
Pov Ira
"Sejak kapan Pak Farid tidak masuk kantor?" tanya Pak Arfan mulai mengintrogasi bawahannya.
"Sepulang dari Bogor, sehabis menemui klien kita," jawab Kak Dali
"Berarti sudah tiga hari tidak masuk kerja? Saya khawatir takut terjadi apa-apa sama beliau. soalnya saya beberapa kali menghubungi tapi beliau tidak mengangkat. bahkan hp-nya terlihat tidak aktif," ujar Pak Arfan mengungkapkan keresahannya.
"Kamu Kapan terakhir bertemu dengan Pak Farid?" tanya Kak Dali sambil menatap ke arahku.
"Emang Bu Ira orang yang terakhir kali bertemu di antara kita?"
"Ya pak, soalnya saya khawatir ketika mereka memutuskan pulang, tidak jadi menginap di Bogor. sehingga saya menyuruh Pak Farid untuk mengantarkannya pulang dengan selamat sampai ke rumah. Karena waktu itu sudah sangat malam."
"Oh begitu, coba tolong kasih penjelasan Bu!" ujar Pak Arfan sambil menatap ke arahku yang duduk di sampingnya.
"Malam itu setelah mendapat perintah dari Kak Dali, Pak Farid pun mengantarkan Saya. bahkan saya sempat menemani membeli kue ulang tahun untuk istrinya. Sejak saat itu saya tidak pernah menghubungi dia, Begitupun sebaliknya." Jawabku menjelaskan yang aku alami.
"Kalau begitu, nanti sepulang dari kantor, tolong kalian cek ke rumahnya. kalau bisa ajak yang lain, karena mendengar penjelasan kamu kemarin. Saya takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dengan keluarga Pak Farid. karena kalau dia sedang pergi Mana mungkin ada mobil di rumahnya. dan saya yakin Pak Farid bukan orang yang tidak bertanggung jawab, ketika dia pergi atau pulang ke kampung halaman, pasti dia akan meminta izin terlebih dahulu." ujar Pak Arfan mulai memberikan komando.
"Baik Pak...! rencananya saya juga mau ke sana, tapi tadinya mau sekarang, karena kebetulan di kantor sedang tidak ada pekerjaan."
"Mendingan sore saja, biar kamu bisa ajak yang lain dan kalau kamu sudah mengecek Tolong secepatnya kabari saya." ujar Pak Arfan sambil bangkit dari tempat duduknya, setelah menyampaikan perintah dia pun berpamitan lalu pergi meninggalkan ruang kantor.
"Terus kita Bagaimana Pak?" tanyaku ambil menatap ke arah Kak Dali.
"Ya sudah kita lanjutkan pekerjaan saja. nanti sore aku kabarin!" lagi jawab Kak Dali kemudian dia pun mempersilahkanku untuk meninggalkan ruangannya.
Aku pun bangkit dari tempat duduk, kemudian meninggalkan ruangan Kak Dali. Sesampainya di ruanganku aku mulai terfokus kembali menyelesaikan tugas yang tadi diberikan olehnya.
"Dasar Pak Farid...! gara-gara kamu Aku harus mengerjakan tugas yang tidak ada hubungannya pekerjaanku," dengusku sambil terus menatap ke arah layar komputer.
__ADS_1
Lama bergelut dengan pekerjaan, akhirnya adzan Ashar pun terdengar berkumandang. hingga setelah 30 menit aku diberitahu oleh kak dalih untuk melaksanakan salat ashar terlebih dahulu, sebelum pergi ke rumah Pak Farid.
Setelah melaksanakan salat asar, aku dan kak Dali ditambah 2 satpam yang berjaga berangkat menuju ke rumah Pak Farid. suasana sore itu sangat cerah berbanding terbalik dengan suasana keadaan sekitar yang semrawut dengan kemacetan. yang harusnya jarak antara kantor Mandiri group dengan rumah Pak Farid ditempuh dengan 30 menit, namun ketika ada kemacetan 1 jam baru kita sampai di pintu gerbang.
Kak Dali meminta satpam untuk mengantarnya ke rumah pak RT, yang 2 hari lalu sempat mengintrogasi kita. dengan senang hati dan tanpa ada penolakan satpam pun mengantar sampai depan rumah.
"Eh ada Pak Dali, Ada apa Pak?" sambut Pak RT dengan penuh keramahan, dia pun mempersilahkan kami untuk duduk di ruang teras.
"Begini Pak, sebetulnya Saya dan Pak Farid beserta Pak Arfan adalah teman dekat. jadi ketika Pak Farid tidak masuk kantor tanpa memberitahu terlebih dahulu, Kami takut Sesuatu terjadi kepadanya." Ujar Kak Dali mulai menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Sebenarnya beberapa hari ini saya mendapat laporan dari warga yang berada dekat di rumah Pak Farid."
"Laporan apa Pak?" tanya Kak Dali yang terlihat antusias.
"Ketika berjalan di depan rumah Pak Gufron tercium bau aneh. setelah dicari di got dan di selokan kami tidak menemukan hal yang mencurigakan, karena bau itu tercium jelas tertiup oleh angin dari rumah Pak Gufron.
"Bau aneh seperti apa?"
"Mohon maaf Pak, seperti bau bangkai!" Jelas Pak RT dengan menurunkan intonasi suaranya.
Jantungku terasa berhenti, bulu kunduku mulai merinding. Teringat kembali kejadian-kejadian yang baru saja aku alami, mulai dari mimpi buruk dan keanehan-keanehan yang terjadi di rumahku. aku semakin khawatir dengan kondisi Bu Vina yang selalu hadir dalam mimpiku.
"Kok bisa seperti itu, mungkin bau dari bangkai tikus yang busuk di got!"
"Awalnya kami kira seperti itu, namun setelah dilakukan pengecekan tidak ada yang aneh di sekitaran got. Kami mencoba memasuki halaman namun tetap saja tidak ada. Tadinya kami memutuskan untuk masuk ke area dalam rumah Pak Gufron tapi kami tidak berani, takut dibilang tidak sopan."
"Sebenarnya saya juga mengalami hal yang aneh pak. bukan saya mau menceritakan tahayul, tapi ini benar-benar kejadian yang dialami oleh saya. dua malam terakhir saya diganggu oleh mimpi ketemu dengan istrinya pak Farid. namun mimpi itu sangat aneh, Karena mimpi itu hampir mirip seperti sedang memberikan petunjuk."
"Mimpi apa?" tanya pak RT yang terlihat mengurutkan dahi.
"Saya bermimpi ketemu dengan Bu Vina, tapi dalam mimpi itu berubah menjadi mimpi yang menyeramkan. di mana Bu Vina sedang menangis meminta bantuan dan menunjuk satu kamar di dalam rumahnya."
__ADS_1
"Aduh jangan ngada-ngada Pak...! saya jadi merinding nih!" Ujar Pak RT sambil mengusap kunduknya.
"Bagaimana kalau kita cek saja keadaan rumah Pak Farid, agar kita tidak semakin penasaran." ujar satpam kantor yang sejak dari tadi dia? menyimak.
"Ide bagus tuh, Tapi sebentar Saya akan meminta bantuan satpam yang berjaga di depan, agar semakin banyak orang semakin bisa mengantisipasi hal-hal terburuk yang akan menimpa kita."
"Ya sudah itu lebih baik Pak.!" jawab Kak Dali menyetujui apa yang disarankan oleh Pak RT.
Akhirnya pak RT pun masuk ke dalam rumah, Tak lama dia pun kembali sambil memegang handphone. setelah teleponnya terhubung dia pun memerintahkan satpam yang berjaga di depan komplek untuk menemuinya.
"Sebentar lagi mereka akan tiba ke sini," jawab Pak RT setelah memutus telepon.
"Ya Sudah kita tunggu saja, tapi maaf nih jadi mengganggu ketenangan Pak RT."
"Nggak apa-apa, ini sudah kewajiban saya untuk mengetahui semua anggota keluarganya."
Sambil menunggu, dari dalam rumah terlihat ada seorang wanita yang membawa keranjang berisi air minum. setelah menghidangkan jamuannya dia pun kembali ke dalam.
"Duh, gak usah repot-repot Pak RT!"
"Gak Repot kok cuma Air ini. namun maaf cemilannya lagi tidak ada hehehe," ujar Pak RT mengulum senyum
"Terima kasih banyak Pak. saya minum ya!" pinta Kak Dali sambil mengambil air kemasan yang ada di dalam keranjang, kemudian dia pun menusuk dengan sedotan lalu meminumnya
Melihat atasannya sudah mengambil air minum, para satpam yang ikut pun mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh atasannya. karena cuaca kota Jakarta yang lumayan panas, sehingga tenggorokan sangat harus dibasahi dengan air agar tidak dehidrasi.
Sambil menunggu satpam yang diseru datang. Mereka pun terlihat mengobrol ngalor ngidol. namun obrolan itu tidak jauh membahas tentang Keluarga Pak Farid yang beberapa hari ini tidak terlihat di depan umum.
Lama menunggu akhirnya satpam yang berjaga di depan komplek pun tiba, setelah dijelaskan maksud dan tujuannya Mereka pun mengangguk tanda mengerti.
Setelah merampungkan rencana, akhirnya kami semua berangkat menuju ke rumah Pak Farid. yang hanya terhalangi oleh beberapa rumah. karena ternyata rumah Pak RT dan rumah Pak Farid Lumayan dekat, sehingga tak lama kami pun sampai di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Jantungku mulai terasa berdegup, bulu konduku mulai berdiri. mengingat kembali ke kejadian-kejadian yang menimpaku. beruntung suasananya masih agak sore meski sebentar lagi azan maghrib berkumandang .namun suasana itu terasa mencekam. Padahal suasana di depan rumah Pak Farid ada taman untuk bermain, Tapi itu tidak bisa menyamarkan kengeriannya.
Orang-orang yang sedang menemani anaknya bermain di taman, melihat kedatangan ketua kompleknya, Mereka pun mulai menghampiri lalu bertanya. mungkin merasa heran kenapa banyak orang yang menyambangi rumah Pak Farid. setelah dijelaskan akhirnya mereka pun mengerti dan menyampaikan bahwa bau bangkai semakin jelas tercium dari arah rumah itu.