
Pov Erni
Setelah selesai teleponan sama bapak. aku pun melanjutkan kembali menonton film drama kesukaanku, lewat tablet yang sempat tertunda.
Pukul 20.30, Akhirnya film itu pun selesai, aku pun menutup layar tablet, lalu mengembalikan ke atas meja kerja. kemudian mengambil handphone-ku, yang sejak dari tadi aku carger di atas nakas. aku membuka aplikasi pesan Siapa tahu saja ada hal yang penting di dalamnya.
Setelah aku membuka, terlihat ada pesan dari Farid yang menanyakan kabarku. semenjak suamiku menghilang, Farid selalu perhatian terhadapku, mungkin dia sekarang lebih leluasa untuk mengirimkan pesan-pesan cinta, Melalui aplikasi tanpa takut ketahuan oleh suamiku.
Aku membalas pesannya, namun tak lama setelah itu, Farid menelepon. dengan cepat aku menggeser tombol hijau ke arah atas, untuk mengangkat teleponnya.
"Halo!"
"Halo! kebetulan kamu nelepon." ucapku mengawali pembicaraan.
"Kebetulan bagaimana?" tanya suara Farid, yang terdengar sedikit penasaran.
"Suamiku sudah mulai menggugat cerai, aku sudah mendapat surat panggilan dari pengadilan agama." aku mulai bercerita.
"Kok, Bisa! Terus sekarang suamimu di mana?" tanya Farid yang terdengar kaget.
"Nggak tahu, aku sudah menghubunginya. namun nomorku tetap diblok oleh suami, dan handphonenya belum pernah aktif sama sekali, semenjak kejadian waktu itu. Oh iya, kamu bagaimana, sudah ada titik terang tentang keberadaan suamiku?" aku bercerita diakhiri dengan pertanyaan.
"Belum, lagian kan, baru tadi. jadi belum ada kabar sama sekali, kamu sabar aja, lagian sudah jelaskan dia mau menceraikan kamu. Kenapa kamu masih memperdulikannya? apa jangan-jangan kamu masih sayang sama suamimu itu?"
"Iya sih, memang benar Arfan mau menceraikanku. tapi aku masih penasaran dengan ke kondisinya sekarang, karena menurut kabar terakhir dia dirawat di ICU. dan kamu harus ingat, walau bagaimanapun Arfan adalah sahabat kita!" Aku mengingatkan tentang tali persaudaraan yang sudah lama terjalin.
"Sudahlah! kamu Fokus aja sama orang yang sayang sama kamu! jangan pikirin orang lain." ucap Farid seolah tidak suka ketika aku terus membahas Arfan.
"Maaf, bukan begitu! namun aku hanya Ingin tahu saja kondisinya sekarang bagaimana, dan walau Bagaimanapun kita masih tetap sahabatnya. Ingat! kita selalu peduli ketika ada salah seorang dari kita yang mendapat masalah." ucapku masih mengingatkan.
"Ya sudah! Itu terserah kamu. terus sekarang kamu mau bagaimana ke depannya?" Terdengar Farid pun mengalah, sehingga dia mengalihkan pembicaraan.
"Tolong hubungi kembali Pak dasa, untuk mengurus persidanganku."
"Itu masalah gampang, yang penting! sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran, kamu fokus saja urusin perusahaan kamu! kalaupun Arfan menceraikan kamu, aku masih selalu ada di sampingmu, yang setia menunggu sampai momen ini tiba." ucap Farid yang terdengar sadis, seolah mensyukuri musibah yang menimpa keluarga sahabatnya.
"Iya, Rid! Terima kasih atas semua kebaikan kamu!" ucapku walau sebenarnya sangat sedih, Ketika Harus mendengar ucapannya.
__ADS_1
Akhirnya kita pun mengobrol, Menghabiskan malam. sambil menunggu kantuk menjemput. sampai-sampai tak terasa kita pun tertidur tanpa mematikan telepon terlebih dahulu.
******
Keesokan paginya. Seperti biasa aku pun sudah berada di kantor, menghadapi setumpuk berkas di hadapanku, yang harus aku pelajari dan kerjakan.
Truk! truk! truk! truk!
Pintu ruangan kerjaku ada yang mengetuk dari luar, setelah aku mempersilahkan. masuklah seorang pria Berkulit kecoklatan, dengan perawakan tinggi standar dan volume tubuh yang tidak terlalu bulky. menunjukan sedikit otot pada bagian tangan karena memakai baju kemeja kotak-kotak Coklat bertangan pendek. wajahnya yang dihiasi dengan Brewok tipis, sehingga terlihat manis ketika dia tersenyum menyapaku, sedikit membuat Jantungku berdesir.
"Maaf Bu, mengganggu!" ucapnya mengagetkanku yang sedang mengamatinya dengan teliti.
"Oh iya, nggak apa-apa! Maaf kita sebelumnya belum berkenalan." ucapku yang sedikit terkaget, namun aku sembunyikan dengan mengulum senyum membalas senyuman manisnya.
"Maaf! saya Ari, Bu. dari divisi perencanaan, di bawah naungan Pak Komarudin, saya menemui ibu, mau menyampaikan hasil desain perencanaan pembangunan tempat wisata yang di luar kota itu, untuk jadi pertimbangan kedepannya. barangkali ada yang mau direvisi!" ucap pria berbadan atletis itu, mungkin umurnya masih muda. namun aku yakin dia rajin olahraga, sehingga badannya terbentuk sekekar itu.
Aku hanya menatap ke arahnya, tak merasa bosan memandangi wajah lucu pria yang ada di hadapanku. sehingga aku tidak menyimak dengan apa yang dia sampaikan.
"Bagaimana Bu, Maaf berkasnya simpan di mana?" tanya Ari sambil menatap heran ke arahku, karena lama berdiri, ia tak kunjung mendapat jawaban.
"Taruh sini saja!" ucapku yang sedikit tergagap sambil menunjuk kearah samping mejaku.
Aku hanya bisa menarik nafas dalam, serasa oksigen baru masuk kembali ke rongga paru-paruku. karena tak menyangka di perusahaanku ada cowok sekeren itu. lama termenung Kemudian aku pun tersenyum, membayangkan hal-hal yang indah dengannya. dengan cepat aku menekan tombol telepon, untuk menghubungi resepsionis, agar menyuruh HRD perusahaan untuk menghadap.
Aku kembali duduk sambil menyandarkan tubuh ke kursi, mengingat kembali senyumnya, tutur sapanya, pria yang baru saja mengantarkan berkas. sehingga aku menunda pekerjaanku terlebih dahulu, demi menikmati khayalan itu.
Truk! truk! truk!
Pintu ruangan pun diketuk kembali, sehingga membuatku sedikit belingsatan, terbangun dari Lamunan Indah bersama pria yang bernama Ari.
"Masuk!" seruku yang sedikit merasa kesal, karena mengganggu khayalan Indahku.
Tak lama pintu pun di dorong, kemudian masuklah seorang pria paruh baya, yang kemarin menemuiku setelah acara rapat selesai.
"Maaf, Ibu memanggil saya?" tanya HRD perusahaanku, sambil manggut tanda menghormati atasannya.
"Iya, Silakan duduk!" seru ku menyambut pria itu dengan ramah.
__ADS_1
"Ada keperluan apa, Bu. Sehingga memanggil saya untuk menghadap?" tanya HRD perusahaanku setelah ia duduk di kursi yang ada di hadapanku.
"Bapak! sudah dapat, apa yang aku minta?" Tanyaku sambil menautkan tangan di hadapan muka, menatap tajam pria yang duduk di hadapanku. Menunjukkan taring Siapa orang yang paling berkuasa di perusahaan ini.
"Semua karyawan, sudah saya tanya. apa mereka mau tetap bergabung dengan perusahaan kita, ataupun mau pergi mengikuti Pak Dali. Namun mereka semua kompak menjawab, bahwa mereka masih mau terus bekerja di sini, karena mereka yakin, belum tentu ada perusahaan yang mau menerima mereka." jelas HRD panjang kali lebar.
"Terus tugas yang kedua, bagaimana?" aku bertanya kembali.
"Maaf, kalau itu. saya belum mendapat sekretaris yang cocok buat ibu, walaupun sudah ada beberapa orang yang melamar, namun saya lagi menyeleksinya, Siapa orang yang pantas untuk menjadi asisten Ibu. karena saya tidak ingin mengecewakan orang nomor satu di perusahaan ini." Jelas HRD sedikit mengakui tentang keberadaanku.
"Bagus! saya suka orang yang berloyalitas tinggi seperti bapak, semoga bapak tetap seperti itu!"
"Terima kasih, Bu!" atas kepercayaannya."
"Bapak tahu gak, dengan karyawan yang bernama Ari. yang ada di divisi perencanaan di bawah Pak Komarudin?" selidiku mulai mengorek tentang pria yang tadi mengantarkan berkas ke ruanganku.
"Tahu, Bu! kebetulan dulu saya yang menginterviewnya. Ketika dia melamar kerja di perusahaan ibu. dan Ari baru bekerja di sini selama 2 tahun, Setelah dia baru lulus SMA. Awalnya saya menolak, karena pendidikannya yang tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh perusahaan. namun Pak Arfan yang mengetahui keahlian anak itu, dengan cepat beliau menerima Ari sebagai karyawan dengan catatan dia harus tetap melanjutkan kuliahnya, walaupun sambil bekerja." jelas HRD tanpa ada yang ditutupi.
"Kalau Bapak, belum menemukan asisten yang cocok buat saya. Coba Tolong tanyakan sama dia, ap mau menjadi sekretaris saya! nanti kalau dia mau, saya akan naikkan gajinya dua kali lipat!" aku menjelaskan maksud dan tujuanku, Dengan beretorika terlebih dahulu.
Setelah mendengar permintaanku, HRD itu hanya menatap heran ke arahku. seolah dia tidak percaya dengan apa yang aku sampaikan.
"Kenapa? Bapak menatapnya seperti itu? Saya hanya ingin orang yang melayani saya adalah orang-orang yang berkompeten, yang giat tanpa malas. Saya sudah lihat Bagaimana kinerja Ari, setelah mengamati hasil kinerjanya." ucapku sambil menunjukkan berkas itu, mematahkan pikiran buruk orang yang ada di hadapanku.
"Baik Bu! maaf bukan maksud saya seperti itu, namun yang membuat saya kaget, takut merepotkan Ibu. karena dia harus belajar dari awal lagi." alasan HRD itu, sambil menundukkan pandangan.
"Iya, nggak apa-apa! Itu juga kalau dia mau, kalau nggak, ya sudah! Biarkan saja dia bekerja di bidangnya." ucapku seolah tak membutuhkannya, menyembunyikan semua kekagumanku terhadap pria yang bernama Ari.
"Baik bu! Nanti saya akan usahakan."
"Iya, namun kalau bapak masih mau menerima karyawan untuk sekretarisku, itu nggak apa-apa! untuk mengantisipasi Ari, ketika dia tidak bersedia menjadi sekretaris saya. Dan Kalaupun dia mau, jadi sekretaris saya. tetap harus mencari karyawan pengganti yang ditinggalkan oleh Ari."
"Baik, Siap saya akan laksanakan, semua yang jadi keinginan ibu, demi majunya Perusahaan kita."
"Ya sudah, Terima kasih! sudah membantu saya mengurus perusahaan ini. sekarang bapak boleh melanjutkan pekerjaan bapak kembali!" usirku.
HRD itu pun bangkit, kemudian manggut memberi hormat. lalu pergi keluar dari ruangan kerjaku. meninggalkanku yang kembali mengangkat sudut bibir, membayangkan hal-hal yang akan kulakukan dengan Ari. Yang sebentar lagi akan menjadi asisten pribadiku.
__ADS_1
Masalah berat yang menimpaku, mulai sedikit terurai. dengan kehadiran senyum seorang pria berkulit coklat berberewok tipis itu, sehingga Aku mempunyai alasan untuk menjadi lebih semangat, ketika dalam melakukan pekerjaan di kantor ini.