
Pov Arfan
"Karlaaaaaaaaa!" terdengar suara Pak Umar yang memanggil anaknya dengan berteriak.
Aku yang kaget mendengar suara teriakan pak umar, dengan cepat aku pun bangkit, kemudian dengan perlahan berjalan keluar, sambil memegangi dinding rumah.
Terlihat ada beberapa orang yang sedang menggerumuni sesuatu, Aku tidak tahu mereka sedang apa.
"Ayo bawa ke rumah!" ujar Seorang warga memberi saran.
Terlihat beberapa orang yang mengangkat tubuh seorang wanita, karena terlihat rambutnya yang sangat panjang. namun aku belum bisa melihat jelas, Siapa yang mereka angkat, karena terhalang oleh beberapa warga yang melihat.
"Karla, kamu yang kuat, ya!" ujar Pak Umar dengan suara bergetar, seperti menahan rasa pilu yang begitu dalam.
Aku menggeserkan tempat berdiri ku, memberi jalan kepada orang-orang yang menggotong tubuh karla yang hendak memasuki rumah. wanita itu sangat menyedihkan, terlihat tak sadarkan diri. dengan cepat aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam rumah. Untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi kepada Karla.
Karla pun dibaringkan di atas karpet, yang biasa aku tempati. sekarang aku sudah bisa melihat wanita itu dengan begitu jelas, mukanya yang lebam, seperti orang yang habis dipukulin. Membuatnya semakin terlihat memprihatinkan.
"Pak Umar, ini Ada apa sebenarnya?" tanya Seorang warga.
"Kurang tahu, saya juga belum sempat bertanya, dianya keburu jatuh, dan pingsan." Jawab Pak Umar, sambil menatap nanar ke arah orang yang bertanya. Terlihat matanya yang mengembun seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
"Tong Ambil es di rumah, siapa tahu aja luka lebamnya bisa sembuh." ujar seorang ibu kepada anak kecil.
Anak kecil itu pun mengangguk, kemudian Ia berlari keluar. tak lama dia pun kembali, dengan membawa kantong es batu. kemudian diserahkan kepada ibu yang meminta tadi.
Dengan cepat ibu-ibu itu, mengambil es batu yang diberikan oleh anaknya. lalu ia pergi ke dapur, terdengar beberapa kali pukulan, Mungkin beliau sedang menghancurkan es yang beku. tak lama setelah itu, dia pun kembali sambil membawa mangkok yang berisi dengan air es.
"Kompres dulu aja, pak! biar luka lebamnya hilang." saran ibu itu, sambil memberikan es sama handuk kecil, yang tadi diambil dari balkon rumah.
Pak Umar pun mengangguk, kemudian ia mengikuti saran ibu itu, mengompres luka lebam, yang ada di muka anaknya.
"Sabar ya, nak! kamu pasti sembuh." ujar Pak Umar sembari menyimpan handuk basah di wajah Karla.
"Apa nggak sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja, pak?" tanya seorang bapak-bapak yang terlihat khawatir.
Pak Umar pun hanya terdiam, terlihat air mata yang sedari tadi tertahan, sekarang tumpah membasahi pipinya. karena mungkin seorang pria akan tangguh menghadapi semua cobaan yang menimpanya, tapi itu bukan terhadap anaknya.
"Ini saya ada uang sedikit, pakai dulu sajaa buat pengobatan Karla!" ujarnya sambil mengeluarkan uang pecahan Rp100.000.
__ADS_1
Yang lain pun mengikuti apa yang Bapak itu lakukan, mereka memberikan uang pegangannya, semampunya, seadanya. membuatku merasa sedih kenapa orang-orang seperti mereka, bisa sebaik itu. padahal jangankan untuk menolong orang lain, mungkin untuk menolong diri sendiri saja sudah susah.
"Terima kasih, Tapi saya bingung bagaimana nanti membayarnya!" ujar Pak Umar sambil menatap nanar ke arah orang-orang yang membantunya.
"Harta tidak penting, dan bisa dicari kembali. yang terpenting sekarang, adalah keselamatan Karla!" jawab seorang pria.
"Terima kasih, Semoga Allah membalas kebaikan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian!"
"Pardi! tolong carikan mobil angkot, untuk membawa karla ke rumah sakit!" ujar seorang bapak-bapak, menyuruh anak muda yang bernama Pardi.
Pria itu hanya mengangguk, kemudian ia keluar dari rumah. untuk melaksanakan perintah orang yang paling tua
"Ini kejadiannya seperti apa?" Tanya seorang pria yang mengulang kembali pertanyaannya.
"Kurang tahu, Pak! tadi Ketika saya membereskan hasil kerja hari ini, tiba-tiba karla terjatuh, saya nggak tahu kejadian sebenarnya Seperti apa, apa dia terluka di kantor, atau di jalan." jelas Pak Umar, yang masih tetap mengompres anaknya.
Tak lama Pardi yang ditugaskan untuk mencari angkutan umum, dia kembali untuk memberitahu, bahwa angkot sudah siap di depan gang.
Dengan bergotong-royong, para warga menggotong kembali tubuh karla yang terlihat sangat lemas, terlihat matanya mengeluarkan cairan bening, mungkin kejadian yang baru saja menimpanya itu sangat berat.
Aku hanya menatap kepergian rombongan orang itu, dengan perasaan yang begitu sedih. karena tidak bisa membalas kebaikannya. aku hanyalah sampah, yang benar-benar tidak berguna. namun yang membuatku penasaran, Pak Umar yang tadi menggotong anaknya, dia kembali menghampiriku.
"Bapak cuma mau nitip rumah sebentar, dan nanti buat makan siang, saya sudah titipkan sama ibu Narti. Maaf bapak tidak bisa menemani Arfan, tolong doakan agar tidak terjadi apa-apa sama putri saya." ujar Pak Umar. yang membuat mataku terbelalak kaget, karena dalam keadaan segenting ini, dia masih mengingat tentang keberadaanku.
Entah hati mereka terbuat dari apa, sehingga mereka memiliki rasa simpati yang begitu dalam. dan yang membuatku semakin iri, dengan warga Kampung sini. semua orang sangat baik, mereka saling tolong menolong dalam kesusahan.
Mendengar penuturannya, Aku hanya menganggukan kepala, bingung harus berkata apa lagi.
"Sudah jangan bersedih, nanti saya akan minta tolong sama Saiful untuk menemani Arfan. agar tidak merasa kesepian, Sekali lagi saya mohon maaf, tidak bisa menjamu Arfan dengan sepenuhnya." ujar Pak Umar.
"Saya yang harusnya minta maaf, saya hanya bisa merepotkan Bapak terus, Jangan pikirkan saya! pikirkan keselamatan anak bapak." jawabku
"Ya sudah! Bapak berangkat dulu, Sekali lagi, tolong doakan anak saya." ujar Pak Umar sambil mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman.
Dengan cepat aku mengambil uluran tangan itu, kemudian mencium tangan yang sudah mulai keriput, seperti yang biasa Karla lakukan.
Pak Umar pun berlari pergi meninggalkanku, untuk menyusul anaknya, yang sudah dibawa oleh para warga. aku hanya berdiri di dekat pintu, sambil menatap kepergiannya.
Aku hanya orang bod0h, yang tidak bisa mensyukuri hidup. mereka yang begitu kesusahan, masih bisa saling membantu dengan sesamanya. sedangkan aku, Jangankan membantu orang lain, membantu diriku saja untuk tetap berdiri dari segala cobaan, aku sangat rapuh. bahkan sempat dua kali, ingin mengakhiri hidup, tak kuat dengan cobaan yang menimpaku.
__ADS_1
Lama berdiri, akhirnya para warga yang tadi membantu memindahkan tubuh karla, mereka pun mulai datang kembali, kemudian mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, yang sempat tertunda, oleh kejadian yang menimpa keluarga Pak Umar, namun ada seorang ibu-ibu yang tadi mengambil air es di rumahnya, dia datang menghampiriku.
"Arfan ya!" tanyanya sambil tersenyum ramah.
"Iya saya Arfan Bu." jawabku.
"Saya Narti, tadi Pak Umar Sudah menitipkan Arfan kepada saya." ujarnya memperkenalkan diri,
"Iya Bu! terima kasih, maaf saya hanya bisa merepotkan." jawabku sambil duduk mengikuti Ibu Narti.
"Enggak! enggak merepotkan kok! kami semua di sini saling membantu, karena kami adalah keluarga besar." ujarnya
"Iya, saya salut, sama warga Kampung sini, Mereka sangat kompak Bu." Ujarku mengungkapkan kekaguman.
"Alhamdulillah! semua warga Kampung sini, semuanya orang-orang pada baik, meski ada beberapa orang yang tidak suka bergaul. Oh iya, ngomong-ngomong nak Arfan orang mana, dan kenapa bisa berada di sini?" tanya Bu Narti yang mulai kepo.
"Saya dari Jakarta Timur Bu! tepatnya Pulau Gebang, saya di sini, karena ditolong oleh karla anaknya Pak Umar Ketika saya hanyut terbawa aliran air sungai cimandiri." jawabku berbohong.
"Oh begitu ya, ceritanya! ya sudah, semoga Arfan cepat sembuh, Ya sudah! saya pamit dulu, sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang." pamitnya sambil berdiri, kemudian ia berlalu pergi meninggalkanku, yang masih terduduk menatap kepergiannya, sampai tak terlihat, menghilang ditelan oleh bangunan-bangunan rumah warga.
Aku hanya menarik napas dalam, kemudian bangkit dari tempat dudukku. untuk mengambil air wudhu dari balkon rumah, bersiap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Setelah selesai melaksanakan salat zuhur, aku pun mengangkat kedua tanganku, meminta ampunan dan mendoakan kesembuhan karla, Dan kesembuhanku.
"Assalamualaikum!" terdengar suara anak kecil yang mengucapkan salam dari arah luar.
"Waalaikumsalam!" jawabku sambil bangkit perlahan, kemudian mendekati arah pintu yang tak tertutup. terlihat ada anak kecil yang menenteng kantong plastik.
"Yah, Ada apa dek?" Tanyaku kepada anak laki-laki yang tadi mengambil air es batu.
"Ini ada titipan dari ibu!" ujarnya sambil menyerahkan kantong plastik yang dipegangnya.
"Apa ini, dek?" tanyaku sambil mengambil kantong itu.
"Nggak tahu, Pak! aku cuma disuruh mengantarkan plastik itu." ujar pria kecil itu menjelaskan.
"Ya sudah, tolong bilang terima kasih sama ibu!" ucapku sambil tersenyum.
Anak kecil itu tidak menjawab, kemudian ia membalikkan badan. lalu berlari Pergi Meninggalkanku, yang masih menatap bungkusan yang barusan Ia berikan.
__ADS_1
Aku berjalan dengan perlahan mendekati tempat tidurku, kemudian membuka plastik yang baru saja anak kecil itu berikan. terlihat di dalamnya ada nasi berlakukan tempe sama sambal. perlahan aku mulai mencicipi nasi itu. dan ternyata, ekspektasiku salah, aku kira makan sama tempe dan sambal tidak akan nikmat, tapi berbeda dengan masakan ibu Narti yang begitu luar biasa.