Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 50 BERHATI MALAIKAT


__ADS_3

Pov Arfan


Lagi asik mengobrol, karla pun keluar, terlihat tangannya yang masih basah, mungkin dia baru selesai mencuci piring bekas tadi kita makan.


"Mau ke mana?" tanya Pak Umar.


"Mulung, Pak! Lumayan kan, untum Mengisi waktu, daripada berdiam di rumah." jawab karla sambil mengambil tangan Pak Umar, kemudian dia mencium pungung tangan pria paruh baya itu.


"Hati-hati, ya!" ujar Pak Umar menasehati anaknya.


"Iya, Pak! Assalamualaikum." Pamit karla sambil berlalu pergi, keluar dari rumah kayu ini.


"Beginilah kehidupan orang kampung sini, semua orang mengandalkan sampah yang dibuang oleh orang lain, untuk bertahan hidup. namun itu lebih baik, daripada harus mengemis atau meminta-minta." jelas Pak Umar, sedikit bercerita tentang kehidupan para warga.


Akhirnya kita pun melanjutkan kembali obrolan yang sempat tertunda, karena terganggu oleh Karla yang meminta izin. dengan obrolan-obrolan yang ringan, namun penuh arti. karena setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Pak Umar, tidak terlepas dari nasihat-nasihat, agar menjadi orang yang lebih kuat dan tegar, dalam menghadapi semua cobaan, yang menimpa dalam kehidupan kita.


*****


Pukul 17.30. Aku yang merasa bosan karena harus duduk terus menerus, aku mulai mencoba bangkit untuk belajar berjalan. Dan merasa malu jika harus terus merepotkan orang, dengan perlahan Aku berjalan menuju pintu mendekati balkon rumah, yang tadi siang dijadikan tempat untuk memandikanku.


"Mau ke mana?" tanya Pak Umar yang baru turun dari lantai dua rumahnya, ketika melihatku yang sedang berjalan dengan Tertatih.


"Mau ngambil air wudhu, Pak! Saya ingin melakukan salat magrib Untuk sekarang mungkin sebisa saya." jawabku sambil terus melangkah.


"Alhamdulillah!" Gumam Pak Umar pelan, namun terdengar dengan jelas. kemudian dia berjalan menghampiri, membantuku untuk menuju balkon rumah.


Setelah berada di balkon, Pak Umar pun mengambil air dengan timba dari sungai cimandiri. kemudian dia menyuruhku untuk berwudhu.


Pak Umar membantuku, mengalirkan air dari gayung, menggantikan peran keran, agar memudahkanku ketika membasuh muka. sembari sedikit membenarkan cara wudhuku, yang masih berantakan.


Setelah selesai mengambil air wudhu, Pak Umar pun membantuku kembali, untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Karlaaaa, Kalau kamu turun, tolong bawa Sajadah." seru pak Umar,sama anaknya, yang masih berada di lantai atas.

__ADS_1


"Iya Pak!" jawab karla dari atas. Suaranya sangat terdengar jelas, karena lantai kedua itu hanya terbuat dari papan.


Tak lama setelah itu, karla pun turun, sambil membawa barang yang diminta oleh bapaknya. kemudian menyerahkan sajadah itu kepada Pak Umar.


Pak umar pun memasangkan Sajadah, sesuai arah kiblat yang ada di rumahnya. karena kalau tidak diarahkan seperti itu, aku akan kesusahan menentukan Dimana arah kiblat.


"Salat semampu kita, karena Allah tidak memaksa seseorang Hamba Di Luar Batas kemampuannya." ujar Pak Umar.


"Iya pak, terima kasih!"


Pak Umar dan Karla pun berpamitan, pergi ke Musala untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. tak lama setelah kepergian mereka azan maghrib pun berkumandang, aku pun mulai melaksanakan salat pertamaku. sebisaku, sepengetahuanku, tentang cara melakukannya. meski sudah lama tidak melakukan salat, aku masih ingat bahwa salat magrib itu dilakukan dengan tiga kali berdiri. Namun aku tidak bisa berdiri, aku hanya bisa salat sambil duduk.


Selesai melaksanakan salat, aku memanjatkan doa kepada Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Meminta ampunan atas semua dosa-dosaku, agar mengampuni semua kesalahanku. butiran bening pun mulai mengalir membasahi pipi, merasa bod0h, dengan apa yang pernah aku lakukan. Merasa malu karena aku sudah melupakan dzat yang maha memberikan semua kesedihan. Kemurahan, Dan maha segalanya.


Lagi asik curhat sama sang pencipta, terdengar di depan rumah pak umar. banyak teriakan-teriakan anak kecil, yang semakin lama semakin mendekati rumah. membuatku segera menghentikan aktivitas itu, dengan mengusap cairan bening yang mengalir di pipi.


Tiba tiba Pintu rumah pak Umar terbuka, lalu masuklah segerombolan anak-anak kecil, yang bercanda dengan anak-anak lainnya. diikuti oleh karla dan Pak Umar, membuatku sedikit bertanya tentang Apa yang terjadi.


Terlihat ada seorang anak kecil yang masuk ke kamar, diikuti oleh beberapa anak yang lainnya. kemudian mereka keluar kembali, dengan membawa karpet dan meja belajar yang terbuat dari papan.


"Sudah! Sudah! jangan bercanda terus, Ayo kita berdoa terlebih dahulu." Ujar Pak Umar membuat anak-anak yang tadi berisik terdiam seketika, kemudian mereka membenarkan posisi duduknya.


"Allahumma inna Nas aluka Ilman nafian wa amalan sholihan wariskon wasian wa Syifa amin kullida'i" anak-anak kecil yang berjumlah puluhan itu, dengan kompak membaca doa.


Kemudian satu persatu dari anak kecil itu. yang sudah terlihat agak besar membawa Alquran ke hadapan Pak Umar. sedangkan yang masih kecil mereka membawa buku Iqro ke hadapan Karla. membuatku semakin merasa aneh, dengan sikap wanita yang satu ini. di luar sangat jutek, Dan ucapannya sangat pedas. namun Dia memiliki hati yang begitu baik, terlihat Dia sangat telaten, dan begitu sabar, ketika mengajar anak-anak yang masih suka bercanda. Aku hanya menatap lekat ke arah wanita berkarakter iblis berhati malaikat itu, bagaikan bidadari yang tak memiliki sayap, aku yakin siapapun yang melihatnya pasti mereka akan merasa kagum dengan wanita yang satu ini.


Pukul  20.00. akhirnya pelajaran ngaji itu selesai, kemudian anak-anak itu pun keluar dari rumah pak Umar. sambil terus bercanda dengan rekan-rekannya. menuju mushola kembali untuk melaksanakan salat Isya berjamaah.


Sepeninggal anak-anak pengajian, aku pun melaksanakan salat Isya, dengan posisi masih duduk, karena ketika bangun aku masih merasa sakit.


Pukul 20.30, Pak Umar dan Karla pun kembali dari masjid, diikuti oleh Saiful yang mengekor di belakangnya, terlihat di tangan mereka membawa plastik seperti berisi makanan.


Mereka pun menyalamiku, hanya karla yang tidak melakukan itu, dia terus berjalan menuju lantai dua. mungkin untuk menyimpan mukena terlebih dahulu. Benar saja, karena tak lama dia pun kembali, untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Setelah karla selesai menyiapkan makan malam, Akhirnya makan malam itu tersaji. dengan berbagai lauk yang begitu banyak, berbeda dengan tadi siang. sekarang ada ayam goreng, beserta gulai ikan.


"Alhamdulillah! tadi ada yang ngasih lauk makan, jadi kita bisa makan enak malam ini." ujar Pak Umar seolah tahu apa yang sedang ada pikirkanku.


"Maaf Pak! saya jadi merepotkan Bapak terus." Jawabku yang merasa tidak enak.


"Nggak boleh berbicara seperti itu, ini rezeki kita semua. ayo sebelum kita makan. Kita berdoa terlebih dahulu."


"Tinggal makan saja, repotnya minta ampun!" Celetuk Karla, seperti biasa dia akan sangat menyebalkan.


"Sudah jangan banyak berbicara, Ayo mulai Berdoa." sanggah Pak Umar.


Akhirnya tak ada pembicaraan lagi, Kami berempat menyantap makanan yang sudah disajikan oleh karla. Makan malam yang begitu khidmat, sehingga tak ada ucapan atau perkataan ketika menikmati makan malam itu. kami semua hanya terfokus dengan makanan yang ada di piring masing-masing.


Selesai makan malam, karla pun seperti yang biasa ia lakukan. dengan cekatan dia merapikan bekas makan kami, dibantu oleh Saiful, Setelah semuanya rapi. kemudian dia naik ke lantai atas meninggalkan aku, Pak Umar dan Saiful yang masih ngobrol sambil merok0k.


Pak Umar pun mulai mengutarakan tentang aku yang hendak tinggal di kampung ini, kepada Saipul. Kemudian Pak Umar pun mulai menyampaikan rencana, yang tadi siang sudah kita bahas. Di mana beliau akan menitipkanku di rumah Saiful.


Di luar dugaanku, Aku kira Saiful akan menolakku untuk tinggal di rumahnya. Namun ternyata dengan sumringah Saiful pun menyambutku begitu hangat, membuatku merasa iri. kenapa orang yang serba kekurangan ini, bisa sebaik seperti itu. hidup mereka saja pas-pasan, namun masih bisa berbuat baik kepada orang lain.


"Kamu boleh tinggal di rumah saya semau kamu. Kebetulan aku juga tinggal sendiri." ujar Saiful setelah mendengarkan penjelasan Pak Umar.


"Iya tapi nanti, setelah nak Arfan bisa berjalan, biar kamu gak kesusahan. Apalagi kamu setiap hari bekerja, kasihan kalau dia harus tinggal di rumah sendirian. tanpa bisa melakukan apa-apa!" saran Pak Umar.


"Iya Pak, siap! Kapanpun Arfan mau. pintu rumah saya akan selalu terbuka." jawab Saiful.


Akhirnya kami pun mengobrol ke sana kemari, dengan obrolan Seputar pekerjaan mereka  membuat pengetahuanku tentang rasa syukur semakin bertambah. karena mereka harus berpanas-panasan terlebih dahulu dan bergelut dengan bau sampah, ketika mereka hendak mengisi perutnya, berbanding terbalik dengan kehidupanku, yang bisa makan apapun sesuai dengan kemauanku.


Pukul 22.30. Obrolan itu terhenti karena Pak Umar meminta izin untuk beristirahat. menyiapkan kembali tenaga untuk hari-hari berikutnya, sedangkan Saiful yang meminta izin kepada Pak Umar, untuk menginap di rumahnya. Dengan alasan agar dia bisa menemaniku.


15 menit berlalu, terdengar dengkuran yang keluar dari bibir Saipul. Yang Sudah terlelap dengan begitu cepat, dan begitu nyenyak. mungkin dia merasa capek, setelah bekerja seharian penuh, ditambah harus menggendongku dari pinggir sungai ke Jalan Raya. melihatnya seperti itu, Aku juga Mulai mencoba untuk memejamkan mata. Dengan menaikkan sarung, untuk melindungiku dari serang nyamuk yang berkeliaran.


Pukul 02.00. aku yang tidak bisa tidur nyenyak, karena dengkuran Saiful yang mengganggu telingaku. serta nyamuk yang menggerumuni tubuh. mataku yang terpejam, sedikit menangkap bayangan putih. yang turun dari atas lantai dua. membuat mataku terbuka dengan sempurna. aku coba mengucek mataku agar terfokus dengan bayangan itu, namun bayangan itu tetap ada, bahkan sosok putih itu berbalik menatap ke arahku.

__ADS_1


Agrrrrhhhhhh!


Aaaawhhhhhhgg!


__ADS_2