Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 80 UNIK


__ADS_3

Pov Arfan


"Iya! nggak apa-apa! Tapi lain kali ingat yang saya bilang ya. sudah sekarang nak Arfan mandi dulu, sebentar lagi azan maghrib berkumandang." seru Pak Umar sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia berpamitan sama aku dan Saipul, dia berpamitan hendak mengambil air wudhu terlebih dahulu.


"Bisanya hanya merepotkan orang lain saja!" ujar Karla sambil menatap sinis ke arahku.


"Maaf!" hanya kata itu yang keluar dari mulutku, tanpa berani menatap ke arah wajahnya, karena walau bagaimanapun akulah yang salah. Telah membuat semua orang merasa khawatir.


Setelah kepergian Pak Umar, Saiful pun mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Kemudian dia menyuruhku untuk membersihkan badan terlebih dahulu, untuk bersiap-siap karena sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. menurut penjelasannya sebaiknya kita datang lebih awal, Kalau bisa sebelum adzan berkumandang kita sudah berada di dalam masjid.


Seusai melaksanakan salat magrib dengan berjamaah, Seperti biasa akuikut belajar ngaji bersama anak-anak lainnya. terlihat wajah Karla yang sedikit berseri-seri, tak seperti kemarin yang selalu menekuk wajah itu. Entah Racun apa yang Ibu berikan sehingga dia terlihat sebahagia itu.


Selesai belajar ngaji, dilanjutkan dengan membaca bacaan salat barang-barang, kemudian salat Isya berjamaah. setelah selesai melaksanakan salat, aku diajak Pak Umar untuk makan malam bersama, terlihat Saiful pun sudah menunggu di teras rumah pak Umar, mungkin beliau juga sudah mengajak Saipul untuk makan malam bareng di rumahnya. Pak Umar mengundang kita karena menurut pengakuannya, Karla tadi sepulang dari kerja, dia membawa makanan yang sangat banyak. Makanan yang dibelikan oleh pemilik perusahaan.


Selesai makan malam bersama, seperti biasa aku melanjutkan pembelajaranku tentang penghafalan bacaan salat.


"Robbana lakalhamdu mil'us samawati wamil Ul arrdi wamil uma syi'ta wa Min syaiin ba'du" pelajaran salat malam itu. Benar sekarang penghapalan bacaan sholatku sudah sampai kepada bacaan i'tidal, yaitu bacaan setelah kita bangkit dari ruku.


Setelah menghafal bacaan salat itu, Karla yang biasanya dia diam di kamarnya. Namun malam itu dia menghampiri ,ikut mengobrol bersama kita.


"Nih Lu pakai! handphone bekas gua, jadi kalau lu mau pergi-pergi! lo bisa menghubungi gua terlebih dahulu." ujar Karla sambil memberikan handphone poliponik miliknya. Handphone yang tidak memiliki kamera.


"Gua nggak dikasih, La?" Tanya Saipul yang terlihat iri.


"Kan lu, sudah punya."


"Iya sih! Tapi kalau dikasih ya mau." ujar Saipul sambil tersenyum.


"Ya sudah! nanti kalau gua gajian, gua belikan handphone baru buat kamu tapi yang biasa-biasa aja ya! Menurut keterangan, gaji gua sekarang tiga kali lipat dari gaji biasanya. karena jabatan gua sekarang kan berbeda." Jawab Karla sambil menatap ke arah Saipul.


"Hahaha, gua cuma bercanda kok! lagian handphone gue masih bisa dipakai." jawab Saipul Sambil tertawa, menyembunyikan rasa tidak enak karena Karla menjawabnya dengan serius.


Aku mengambil handphone pemberian itu, lalu memperhatikannya dengan teliti, tak terasa sudut bibirku sedikit terangkat, karena di zaman secanggih sekarang masih ada handphone pengganjal dipan seperti ini.


"Lu jangan lihat handphonenya! tapi lihat kegunaannya." ujar Karla seolah tahu apa yang aku pikirkan.


"Enggak! Hatiku sangat senang karena aku akhirnya bisa memiliki handphone, Terima kasih ya, handphonenya!" ucapku yang tidak sesuai dengan hati, karena hatiku berkata. di zaman secanggih ini masih ada orang yang memakai handphone zaman Dinasti Ming.

__ADS_1


"Jangan bohong! mata dan bibir lu gak bisa berbohong." ujar Karla yang mendengus.


"Enggak! serius ini sangat bagus banget, terima kasih banyak ya!" ujarku merubah raut wajahku, menunjukkan raut bahagia, memang bahagia sih, karena dia memperhatikan aku sampai seperti ini.


"Di dalam handphone itu, ada nomor gua, Saipul dan Bapak. Jadi, kalau lu mau pergi, lu bisa menghubungi salah satu nomor itu! agar tidak membuat kita khawatir." ujar Karla memberitahu.


"Sekali lagi, terima kasih! aku tidak tahu harus membalas kalian dengan cara apa? kalian sangat baik terhadapku.


"Gampang! Lu tinggal nurut, tapi melihat gelagatmu yang seperti ini, Kayaknya lu orangnya susah diatur." Jawab Karla seperti biasa. Mungkin dia akan sakit kalau tidak menyudutkan ku.


"Sudah! sudah! Kalian kerjaannya ribut terus. Sekarang kalian tidur, Besok kan kalian kerja." usir Pak Umar menengahi kerebutan kecil itu.


Aku memasukkan handphone pemberian Karla ke dalam saku Koko, kemudian aku dan Saipul berpamitan untuk pulang ke rumah, karena memang benar apa yang diucapkan Pak Umar, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Waktu yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh, dari segala aktivitas.


"Emang lu! tadi dari mana?" tanya Saipul sambil melepas baju Kokonya, kemudian dia menggantungkan baju koko itu dipaku yang menempel di dinding rumahnya.


"Tadi, aku ketemu teman lamaku dari Pulogebang, namanya juga teman lama, jadi lupa pulang. keasikan mengobrol. Heheheh." Jawabku yang belum bisa jujur.


"Oh begitu, ya sudah ayo tidur!" ajak Saipul sambil masuk ke dalam kamarnya, Sedangkan aku biasa tidur di ruang tengah.


Sebelum tidur aku mengeluarkan handphone pemberian Karla, kemudian memperhatikan kembali handphone berwarna pink, berlayar Hitam Putih. di casing belakang terlihat ada stiker love yang ditempelkan. Merasa penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, aku mulai membuka aplikasi yang hanya itu-itu aja, aplikasi pesan, telepon, dan yang paling canggih adalah aplikasi game ular.


"Selamat malam, supervisor ku yang aneh." isi pesan itu lalu aku kirimkan ke nomor Karla.


Dretttt!


Handphone itu bergetar, menandakan ada pesan masuk. karena tadi aku sebelum membuka game ular, aku telah mensetting silent pengaturannya terlebih dahulu, agar tidak mengganggu Saipul yang sudah beristirahat. Dengan penasaran, aku membuka pesan yang baru masuk itu.


"Kurang ajar! Apanya yang aneh?" balasan dari pesan Karla.


"Ya aneh, lah! masa ngasih handphone, tapi tidak ngasih casannya, mau dicas pakai apa. Pakai hidung?" Tanyaku lewat pesan.


"Kebiasaan lu! dikasih hati pasti lu mintanya jantung. Ya sudah! besok gua bawa casannya."


"Terima kasih! Ibu supervisorku. Yang baik hati." Ketikan itu terhenti karena aku tidak menemukan emoticon tersenyum. Akhirnya aku hanya mengirimkan pesan tanpa emoticon.


Lama menunggu balasan, namun yang aku tunggu tak kunjung datang, dengan penasaran aku pun mengetikkan pesan kembali.

__ADS_1


"Kenapa nggak bales Ibu supervisor, Pulsanya habis ya? makanya punya HP jangan bagus-bagus, kalau nggak mampu beli pulsa!"


"Maaf Yang punya HP sudah tidur."


"Lah, terus ini siapa yang balas?:


"Bapaknya?"


"Maaf Pak Umar, kalau saya lancang. Kirain hp-nya masih dipegang Karla.


"Hahaha."


"Kenapa Kok tertawa?"


"Sudah tidur, ini dah malam. Lagian kamu bod0hnya gak ketulungan. mana mungkin bapak bisa membalas pesan lewat handphone seperti ini." jawab pesan itu membuatku mengeringitkan dahi.


"Kurang ajar! berarti dia mengerjaiku."  Gumamku dalam hati, karena setelah aku pikir-pikir, memang benar apa yang dikatakan oleh wanita aneh itu, mana mungkin Pak Umar bisa mengoperasikan HP yang dimiliki oleh anaknya.


*****


Keesokan paginya, Seperti biasa aku sudah siap-siap dengan seragam kerjaku. kemudian aku duduk di teras depan rumah Saipul, sambil menunggu Carla menjemputku untuk berangkat kerja bareng.


"Widih! semakin ke sini, lu semakin tampan aja Bro! bisa-bisa, gua kalah saing nih!" ujar Saiful yang baru keluar, dia juga sudah siap dengan seragam tempurnya.


"Maaf full! Aku normal, Lagian kalau aku nggak normal juga, aku pasti akan pilih-pilih lelaki mana, yang akan gua jadikan pilihan." jawabku membalas candaannya.


"Idiiiiih pedemu selangit Bos!" Ujar Saipul sambil menautkan bibirnya.


"hahaha, kenyataannya emang begitu full, kamu tidak bisa merubah takdir alam.


"Ngapain lu, masih di sini, Kenapa lu belum berangkat? Nanti dimarahin Bos loh!" tanya Saipul. seperti biasa sebelum berangkat dia akan membersihkan gerobaknya terlebih dahulu.


"Nunggu wanita aneh, nanti dia nyariin." jawabku melirik ke arah Gang menunggu kedatangan supervisor ku.


"lu manggil Karla, dengan sebutan wanita aneh terus, apa jangan-jangan lu suka lagi sama dia?" Ujar Saiful tiba-tiba seperti itu.


"Nggak lah Bro! kayak nggak ada cewek yang normal saja."

__ADS_1


"Gua cuma mau bilang, kalau lo suka sama Karla jaga dia baik-baik, karena dari dulu gua sering mengungkapkan perasaan tapi sering juga gua ditolak. Karla itu wanita yang sangat unik, hanya orang-orang yang berintuisi tinggi yang dapat memahaminya." Ujar Saiful yang menghentikan pekerjaannya. Dia berbicara sambil menatap ke arahku, menunjukkan apa yang disampaikan itu sangat serius.


__ADS_2