
Pov Arfan
Mendapat pertanyaan seperti itu, pak Wardi hanya menggelengkan kepala. "Saya nggak ngambil, terus Kenapa harus bersembunyi seperti ini?" Tanyaku yang masih dipenuhi rasa heran.
"Semenjak perusahaan ini dipegang oleh ibu Erni, semua keinginannya adalah perintah. Kalaupun kita tidak bisa mengikuti perintahnya, maka kita akan dipecat. jadi Saya khawatir kalau bapak ditangkap oleh para satpam dan disekap olehnya. mohon maaf sebelumnya, bukannya saya menjelekkan orang ,namun begitulah kenyataannya?"
"Kok bisa seperti itu, terus kenapa harus takut kepada seorang perempuan?"
"Memang dia seorang perempuan, namun kekuasaannya, kekuatannya melebihi kita. bahkan ada salah satu karyawan yang baru saja resign, setelah diajak menemaninya bekerja. menurut selintingan kabar Bu Erni memperkosa pria itu!"
"Apaaaaaaa?" Tanyaku memastikan karena sangat rancu ketika ada pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang perempuan.
"Benar pak! kalau bapak ingin mengetahui lebih jelas, bapak bisa bertanya langsung ke mantan karyawan Bapak yang bernama Ari!"
Mendengar penjelasan pak Wardi aku hanya menarik nafas. seolah tidak percaya dengan apa yang aku dengar. "Terus sekarang Saya harus bagaimana?" aku bertanya kembali. aku harus cepat meninggalkan kantor Erni group, karena masih ada jadwal bertemu dengan calon karyawan perusahaan Baruku.
"Ikuti saya Pak!" Pinta Wardi sambil melanjutkan kembali perjalanan, menuruni tangga.
Aku pun mengangguk tanpa bertanya lagi, aku mulai mengikuti berjalan di belakangnya. sampai akhirnya kita tiba di salah satu pintu belakang, yang dulu aku buat agar memudahkan ketika ada barang yang masuk untuk disimpan ke gudang.
"Tunggu! Kalian jangan lari, dasar maliiiiing!" Bentak suara seorang wanita dari arah belakang.
"Lari pak!" seru Wardi setelah berhasil membuka pintu gudang.
Aku hanya terdiam, karena aku rasa, aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. namun dengan cepat pak Wardi mendorong tubuhku, agar segera keluar dari Area gudang kemudian dia menutup pintu itu dari dalam.
"Kurang ajar! kamu berani-berani berkhianat sama gua. Dasar Anjin9! Habisi dia!" terdengar suara Erni memerintah.
Bugh! bugh! bugh!
Terdengar suara pukulan yang menghantam tubuh dan rintihan pak Wardi yang terdengar sangat memilukan. membuatku sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.
"Lari pak! lariiiiiii!" seru suara Wardi yang tertahan.
pintu yang tadi ditutup oleh Wardi sekarang terdengar seperti ada yang mau membuka. Dan ketika aku melihat kearah samping gedung, sudah terlihat ada dua satpam yang menghampiriku. melihat situasi yang tidak memungkinkan, dengan cepat aku berlari menjauh dari gedung itu. beruntung gedung perusahaan Erni Group, memiliki dua arah sehingga aku bisa melarikan diri lewat belakang.
__ADS_1
"maliiiiiing! Maliing!" Teriak seorang satpam yang membuatku mempercepat pelarian, karena kalau aku sampai tertangkap masa, maka habislah riwayatku karena penuduhan banyak orang akan membuat diriku celaka.
Semakin cepat aku melarikan diri, semakin cepat pula para satpam itu mengejar. Bahkan ada beberapa orang yang ikut mengejarku, membuatku semakin panik. aku terus berlari menyusuri trotoar. namun ketika para satpam sedikit lagi berhasil mengejarku, tiba-tiba ada mobil yang berhenti, dengan cepat pintu mobil itu terbuka.
"Ayo masuk! buruaaaan!" seru suara seorang wanita.
Tanpa pikir panjang aku pun masuk ke dalam mobil itu, terlihat Vina sudah ada di sana. "jalan Pak!" seru wanita yang menyelamatkanku kepada sopir taksi.
Dengan cepat mobil itu pergi meninggalkan para satpam yang masih mengejar. "Kenapa Kakak tidak menurut? urusannya jadi berabe kan!" ujar Vina tiba-tiba menyalahkanku.
"Aku tidak mengerti, kenapa ini bisa terjadi, Tolong kasih penjelasan!"
"Bu Erni, barusan menghajar satpam yang membantu kakak sampai tak sadarkan diri. itu semua gara-gara kecerobohan kakak, yang tidak sabar."
"Serius?" Tanyaku sambil tersenyum, merasa lucu dengan apa yang baru saja aku alami, aku seperti berada di dalam dunia film.
"Apa kelihatan Saya lagi bercanda!" jawab Vina dengan wajah datar.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Kalau bapak pengen tahu jelasnya seperti apa, kakak Boleh tanya ke salah satu karyawan yang mungkin kakak kenal." Jawab Vina sambil menunjukkan foto yang ada di handphonenya, terlihat dalam foto itu ada Ari yang sedang digandeng oleh Erni.
"Maksudnya apa?" Tanyaku yang semakin tidak mengerti.
"Kakak bisa bertanya langsung kepadanya! mungkin kalau dia yang menyampaikan tentang kelakuan Bu Erni, Kakak akan percaya!" jelas Vina membuatku semakin bingung.
"Oke nanti saya akan cari tahu, Terima kasih udah menyelamatkan saya!'
"Sama-sama! mungkin saya hanya mengantar sampai di sini, Saya rasa para satpam itu tidak mungkin mengejar bapak lagi. saya harus cepat-cepat kembali ke kantor, agar bu Erni tidak curiga." ujar Vina terlihat raut wajahnya yang ketakutan.
"Sekali lagi terima kasih, maaf aku merepotkan."
"Iya, tadinya kalau kita bisa keluar dengan aman, Aku mau bercerita banyak tentang kelakuan Bu Erni sekarang. namun gara-gara kakak yang tidak sabar, rencana itu berubah. tolong kakak berhati-hati! Karena bukan tidak mungkin Bu Erni akan mengejar Kakak."
__ADS_1
Aku hanya mengagukan kepala, meski tidak percaya. namun aku menghormati orang yang menolongku.
"Tolong berhenti di depan Pak!" pinta Vina sama sopir taksi.
"Baik bu!" jawab supir taksi sambil memarkirkan Mobilnya di pinggir trotoar, dengan cepat aku pun keluar dari mobil itu. tanpa menunggu ucapan terima kasih. Vina langsung menyuruh Supir itu untuk kembali ke kantor Erni Group.
"Apa benar, dengan yang baru saja aku alami" ujarku yang masih merasa bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. "aku harus mencari tahu lebih lanjut! Kalau benar, apa yang dikatakan oleh Vina. aku harus bertanggung jawab dengan keselamatan pak Wardi."
"Tring! tring! tring!"
Ketika otaku bergelut mencari kebenaran, menerka-nerka Apa yang sebenarnya. tiba-tiba Teleponku berbunyi, dengan penasaran aku mengambil handphone itu, kemudian melihat Siapa yang menelpon.
"Halo Pak! Bapak masih ada di mana? para karyawan sudah mulai datang." tanya Dali.
"Sebentar saya sampai, saya lagi nunggu taksi!"
"Baik Pak! jangan membuat mereka menunggu."
"Terima kasih sudah mengingatkan!" Ucapku sambil memutus telepon itu, kemudian aku mengangkat tangan ketika melihat taksi yang lewat.
Sesampainya di restoran yang disiapkan oleh Dali, terlihat sebagian besar mantan karyawanku sudah hadir di sana. setelah menyapa satu persatu dari mereka. Aku mengajak dali mengobrol sebentar, untuk membicarakan sejauh mana persiapan pembuatan perusahaan baru, sambil menunggu para karyawan lainnya datang.
Setelah semua karyawan undangan datang, aku mulai menyampaikan visi misiku tentang rencana pembuatan perusahaan baru. mereka menyambut antusias dengan apa yang aku sampaikan. sehingga pukul 16.00 acara itu selesai. dengan keputusan kita akan mulai bekerja bulan depan.
Selesai acara rapat, para karyawan pun ada yang berpamitan pulang. Namun ada pula yang masih mengobrol dengan karyawan lainnya, mungkin mereka melepas rasa kangen, Setelah sekian lama tidak bertemu. sedangkan aku mengajak Dali untuk mengobrol terpisah.
"Saya tadi, sebelum berangkat ke sini, saya mengalami kejadian yang sangat aneh, dan tidak masuk akal." ceritaku mengawali pembicaraan.
"Kejadian aneh bagaimana, Pak?"
Aku mulai menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. mulai dari menemui Erni untuk membicarakan tentang gangguannya terhadap Karla. sampai akhirnya aku diselamatkan oleh Vina. "ini beneran nyata nggak sih dal?" Tanyaku sambil menatap ke arah asistenku.
Mendapat pertanyaanku seperti itu, Dali pun terdiam tidak langsung menjawab, Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.
"Bagaimana kalau kita menemui Ari? untuk lebih jelasnya!" ujar dali memberikan saran.
__ADS_1