Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 97 Curhat Mukti


__ADS_3

Pov Arfan


Bugh!


"Kenapa pakai mukul segala sih?" Tanyaku sambil meringis menahan Rasa ngilu di dada.


"Ya kenapa, Lo bilang puitis?"


"Emang salah kalau bilang puitis?"


"Nggak juga, tapi nggak usah bilang seperti itu."


"Jadi bagaimana, apa kamu benar-benar nggak mau sama Saipul?" Tanyaku kembali ke pokok permasalahan.


"Elu juga sudah tahu kan, jawabannya seperti apa. Jadi gua nggak perlu jawab!" ketus Karla sambil melanjutkan perjalanan.


"Kalau sama aku mau?" aku bertanya lagi sambil mengedipkan sebelah mata.


"Hah? Mana mungkin gua mau sama orang yang tak bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri."


"Tapi Ibuku sudah setuju loh!"


"Apaan sih! lu nggak jelas!" jawab Karla sambil mempercepat langkah agar segera menjauh.


Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya yang menjadi salah tingkah, padahal aku cuma bercanda.


"Karla, tunggu!" panggilku sambil mengejarnya. Namun orang yang dipanggil acuh tak memperdulikan.


Aku terus mengejar gadis aneh itu, sampai akhirnya tiba di kantor. Tanpa ada pembicaraan lagi, dia langsung masuk menuju ruangannya, sedangkan aku masuk ke gudang untuk mengambil alat-alat cleaning service. Tanpa berpikir panjang aku mulai bekerja seperti biasanya.


pukul 11.00, sebelum pulang aku beristirahat terlebih dahulu di ruang karyawan, terlihat Mukti yang menghampiri dengan wajah sedikit kusam.


"Kenapa muka mu? Cuci dulu sana!" Tanyaku sambil tersenyum.


"Gawat fan! gawat banget!" Jawabnya sambil menjatuhkan tubuh di sampingku, membuatku sedikit mengurutkan dahi, tidak paham dengan apa yang dibicarakan. "gawat pacar gua sekarang hamil! Padahal baru sekali gua melakukan gituan." Lanjut Mukti yang meremas kepalanya.


"Pacar hamil, Kenapa lo bingung seperti itu? bukannya itu adalah kemauan setiap orang yang menjalin hubungan." Tanyaku yang mulai sadar dengan apa yang menimpanya.

__ADS_1


"Iya sih! tapi ini Di Luar Batas kendaliku. Aku tidak ingin mempunyai anak di luar pernikahan, kasihan nanti kalau anaknya perempuan. Karena menurut keterangan yang aku dapat, Anak itu tidak bisa gua nikahkan."


"Emang iya tah seperti itu?"


"Iya, menurut keterangan yang gua dapat, anak yang lahir diluar nikah  secara biologis memang itu adalah anak kita, namun secara hukum itu bukan. jadi orang tua tidak berhak menikahkan anak itu."


"Terus masalahnya di mana?" Tanyaku sambil menatap ke arah pria polos ini.


"Makanya aku menemui kamu! Aku mau minta solusi, Aku harus bagaimana yah? aku bingung, aku malu sama keluargaku. Tapi kalau aku tidak tanggung jawab, aku juga tidak mau. kasiha,  masa iya pacarku menanggung malu sendirian." keluh Mukti yang menundukkan pandangan, menandakan masalah yang ia hadapi begitu berat. rasanya ingin jujur, bahwa janin yang ada di dalam kandungan pacarnya. itu bukan anaknya melainkan dia hanya tumbal.


"Sekarang Tentukan mana yang menurutmu baik! maka lakukanlah! karena apapun keputusan yang kamu pilih, kamu yang akan menjalaninya. Oh iya, kamu sudah mengecek kehamilan pacar kamu ke rumah sakit?" Aku mengalihkan pertanyaan agar dia tahu bahwa kehamilan pacarnya sudah lama.


"Baru Tadi pagi aku mengecek kesehatan pacarku ke rumah sakit. karena menurut pengakuan Ratna beberapa hari ini dia mual dan kepalanya pusing Terus. akhirnya Tadi pagi aku memutuskan untuk mengantar dia check up ke rumah sakit. namun alangkah kagetnya, ketika dokter yang mengecek Ratna mengatakan, bahwa pacarku tidak apa-apa. namun itu adalah gejala kehamilan, yang biasa dialami oleh para wanita hamil." terang Mukti.


"Lu nggak nanya usia kandungannya udah berapa minggu?"


"Udah, pacarku memasuki usia kehamilan 8 Minggu. Awalnya aku merasa heran, karena baru minggu kemarin aku berhubungan, tapi sudah jadi janin aja. Namun dokter Itu menjelaskan, bahwa usia kehamilan dihitung dari menstruasi pertama. jadi penyebutan usia kehamilan itu tidak ngaruh." jawab Mukti.


"Terus pacar kamu sekarang bagaimana?"


"Dia cuma menangis sedih, karena dia malu dengan keluarganya, dia memintaku untuk menggugurkan kandungannya, kalau aku tidak mau bertanggung jawab. aku bingung fan!"


"Ya bingungnya, yang tadi aku jelaskan, aku takut anakku perempuan."


"Ya nggak usah bingung-bingung! kalau kamu sayang, kalau kamu cinta, nikahilah perempuan itu! Jangan pikirkan yang belum tentu terjadi, pikirkanlah yang ada di hadapan mata."


"Terus bagaimana aku menjelaskan kepada kedua orang tuaku?"


"Ya jujur aja! nanti orang tua kamu juga akan mengerti, Kalau kamu jelaskan dengan detail. sekarang kamu bulatkan tekad, bahwa kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat. jangan ditunggu berlarut-larut, nanti bukan kamu saja yang malu, tapi semua keluarga kamu malu, Karena kamu menikah gara-gara hamil."


Mendengar penuturanku Mukti hanya menarik nafas dalam, kemudian menghempaskan tubuhnya ke dinding, membuatku merasa kasihan dengannya. di satu sisi aku ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi menimpanya. namun di sisi lain aku juga kasihan sama Ratna yang menjadi korban Pak Arga.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya Muk, Semoga kamu mendapat petunjuk terbaik untuk menentukan pilihan." ucapku sambil menepuk pundaknya memberikan sedikit energi positif agar bebannya sedikit berkurang.


Setelah berpamitan, aku bangkit dari tempat duduk kemudian merapikan bajuku yang sedikit kusut. Setelah dirasa rapih, aku memutuskan untuk menemui Karla terlebih dahulu, karena walau bagaimanapun dialah penyebab semuanya, dialah yang memberikan ide kepada Ratna, untuk menjadikan Mukti sebagai tumbal.


Truk! truk! Truk!

__ADS_1


Setelah aku berada di depan pintu ruangan supervisor aku mulai mengetuk-ngetuk pintu itu.


"Masuk!" seru Karla dari dalam ruangan.


Perlahan Aku mendorong pintu ruangan itu, terlihatlah Karla yang sedang duduk di kursi singgasananya, menatap ke arah pintu yang kubuka. "maaf mengganggu!" ucapku sambil manggut memberi hormat kepada atasan.


"Mau apa? Aku lagi sibuk!" katanya sambil membuang muka, setelah tahu akulah yang datang.


"Mukti!"


"Kenapa dengan Mukti? Apa lu mau bilang bahwa Mukti juga suka sama gua?" Tanya Karla kembali menatap ke arahku.


"Apa Kamu nggak ingat? kamu pernah menyuruhku untuk bertanya sama Mukti tentang perasaannya, ketika dia tahu bahwa wanita yang dia cintai sudah memiliki hasil dari hubungannya dengan pria lain."


"Terus?"


"Kamu gak nyuruh aku Duduk dulu? agar kita bisa berbicara panjang lebar!"


"Iya kalau mau duduk, duduk aja sih! formal amat!" Dengusnya seperti biasa menunjukkan wajah tidak ramah.


"Terima kasih atas kebaikan ibu supervisor." jawabku sambil mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah wanita aneh ini.


"Kebiasaan lu senyum-senyum, kayak ganteng aja!"


"Lah?" Jawabku sambil duduk di hadapannya.


"Sudah duduk! dan cerita ada apa dengan Mukti?"


"Sekarang dia sudah tahu kalau Ratna hamil, dia kebingungan dengan apa yang harus dia perbuat."


"Ketahuan Bagaimana, ketahuan Ratna hamil oleh pak Arga?" tanya Karla menatapku dengan penuh rasa penasaran


"Enggak! Ratna memang perempuan pinter dan licik! dia memanfaatkan keluguan Mukti, untuk mengajaknya begini." jelasku sambil menaruh tangan kiriku lalu ditindih dengan tangan kanan, kemudian tangan itu digerakkan tanpa melepasnya.


Prak!


"Aduh!" desisku setelah bolpoin yang dipegang oleh Karla melayang ke keningku. "apa-apaan sih Kamu, bisa nggak jangan main kasar seperti ini." gerutuku sambil mengusap-ngusap area yang terkena lemparan.

__ADS_1


"Ya kamu nggak harus meragain segala, bilang aja tidur bareng! gua juga udah dewasa kali! gua pasti ngerti!" dengus Karla sambil mendelik. Membuat wajahnya semakin terlihat lucu.


__ADS_2