Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps 81. Curang


__ADS_3

Pov Arfan


"Enggak lah Pul, gua nggak mungkin suka." Jawabku dengan sangat yakin, karena tidak ada satu hal yang menarik dari tubuh wanita itu, kecuali hanya sifatnya yang menyebalkan.


"Kalau lo sampai menyakiti Karla! gua lah orang yang pertama yang akan menghajar lu! " ancam Saipul yang terlihat serius.


"Kalem Bro! lagian gua nggak yakin kalau Karla suka sama cowok." timpalku membalas ucapan Saipul dengan bercanda.


"Hahaha iya juga sih! karena Setahu gua dia belum pernah punya pacar." ketawa Saipul mencairkan suasana pagi itu. "tapi ingat, jangan lu abaikan peringatan gua, karena yang tadi itu tidak bercanda!" ancam Saipul merubah kembali  wajahnya ke mode semula.


"Lu pada ngomongin apa sih, pagi-pagi udah ribut." ujar suara- seorang wanita yang baru datang.


Aku dan Saiful hanya saling melirik, kemudian mengembangkan senyum di kedua bibir kita.


"Ada apa sih? kalian senyum-senyum gitu, apa jangan-jangan kalian lagi ngomongin gua ya?" tanya Karla menatap ke arah kita.


"Nggak! nggak! ada apa-apa! sana kalian buruan berangkat nanti dimarahin oleh Ibu Bos!" usir Saiful sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


"Ya sudah! gua berangkat duluan ya, Bos! lu mulungnya hati-hati nanti lu nyungsep ke tong sampah." ujar Karla yang berjalan meninggalkan Rumah Saiful, tanpa mempedulikanku yang sejak dari tadi menunggunya.


"Ehh, cewek aneh, tunggu!" Dasar nggak punya adab! aku berangkat dulu ya ful." panggilku sambil bergegas keluar dari teras rumah Saipul, berlari mengejar Karla yang sudah menghilang di belokan rumah orang.


Saiful yang melihat tingkah lakuku, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, sambil terus membetulkan gerobaknya.


"Karla! Karla!" panggilku terus mengejarnya.


"Apa sih, manggil-manggil! kayak lo penting aja."


"Pelan-pelan Apa jalannya! nyesel tadi aku nungguin kamu, kalau kamunya seperti ini." ujarku setelah berjalan di sampingnya.


"Enggak ah! Males kalau gua jalan bareng lu! nanti gua disangka pawangnya lagi, "ujar Karla tanpa memperdulikanku.


"Bisa enggak sih, sehari kamu nggak menyebalkan seperti itu?" Desisku.


"Berisik!"


Mentari pagi yang sudah sepenuhnya menampakan diri, mulai memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang sudah bergerak, untuk mencari nafkah. aroma kota yang khas dengan gotnya, memenuhi rongga hidung. Deru mesin mobil serta klakson menghiasi jalanan, yang sudah terlihat mulai padat. sedangkan aku terus mengikuti Karla berjalan mengekor di belakangnya. Dia tidak mau berjalan berdampingan denganku.


"Oh iya, Mana casannya?" Tanyaku menagih janjinya semalam, yang hendak memberikan charger handphone pemberiannya.


"Lu serius mau chargernya?" Tanya Karla menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap serius ke arahku.

__ADS_1


"Ya mau lah! kamu kalau nolong jangan setengah-setengah."


"Serius?"


"Duarius!"


"Kalau lu mau charger handphone lu! sekarang kita tanding. kalau lu sampai duluan di kantor, maka gua akan kasih chargernya!" ujar karla memberikan tantangan.


"Ayo siapa takut!"


"Hahaha, PD lu ketinggian Bos, laki-laki loyo kayak lo! nggak mungkin bisa mengalahkan gua." teriak Katla yang sudah berlari duluan.


"Dasar wanita Barbar! larinya secepat kilat." gumamku yang sudah tidak melihat lagi wanita itu,  karena ditelan oleh belokan jalan.


Aku memindai area sekitar, mencari cara agar aku cepat sampai di kantor Ibuku. beruntung, ketika aku lagi mencari. ada mobil berwarna biru yang lewat, dengan cepat aku pun menghentikan mobil itu, lalu aku masuk ke dalam.


"Atri grup, ngebut Pak!" seruku sama sopir taksi


Tak ada pertanyaan dari Sopir itu. dengan cepat dia menginjak pedal gas, sesuai dengan apa yang kuminta. sehingga hanya butuh waktu 5 menit, aku sudah sampai di depan pintu perusahaan ibuku.


"Tubuhku memang loyo, tapi otakku sangat cerdas!" gumamku setelah taksi yang mengantarkanku pergi, sambil mengangkat satu sudut bibir, menatap ke arah pintu gerbang menunggu kedatangan karla.


Tak lama menunggu, wanita aneh pun datang menghampiriku, dengan nafas yang terengah-engah, matanya membulat sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Lu curang! Kok bisa, sampai di sini duluan?" tanya Karla, suaranya tersendat-sendat karena nafasnya yang begitu memburu.


"Curang apanya, tadi perjanjiannya Siapa yang datang duluan ke kantor, Maka itulah pemenangnya." ujarku menjelaskan kembali peraturan yang ia buat


"Tapi lo! curang"


"Buruan jangan banyak alasan! kalau kalah, yah ngaku kalah aja!"


Dengan mendengus kesal, dia pun merogoh tas yang ia gendong. kemudian mengeluarkan charger handphone miliknya. Setelah memberikan charger kemudian dia berjalan menuju ruangannya, tanpa memperdulikanku lagi. aku hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuannya yang benar-benar tidak ada duanya. Setelah tidak mendapat jawaban dari apa yang aku lihat. aku juga mulai berjalan menuju gudang penyimpanan alat-alat kerjaku, dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan yang harus aku kerjakan.


"Halo Fan, rajin amat kamu! pagi-pagi sudah kerja saja." sapa Mukti yang baru datang.


Aku yang lagi menyapu, dengan segera menoleh ke arah datangnya suara, terlihat pria bertubuh sedang yang berdiri sambil memegang tangan seorang wanita. Wajahnya dipenuhi dengan senyum, menunjukkan perbawaan hati yang sedang bahagia.


"Iya dong! biar gajinya gede, segede Gunung Gede." jawabku membalas sapaan Rekan kerjaku, dengan tersenyum ramah.


"Sebentar gua bantu lu! gua ambil dulu peralatannya." ujar Mukti sambil terus menggandeng pergelangan tangan wanita yang ada di sampingnya. mungkin Karla sudah menjalankan misinya, yang hendak mencari pendamping Ratna, agar tidak kehilangan muka di depan keluarganya.

__ADS_1


Jujur Dalam Hati, aku sedikit tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Karla, karena bagiku tidak ada ruang buat penghianat. namun itu bukan urusanku, prioritasku sekarang adalah membangun kembali bisnis kerajaanku, yang sudah direbut oleh mantan istri yang tidak tahu malu.


Pukul 11.00 akhirnya semua pekerjaanku selesai, seperti biasa para karyawan cleaning service beristirahat terlebih dahulu, sedangkan karyawan yang mendapat giliran bekerja setengah hari, mereka pun sudah bersiap-siap untuk pulang.


Di tengah waktu istirahat, aku mengambil handphone pemberian Karla tadi malam. dengan cepat aku pun menekan tombol Panggil.


"Halo! maaf Ini siapa?" Tanya Dali Setelah telepon itu tersambung. Beruntung kemarin dia menuliskan nomor teleponnya ,sehingga aku tidak harus repot-repot datang ke kios mie ayam, hanya untuk meminta nomor kontaknya.


"Saya arfan Dal." jawabku menjelaskan.


"Saya kira, telepon dari pihak pengundi hadiah?" Tanya Dali yang sedikit membuatku mengerutkan dahi.


"Maksudnya?" Aku balik bertanya karena tidak mengerti dengan apa yang ia maksud.


"Ya biasanya kan, seperti itu. ketika kita mau ditipu, kita ditelepon seperti ini, lewat telepon biasa. bukan lewat telepon aplikasi." jelas Dali membuatku sedikit mengerti dengan apa yang dia maksud.


"Aih malah kurang ajar! aku pakai handphone polyphonic, pemberian wanita aneh itu. gimana mau nelpon lewat aplikasi, warna handphonenya aja masih putih hitam."


"Widih sudah tuker tukeran hadiah aja nih, ceritanya?"


"Kamu makin dilayanin, makin ngelantur. Bagaimana perkembangan rencana kita."


"Beres semuanya sudah diatur oleh pak Anto. tadi malam setelah saya memberitahu, bawa ada titipan berkas dari bapak, dia langsung datang ke kios mie ayam saya. kita tinggal menunggu hasilnya." jelas Dali yang melaporkan kinerjanya.


"Terus bagaimana dengan karyawan kita? yang sudah tidak bekerja di perusahaan Erni group, Apakah kamu sudah mengurusnya?"


"Itu juga! sudah saya urus, tapi kalau bisa. Mereka ingin bertemu kita terlebih dahulu, untuk membahas sejauh mana rencana usaha kita ke depan, dan sejauh mana bapak bisa mempertanggungjawabkan perusahaan itu. mereka tidak mau hal serupa terjadi kembali." Jelas dali membuatku sedikit menarik nafas dalam, rasa bersalah yang menyelimuti, sehingga membuatku tak bisa berkata-kata.


"Halo, Pak!"


"Iya! kamu Atur saja pertemuan kita, Nanti saya kirimkan uang untuk mempersiapkan rencana itu." Jawabku mengambil keputusan.


"Kapan dan di mana?:


"Untuk tempatnya kamu Atur saja! namun waktunya jangan berbenturan dengan waktu kerjaku. Rabu dan Kamis aku kerja full, dari pagi sampai sore." aku kembali memberi arahan.


"Baik! nanti saya hubungi kembali, ini nomor Bapak kan? biar saya save."


"Iya ini nomor saya! terima kasih atas bantuannya." akhirnya telepon itu berakhir.


Plak!

__ADS_1


Punggungku ada yang menepuk dari belakang, hampir saja handphone yang aku pegang terjatuh ke lantai. dengan cepat aku mengalihkan pandangan ke arah orang yang menepuk, mataku membulat sempurna menatap wanita aneh, yang sedang tersenyum menyebalkan. Padahal tadi pagi dia ngeloyor pergi meninggalkanku, sekarang sudah berdiri sambil menunjukkan senyum anehnya.


__ADS_2