
Pov Farid
Grrrrrtt...! grrrrrt!
Suara blender yang ditekan oleh istriku terdengar memenuhi ruang dapur, hingga pembicaraan kita pun terhenti seketika, karena terganggu oleh caranya yang berisik.
"Ini jusnya!" ujar Vina sambil meletakkan gelas di hadapanku.
"Terima kasih banyak!"
"Sama-sama!" jawab Vina sambil membawa blender kosong ke arah wastafel, kemudian mulai mencucinya bersama perabotan-perabotan lain.
"Katanya mau belajar nyetir mobil, kapan?" Tanyaku sambil menatap ke arah Vina yang membelakangiku.
"Nanti ya! Habis nyuci piring. biar sekalian beli makan buat nanti malam."
"Mau belajar di mana?"
"Kurang tahu kan aku bukan orang sini, kira-kira gimana ya yang aman?"
"Di depan komplek juga aman, soalnya kan tidak terlalu banyak mobil yang berlalu Lalang.
"Ya sudah tunggu aku nyelesaiin dulu pekerjaan!" pintar Vina sambil tetap mencuci piring.
Dari arah ruang tamu terdengar suara langkah yang mendekat. aku pun memalingkan wajah untuk mengetahui siapa orang yang datang.
"Jus Pak!" tawarku sambil menunjuk ke arah gelas yang terisi oleh jus mangga.
"Aduh Mantap tuh! panas-panas begini enak minum jus," jawab Bapak sambil menggeserkan kursi kemudian dia duduk.
"Kurang nggak Pak? Kalau kurang nanti Vina buatin lagi." tanya istriku yang terlihat menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Nggak! Ini cukup kok, lagian bapak nggak terlalu suka minuman dingin." jawab Bapak sambil meneguk jus untuknya.
"Enak nggak Pak?"
"Mantap...! apapun yang dibuat istrimu Pasti enak lah! karena dia membuatnya dengan penuh cinta terhadap keluarga," jawab bapak yang membuatku mengerutkan dahi, karena sejak kapan dia bisa berbicara se ngawur ini.
"Ah.....! bapak bisa aja, itu cuma jus doang kok," jawab Vina yang tersipu malu.
__ADS_1
"Beneran Ini enak loh! berbeda kalau beli di tempat yang biasa menjual yang ginian."
"Ya sudah habiskan! nanti kalau sudah habis Vina buatkan lagi."
"Iya pasti Bapak habiskan kok! oh iya kapan kalian mau belajar mobil?" tanya Bapak mengalihkan pembicaraan.
"Nunggu Vina selesai mencuci piring Pak," jawabku menjelaskan.
"Oh begitu...! ya sudah kalau mau belajar mobil kuncinya ada di lemari Bapak mau mandi dulu, Gerah baru bangun tidur," jawab Bapak sambil bangkit kembali dari tempat duduknya, kemudian dia masuk kembali ke ruang tengah.
Selesai mencuci piring, istriku mengajak ke ruang tengah, kemudian dia duduk sambil menyalakan televisi.
"Katanya mau belajar mobil, kok malah menonton TV?" tanyaku sama Vina.
"Gak Tahu Badanku lemas banget sayang! bagaimana kalau latihan mobilnya Nanti aja hari Minggu?" jawab Vina memberi alasan, atau mungkin memang benar dia melakukan capek Apalagi setelah keseharian bekerja.
"Nggak apa-apa, kalau ditunda sampai hari Minggu?" tanyaku memastikan.
"Nggak apa-apa, lagian aku ini kan yang minta. maaf ya!" ujar Vina sambil menatap ke layar televisi.
"Ya udah kalau tidak jadi, aku mau mandi dulu, kamu sudah mandi apa belum?"
Setelah mendapat jawaban dari istriku dan membatalkan niatnya untuk berlatih menyetir. aku masuk ke kamar untuk membersihkan tubuh setelah seharian bekerja.
****
Dua hari berlalu, ketika aku sedang bekerja di kantor Mandiri Group. kira-kira pukul 09.00 pagi Ira menghampiri dan mengajakku untuk menemui Asisten Manager.
"Ada apa? Dan kenap kok ibu belum berangkat ke Bogor?" tanya aku sambil terus berjalan di sampingnya.
"Kurang tahu, Rencananya hari ini aku dan kak Dali mau pergi. tapi entah mengapa sampai sekarang belum berangkat, malah kita dipanggil untuk menghadapnya." jawab Ira yang terlihat kecewa.
"Mungkin ada reschedule jadwal, sehingga belum berangkat."
"Nggak tahu lah! aku juga bingung. Padahal mereka yang butuh, tapi kita yang menunggu," jawab Ira sambil terus berjalan menuju ke ruangan Asisten Manager.
Sesampai di depan pintu, Ira pun mengucapkan salam sambil mengetuk pintunya.
"Masuk....!" seru Dali dari dalam.
__ADS_1
Pintu tempat bekerja Asisten Manager pun didorong, aku dan Ira manggut memberi hormat kepada orang yang lebih tinggi jabatannya. "Silakan duduk!" ujar Dali sambil meregangkan tangan, pandangannya membagi tatap ke arah kita berdua.
"Ada apa ya Kak, Eh Pak. kok manggil kita? Dan kapan kita mau berangkat ke Bogor?" tanya Ira seperti biasa dia akan selalu salah menyapa atasannya.
"Begini Pak Farid, awalnya saya dan Bu Ira akan menemui klien kita yang di Bogor untuk membahas dan merencanakan pembuatan rumah tinggal. namun tadi pagi istri saya kepalanya mendadak terasa pusing, sampai sekarang dia masih merasakan hal yang sama. jadi saya tidak bisa meninggalkan istri saya yang seorang diri" ujar Dali menjelaskan ke padaku tak menghiraukan pertanyaan ira.
"Terus Apa yang bisa saya bantu?" Tanyaku sambil menatap atasan.
"Saya Mohon sama Pak Farid untuk menemani Bu Ira dan rekan-rekan kerja lainnya menemui klien kita yang berada di Bogor. soalnya saya takut terjadi apa-apa kalau istri saya ditinggalkan di rumah. karena seperti yang Pak Farid tahu, istri saya tidak mau dititipkan sama Ibunya dan tidak mau ditemani oleh ibunya." ujar Dali sambil menjelaskan.
Mendapat permintaan seperti itu, Aku pun terdiam sesaat. karena sebenarnya Nanti malam aku sudah memiliki rencana dengan istriku untuk merayakan ulang tahunnya. tapi untuk menolak rasanya tidak mungkin apalagi kalau mengingat kebaikan Dali, yang mengangkatku bekerja di perusahaan Mandiri Group.
"Kenapa Pak Farid diam, Apa ada yang membuat Pak Farid tidak bisa berangkat ke Bogor?" tanya Dali setelah tidak mendapat jawaban.
"Bisa kok pak! bisa! bisa!" jawabku yang tergagap karena merasa dikagetkan.
"Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih banyak. nanti setelah pulang dari Bogor, maka saya mengizinkan kalian untuk beristirahat sehari di rumah. dan ini kunci mobil saya, Pak Farid boleh menggunakannya untuk menunjang keperluan selama di Bogor," ujar dari sambil memberikan kunci mobilnya.
"Baik Pak! terima kasih?"
"Ya sudah, mumpung masih pagi kalian bisa berangkat sekarang!" ujar Dali mempersilahkan.
Akhirnya aku dan Ira pun bangkit dari tempat duduk masing-masing, kemudian meninggalkan kantor ruangan Asisten Manager.
"Jadi istri kok Manja banget ya! baru hamil seperti itu kayak sedang mengandung calon Pangeran saja pakai tidak mau dititipkan sama orang tuanya!" gerutu Ira sambil terus berjalan.
"Siapa itu Bu?" Tanyaku yang sedikit tertarik karena melihat perubahan sikap kira yang tidak wajar.
"Itu, si Calista! istrinya Kak Dali. padahal suaminya pergi ke Bogor bukan untuk berhura-hura, tapi untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya."
"Hush! nggak boleh ngomong seperti itu, nanti kalau kedengeran Pak Dali, dia saya marah sama ibu." Ardi ku mengingatkan.
"Biarin...! Lagian Aku kesal, katanya mau berangkat bareng tapi tidak jadi. ini semua gara-gara si Calista yang sok kecantikan itu."
"Kok sewot amat Bu?" Tanyaku yang semakin berat saya heran.
"Iya gimana nggak sewot, Aku kan sudah memiliki rencana dengan Kak Dali, eh!" ucap Ira sambil menutup mulut dia tidak ingin berbicara seperti itu.
"Maksudnya bu?"
__ADS_1
"Nggak nggak apa-apa! Ya udah buruan kemasi bareng-bareng kamu! kita langsung berangkat," jawab iral sambil mempercepat langkah mendahuluiku, membuatku hanya menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti Kenapa Ira bisa semarah itu, ketika Dali tidak jadi berangkat ke Bogor.