Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 79 Tetap Fokus


__ADS_3

Pov Arfan


"Kenapa pulang lagi Den? ada yang kurang, atau ada yang ketinggalan." tanya Mbok iyem dengan menunjukkan raut wajah penasaran.


"Nggak ada. Oh iya! tawaran tadi masih berlaku gak, mbok?" Tanyaku sambil tersenyum.


"Tawaran yang mana?"


"Tawaran makan!"


"Oalah! kayak di rumah siapa aja!" ujar mbok iyem sambil tersenyum, dengan Sigap dia pun menyiapkan piring dan membukakan tudung saji, yang di dalamnya sudah tersedia beberapa menu makanan.


"Mbok sudah makan?"


"Sudah! Mbok nggak bisa kalau telat makan, mbok bisa sawan! ya sudah, Aden makan aja terlebih dahulu, nanti lanjut kembali mengobrolnya." seru Mbok iyem.


Aku pun mengangguk, kemudian mengisi piringku dengan nasi, lalu menikmati makanan itu dengan begitu khidmat. karena makannan seperti ini, untuk sekarang sangat jarang didapatkan.


Setelah selesai makan, aku pun berpamitan kembali untuk melanjutkan Niatku yang hendak pergi ke rumah ibu, yang dulu aku tempati bersama Erni mantan istriku.


Aku pun keluar dari rumah ibu. kemudian berjalan menuju pintu gerbang perumahan, setelah sampai di pintu gerbang, dengan cepat aku pun menghentikan taksi, lalu taksi itu membawaku menuju tempat yang aku Sebutkan.


Tak diceritakan lamanya di perjalanan, akhirnya aku pun sampai di depan pintu gerbang rumah yang dulu pernah hendak merenggut jiwaku. karena aku tidak kuat dengan semua yang menimpaku, hingga akhirnya aku meminum obat penenang begitu banyak. dengan cepat aku pun turun dari taksi. setelah membayarnya, taksi itu pun pergi untuk mencari penumpang yang lainnya.


Dengan menarik nafas dalam, mengumpulkan tenaga untuk menghadapi kenangan-kenangan pahit yang ditorehkan di rumah ini. aku mulai membuka kunci pintu gerbang rumah itu, lalu mendorongnya dengan perlahan. rumahku terlihat masih terawat, karena aku tidak menemukan Rumput yang tumbuh liar di halaman. Padahal rumah ini sudah 6 bulan lebih. kosong, tidak ada yang menempati. mungkin benar apa yang dikatakan oleh ibu, dia selalu merawat rumahku seminggu sekali.


Setelah berada di halaman rumah, aku pun berjalan menuju teras. ada rasa aneh yang tidak bisa aku jelaskan, rasa sesak yang begitu memenuhi Dada, kaki terasa lemas seolah menahan langkahku. Namun aku harus tetap kuat, aku tidak boleh terus dihantui oleh rasa sakit, harus bangkit. aku terus memotivasi diriku sendiri, sambil terus melangkahkan kakiku menuju ke arah teras. dengan perjuangan yang begitu gigih Akhirnya aku bisa berdiri tepat di depan pintu rumah.


Tergambar kembali, ketika sore itu. istriku pulang bersama sahabatku, tanda merah yang ada di tubuh yang menurut pengakuan istriku, itu adalah bekas kerikan. padahal sekarang aku tahu, bahwa tanda merah itu adalah tanda cinta Kedua makhluk laknat itu.


"Ban9saaaaaaaaaat!" aku berteriak dengan kencang, melampiaskan kebod0hanku.

__ADS_1


"Astagfirullah! astagfirullah! astagfirullah! astagfirullah!" namun dengan cepat aku menyebut nama Allah, kemudian mengatur kembali nafasku yang terasa sesak. Agar pikiranku kembali tenang.


"Aku harus bangkit! Aku harus bangkit! Aku harus bangkit! Aku harus bangkit! harus bangkit!" ucapku mengulang-ngulang kata itu terus menererus, Memberikan motivasi kepada diriku sendiri.


Setelah aku mulai tenang kembali, dengan cepat aku pun membuka kunci rumah ibuku, kemudian masuk ke dalam rumah yang 6 bulan lalu aku tempati, bersama mantan istriku.


Di dalam rumah itu tidak terlihat apa-apa, tidak ada perabotan yang menghiasi ruangan rumah besar itu. namun meski begitu, lantainya sangat bersih, tidak ada sedikitpun debu yang bersarang di bawahnya. tak lama aku memperhatikan sekeling, aku segera memfokuskan kembali ke niat awalku, yang hendak mengambil berkas-berkas penting, tak mau mengingat kejadian yang begitu buruk.


Dengan mempercepat langkah, aku menuju salah satu kamar yang dulu dijadikan ruang kerjaku. Setelah berada di depan pintu, dengan cepat aku membuka kuncinya. terlihat di dalam ruangan itu, masih sama seperti dulu, seperti ketika aku masih menjadi suami Erni. komputer kerjaku masih tersimpan di tempatnya, berkas-berkas penting masih tersusun rapi di rak lemari. mainan-mainan koleksiku masih tersimpan rapi di etalase. namun mataku terhenti agak sedikit lama, ketika mata itu menatap ke arah PS. mainan yang selalu dijadikan alasan agar sahabatku bisa main leluasa ke rumahku. Hingga leluasa juga dia mengelabuiku.


Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku, Aku tidak mau bayangan-bayangan jelek kembali menghampiri. aku mulai mendekati komputer lalu mencoba menyalakannya. beruntung komputer itu bisa menyala tanpa ada kendala. sambil menunggu Komputerku booting, mataku melihat ke arah benda pipih yang masih tersimpan rapi di dekat mouse, aku mengambil benda itu, lalu memperhatikannya dengan teliti.


Setelah puas memperhatikan benda pipih itu, aku mencoba menekan tombol power, berharap handphone itu menyala. namun ketika aku Tekan lama, handphone itu memberi tanda, bahwa baterainya sudah habis. mungkin semenjak dari dulu sampai sekarang, handphone itu tidak pernah dihidupkan, dan tidak pernah di charger. Aku memperhatikan area sekeliling, mencari pengisi baterai handphone itu. terlihat di dekat terminal listrik Ada casan yang tergeletak, dengan cepat aku mengambil casan itu, untuk mengisi baterai handphoneku.


Setelah selesai mencolokkan casan ke port-nya! mataku kembali terfokus ke arah layar komputer, dengan cepat aku mengambil dan mengcopy data-data penting, untuk menopang kebutuhanku dalam membangun usaha baru.


Sejam berkutat dengan komputer, akhirnya pekerjaanku selesai. setelah menyelesaikan pekerjaan, aku kembali mengambil handphone-ku, lalu menekan tombol powernya. setelah ditekan agak lama akhirnya handphone-ku menyala.


"Halo Pak! ini beneran bapak?" tanya Dali memastikan.


"Iya! ini saya. Oh ya, Sekarang kamu ada di mana?"


"Saya sedang berjualan, Pak! tadi ada perempuan yang nyariin bapak ke sini." jelas Dali.


"Perempuan yang mana!"


"Emang sekarang bapak punya perempuan berapa?"


"Daliiiiiiiii!" panggilku dengan nada tegas, membuat dali sedikit terdiam, Mungkin dia tahu dengan apa yang aku maksud.


"Perempuan yang kemarin datang bersama Bapak, ketika pertama membeli mie ayam saya."

__ADS_1


Aku memutus telepon itu, lalu mematikan handphone-ku kembali. dan Setelah mendapat kejelasan dari Dali asistenku, aku merapikan data-data dan berkas-berkas yang hendak aku bawa. kemudian aku keluar dari kamarku langsung menuju ke arah pintu gerbang. Tak lupa sebelum pergi, aku Mengunci pintu rumah Ibu seperti semula.


Setelah dirasa semuanya sudah rapi, aku berjalan menuju pintu gerbang perumahan, untuk memesan taksi menuju ke tempat Dali.


Tak lama di perjalanan, akhirnya aku sampai di kios mie ayam, Di mana Dali berjualan. Dali sedang sibuk melayani pembeli, yang sangat membludak karena jam segini, adalah waktu orang-orang pulang dari kantor. namun sekarang tada dua asisten, yang membantunya. melihat kedatanganku, dengan cepat Dali pun menghampiri.


"Titip ini! nanti Pak Anto akan menghubungi kamu." dengan cepat aku memberikan tugas lalu menyerahkan semua berkas yang tadi aku bawa dari rumahku.


"Siap pak!" jawab Dali sambil mengambil berkas yang aku berikan, dengan cepat aku pun hendak pergi.


"Mau ke mana, Pak? kok buru-buru amat!"


"Tadi Bener kan dengan apa yang kamu bilang. bahwa ada perempuan yang mencariku, aku harus cepat-cepat pulang, mungkin orang-orang di sana mengkhawatirkan keberadaanku, apa lagi sebentar lagi mau adzan maghri." aku menjelaskan dengan cepat, karena aku buru-buru, aku harus cepat pulang.


"Iya Pak, raut wajah perempuan itu sangat khawatir." jelas Dali seolah mengompori, soalnya terlihat ada gurat senyum di wajahnya.


"Ya sudah! besok saya hubungi kamu,sambil saya memikirkan Bagaimana caranya, agar saya memiliki handphone, tanpa mengundang curiga dari wanita itu. karena aku masih banyak ilmu yang harus aku pelajari dari keluarga mereka. Jadi sekarang mereka tidak boleh tahu sebenarnya aku siapa." jelasku tanpa menunggu jawabannya, aku pun segera berlari menyusuri trotoar, agar segera sampai ke rumah Saiful.


Dengan berjalan cepat seperti itu. tak lama  Akhirnya aku sampai ke gang. Sesampainya di Gang, aku mengatur nafas terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan kecurigaan, orang yang melihatku, mulai berjalan dengan pelan seperti biasa.


"Tuh! Pria bod0h, sudah datang!" ujar Karla memberi tahu kedua laki-laki yang duduk mengobrol.


"Assalamualaikum!" Sapakku tak menghiraukan perkataan gadis aneh itu.


"Waalaikumsalam! Dari mana saja nak Arfan! kami tadi mencari kamu kemana-mana."


"Maaf Pak! maaf ful! Tadi saya bertemu dengan teman lama, saya minta maaf Yang sebesar-besarnya. kalau saya membuat kalian khawatir!" ujarku sambil mengulurkan tangan ke arah kedua laki-laki itu.


"Nanti, Lain kali! kalau pulang kerja itu, pulang dulu ke rumah. Terus kalau mau bepergian jauh, cobalah izin dulu! bukan apa-apa! sekarang kan nak Arfan sudah kita anggap sebagai keluarga, jadi kita pasti khawatir, ketika nak Arfan menghilang seperti tadi." ujar Pak Umar membuat mataku sedikit mengembun, merasa terharu atas perhatian yang mereka berikan. padahal sampai saat ini aku belum pernah memberikan sesuatu yang membuat mereka bahagia.


"Sekali lagi saya mohon maaf Pak!" ujarku sambil menundukkan kepala, tak berani menatap ke arah pria tua itu.

__ADS_1


__ADS_2