
Pov Arfan
"Masuk!" seru Karla terdengar dari dalam.
Dengan perlahan Mukti mendorong pintu ruangan itu, kemudian kita berdua masuk menghadap Karla.
"Ada apa Muk?" tanya Karla sambil membagi tatapan ke arah kita berdua.
"Hehehe, biasa bu. saya mau ngobrol, Siapa tahu saja enggak mengganggu." jawab Mukti sambil manggut Dan Tersenyum.
"Ya udah silakan duduk!" seru Karla mempersilahkan.
"Terima kasih Bu!" jawab Mukti sambil duduk di kursi yang ada di depan Karla.
"Lu mau ngapain? Eh! Pak Arfan mau ngapain ikut Duduk segala." tanya Karla sambil menutup mulut, mungkin kebiasaannya yang Barbar sehingga terbawa ke dalam masalah yang formal.
"Katanya tadi pagi minta ditemenin untuk ngobrol sama Mukti." jawabku membuat Mukti menatap heran ke arah kita berdua.
"Mau ngomong apa?" tanya Mukti.
Sebelum menjawab terlihat Karla menarik nafas terlebih dahulu, seolah sedang mengumpulkan keberanian dengan apa yang hendak Ia sampaikan. "Maafin gua muk!" hanya kata itu yang keluar.
"Maaf untuk apa? kalian kok jadi aneh begini."
"Jadi sebenarnya Ratna itu bukan hamil gara-gara kamu."
"Kok ibu bisa tahu Ratna hamil? Padahal aku belum pernah cerita sama ibu." potong Mukti yang terlihat semakin penasaran, dia menatap ke arah Karla tanpa melepaskan tatapan itu.
"Aku akan menceritakan yang sebenarnya, Tapi janji Kamu jangan marah ya!" ujar Karla sambil menundukkan pandangan, tak berani menatap ke arah Mukti.
"Iya ada apa?" tanya Mukti yang sudah tidak sabar.
"Sebenarnya janin yang ada dalam kandungan Ratna itu bukan anakmu. melainkan anak pak Arga. aku tahu itu, karena Ratna pernah meminta saran dengan masalah yang menimpanya. hingga akhirnya aku memberikan saran untuk mendekati orang yang mencintainya, namun Aku tidak tahu kejadiannya akan serumit ini. aku kira Ratna mau jujur tentang keadaannya yang sekarang, tapi ternyata dia sangat pintar mendalami perannya, sehingga kamu tak sadar dengan apa yang dia lakukan!" jawab Karla menjelaskan yang sebenarnya terjadi, antara bawahannya dengan mantan atasannya.
"Kok kamu tega sama aku? padahal aku tidak punya salah apa-apa sama kamu." tanya Mukti sambil menatap tajam ke arah Karla.
"Maafkan Aku Muk!" Jawab Karla sambil menundukkan kembali pandangannya.
"Jahat sekali! kalian benar-benar jahat! aku nggak nyangka punya sahabat seperti kalian. orang-orang yang tega menghianati sahabatnya sendiri!"
"Sabar! sabar Muk! ini bukan sepenuhnya kesalahan Karla. Ratna lah yang bersalah, dan kamu juga ikut bersalah.
"Apa kesalahan gua Sama Kalian?" tanya Mukti yang membalikan tatapannya ke arahku.
"Kenapa kamu tergoda sama Ratna?"
"Karena gua nggak tahu, kalau Ratna itu sudah hamil duluan."
__ADS_1
"Seorang laki-laki yang baik! tidak akan pernah meniduri seorang perempuan yang belum disahkan. itu salah kamu sendiri nggak bisa menjaga kehormatanmu. kita tujuannya baik, ingin membantu rekan kerja, keluar dari masalahnya. Lagian kamu juga suka kan sama Ratna?" jelasku memberi pengertian.
"Tapi kenapa harus gua yang jadi korban?"
"Ya karena kesalahan kamu sendiri tidak bisa menjaga nafsumu, Coba kalau kamu bisa menjaga Hawa nafsu, mungkin Ratna tidak memiliki celah untuk memaksamu, mengajakmu menikah. Lagian kamu pernah bilang kalau cinta tidak memandang kesalahan masa lampau, cinta akan memperbaiki kehidupan masa depan."
Mendengar penuturanku Mukti hanya menarik nafas dalam, kemudian dia menundukkan pandangan, seolah lagi mencerna semua apa yang aku ucapkan.
"Aku bingung! semakin bingung! gua harus gimana?"
"Temui Ratna! tanyakan kejadian yang sebenarnya seperti apa. nanti kamu baru bisa memutuskan keputusan apa yang akan kamu ambil." aku memberikan saran.
"Maafkan gue muk!' ujar Karla dengan raut wajah menyesal.
"kalian Memang benar-benar Jahat!" jawab Mukti sambil bangkit. kemudian tanpa berpamitan Dia pergi meninggalkan ruangan supervisor, aku dan Karla hanya mengantarnya dengan tatapan.
"Apa dia benar-benar marah ya?" tanya Karla sambil menatap ke arahku.
"Nggak! kelihatannya dia sangat bahagia. buktinya keluar tanpa berpamitan."
"Kok bisa bahagia, Emang bahagia karena apa?" tanya Karla yang tak paham dengan jawabanku.
"Karena kamu sudah jahat sama dia! mungkin orang baik harus selalu menerima kejahatan."
"Gua nanya serius!"
"Kamu kenapa sih, nggak bisa serius. Jadi gua harus gimana ya. gua bingung?" tanya Karla.
"Biarkan saja! nanti juga suatu saat solusinya akan keluar, kalau dia terus berusaha. buktinya Aku yang dulu, yang termenung, tersiksa, tertekan bisa bangkit, kalau sudah waktunya keluar, maka akan keluar. biarkan Mukti mendewasakan diri dengan apa yang dia jalani sekarang." jawabku memberikan pengertian.
"Sok bijak!" tanggapan menyebalkannya keluar.
"Aneh ya? Ngomong serius dianggap bercanda, ngomong bercanda dianggap serius." dengusku dengan kesal.
"Iya maaf! maaf! gue cuma bercanda. cari makan yuk! Gue laper nih." ajak Karla sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Traktir!"
"Bayar masing-masing aja sih! emang lu gak malu, kalau lu ditraktir terus sama gua." jawab Karla yang terus berjalan menuju ke arah luar, namun ketika dia sampai di pintu, dia termenung sesaat sambil menundukkan pandangan.
"Buruan Jalan! ngapain ngalangin pintu?" ujarku sambil mendorong tubuhnya agar segera melangkah. Karla yang sedang tertunduk tak menyangka akan mendapat dorongan seperti itu, sehingga tubuhnya oleng ke arah depan, menabrak seseorang yang hendak masuk.
"Arfaaaaan! kok kamu kasar?" bentak ibu yang baru datang.
"Maaf Bu, Maaf kita cuma bercanda." ujarku Yang merasa bersalah.
"Aduuuuuuuuh!" desis Karla yang terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa La?" Tanyaku sambil berjongkok hendak mengecek kondisinya.
"Makanya kalau bercanda itu jangan kelewatan!" bentak ibu yang ikut berjongkok.
"Sakit Bu! sakiiiiit!" adu Karla sama ibu, dengan wajah meringis.
"Bentar! bentar! kenapa kamu malah diam, cepat panggilkan ambulans." seru Ibu sambil menatap tajam ke arahku.
"Nggak usah Bu! Lagian aku nggak apa-apa! aku cuma keseleo dikit, paling." jawab Karla menolak kemudian Dia bangkit dari tempat terjatuhnya, aku yang hendak membantu dia duduk , dengan cepat tanganku di tepis oleh ibu.
"Kamu jangan kurang ajar!" bentak ibu.
"Maaf Bu! Maaf!" jawabku yang salah tingkah tak tahu harus berbuat apa.
"Kamu bisa berdiri?" tanya ibu sambil menatap khawatir sama Karla.
"Kayaknya bisa bu!" jawab Karla sambil perlahan bangkit berdiri, dibantu oleh ibu. aku hanya terdiam menganga menyaksikan hal yang membuatku merasa panik takut terjadi apa-apa.
"Ada yang sakit?" tanya ibu dengan penuh kekhawatiran.
"Alhamdulillah Bu! Nggak. cuman dengkul aja yang sakit, mungkin terbentur lantai."
"Coba Ibu cek!" ujar Ibu sambil hendak jongkok kembali.
Namun Karla dengan cepat menahan ibu. "nggak usah Bu! nggak, Nggak apa-apa kok." jawab Karla sambil tersenyum ke arahku. membuatku mengiringitkan dahi, tidak mengerti apa yang dimaksudnya.
"Nanti kamu kenapa-kenapa! biar kita cek kerumah sakit aja ya." kata ibu yang berdiri di hadapanku
"Nggak usah Bu! Oh iya Ibu mau menemui saya?" Tanya Karla mengalihkan pembicaraan.
"Yah! ibu kangen makan bareng sama kamu. Kita cari makan yuk!" ajak ibu.
"Kebetulan Karla barusan mau cari makan Bu!" jawabnya sambil tersenyum.
"Ya sudah, ayo! tapi kamu bisa jalan kan?"
"Bisa! Karla nggak apa-apa." ujarnya sambil menggerak-gerakan kaki menunjukkan bahwa tidak ada luka yang harus dikhawatirkan.
Setelah memastikan Karla baik-baik saja, Ibu pun berjalan mendahului diikuti oleh Karla. meninggalkanku yang masih menetap heran ke arah mereka, setelah beberapa langkah Karlapun melirik ke arahku, kemudian menyunggingkan senyum penuh arti, sambil melambai-lambaikan tangan.
"Aku nggak diajak Bu?" Tanyaku yang merasa kesal.
"Kerja yang benar! jangan makan melulu." jawab Ibu tanpa sedikitpun menoleh.
Aku terus memperhatikan mereka sampai menghilang dibelokkan koridor bangunan. setelah kepergian mereka aku hanya menarik nafas kesal, karena sudah di kerjai oleh Karla.
Kring! kring! kring!
__ADS_1
Tiba-tiba Handphone yang ada di dalam kantong Celanaku berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. aku segera mengambil handphone-ku, untuk mengecek Siapa yang menelepon.