebihan perusahaan Mandiri group Selain Kita dapat makan, ketika kita memiliki tender yang besar, maka kita sebagai karyawan akan ikut merasakan bonusnya, meski hanya 100 sampai satu juta, namun itu cukup baik, karena perusahaan mau berbagi kebahagiaan dengan para karyawan."
"Wow....! hebat, hebat," hanya kata itu yang keluar dari mulutku, setelah tahu bahwa Arfan sangat mementingkan karyawannya. pantas saja ketika tadi pagi mereka datang, bibir para karyawan dihiasi dengan senyum, karena mereka mungkin menemukan tempat ternyaman kedua Setelah rumahnya.
__ADS_1
"Iya bukan itu saja, namun Pak Arfan setahun dua kali, paling minim setahun sekali. dia mengajak kita untuk berlibur. dulu pernah dia sempat menyarankan kita pergi ke Bali, namun ada beberapa karyawan yang menolak, karena kalau berangkat sendirian liburan, itu sangat tidak efektif. sehingga mereka lebih memilih tempat yang dekat, yang penting keluarganya bisa ikut, dan sisa uangnya dibagikan sesuai dengan budget ketika berlibur ke Bali.
"Sampai segitunya?"
"Iya hebat kan, Makanya saya betah kerja di sini, walaupun gaji hanya UMR, tapi banyak kelebihan-kelebihan yang didapat. salah satunya, kita tidak harus merogoh kocek untuk makan siang. eh, malah ngobrol, ayo kita salat dulu, nanti baru ngobrol lagi." Ajak Pak Karto terlihat raut wajahnya menunjukkan kebanggaan, karena dia memiliki pimpinan seloyal itu.
Mendapat ajakan sholat, aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala, karena sudah sekian lama, aku tidak pernah melakukan hal itu. rasanya malu saja ketika harus mendatangi lagi sang pencipta, dengan dosa-dosa yang berlumuran. padahal itu adalah kewajiban seorang hamba yang hidup di bumi.
"Kenapa diam, Pak Farid, Maaf muslim kan?"
"Enggak Apa apa Pak!"
"Kalau bukan muslim nggak apa-apa, nggak ikut salat. namun kalau muslim, perusahaan mewajibkan setiap pemeluk agamanya, menjalankan semua syariat yang sudah diatur oleh ketentuan masing-masing."
"Insya Allah saya muslim Pak, tapi hidup saya tidak sesuai Islam." Jawab ku ragu-ragu.
Aku yang hanya karyawan baru, yang belum mengerti seluk-beluk tentang aturan di perusahaan ini, aku hanya mengikuti berjalan di samping pak Karto.
"Peraturan di sini. karyawan, selain wajib makan siang seperti tadi, wajib juga melaksanakan kewajiban-kewajiban dirinya sendiri, kalau buat muslim yaitu dengan salat zuhur berjamaah. Pak Arfan akan sangat marah, ketika ada orang yang masih bekerja, tapi melupakan salat. bahkan sempat ada beberapa karyawan yang ngeyel, sehingga akhirnya dikeluarkan."
"Ketat juga ya!"
"Enggak juga, kan itu adalah kewajiban kita sebagai seorang muslim, seharusnya kalaupun tidak ada peraturan seperti itu, kita tetap wajib nomor Satukan salat."
Kita terus berjalan, sambil terus mengobrol, hingga akhirnya tiba di salah satu mushola lumayan besar, terlihat di tempat wudhu ada beberapa orang yang sedang mengambil air wudhu. aku yang sudah lama tidak melakukan hal itu, aku memperhatikan detail-detail orang yang mengambil air wudhu, takut nanti ketika mengambil air wudhu ada yang salah, sehingga ketahuan oleh orang-orang, bahwa aku tidak pernah melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
Selesai melaksanakan salat, aku sama Pak Karto kembali ke ruang kerja. Hingga akhirnya kita terlarut kembali dalam pekerjaan masing-masing. kira-kira pukul 16.00 waktu kerja pun selesai. Alhamdulillah, hari itu aku bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan, hingga membuat Pak Karto memujiku karena aku giat dalam bekerja.
Setelah waktu kerja selesai, aku dan Pak Karto berjalan bersama menuju Mushola yang tadi kita pakai untuk melaksanakan salat zuhur. menurut Pak Karto kalau kita menunda-nunda salat sampai ke rumah, itu suka kebablasan, bahkan kita bisa lupa menunaikan kewajiban itu. makanya Pak Karto memutuskan untuk selalu melaksanakan salat ashar sebelum pulang. selesai melaksanakan salat, kita berdua menuju ke arah parkiran. namun dari tadi siang aku tidak bertemu kembali dengan Dali entah pergi ke mana, karena mungkin dia memiliki jabatan yang tinggi, sehingga mungkin akan susah untuk menemuinya.
Sesampainya di parkiran, aku dan Pak Karto pun terpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. aku terus mengendarai motor bututku menuju kontrakan yang berada di pinggiran kota Jakarta. terlihat matahari di ufuk barat, sudah mulai menguning kemerahan, Mungkin sebentar lagi dia akan bersembunyi di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Kira-kira pukul 17.00 aku tiba di rumah, terlihat Vina sudah menunggu di kursi teras yang sudah lapuk. karena kursi itu sudah berada lama di kontrakanku, mungkin tadinya mau dibuang oleh penghuni kontrakan yang lama, Namun aku tidak membuangnya karena lumayan buat nongkrong sore-sore.
Melihat suaminya datang, dengan cepat Vina pun bangkit dari tempat duduknya menyambutku dengan penuh senyuman. "Sudah datang sayang?" tanya Vina sambil mengambil tanganku lalu didekatkan ke keningnya.
"Iya sudah, bagaimana hari ini?"
"Biasa aja, namun di kosan terasa sepi, karena tidak ada kamu di rumah. Tapi di satu sisi aku sangat bahagia, sekarang kamu sudah mulai berubah," jawab Vina sambil menarik tanganku masuk ke dalam, kemudian dia menutup pintu, mungkin takut ada tetangga yang melihat.
"Nanti juga kamu terbiasa kok, di rumah sendirian." tanggapku sambil melepaskan kancing kemeja, lalu dikaitkan ke paku yang ada di dalam kamar.
"Iya sekarang baru sehari. Ya sudah, kamu mandi dulu nanti aku buatkan kopi," ujar Vina sambil memberikan handuk yang baru dia ambil.
Akupun mengangguk, kemudian menuju ke kamar mandi yang terletak di bagian dapur, untuk membersihkan tubuhku dari debu-debu jalanan dan keringat setelah seharian bekerja. Rasa Bahagia, rasa bangga, rasa menjadi orang yang berguna, rasa menjadi laki-laki yang mempunyai tanggung jawab berkumpul menjadi satu, memenuhi dadaku. sehingga membuat kedua sudut bibirku terangkat penuh kekaguman. namun senyum bahagia yang kulukis di bibir sirna seketika, setelah ingat kejadian tadi yang ketika makan di kantin, ada beberapa orang yang mulai membicarakanku.
"Aku harus kuat....! aku harus menjadi orang yang bertanggung jawab. aku ini laki-laki yang harusnya kuat tahan banting, kalau hanya pembicaraan, aku nggak boleh menyerah, lagian apa yang mereka bicarakan itu benar adanya," gumamku dalam hati menguatkan diri yang mulai agak tergoyah. Perlahan aku mengambil air dengan gayung lalu diangkat untuk membasahi kepala. Setelah air itu mengguyur tubuhku, rasanya badan itu sangat segar, seolah menemukan kehidupan kembali.
Selesai membersihkan tubuh, aku keluar dari kamar mandi. terlihat baju ganti sudah disediakan oleh Vina di atas kasur. dengan cepat aku pakai baju itu, lalu keluar menonton untuk televisi yang berukuran 14 inci, sambil ditemani kopi yang terlihat masih mengepul.
Ternyata Beginilah rasanya menjadi suami yang bertanggung jawab, menjadi suami yang bisa bekerja. meski belum membuahkan hasil, Namun sekarang aku sudah memiliki harapan yang baru, harapan di mana kita tidak akan kesusahan untuk makan dan membayar kontrakan.
__ADS_1
.