
Pov Aisyah
Pukul 11.30. setelah selesai mengadakan rapat dengan staf-stafku di kantor. aku memutuskan untuk makan siang dan melaksanakan ibadah terlebih dahulu. karena nanti jam 02.00 siang, aku ada acara untuk mengisi seminar tentang sukses di masa tua.
Sambil menunggu pesanan datang. aku mengambil handphone-ku yang ada di dalam tas, kemudian menekan nomor telepon yang ada di dalamnya.
"Halo! Iya ada apa, Bu?" tanya mbok Iyem Setelah telepon itu tersambung.
"Arfan sudah dikasih makan, belum, mbok?" Tanyaku yang selalu mengkhawatirkan keberadaan anakku.
"Sudah, Bu! Baru saja saya antarkan ke kamarnya."
"Terus anak saya lagi ngapain?"
"Tidur, Bu."
"ya sudah, kalau seperti itu. Terima kasih! Biarkan saja nanti juga kalau dia lapar pasti akan makan." ucapku yang merasa lega setelah mengetahui keberadaan anakku, Kemudian Aku pun memutus telepon itu.
Setelah selesai makan siang. ku menuju ke mushola kantor, untuk mengikuti shalat berjamaah bersama karyawan-karyawan lainnya. selesai melaksanakan salat zuhur, Aku diantar sopirku menuju tempat seminar.
Pukul 16.30. akhirnya aku sudah sampai kembali ke rumahku. dengan cepat aku pergi ke dapur untuk menyuruh Mbok Yem Menyiapkan makanan untuk Arfan. sebelumnya membersihkan tubuhku terlebih dahulu, biar nanti ketika aku selesai mandi, aku tinggal naik ke lantai atas. Untuk menyuapi anakku seperti yang biasa aku lakukan.
Setelah selesai membersihkan tubuh, aku pun mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh mbok iyem. kemudian naik menapaki anak tangga, untuk naik ke lantai dua rumahku. tak lupa mengambil senter yang sudah aku siapkan dengan cadangan Yang begitu banyak. takut senter yang semalam sudah dibanting oleh Arfan.
Seperti biasa, sebelum aku masuk aku akan mengucapkan salam terlebih dahulu. kemudian mendorong pintu kamar Arfan. terlihat di samping pintu, ada nampan yang berisi makanan, lengkap dengan buah-buahan. namun setelah aku perhatikan, makanan itu tetap utuh, tidak ada yang berubah sama sekali, karena walau bagaimanapun Arfan menolak berkomunikasi dengan orang lain, namun dia akan tetap mengisi perutnya.
Perlahan aku langkahkan kakiku, dengan hati-hati. takut menginjak serpihan kaca, mendekati ranjang. di mana Arfan sedang tertidur dengan menggunakan selimut.
"Bangun, Fan! sudah sore. Ayo makan dulu, kamu baru makan sarapan hari ini." seruku membangunkannya.
Seperti biasa Arfan tidak akan merespon, tidak akan menggerakkan tubuhnya untuk bangun. seolah tidak peduli dengan kehadiran ibunya. Aku pun dengan sabar menunggu anakku bangun. Berharap dia merespon seruanku tanpa harus menariknya.
"Ayo bangun!" seruku kembali sambil terus memindai tubuh anakku yang tertutup selimut.
Melihat tidak ada respon, kuperhatikan tubuh anakku yang tak bergerak sama sekali. membuat jantungku sedikit bergejolak, takut dia melakukan hal yang nekat seperti dulu.
__ADS_1
Setelah beberapa kali aku membangunkannya, Dengan cara memanggil manggil namanya. namun Arfan tidak merespon sama sekali. dengan penasaran aku pun menarik selimut yang menutup tubuh anakku.
Deg!
Jantungku terhenti seketika, setelah aku tidak melihat Arfan berada di balik selimut itu, dengan panik Aku menarik seluruh selimut yang menutupi bantal dan guling. mencari keberadaan anakku. setelah aku tidak menemukan aku terus menyusuri setiap sudut kamar. Mulai dari kamar mandi, balkon, lemari, semua itu tidak ada yang terlewat dari pantauan.
"Arfan! Arfaaaaaaan!" Teriakku sambil terus mencari ke seluruh ruangan, yang ada di lantai dua.
aku terus berteriak memanggil-manggil nama anakku, sehingga membuat rumahku menjadi riuh. Tak lama Mbok iyem menghampiri, nafasnya yang terengah-engah mungkin dia berlari saat menaiki tangga.
"Arfan! Arfan, hilang mbok!" ucapku sambil terus mencari tanpa memperdulikan orang yang baru datang.
"Hilang ke mana?" tanya Mbok iyem yang terlihat bod0h, Mungkin dia juga merasa panik dengan hilangnya anakku. karena kalau kita tahu itu namanya bukan hilang
"Jangan banyak tanya! cepat cari bantu! di semua ruangan." seruku.
Tanpa ada pertanyaan lagi, dengan Sigap Mbok Iyem membantu mencari keberadaan Arfan, menyisir setiap sudut ruangan yang ada di lantai dua.
"Arfaaaaaaaaaan! Arfaaaaaaaaaan!
Kita berdua mencari sambil terus memanggil-manggil namanya, sehingga membuat ruangan lantai dua menjadi sedikit gaduh. terdengar suara deru langka yang berlari menapaki anak tangga. dengan rasa bahagia aku pun berlari menuju arah tangga itu, berharap Arfan yang datang.
"Ada apa, Bu?" tanya Arman yang diikuti oleh Pak Andi di belakangnya. Membuatku sedikit menarik nafas dalam karena Harapan Tak Seindah kenyataan.
"Kamu melihat Arfan?"
"Saya dari tadi siang berjaga, Saya tidak melihat siapa-siapa Bu." jelas Arman.
"Ya sudah! sekarang kamu tolong blokir akses keluar dari rumah, takut anakku keluar dari rumah ini. Habis itu kamu bantu kita mencari Di mana keberadaan Arfan. Dan kalau bisa kamu minta bantuan sama satpam yang berjaga di depan." seruku sama satpam yang baru datang.
Setelah mendapat perintah, Arman pun kembali berlari menuruni anak tangga, untuk menjalankan semua perintahku. Sedangkan Pak Andi membantu aku dan mbok iyem mencari keberadaan Arfan. Namun setelah lama mencari keberadaan Arfan di lantai lantai dua. Kami bertiga tidak menemukan siapa-siapa di sana. setelah merasa yakin bahwa anakku tidak ada di lantai itu, aku ditemani kedua asisten Rumah tanggaku, mulai turun mencari di lantai pertama.
Aku terus mencari di setiap sudut rumahku, yang mungkin bisa dijadikan untuk tempat persembunyian. tak lama setelah itu Arman yang diikuti oleh kedua satpam komplek datang menghampiri.
"Cepat kalian cari di sekitar halaman, Nanti kalau sudah gelap akan semakin susah untuk menemukannya." seruku membagi tugas agar bisa cepat menemukan orang yang kita cari.
__ADS_1
Aku yang tidak pernah Mengunci pintu kamar anakku, sekarang aku mulai menyesal kenapa aku bisa seteledor itu. Aku yang tak mau menganggap Arfan orang yang tidak waras. dia hanya merasa sedih setelah dua penghianat menghancurkan hidupnya, Arfan hanya butuh penyemangat untuk hidup kembali. sehingga aku beranggapan Mengunci pintu kamarnya, adalah hal yang salah, yang tidak manusiawi. namun baru sekarang aku menyadari kesalahan itu.
"Bagaimana?" tanyaku sama Pak Andi, yang aku tugaskan mencari di area dapur.
"Nggak ada, bu."
"Ya sudah! Ulangi lagi pencarian dengan teliti, Jangan sampai ada tempat yang terlewat." seruku sambil berteriak. rasa kesal memenuhi jiwa Karena memiliki anak buah yang tidak berguna.
Aku menuju arah halaman samping, terlihat Arman yang ditemani oleh kedua satpam Komplek. mereka juga sedang mencari di setiap area yang mungkin bisa dijadikan tempat bersembunyi oleh Arfan. Aku bertanya sama mereka, namun jawabannya tetap sama. mereka tidak menemukan Arfan anakku.
Pencarian anakku terhenti, setelah adzan Maghrib berkumandang. kami berenam berkumpul di teras rumah. Untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Bagaimana?" Tanyaku sambil membagi tatapan ke semua orang yang berada di hadapanku.
"Nggak ada, bu! saya sudah menyusuri semua area samping rumah, bahkan sampai ke dalam kolam ikan, kolam renang. semua saya cari tak ada yang terlewat." jawab Arman terlihat celananya yang basah seperti baru nyebur dari air.
"Di rumah juga nggak ada, bu! kita sudah menyisir sampai tiga kali. namun Pak Arfan tidak ditemukan." Tambah Pak Andi menyampaikan laporannya.
Aku pun menarik napas dalam, merasa bingung harus mencari Arfan ke mana lagi.
"Ibu sudah melihat rekaman CCTV?" Tanya satpam komplek yang sejak tadi diam menyimak.
Mendengar saran seperti itu, dengan cepat aku pun bangkit diikuti oleh kelima orang yang membantuku mencari keberadaan Arfan. menuju ruang monitor CCTV, pikiran yang begitu kalut dan begitu panik, sehingga tidak terpikirkan untuk mencari tahu lewat rekaman video itu.
Setelah berada di ruang kontrol CCTV. dengan cepat Arman pun mengoperasikan untuk memutar kembali tayangan video yang ditampilkan.
Terlihat jelas di rekaman CCTV itu. menunjukkan ketika Arfan yang sedang berdiri sambil menatap pintu Rooftop yang terkunci. Lama berdiri Arfan pun masuk kembali ke kamarnya, namun tak lama setelah itu, ia keluar sambil mengendap-ngendap menuruni anak tangga.
Setelah berada di lantai dasar, terlihat dia seperti orang yang mengintip keadaan di luar rumah. dan terlihat pula Arman yang pergi meninggalkan posnya, dengan kesempatan itu Arfan keluar dari pintu gerbang, tanpa ada yang mengetahui kepergianya.
"Maafkan saya, bu! saya lalai." ucap Arman sambil menundukkan pandangan.
"Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan, kalian jangan tanggung untuk menolong saya. sekarang Tolong bantu cari keberadaan anakku, dan buat kalian berdua tolong cek CCTV yang ada di komplek kita. agar mudah mencari keberadaan Arfan." jawabku, karena ini semua terjadi Bukan murni kesalahan Arman. ada kesalahanku juga yang lalai tidak pernah Mengunci pintu kamar anakku, yang sedang depresi berat.
Setelah membagi tugas kita pun mulai berpencar untuk mencari keberadaan anakku. namun terlebih dahulu aku menyempatkan melaksanakan kewajibanku, sebagai umat muslim, diakhiri dengan doa untuk keselamatan anakku.
__ADS_1