Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 35 CURAH DENGAN BAPAK


__ADS_3

Pov Erni


Bi Iyem dan Deri hanya menatap heran ke arahku, tanpa ada pertanyaan sedikitpun. Aku tidak memperdulikan mereka. setelah nomor suamiku tersave di kontak handphone milik satpamku. kemudian aku membuka aplikasi pesan untuk menghubungi nomor suamiku, dari handphone deri. karena aku yakin nomor suamiku tidak mungkin memblok nomor satpamku.


Aku menekan tombol Panggil nomor suamiku, lama menunggu namun telepon itu tidak terhubung sama sekali. Merasa penasaran aku mengulangnya hingga beberapa kali, Namun sayang itu tidak membuahkan hasil.


Aku perhatikan kontak suamiku, terlihat waktu terakhir aktif di hp-nya adalah lima hari yang lalu, mungkin setelah kejadian aku ketahuan berhubungan dengan Farid. suamiku tidak mengaktifkan lagi handphonenya.


Masih merasa penasaran, aku mencoba menelepon kembali nomor suamiku, dari aplikasi telepon bawaan handphone, namun sama seperti aplikasi pesan, telepon itu tidak terhubung.


Mendapat kenyataan seperti itu, tiba-tiba handphone yang aku pegang itu, jatuh menimpa meja makan, membuat kedua asisten Rumah tanggaku dengan cepat menghampiri.


"Ada apa, Bu?"  tanya bi iyem sambil menahan tubuhku agar tidak ambruk.


Aku memijat-mijat keningku, yang terasa pening. pandanganku mulai sedikit mengabur, merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. pria yang biasa bertekuk lutut di bawah kakiku, sekarang dia memberontak menjauh tanpa ada kabar.


"Deri, Tolong ambilkan minyak kayu putih." Seru Bi iyem sambil membantuku memijat kening.


"Ngambil di mana?" tanya Deri yang terlihat kebingungan.


"Iya, beli di warung!" seru Bi Iyem.


"Aku belum punya uang, Bi!" jawab Deri tanpa dosa sama sekali.


Mendengar pengakuan dari satpam rumahku, bi iyem hanya mendengus kesal, kemudian ia merogoh saku bajunya untuk membeli minyak kayu putih.


"Nih! pakai uang belanja dulu saja!" suruh Bi Iyem.


Namun ketika Deri hendak  pergi, aku pun menghentikannya. karena menurutku, aku hanya kaget mendapat kenyataan yang begitu tidak sesuai dengan harapanku.


"Bener! Ibu nggak apa-apa?" tanya Bi Iyem yang masih terlihat khawatir.


"Enggak! terima kasih." ucapku terlihat cuek, namun aku merasa bahagia karena mereka sangat peduli terhadapku.


"Nanti, kalau Ibu punya minyak kayu putih, Ibu bisa membalur tubuh ibu, biar hangat!" saran bi Iyem.


"Iya, sekarang kalian lanjut bekerja, Aku mau lanjut makan." Aku memberi perintah, tidak mau terlalu dekat dengan mereka, bisa-bisa nanti mereka melunjak.


Mereka pun mengangguk, kemudian mengundurkan diri dari pandanganku, aku yang baru makan beberapa suap, dengan cepat menghabiskan makananku, yang ada di piring. rasa pening dan mual akibat banyak pikiran, membuatku tidak napsu untuk makan. namun itu, tidak membuatku tidak menghabiskan makan yang ada di piring.


Selesai makan aku  berjalan Kembali menuju kamarku, untuk beristirahat. menyiapkan tenaga menghadapi kejutan-kejutan yang akan datang.


Sesampainya di kamar aku ambil tabletku, yang ada di atas meja kerja. kemudian membawanya ke atas kasur, untuk menonton film favoritku, agar mengurangi beban yang memenuhi pikiranku.

__ADS_1


Namun ketika aku sedang menonton film drama Korea, yang selalu menjadi rutinitasku, sebelum tidur. Itu mengingatkanku kembali di mana suamiku tidak pernah absen menemaniku menonton film ini. karena menurutnya, Walaupun dia tidak suka menonton film drama, tapi ini adalah salah satu bentuk komunikasi, antara suami dan istri. sehingga banyak permasalahan yang bisa dipecahkan, sambil menonton film kesukaanku.


Tak terasa butiran air mataku kembali menetes, sejahat apapun wanita, Sekuat apapun wanita, mereka akan menangis Sedih, ketika orang yang mencintainya, pergi menjauh dari kehidupannya.


Tring! tring! tring!


Teleponu yang disimpan di atas nakas, dekat ranjangku, berbunyi. menandakan ada satu panggilan yang masuk, dengan cepat aku mengusap cairan bening yang membasahi pipi, kemudian meraih handphoneku, untuk melihat Siapa yang menelpon.


"Bapak, ada apa? kok bapak telepon?" gumamku sambil menggeser tombol hijau ke arah atas.


"Gobl0k! kok bisa, kamu diceraikan sama Arfan? kurang baik apa dia sama kamu?" bentak Bapak tiba-tiba seperti itu, membuatku sedikit tersentak, karena beliau belum pernah berkata kasar terhadapku, sehingga aku sedikit menjauhkan telepon itu dari telinga.


"Maksudnya bagaimana, Pak? Sabar jangan pakai emosi! Kita bisa berbicara dengan pelan!" ucapku menenangkannya.


"Kamu pikir, kurang baik apa nak Arfan? sampai kamu memilih merusak dengan cara berhubungan dengan sahabatnya? Kamu benar-benar nggak punya otak!" tanya Bapak yang tak menurunkan intonasi suaranya, membuatku kembali terdiam, karena aku tidak punya alasan untuk melakukan hal itu.


"Kenapa diam? kamu dengar nggak?" tanya Bapak sambil terus menaikkan intonasi suara.


"Bukan begitu Pak, ceritanya! mungkin Bapak salah dengar." jawabku, yang masih bingung harus menjawab apa, sehingga ucapanku sedikit mengawur.


"Salah dengar bagaimana! tadi bu Aisyah  menelepon Bapak! menyampaikan semuanya yang kamu lakukan dengan si Farid!" sanggah bapak yang tak mau kalah.


"Bapak harus dengar dulu ceritaku, jangan memutuskan sebelah pihak!" Jelasku yang merasa sudah sedikit menguasai keadaan.


"Sudah lah Pak, cukup! Bapak jangan memojokkanku, Bapak tidak tahu cerita yang sebenarnya. jadi Stop jangan memojokkanku! kalau bapak butuh uang, biar aku kirim sekarang." Jawabku yang sudah mulai terpancing emosi dengan sikap bapak, bukannya membela anak malah memojokkan, membela orang lain.


"Uang dari mana?" tanya Bapak yang terdengar meremehkanku.


"Bapak tenang saja, karena semua harta suamiku. sekarang sudah menjadi hak milikku. karena sejak dari dulu sudah atas namaku." ucapku menjelaskan.


"Maksudnya, bagaimana?"


"Sebentar aku matiin dulu teleponnya, biar aku mudah menceritakannya." Pintaku sambil memutus telepon itu.


Setelah lima menit, aku pun menghubungi kembali nomor bapak, untuk melanjutkan obrolan sekaligus bercerita dengan apa yang sebenarnya terjadi. karena walau bagaimanapun, sekarang aku berada di titik terapuh, serapuh rapuhnya. Setelah surat pemanggilan dari pengadilan agama.


"Ada apa, sih?" Bapak Bertanya Setelah telepon itu terhubung kembali.


"Tolong bilang sama si Ardi! cek mobil banking." pintaku


Setelah mendapat permintaanku, Terdengar Bapak  memanggil adikku, yang paling besar. untuk mengikuti perintahku.


"Ada uang yang baru masuk, Pak!" terdengar suara anak laki-laki yang memberitahu.

__ADS_1


"Berapa?"


"250 juta, Pak!"


"Halo!" Sapa bapak memanggilku, memastikan aku masih ada di ujung teleponnya.


"Iya, Pak! halooo! bagaimana sudah masuk?"


"Buat apa, kamu mengirim uang sebanyak itu, kamu juga kan lagi butuh, apalagi nanti suamimu tidak akan menafkahi kamu lagi." Ujar bapak yang terdengar sedikit melunak tak sekeras ketika tadi awal menelpon.


"Bapak tenang saja! walaupun aku sudah bercerai dan pisah sama Arfan, Bapak tidak akan kekurangan uang sedikitpun. bahkan aku bisa memberi lebih dari apa yang diberi oleh suamiku."


"Kok, bisa seperti itu?"  tanya Bapak yang merasa bingung dengan apa yang aku sampaikan.


"Iya Pak! seperti yang sudah tadi aku bilang, semua harta suamiku sudah menjadi atas Namaku, bahkan aku mulai mengambil perusahaan Arfan." Aku menjelaskan


"Jadi sekarang kamu jadi pemimpin perusahaan gitu?" tanya Bapak yang masih belum mengerti.


"Iya Pak! aku sekarang sudah mempunyai perusahaan sendiri, perusahaan hasil pemberian dari suamiku. dan sekarang aku mulai mengurus perusahaan itu sendiri." aku menjelaskan lebih sederhana.


"Wah hebat! berarti kamu seperti orang-orang itu ya!"


"Iya Pak! kayak di film-film, aku sebagai CEO perusahaan Erni Group!"


"Ya sudah, kalau begitu! Bapak hanya mendoakan yang terbaik untuk kamu, dan kamu harus tetap berhati-hati ya!" ucap bapak yang terdengar suaranya semakin melunak.


"Iya pak! terima kasih."


"Emang benar, kamu mau diceraikan oleh suami kamu?" tanya bapak kembali membahas permasalahan awal


"Iya Pak! aku ketahuan tidur sama Farid oleh suamiku." aku jujur tidak ada yang ditutupi dengan orang yang sudah merawatku.


"Bod0h! Kok bisa, kamu sampai ketahuan seperti itu."


"Namanya juga kecelakaa , Pak tidak ada yang tahu."


"Ya sudah! Bapak tidak akan ikut campur, dengan urusan kamu kamu urusin masalahmu sendiri! namun Bapak berharap, kamu tidak melupakan adik-adikmu yang masih membutuhkan biaya "


"Tenang! aku yakin uang yang tadi yang aku kirim cukup untuk modal adik-adikku, dan memenuhi kebutuhan bapak."


"Bapak doakan! Semoga semua kembali lebih baik, Kalau bisa kamu nggak usah bercerai dengan suami kamu. kamu Pertahankan rumah tangga kamu."


"Iya pak, terima kasih, aku juga lagi berusaha seperti itu."

__ADS_1


__ADS_2