Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 85 Menikmati mangsaku


__ADS_3

Pov Erni


Mendapat Ari yang tidak memberikan jawaban, dengan inisiatif akupun menurunkan kemeja kerjaku.


"Kalau diurut harus pakai lotion Bu?" ujar Ari terdengar suaranya yang semakin berat.


"Bentar!" pintaku sambil melemparkan ke meja kerjaku ke atas sofa, kemudian mendekati nakas di mana Tasku disimpan, aku mengambil lotion yang selalu aku bawa. Lalu memberikannya kepada Ari.


Setelah memberikan lotion itu, aku membaringkan tubuh di atas ranjang, dengan posisi tengkurap. Agar ketika orang yang hendak mengurutku tidak merasa kesulitan.


"Maaf ya bu! kalau saya lancang." ujar Ari sambil menuangkan lotion ke atas punggungku.


"Iya nggak apa-apa Ri! Saya kan lagi sakit." jawabku, sebenarnya dalam hatiku bersorak-sorai gembira, karena pria yang selama ini mengganggu pikiranku, sekarang berada di belakang sambil menikmati punggungku yang putih.


Dengan lembut Ari mulai mengurut belikatku, awalnya seperti urutan pada umumnya, namun lama-lama urutan itu menjadi belaian lembut, yang memberikan sensasi Aneh ke dalam tubuhku. Sensasi yang baru pertama aku rasakan.


"Buka ya Bu! biar nggak ngeganggu Jalan urutnya!" ujar Ari yang semakin nampak berani.


"Iya buka aja!"


Mendapat persetujuanku tanpa bertanya lagi, dia pun melepaskan pengait pelindung dada dari belakang. kemudian dia membelai kembali belikatku dengan penuh kelembutan.


"Pinggangnya dong!" pintaku yang semakin menikmati pijatan itu.


Tak Ada Jawaban, hanya deru napas yang semakin memburu menghiasi telingaku, namun Walau begitu Ari tetap memijat Pinggangku dengan lembut.


"Terus ke bawah!" des4hku yang semakin menikmati sentuhan lembut yang diberikan olehnya.


Semakin lama hasrat kewanitaanku, Semakin menjadi. sehingga dengan cepat aku membalikkan tubuh, terlihat wajah Ari yang sudah merah padam, seperti sedang menahan hasrat yang ingin dikeluarkan.


Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu memeluk Ari menc1um bibir merah sedikit kehitaman miliknya. mendapat serangan seperti itu Ari yang awalnya membulatkan mata, mungkin merasa kaget mendapat perlakuan mendadak dengan apa yang aku lakukkan. namun lama-kelamaan dia pun membalas sentuhan lembut bibirku, hingga akhirnya pergulatan bibir tidak bisa terelakkan, hanya 3regan dan des4hanan yang menghiasi kedua bibir kita, napas yang saling menyapu memenuhi wajah masing-masing, membuat hasrat kita semakin terpanggil.


Semakin lama Ari pun semakin berani, dia mulai *****4* leher jenjang milikku, sambil memainkan benda yang menggantung di dada. aku terus menikmati setiap momen yang diberikan oleh bawahanku, sambil terus memegang kepalanya. Perlahan aku Arahkan kepala itu agar semakin turun ke arah bawah, di mana ada benda menyumbul di tubuhku. tak ada penolakan darinya, dia terus mengikuti kemauanku, memanjakanku, dengan begitu luar biasa.


"Gigit! gigiiiiiit!" Rancuku yang tertahan, tidak kuat menahan apa yang diberikan olehnya, sambil memegang benda yang masih terbungkus oleh cel4nanya.


"Buka ya!" pintaku sambil menatap sayu.


Ari hanya mengangguk, sebagai jawaban dari apa yang aku minta, dia mulai melepas ikat pinggang, kemudian menurunkan celana itu hingga melewati pah4nya. aku angkat kemeja yang menutupi benda yang selama ini aku bayangkan, benda yang membuatku selalu penasaran.

__ADS_1


"Kasihan banget kamu! burung kamu terperangkap di sini." ucapku sambil mengelus burung yang masih terlindungi, perlahan aku turunkan pelindung itu, hingga benda itu berdiri sangat tegak dan besar, lebih besar dan panjang daripada milik Farid dan Arfan. pantas saja dari tadi mataku tidak menamukam keanehan, karena Ari memakai cela4na seketa4t ini.


Aku mulai meremas benda itu, kemudian mendekatkannya ke bibir. Tanpa berpikir panjang aku memasukkan benda itu ke Mulutku, perlahan Aku maju mundurkan kepalaku. Ari hanya memejamkan mata sambil menggigit Bibir bawahnya, mungkin ini adalah pengalaman pertamanya, diperlakukan seperti ini. Dimuliakan sebagai pria yang sangat hebat.


"Maaf bu! maaf! saya mau pipis!" ujar Ari yang hendak mencabut benda miliknya dari Mulutku. namun aku tetap menahan benda itu agar tetap berada didalam.


Agrhhhhhhhh!


Keluh Ari setelah cairan kentalnya memenuhi rongga mulutku, namun yang membuatku membulatkan mata dengan tiba-tiba, dia mendorong tubuhku agar menjauh. terlihat wajahnya yang memerah, matanya yang menatap tajam, seolah memancarkan kebencian terhadap diriku.


"Kenapa Ibu, tega lakukan ini sama saya?"


"Kamu yang kenapa? Bukannya kamu yang mulai?" Jawabku yang berbaring setelah didorong olehnya, mataku membalas tatapan matanya dengan tatapan kepuasan.


"Ibu tega!" ujarnya sambil menundukkan tubuh, dengan benda masih mengacung, mungkin efek obat belum hilang.


"Kamu jangan curang! ayo ikuti yang saya tadi lakukan!" aku menantangnya sambil menyunggingkan satu sudut bibir.


"Maaf bu! saya harus pulang, saya harus kerja!" ujarnya yang bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia merapikan kembali pakaiannya.


"Silakan kamu pergi! tapi jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang. karena semua yang tadi kamu lakukan. Sudah saya rekam! itu cukup buat menjadikan bukti kelakuan Kurang ajar kamu." ucapanku membuatnya kembali menatap tajam ke arahku.


"Tega bagaimana, Bukannya tadi kamu menikmatinya sampai kamu berteriak kenikmatan seperti itu." Jawabku dengan agak meledek


"Maafkan saya! maafkan! tolong lepaskan saya!"


"Lah, kamu kayak disekap saja pintu keluarnya Kamu sudah tahu, silakan kalau mau pergi. tapi ingat ucapan saya.yang tadi!"


Setelah memakai pakaiannya dengan rapi, Ari mulai mendekati pintu keluar. "selangkah lagi kamu melaju, maka saya akan mengambil keputusan tegas. Kamu mungkin tidak apa-apa masuk ke dalam penjara! Tapi ingat ada dua wanita dalam hidupmu, yang membutuhkan kamu, yang menggantungkan hidup dengan kebebasanmu." aku mengancam dengan menyebut ibu dan adiknya, karena semenjak Aku mengagumi pria ini, aku terus mencari tahu tentang kehidupannya.


Dengan ancamanku seperti itu, Ari pun terdiam seketika. kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. "Tolong jangan apa-apa kan mereka!" Ujarnya tanpa menoleh ke arahku.


"Makanya! Sini buruan, mau dikasih nikmat kok nolak seperti itu. lagian kalau kamu berhasil memuaskan saya, nanti saya akan kasih hadiah buat kamu. Kamu mau apa? Mau mobil, mau rumah, mau apartemen, atau mau beasiswa untuk melanjutkan sekolah adikmu." dengan baik hati aku pun memberikan pilihan hadiah untuknya.


Dia hanya tertunduk, terlihat pundaknya yang menaik turun, seperti sedang menahan kesedihan yang begitu dalam.


"Buruan sini! nanti keburu hati saya berubah." Pintaku yang terus menikmati momen itu, semakin lama bermain dengannya, semakin besar hasrat yang tidak bisa aku jelaskan.


"Aku hitung sampai tiga. kalau kamu nggak sampai ke sini, aku tidak akan bernegosiasi lagi!"

__ADS_1


Ari pun mulai bangkit dari tempat duduknya, lalu membalikkan badan menatap ke arahku. perlahan kakinya mulai melangkah mendekatiku, seolah tersedot magnet yang ada dalam diriku.


Matanya yang memerah, cairan bening yang membasahi pipi, membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


"Apa yang harus saya lakukan?" ujar pria yang sudah berdiri di samping ranjangku, dengan suara yang sangat parau.


"Lakukan seperti apa yang tadi saya berbuat kepada kamu." seruku sambil tersenyum menggodanya, merasa di atas angin dengan apa yang sekarang aku dapatkan, aku bisa bermain lebih lama dengannya.


Tanpa ada pertanyaan lagi, dia pun mulai naik kembali ke atas ranjangku. kemudian dia mulai melepaskan rok yang menutupi tubuh area bawah. setelah rok itu terbuka, dia mulai menjulurkan lidah, menyentuh bagian paling sensitif yang ada di dalam tubuhku.


Aku yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya mampu meremas rambut kepala orang yang sedang berada di bawah. Mulutku tak berhenti bergumam, tak kuat menahan apa yang diberikan oleh Ari, meski dia masih amatiran, karena sesekali giginya memyetuh bagian sensitif itu, namun Hal itulah yang membuatku semakin menikmati sentuhannya.


"Is4p Ri! Is4p!" seruku


Arif pun tidak menjawab, karena mulutnya penuh dengan bagian sensitifku. namun belaian lidahnya sekarang menjai his4pan pelan, membuat Tubuhku menggelinjang tak kuat menahan, hingga akhirnya aku pun sampai kepada kenikmatan pertamaku.


Rasanya sangat begitu lega, pikiranku yang mumet, sekarang kembali mencair, karena rasa puas yang diberikan oleh pria itu.


"Sudah kan Bu?" tanyanya sambil berlinang air mata.


"Apanya yang sudah sayang?"


"Tugas saya bu?" jawabnya sambil menentukan pandangan, karena dia tidak mampu lagi membendung cairan bening yang memenuhi matanya.


"Hahaha. nggak semudah itu, Lagian kita belum sampai kepada intinya.


"Maksudnya bu.


"Sudah! kamu buka kembali cel4na kamu!" seruku yang tak ingin membuang waktu.


"Maaf Bu! saya tidak bisa."


"Buruan! apa kamu nggak sayang sama keluarga kamu?"


Dia tidak menjawab lagi, dia hanya senggukan menahan tangis yang memenuhi wajahnya. Seperti anak kecil yang ditinggalkan oleh orang tuanya. melihat wajah yang seperti itu, membuat hasratku kembali ke semula. aku bangkit dari tempat tidurku. lalu menarik tubuhnya, agar tidur terlentang. kemudian dengan perlahan aku mulai melepaskan semua penutup tubuhnya, tak ada perlawanan dari Ari, hanya deraian air mata sebagai ungkapan kebahagiaannya, karena mungkin dia baru pertama kali mendapat hadiah seperti ini, apalagi diberikan oleh seorang bosnya yang sangat baik hati.


"Jangan nangis dong sayang! kamu bahagia ya?: tanyaku sambil membelai rambutnya yang basah oleh keringat.


AriĀ  hanya memalingkan wajah ke arah berlawanan, namun dengan cepat aku menarik wajah, itu agar menatap ke arah wajahku.

__ADS_1


"Sudah! kamu jangan munafik sayang! kamu nikmatin saja! dan jangan khawatir kamu melakukan seperti ini. tidak gratis, aku akan membayar sesuai dengan apa yang kamu berikan."


__ADS_2