
Pov Arfan
"Bisa nggak sih, kamu nggak ringan tangan seperti itu. Mending kalau tangan Kamu lembut." gerutuku yang memegangi bekas tepukannya, yang masih menyisakan rasa sakit.
"Kerja! kerja! kerja! ngapain Lu lagi kerja, malah teleponan?" selorohnya memasang muka sangar, menirukan gaya seorang bos.
"Mukanya jangan di gitu-gituin, apa?" ucapku sambil menahan senyum.
"Kenapa emang?" tanyanya sambil meng-kerlingkan mata ke arahku.
"Kamu semakin cantik, kalau mukanya seperti itu." Ledekku sambil mencubit dagunya.
Bugh!
Awwww!
"Sudah dibilang! jangan mukul-mukul, apa! Sakit tahu."
"Lu nya yang kurang ajar! nggak sopan sama perempuan seperti itu." ucapnya sambil membulatkan mata indahnya, mata yang bulat dengan pupil yang sedikit besar dan bersih.
"Ya lagian kamunya nggemesin! siapa sih cowok yang nggak gemas lihat kamu." Ujarku terus meledeknya, melihat raut wajahnya yang berubah, membuatku ingin terus mencandainya.
"Apaan sih! mendingan kita cari makan yuk, Nanti gua traktir." ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.
"Karla tunggu!"
"Ayo! kalau mau gratisan, ikutin gua."
"Eh kurang ajar! nawarin sih nawarin, tapi nggak gitu juga kali!" ujarku sambil berlari mengejarnya.
Dengan kejar-kejaran, Akhirnya kita berdua sudah berada di luar kantor. Entah mau ke mana wanita aneh ini, namun aku terus mengikutinya, dengan berjalan perlahan Mungkin dia merasa capek.
"Mau makan apa sih?" tanyaku setelah berada di luar kantor.
"Ikut aja sih! pejuang gratisan aja banyak nanya." ucapnya tanpa menghiraukanku.
"Kamu tuh menyebalkan banget sih jadi orang."
"Biarin" ujarnya sambil tetap berjalan menyusuri trotoar, Sampai akhirnya dia tiba di gerobak bakso.
"Seperti biasa Mbak?" tanya penjual itu, seperti orang yang sudah mengenal dekat.
__ADS_1
"Siap! Dua ya."
Penjual bakso itu pun hanya mengacungkan jempol, kemudian dia menyiapkan pesanan pelanggannya, setelah selesai pesanan itu dibuat, dia pun mengantarkan ke hadapan kita.
"Silakan! Tumben ke sini mengajak pacarnya." ledek Tukang Bakso.
"Nggak, dia bukan pacar saya." jawab Karla tanpa memperdulikan tukang bakso itu.
"Iya juga, nggak papa kali! Lagian Masnya tampan ini." tukang bakso itu kembali meledak Karla.
"Nih!" ujarnya sambil memberikan sedotan yang ada di wadah kotak.
"Buat apa?" tanya penjual bakso itu sambil menatap heran ke arah Karla.
"Lihatnya dari lobang sedotan itu, baru dia kelihatan tampan."
"Hahaha." Pedagang bakso itu pun tertawa Mungkin dia paham dengan apa yang dimaksud oleh wanita yang duduk di hadapanku. Kemudian dia pun Kembali ke tempat duduknya, tidak melanjutkan candaan itu.
"Kamu nggak pakai saus." Tanyaku yang melihat dia hanya menambahkan sambal bakso ke dalam mangkoknya.
"Enggak, kan Ini, sudah pakai sambal langsung. Kalau pakai saus nggak nendang.
"Jangan kebanyakan sambalnya. nanti perutmu panas!" ingatku yang merasa ngeri melihat air bakso milik Karla, yang warnanya udah merah dengan cabe.
Melihat orang yang diajak mengobrol Acuh seperti itu, aku pun mulai memasukkan bumbu pelengkap bakso. mulai dari saus, kecap, juga dan sambal, kemudian aku mengaduknya agar merata. aku mulai mencoba mencicipi bakso itu, setelah aku cicipi ternyata bakso itu sangat nikmat. Mungkin waktu panas seperti ini, adalah waktu yang cocok untuk menikmati bakso yang sedikit pedas.
"Kamu sudah mulai menyuruh Ratna, untuk mendekati Mukti?" Tanyaku setelah menghabiskan bakso di dalam mangkok.
Karla tidak langsung menjawab, pipinya yang terlihat merah padam, dengan keringat yang keluar membasahi seluruh wajahnya. dia mengambil minum terlebih dahulu, sebelum dia memberikan jawaban.
"Makanya jangan kebanyakan makan sambel, kamu sendiri kan yang susah?"
"Mantap!" ujarnya sambil mengangkat kedua ibu jarinya.
Melihatnya seperti itu, Aku pun mengambil tisu. lalu mendekatkan ke arah wajahnya. mendapat perlakuanku yang tiba-tiba, dengan cepat dia menahan pergelangan tanganku.
"Mau ngapain lu?"
"Itu ada yang keluar dari hidung kamu, Emang kamu nggak jijik, tah?" ujarku sambil meneruskan tanganku, mengusap hidungnya yang mengeluarkan cairan bening.
"Pantes! tadi ketika gua makan bakso, kirain apa, ada yang asin-asin gitu. ternyata ini." ujarnya yang tak sedikitpun merasa malu, dia malah mengambil tisu yang dipegang oleh tanganku, kemudian mendorong ingusnya agar keluar.
__ADS_1
"Kamu jadi wanita Jorok amat, sih!" Ujarku. tiba-tiba ludahku terasa menjadi banyak, merasa mual membayangkan apa yang diucapkannya.
"Lagian kamu yang mulai, nikmatin aja!" ujarnya tanpa dosa, kemudian dia memasukkan tisu bekas ingus, ke dalam mangkok bekas makannya.
"Ya Allah! kamu Jorok amat!" perutku terasa diaduk, rasa bakso yang menempel di lidah, seolah tercampur dengan ingus yang baru saja disimpan Karla ke dalam mangkok.
Merasa tidak kuat dengan apa yang hendak keluar dari perutku. dengan cepat aku merogoh saku celana. kemudian mengeluarkan uang berwarna merah satu lembar, lalu pergi berlari menuju ke arah kantor, meninggalkan karla yang masih tertawa.
Setelah sampai di kantor, dengan cepat Aku berlari ke arah toilet. Untuk membuang semua isi dalam perutku melalui mulut.
"Si4l banget, gua hari ini." gumamku Setelah semua isi dalam perutku keluar, kemudian menyiram yang keluar dari mulut itu, dengan air closet.
"Bu Sinta tenang aja! semuanya sudah saya urus. karena pemimpin perusahaan ini, sudah sepenuhnya percaya dengan saya ,untuk mengurus Project Bu Sinta." terdengar suara seorang laki-laki yang mengobrol di ruangan toilet, sehingga aku yang tadinya mau keluar, menahan diri karena ingin tahu apa yang dia bicarakan.
"Baik bu! saya akan urus secepatnya. ini tinggal menunggu persetujuan dari Presiden perusahaan."
"Iya! tapi Ibu jangan lupa dengan bagian saya."
"Baik, terima kasih."
Obrolan orang yang menelpon itu, namun sayang aku tidak bisa mendengar orang yang meneleponnya. Tak terdengar lagi ada pembicaraan hanya suara air yang mengalir, Sepertinya orang itu sedang mencuci muka. setelah suara air itu terhenti, terdengar suara pintu toilet yang tertutup.
Perlahan aku keluar dari kamar kecil, lalu memperhatikan keadaan sekitar. setelah dirasa aman, aku mencuci mukaku, menyegarkan kembali wajahku, setelah mengeluarkan bakso yang baru saja aku makan.
"Sial4n banget! Emang wanita aneh itu! bisa-bisanya dia sejorok itu." ujarku yang menahan wajah, karena rasa mual mulai mengaduk kembali perutku.
Aku pun kembali masuk ke dalam toilet, lalu memuntahkan sisa-sisa isi didalam perutku. setelah rasa mual itu sedikit mereda, aku keluar dari toilet, langsung mencari keberadaan Mukti. Namun sayang setelah aku mencari, ternyata Mukti hari ini dia giliran bekerja setengah hari. Aku tidak putus harapan aku keluar dari kantor atri group untuk mencari obat mual.
Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan kios kecil yang berada di trotoar. Tanpa pikir panjang aku pun membeli benda berasap, untuk menghilangkan rasa mual yang tak kunjung hilang.
Lama berusaha, akhirnya rasa mual ku sedikit menghilang. setelah rasa yang menyiksa itu hilang, aku kembali ke kantorku, untuk kembali meneruskan pekerjaan.
sesampainya di lobby kantor, terlihat ibu yang baru datang memasuki kantor. dengan cepat aku pun menghampirinya.
"Ada apa?" tanya ibu sambil menatap ke arahku.
"Ibu kenal dengan namanya Ibu Sinta?" tanyaku langsung ke inti permasalahan, karena tidak ada waktu untuk berbasa-basi.
"Kenal! Sekarang dia sedang menawarkan Project, Tentang investasi perusahaan yang dia kelola."
"Cek kembali orang-orang kantor Ibu, yang menangani proyek itu. karena tadi Arfan mendengar ada seseorang yang menjadi penyakit di tubuh perusahaan ibu."
__ADS_1
"Siapa?"
"Arfan yakin ibu lebih tahu daripada Arfan!" ujarku sambil berlalu pergi, tak mau berlama-lama mengobrol dengannya, karena takut mengundang kecurigaan.