Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 24 SELALU SIAL


__ADS_3

Pop Erni


Keesokan paginya. aku pun menemui dokter yang menangani perawatan Farid selingkuhanku. untuk menanyakan tentang bagaimana kelanjutan pengobatannya. seperti yang perawat bilang tadi malam. bahwa Farid bisa melaksanakan pengobatan di rumah, karena luka yang diderita oleh farid, hanya luka luar saja.


Setelah mendapat penjelasan dari dokter spesialis. Aku pun bergegas mengurus kepulangan Farid. mulai berkonsultasi dengan ahli gizi untuk bertanya tentang makanan apa saja yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. serta keapotek untuk mengambil obat, sesuai resep dokter.


Setelah semua urusan selesai, aku pun mengambil kursi roda. untuk membawa farid pulang ke rumah. namun langkahku terhenti, ketika mataku menatap orang yang tidak asing.


"Mau ngapain lu ke sini?" bentakku sambil mempercepat langkah untuk mengejarnya.


Dali mendapat teriakanku seperti itu, dengan cepat ia membalikkan badan, kemudian dia menatap ke arahku, seolah tidak percaya, bahwa dia akan bertemu kembali dengan orang yang menyakiti atasannya.


"Bu Erni, Bagaimana kondisi Pak Arfan?" dali bertanya.


"Nggak tahu! gua sejak kejadian kemarin! dia memblok semua nomor kontak gua. kalau ketemu sama dia! Tolong bilang sama suami gua! buka blokiran wa gua!" seruku memperingatkan.


"Lantas Ibu ngapain di rumah sakit, bukannya." Dali menghentikan pembicaraannya.


"Bukannya apa?" aku bertanya balik, merasa heranan karena melihat perubahan sikap asisten suamiku yang begitu mendadak.


"Enggak! bukan apa-apa! itu obat buat siapa?" dali bertanya sambil melirik tanganku yang memegangi plastik yang berisi obat.


"Ini buat Farid! gara-gara lu. dia harus masuk rumah sakit." Jelasku tanpa menurunkan intonasi suara.


Mendapat keterangan seperti itu, dia hanya menatap tajam ke arahku, sambil menggeleng-geleng kepala. Entah mengapa dia bisa berbuat seperti itu.


"Nanti setelah gua selesai merawat Farid, Jangan harap lo masih bisa kerja di tempat suami gua! karena gua akan mengambil seluruh aset yang dimiliki oleh suami gua!" Lanjutku mengancamnya, disertai tatapan tajam tak mau kalah dengan asisten suamiku.


"Ambil semua bu! Saya tidak tamak dengan harta, apa lagi sampai harus mengorbankan kehormatan seperti ibu!" ujar Dali menyindirku dengan sinis.


Plak!!!


"Halah! lu tahu apa? tentang kehormatan. pembantu aja sombong, Untung saja Farid tidak mau memperpanjang masalah. kalau nggak! lu bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi lu akan tinggal di balik jeruji besi." balasku disertai satu tamparan yang mendarat tepat di pipinya.


Mendapat perlakuan seperti itu, dan Mendengar ucapanku yang begitu berani melawannya. dia hanya memicingkan matanya, kemudian membalikkan badan, sambil terus memegangi pipi bekas tamparanku, untuk melanjutkan tujuannya


"Eh sial4n! gua belum selesai bicara, main ngeloyor saja." tahanku sambil menarik lengannya.

__ADS_1


"Sudah sana pergi. nanti pacarmu yang tak tahu diri itu, pindah ke lain hati." usir dali sambil melepaskan genggamanku, kemudian ia menepuk-nepuk baju yang bekas aku pegang. menghinaku, menunjukkan bahwa aku adalah orang yang kotor. Sehingga dia melakukan perbuatan seperti itu.


"Lu mau ngapain ke sini? apa jangan-jangan si Arfan yang menyuruhmu." tanyaku yang sudah terpancing emosi.


"Maaf! ini bukan urusan ibu, saya pamit dulu." jawab dali yang terdengar tegas.


"Sebentar gua mau ngomong dulu. kalau lu Ketemu suami gua, tolong bilangin kalau dia menceraikan gua. gua akan mengambil seluruh hartanya. tanpa ada yang gua Sisakan sedikitpun. pasti lu juga tahu kan semua aset di perusahaannya itu atas nama gua?" ucapku meminta dali, menyampaikan ultimatum terhadap suamiku.


Namun orang yang dititipkan pesan itu, hanya mendengus kesal. kemudian dia berlalu pergi, tak memperdulikanku lagi, yang masih menatap kesal ke arahnya.


"Lo harusnya bersikap baik sama gua! karena kalau lo seperti sekarang. Jangan harap lu masih bisa bekerja di perusahaan gua." aku mengulang kembali ancaman kepada asisten suamiku, dengan menaikkan intonasi suara agar dia bisa mendengar.


Dali hanya mengacungkan jempol, tanpa menoleh. dia terus berjalan menyusuri koridor, sampai tubuhnya Tak Terlihat Lagi, ditelan belokan.


Aku hanya menarik napas dalam, tak menyangka ada bawahan yang seloyal itu, terhadap bosnya. padahal ketika bosnya sudah bangkrut, dia tidak akan dibutuhkan lagi. harusnya dia hormat terhadapku, karena aku sudah menunjukkan rencana untuk menguasai tempat kerjaannya.


"Dasar orang beg0!" gumamku sambil melanjutkan kembali langkah, sambil terus mendorong kursi roda. menuju ke arah ruangan di mana farid dirawat. setelah sampai, aku pun merapikan semua pakaian, dan benda-benda untuk dikemasi ke dalam tas.


"Berarti kita jadi pulang dong, hari ini?" ujar Farid memecahkan heningnya suasana, sambil menatap tersenyum ke arahku.


"Kenapa? aku perhatiin dari tadi mukamu, ditekuk seperti itu?" tanya Farid yang selalu peka dengan perubahan sikapku.


Aku hanya melirik sebentar ke arahnya, kemudian memasukkan Pakaian kotor ke dalam plastik, sebelum dikemas ke dalam tas.


"Ada apa? Cerita dong!" ucap Farid dengan lembut. Dia turun dari ranjang rumah sakit, kemudian dengan Tertatih, menghampiriku yang masih merapikan pakaian.


"Sudah kamu jangan bergerak! kamu harus banyak beristirahat!" ucapku sambil bangkit, kemudian menggandeng farid untuk dudum di kursi, yang disediakan oleh rumah sakit, untuk orang yang menjenguk.


"Kamu kenapa? Cerita dong! Ada apa?" tanya Farid dengan lembut, kemudian dengan manja dia mengaitkan tangannya ke Pinggangku.


"Kenapa, Hidupku! selalu sial, sih!"


"Sial kenapa sayang? wanita cantik seperti kamu, nggak boleh marah-marah tahu! nanti cantiknya luntur." ucap farid sambil mencubit hidungku.


"Aku kemarin bertemu dengan mertuaku, sekarang aku bertemu dengan asisten suamiku. yang membuatmu masuk rumah sakit seperti sekarang. mereka tidak pernah menghormatiku, Padahal aku tidak pernah mengusik kehidupan mereka!" curhatku sama orang yang selalu mengerti.


"Mungkin mereka iri, sama kamu sayang! karena kamu memang cantik. selain cantik kehidupanmu sangat bahagia. sehingga membuat semua orang menjadi iri." ucap farid menenangkanku.

__ADS_1


"Masa sih?"


"Iya!" Jawab farid sambil menaikan kedua alisnya.


"Kamu bisa aja sih!" ucapku sambil mencubit pinggangnya.


"Oh ya! kamu ngobrol apa aja sama asisten suamimu itu?" tanya Farid yang terlihat meringis menahan sakit akibat cubitan ku.


"Dia nggak ngomong apa-apa! namun sikapnya yang membuatku merasa jengkel, karena dia tidak bisa sopan terhadapku. padahal aku kan sama-sama Bosnya dia juga." Curhatku dengan kesal.


"Oh begitu. kamu nggak level bermain dengan orang sepicik Dali, kamu jangan terlalu dekat dengan orang seperti itu. nanti ketularan beg0nya!" ujar Farid mengingatkan.


"Kenapa kamu nggak laporin aja, sih? tentang penganiayaan dia terhadap kamu?" aku menanyakan kembali, Kenapa Farid menolak untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya.


"Berat!"


"Berat kenapa? bukti sudah ada semuanya, sudah lengkap!"


Kalau kita tidak melakukan hubungan itu, mungkin tidak kamu suruh pun, aku sudah dengan cepat melaporkannya. Namun kita sangat sulit, apalagi kalau ketahuan sama media sosial, kita bisa habis-habisan diejek mereka. karena mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, bisa-bisa kita yang menjadi orang yang salah!" Farid menjelaskan kekhawatirannya, membuatku sedikit mengerti.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau membalaskan sakit hatiku, biar aku sendiri saja yang akan membalaskannya."


"Kamu harus hati-hati, dengan orang licik seperti si Dali itu!"


"Tenang saja! aku bisa mengatasinya."


"Caranya?" tanya Farid sambil mengerutkan wajahnya menatap penasaran ke arahku.


"Tolong secepat mungkin, kamu urus Bagaimana caranya! supaya perusahaan milik Arfan berpindah tangan penguasaannya kepadaku."


"Tenang mereka semua sudah bergerak, nanti kamu Siapkan saja apa-apa yang mereka minta. Tapi apa hubungannya antara menguasai harta suamimu, dan Dali asistennya?"


"Nanti kalau sudah resmi perusahaan itu menjadi milikku. orang pertama yang akan aku tendang dari perusahaanku. yaitu dali, si asisten yang sok keren." aku mengungkapkan pendapat.


"Cerdas! nggak salah Aku mencintaimu, dari dulu." jawab farid sambil mengulum senyum.


"Ya sudah! kamu tunggu. aku akan merapikan dulu barang-barang bawaan kita. kemudian pulang ke rumah." ujarku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.

__ADS_1


__ADS_2