Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 38 musang tetaplah Musang


__ADS_3

Pov Farid


Mobilku terus melaju membelah kota Jakarta yang terlihat sangat hingar-bingar, dihiasi oleh lampu jalan yang menerangi seluruh penjuru kota. mataku terus tertuju ke arah depan, di samping kiriku ada seorang bapak-bapak yang sedang duduk dengan penuh kebahagiaan.


"Masih lama nak Farid?" tanya Pak Umar memecah haningnya suasana.


"Sebentar lagi sampai pak," jawabku yang tetap fokus mengemudi.


"Bapak suda nggak sabar, ingin bertemu dengan anak bapak, Semoga aja dia baik-baik aja!" ujar pria itu yang tak lepas menggulung senyum.


Lama di perjalanan, akhirnya mobil yang kukemudikan terparkir di parkiran Rumah Sakit Harapan, dengan segera kita berdua turun lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit langsung menuju ruang inap, di mana Bu Karla dirawat.


Truk! truk! Truk!


"Assalamualaikum!" ujarku setelah sampai di ambang pintu.


"Waalaikumsalam," terdengar suara jawaban dari dalam, kemudian pintu ruang Inap pun terbuka. "eh, bapak! Bagaimana sehat Pak?" tanya Arfan sambil mengambil tangan pria tua yang ikut bersamaku, kemudian mencium punggungnya.


"Alhamdulillah sehat, Bagaimana kabar anak bapak."


"Dia masih menunggu di dalam Pak! dari tadi saya suruh tidur, namun dia ingin bertemu dengan bapaknya terlebih dahulu," jawab Arfan memberitahu.


"Bapak boleh masuk?" tanya Pak Umar.


"Boleh, silakan!" jawab Arfan sambil menggeserkan tubuh memberikan jalan agar mertuanya bisa menjenguk anaknya.


"Pak Farid!" Panggil Arfan.


"Iya Pak, ada lagi yang sudah saya bantu?"


"Tidak ada, saya hanya mau mengucapkan terima kasih atas bantuan Bapak, dan Sekarang bapak boleh pulang!"


"Oh seperti itu, ya sudah kalau begitu saya pamit," ujarku sambil manggut memberi hormat.


"Sebentar!" tahan Arfan.


"Ada apa lagi Pak?"


"Ini uang buat membeli bensin dan buat membeli makan pak Farid, soalnya saya yakin Bapak belum makan kan?" ujar Arfan sambil memberikan amplop berwarna coklat.

__ADS_1


"Nggak usah repot-repot Pak, bensin mobil Pak Dali masih sangat penuh, Lagian tidak dipakai kemana-mana, sekarang saja mau diantarkan ke parkiran perusahaan, karena di kontrakan saya tidak bisa masuk mobil."


"Ya nggak apa-apa, isi aja. takut nanti kehabisan di jalan, Itu kan nggak lucu!" paksa Arfan sambil mengambil tanganku, lalu menyimpan amplop yang mau dia berikan.


"Ya sudah kalau bapak memaksa, Terima kasih atas semuanya!"


"Saya yang harus mengucapkan Terima kasih, karena saya sudah merepotkan Bapak. ini bukan tugas kantor, Tapi bapak masih mau membantu saya."


"Selama saya bisa mengerjakan, maka saya akan kerjakan Pak. walaupun itu bukan tugas kantor," jawabku sambil tetap memegang amplop pemberiannya.


"Ya Sudah...! bukannya saya mengusir, Namun waktu sudah sangat malam, mending Sekarang bapak pulang!" ujar Arfan.


Kita pun berjabat tangan, kemudian aku berpamitan lalu berjalan menyusuri koridor yang terlihat sepi. namun ketika hendak keluar terlihat dari arah depan ada salah seorang perempuan yang berjalan, awalnya aku tidak memperdulikan namun semakin lama aku semakin mengenal wanita itu, sehingga akhirnya kita berpapasan.


"Kamu bukannya Farid sang penghianat anak saya.? ngapain kamu berada di sini, apa jangan-jangan kamu sedang mencari mangsa?" tahan wanita itu sambil menatap tajam ke arahku.


"Maaf Bu, saya memang benar Farid, namun saya tidak sedang mencari mangsa, Saya baru pulang menjemput Pak Umar, Bapak Ibu Karla," jawabku menyanggah.


"Halah....! kamu pasti sedang mendekati anak saya, karena kamu tertarik dengan hartanya. asal kamu ketahui saya tidak pernah Melepaskanmu begitu saja, sehingga saya tahu kehidupanmu yang sangat menyedihkan sekarang. Kamu harusnya bertobat, karena ini adalah siksaan yang harus kamu terima setelah mengkhianati sahabatmu sendiri."


"Mohon maaf sebelumnya Bu, kalau saya dulu memang seperti itu, kalau saya dulu setelah menghianati Pak Arfan. namun sekarang saya sudah menyesali semua kelakuan saya dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi!"


"Maaf bu, saya tidak mencampuri kehidupan anak ibu, namun Pak Arfanlah Yang menyuruh saya untuk membantunya. dan yang perlu Ibu ketahui saya hanya sebagai bawahan yang akan menurut apapun yang diperintahkan oleh atasan."


"Kamu dikasih tahu jangan mengelak. Apa kamu nggak malu kamu pernah menghianati anak saya, sekarang kamu menumpang hidup di perusahaannya."


"Saya sangat malu Bu, namun saya sekarang sudah memiliki keluarga yang harus saya nafkahi, sehingga harus mengesampingkan rasa malu itu, apalagi Saya bekerja di perusahaan Pak Arfan, itu adalah tawaran darinya.


"Kamu jangan banyak alasan, pokoknya kamu harus secepatnya pergi dari kehidupan anak saya!"


"Maaf bu, saya tidak bisa."


"Kenapa, karena kamu tidak punya pekerjaan lain, walau kamu melamar di perusahaan lain, kamu tidak pernah diterima. Asal kamu tahu sayalah yang membuat perusahaan-perusahaan tidak mau menerimamu."


"Enggak Bu, bukan seperti itu. Izinkan saya menebus dosa saya dengan membantu Pak Arfan."


"Kalau kamu mau menebus dosa kamu, terhadap anak saya. maka sekarang waktunya kamu menjauhi kehidupan keluarganya, jangan sampai kejadian yang dulu terulang kembali!"


"Maaf bu saya tidak bisa, namun saya akan membatasi diri untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan keluarga. saya hanya akan mengurus pekerjaan saya dan membantu sebisa saya."

__ADS_1


"Benar-benar ya kamu nggak tahu malu, udah diusir tapi kamu masih tetap kekeh ingin terus bekerja."


"Kalau Pak Arfan yang mengusir saya, baru saya akan keluar."


"Oke...! kalau kamu tidak mau keluar dari perusahaan anak saya dan tidak mau menjauh dari kehidupan saya. Biarkan saya sendiri yang akan mengeluarkanmu, menjauhkanmu..!" ancam Ibu Aisyah yang terdengar pelan namun tegas.


"Ibu, Pak Farid. Kalian sedang apa di sini?" tanya salah seorang pria yang berdiri di hadapanku.


"Eh, kamu Alran, Bagaimana keadaan istrimu."


"Alhamdulillah dia sangat sehat Bu, sekarang sedang ditemani Pak Umar."


"Terus kamu mau ke mana?"


"Saya mau ke supermarket Bu, mau membeli kebutuhan untuk menginap."


"Oh iya, pak Farid Tolong antarkan dulu saya ke ruang inap menantu saya!" Pinta Ibu Aisyah matanya melirik ke arahku, membuatku sedikit mengerutkan dahi, mau apa dia meminta diantarkan seperti itu.


"Biarkan Pak Farid pulang Bu, soalnya udah dari tadi dia terus membantu Arfan," ujar Arfan menolak.


"Nggak apa-apa Pak!" jawabku menyanggupi.


"SUdah Pak Farid buruan pulang, nanti istrinya kelamaan menunggu di rumah." ujar Arfan sambil menarik tangan ibunya, kemudian mereka berjalan menuju ke ruang inap. diantar oleh tatapanku yang masih berdiri hingga akhirnya mereka tak terlihat lagi ditelan belokan koridor.


Setelah mereka tidak terlihat, aku mulai melangkahkan kaki menuju parkiran. sebelum pergi aku terdiam mencerna apa yang bu Aisyah sampaikan, sebenarnya dalam hati kecil dari awal aku tidak mau bekerja di perusahaan Arfan, namun harus bagaimana lagi, karena aku tidak punya cara lain untuk menafkahi keluargaku.


Aku hempaskan nafas pelan membuang jauh pikiran-pikiran buruk yang sedang menghantui otaku. perlahan kunci mobil Dali mulai aku putar hingga terdengar Deru suara mesin dari arah depan. mobil itu perlahan mulai melaju meninggalkan area parkiran, menuju kembali ke kantor Mandiri group, untuk menyimpan di sana, karena tempat itu adalah tempat teraman dibandingkan di pinggir jalan yang dekat dengan kontrakanku.


Setelah sampai dan menitipkan mobil ke satpam, tak lupa aku memberikan uang untuk membeli kopi sebagai bentuk terima kasih, walaupun hanya Rp50.000 namun itu membuatku merasa bangga, karena sekarang aku mulai bisa berbagi, yang dahulu aku hanya sering dibagi.


Aku kembali ke parkiran sehingga Motor bututku mulai melaju meninggalkan tempat penyimpanan kendaraan Mandiri Group. Otaku mulai kembali ke masa-masa lalu, di mana masa-masa suram bersama almarhumah Erni. gara-gara dia aku tega menghianati sahabat yang sangat menyayangiku, yang selalu membanggakanku.


"Apa jangan-jangan, Vina juga tidak mau hamil, ini adalah pembalasan dari dosaku di masa lampau yang selalu mengantar Erni ke rumah sakit untuk melakukan suntik KB." gumamku dalam hati, pikiran buruk menyeruak karena teringat oleh perkataan Ibu Aisyah, bahwa Apapun yang terjadi terhadapku, itu adalah Karma yang aku lakukan di masa lampau.


"Kalau Berani si Vina menunda kehamilan, Aku tidak akan senggan-senggan untuk menceraikannya." ujarku sambil mengeratkan gigi menarik habis tuas gas sehingga motor itu menjerit, namun kecepatan yang dihasilkan hanya naik beberapa RPM.


Aku terus memacu motorku dengan sedikit menyimpan kekhawatiran dan menyimpan kekesalan, Bagaimana jadinya Kalau Vina melakukan hal yang sama seperti yang pernah Erni lakukan. Lama melamun akhirnya motor aku sampai di depan pintu kontrakan. sebelum sempat aku mengetuk pintu terlihat Vina sudah membukakannya, dengan cepat dia pun menghampiri.


"Bagaimana kondisi Bu Karla?" tanya Vina sambil mengulum senyum menyambut suaminya yang baru pulang bekerja.

__ADS_1


Aku tidak menjawab pertanyaan Vina, dengan segera aku mendorong motor bututku masuk ke dalam kontrakan, meski hanya motor butut, namun cukup sangat berharga bagiku karena dengan motor Inilah aku bisa bergerak mencari rezeki.


__ADS_2