
Pov Farid
Hari-hari berikutnya, kedekatanku dengan Ira semakin terjalin. kita sering saling mengobrol banyak hal, apalagi Pak Dali sering mengajak kita berdua berdiskusi bersama untuk membahas terobosan-terobosan dalam pemasaran. hingga aku semakin paham bahwa Ira tidak semenyebalkan yang dibayangkan. Ira adalah gadis riang yang sangat nyambung ketika diajak berbicara.
Seperti hari itu, aku dan Ira dipanggil untuk bertemu dengan Dali. ntah apa yang hendak beliau bicarakan, sehingga memanggil kita berdua.
"Ada apa Ya?" tanyaku sama Ira ketika berjalan menuju ke ruangan Asisten Manager.
"Kurang tahu....., paling nggak jauh dari masalah pekerjaan," Jawab Ira.
"Iya juga sih, tapi perasaan Kenapa kita yang sering dipanggil?" ujarku mengungkapkan rasa heran.
"Ya, mungkin....., karena kita adalah karyawan yang terkompeten dari karyawan-karyawan yang lain, dan mungkin juga, perusahaan ingin menjadikan kita sebagai sapi perah," jawab Ira yang terlihat bercanda.
"Ibu, sadar nggak. setiap ada proyek baru, Maka Kitalah orang yang pertama ditawarkan Untuk menggarap proyek itu."
"Baguslah, kan lumayan bonusnya juga masuk ke gaji kita. Tapu harus kerja lembur bagai kuda," jawab Ira sambil mengulum senyum.
"Iya juga sih!" jawabku yang selalu mendapatkan bonus dari perusahaan, karena hasil kinerjaku yang membanggakan. Namun seiring sering aku mendapat prioritas, membuat para karyawan lain sangat iriĀ apalagi orang yang tahu latar belakangku, yang pernah menghianati Pak Arfan, mereka masih terus menghinaku meski tidak langsung.
Sesampainya di depan ruangan Asisten Manager, Ira pun mulai mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, masuk.....!" jawab Dali terdengar dari dalam.
Kita berdua saling menatap, kemudian aku mendorong pintu ruangan itu dengan perlahan. terlihatlah Dali sedang Duduk menatap ke arah datangnya aku dan Ira.
"Kakak! Eh, Bapak memanggil kita?" ujar Ira yang entah mengapa dia selalu berkata salah seperti itu, selalu memanggil atasannya dengan sebutan kakak.
Mendapat sapaan seperti itu, Dali hanya terlihat menatap kesal ke arah gadis yang berdiri di sampingku. namun dia menyembunyikannya dengan mengulum senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Benar, Silakan duduk....!" jawab Dali sambil meregangkan tangan mempersilahkan kita untuk duduk.
Sebelum duduk Aku dan Ira pun manggut memberi hormat kepada atasan kita. kemudian aku dan Ira duduk dengan tenang sambil menatap ke arah pria yang melipat tangan di depan wajahnya.
"Maaf ada apa ya Kak?, Eh, Pak!" ujar Ira yang salah lagi.
"Kamu kalau di luar kantor boleh menganggap saya Kakak kamu. tapi kalau di kantor kamu harus profesional, kamu harus memanggil saya bapak sama seperti karyawan pada umumnya," jawab Dali seolah menepis prasangka burukku.
"Maaf Pak, saya suka lupa," ujar Ira yang terlihat menghiasi bibir indahnya dengan senyum. Kemudian dia menundukkan pandangan seolah malu bertatap wajah dengan atasannya.
"Maksud saya mengundang kalian ke sini. karena ada proyek yang harus kita bahas, perusahaan Sampdoria biskuit Mereka ingin membuat cabang pabrik di daerah Banten. Mereka ingin mendengar apa tawaran terbaik buat mereka, ketika pembangunan pabrik itu kita yang menangani." Ujar Dali yang tak terus mempermasalahkan panggilan Ira kepadanya.
"Oh begitu, Terus apa yang harus kami lakukan?"
"Saya sedang menugaskan bagian arsitek perencanaan dan bagian-bagian lainnya untuk merancang pembangunan itu. Nanti kalian berdua saya tugaskan untuk mempresentasikannya. Saya yakin kalian bisa menangani proyek ini," ujar Dali memberikan arahan.
Tring! Tring! Tring!
"Saya boleh mengangkatnya Pak?" tanya Ira meminta izin sama Dali.
"Sudah saya bilang, kalau di kantor itu Matikan handphone. apa lagi kita sedang rapat seperti sekarang "
"Maaf Kak, ini ibu yang telepon," ujar Ira sambil menunjukkan layar handphonenya.
"Ya sudah, angkat....!" jawab Dali dengan Ketus.
Ira pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia keluar dari ruangan. aku dan Dali hanya saling menatap, terlihat Asisten manajer itu menggeleng-geleng kepala seolah tidak puas dengan apa yang Ira lakukan.
Kakak!!!
__ADS_1
Terdengar suara teriakan dari arah luar, membuat aku dan Dali dengan cepat bangkit dari tempat duduk, kemudian berlari menuju ke arah koridor. Kita berdua merasa kaget mendengar teriakan sehisteris begitu. sesampainya di koridor terlihat Ira sedang terduduk, sambil menangis dan memanggil-manggil kakaknya. handphonenya terjatuh agak jauh dari tempatnya, mungkin tadi terlempar.
"Ada apa....! Kenapa kamu berteriak?" tanya Dali dengan menaikkan intonasi suaranya, Mungkin dia merasa kesal karena dikagetkan
Mendapat pertanyaan dari atasannya, Ira tidak menjawab. Dia hanya menangis dengan begitu keras, membuat para karyawan lain berhamburan mendatangi, mungkin mereka juga merasa kaget dan merasa penasaran. Sehingga ruangan koridor itu menjadi penuh sesak. melihat kondisi yang semakin tidak kondusif, Dali pun mengangkat tubuh Ira kemudian menggandengnya masuk kembali ke ruangan kerjanya. sedangkan aku yang melihat handphone milik Ira yang terjatuh. dengan cepat aku mengambilnya. kemudian mengikuti Dali yang sudah masuk ke dalam.
Namun sebelum masuk pintu ruangan Asisten Manager pun terbuka kembali, membuatku terdiam. "kalian semua kembali bekerja...!" Seru Do dengan menaikkan intonasi suara, memecah para karyawan yang sedang riuh bertanya tanya Kenapa Ira seperti itu.
Mendapat perintah dari atasan yang terlihat serius. para karyawan yang sedang berkerumun mulai meninggalkan tempat di mana Ira tadi berteriak histeris, sambil saling bertanya-tanya kepada karyawan yang lainnya.
"Maaf Pak! Saya hanya mau menyerahkan handphone Bu Ira," ujarku sambil mengulurkan handphone yang masih aku pegang.
"Ayo masuk, bantu saya!" Pinta Dali tanpa menghiraukan handphone yang aku serahkan kemudian dia masuk kembali ke dalam ruangannya diikuti olehku. yang masih dipenuhi pertanyaan Kenapa Ira bisa seperti itu.
Sesampainya di dalam ruangan Terlihat Ira masih sungguhkan menangis, sambil terus meratapi kakaknya. ditanya kenapa, dia belum bisa menjawab. melihat kejadian seperti itu, aku dengan inisiatif mengambil air minum yang ada di ruangan Asisten Manager, kemudian memberikannya kepada Ira. "minum dulu biar kamu tenang!"
"Ira, kamu kenapa kayak anak kecil, pakai nangis segala?" Ujar Dali yang terlihat tidak peka.
Mendapat pertanyaan dari atasannya seperti itu, membuat mata Ira yang terlihat sembab, menatap tajam ke arah pria yang bertanya. Namun meski begitu dia tetap mendekatkan botol minum ke bibirnya.
Setelah beberapa kali teguhkan, terlihat Ira mulai tenang, hanya isakan tangis yang masih terdengar.
"Ada apa," tanya Dali dengan sedikit melembutkan intonasi suara.
"Kak Ari Kak....! Kak Ari...! beliau sudah tiada," jawab Ira kemudian tubuhnya terkulai dengan lemas, membuat kita berdua saling menatap, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tring! tring! tring!
Handphone Ira yang masih aku pegang, terdengar berbunyi kembali, setelah aku perhatikan ternyata yang menelepon itu bernama kontak ibu.
__ADS_1
"Ibunya menelpon lagi Pak?"
"Tolong angkat....! Dan tanyakan sebenarnya ini ada apa!" Pinta Dali sambil membenarkan posisi tubuh Ira yang masih tergeletak, menutup pahanya yang terbuka. Gadis cantik itu dibaringkan di atas lantai karena tidak ada matras ataupun kasur seperti di ruang-ruang pejabat.