
Pov Arfan
Mendapat saran dari satpam rumah Ibu, aku pun cepat meraba-raba kantong baju koko, Namun sayang benda pipih itu tidak dapat aku temukan. aku terdiam sesaat mengingat-ingat Apakah aku membawa handphone atau tidak. Ternyata handphoneku tertingal dikamar.
"Aku nggak bawa handphone, kamu bawa nggak?"
"Nggak Pak! sama saya juga nggak bawa handphone, tadi pas Bapak ngajak saya kan buru-buru, jadi saya nggak kepikiran untuk mengambil handphone."
"Huh.....!" desahku membuang nafas merasa kesal dengan apa yang diminta oleh istriku.
"Bagaimana Pak?"
"Ya sudah, saya ambil Semua ukuran," jawabku memberi keputusan.
"Mau dari merek apa?" tanya perempuan kasir itu, membuatku semakin merasa bingung.
"Semua merk, Semua ukuran!"
"Ukuran kecil, apa jumbo?"
"Kecil, tapi komplit semuanya, nanti kalau sudah tahu saya balik lagi ke sini."
"Baik! mohon ditunggu sebentar!" Ujar kasir minimarket kemudian dia pergi menuju rak yang berbaris di dinding, untuk mengambil pesanan. aku dan Arman hanya saling menatap, merasa heran dengan perlengkapan perlengkapan wanita yang tidak dimengerti oleh akal.
"Ambil minum sana!" seruku sama Arman.
"Nggak ah, Pak! kalau rok0k saya mau," tawar Arman sambil mengulum senyum.
"Ya ambil aja!" jawabku sambil tetap berdiri di depan meja kasir, menunggu pesananku disiapkan.
Lama menunggu, akhirnya kasir itu pun datang kembali sambil memeluk beberapa pembalut yang ada di tangannya. kemudian dia kembali lagi untuk mengambil sisanya, lalu benda Rahasia Perempuan itu disimpan di atas meja.
Tanpa disuruh kasir minimarket itu, mulai mendekatkan pembalut ke scan barcode, mungkin mau menghitung total jumlahnya.
"Totalnya jadi Rp310.000, Apakah ada yang lain?"
"Rokok 1 Mbak!" pintaku.
"Rok0k apa?"
Ditanya seperti itu Aku hanya melirik ke arah Arman, untuk menjawab pertanyaan Mbak kasir. orang yang dilirikpun seolah mengerti, dengan cepat dia menyebutkan rok0k yang mau dihisapnya.
Setelah belanjaanku semuanya di total, dan aku sudah membayarnya. kasir minimarket itu mulai memasukkan pengaman saat wanita haid ke dalam kantong plastik, namun pembalut yang begitu banyak itu tidak cukup dengan satu kantong, sehingga dia mulai memasukkan ke kantong kantong Yang lainnya.
"Banyak amat!" gumamku setelah melihat beberapa kantong plastik yang ada di meja.
"Nggak apa-apa pak! Mungkin cukup sampai 10 tahun ke depan," jawab Arman meledek.
__ADS_1
"Sudah kamu Jangan meledek saya terus, mending kamu buka pintu! Saya mau keluar."
"Nggak apa-apa pak! Biar saya aja yang membawa."
"Enggak, ini punya istri saya, kamu nggak boleh megang-megang!" pintaku sambil mengambil kantong plastik yang sudah terisi penuh oleh pembalut, kemudian Arman setelah mendengar perintahku. dengan cepat dia membuka pintu minimarket.
Aku menyimpan semua belanjaanku di bagasi belakang, tak ada pembicaraan Antara Aku dan Arman. Setelah semua belanjaanku tersimpan rapi, Aku berlari menuju pintu kemudi. kemudian dengan cepat mengeluarkan mobilku dari halaman parkir minimarket, pergi menuju ke arah rumah.
Sesampainya di rumah, dengan cepat aku mengeluarkan semua barang belanjaanku yang ada 4 kantong plastik lalu membawanya masuk ke dalam rumah. terlihat di ruang tengah ibu dan Karla sedang menonton acara ceramah di televisi. ketika melihat kedatanganku mereka membulatkan mata seolah tidak percaya dengan apa yang aku bawa.
"Belanja apa kamu pagi-pagi Pan?" tanya ibu yang masih menatapku.
"Pembalut Bu!" jawabku malu-malu.
"Semuanya?" tanya ibu sambil mengkerlingkan mata menatap ke arahku.
"Iya Bu!"
"Hahaha," tawa Ibu menggelegar memenuhi ruang tengah, membuatku celingukkan tidak mengerti apa yang beliau maksud. "Buat apa banyak-banyak?" Lanjut Ibu setelah puas tertawa.
"Buat Karla Bu! saya nggak tahu ukurannya seperti apa."
"Makanya kalau disuruh belanja itu, tanya dulu yang benar. biar gak kebanyakan seperti itu," ujar Ibu masih tetap tertawa.
Karla yang melihat suaminya ditertawakan, dengan cepat dia pun bangkit lalu menggandengku. "Bu, Karla pamit dulu ke atas!" Pinta Karla sambil menarik lenganku menuju ke arah tangga. Tanpa menunggu jawaban dari ibu.
"Kenapa, kamu Marah ya? Maafin aku yah!" ujarku minta maaf karena masalah seperti ini aja aku tidak mengerti.
"Enggak aku yang salah! maafin aku karena menyuruh yang bukan tanggung jawab kakak," ujarnya sambil menundukkan pandangan membuatku tidak enak.
"Maksudnya?" Tanyaku sambil menatap lekat ke arah Istriku, yang masih berdiri sambil menundukkan pandangan.
"Aku nggak seharusnya menyuruh kakak untuk membeli pembalut, karena kalau barang-barang seperti ini, akulah yang seharusnya membeli sendiri, maafkan aku ya Kak!"
"Hehehe, kirain kenapa. Tadinya aku sudah takut kamu marah karena aku tidak bisa memenuhi kebutuhanmu, walaupun hal yang sepele seperti ini."
"Sekali lagi aku minta maaf, Aku janji..! aku tidak akan mengulangi permintaanku yang aneh-aneh seperti sekarang."
"Sudah jangan banyak pikiran. Mendingan sayang sana pakai! Nanti keburu rembes," jawabku sambil memberikan, menggeserkan semua kantong belanjaan
"Aku minta maaf ya! sekali lagi aku minta maaf," ujar Karla untuk kesekian kalinya.
"SUdah sana!"
Karla yang sudah beberapa kali disuruh akhirnya dia pun mengangguk kemudian dia mengambil kantong belanjaan yang kubawa. lalu memilah dan memilih pengaman mana yang biasa dia pakai.
"Oh itu yang kamu pakai!"
__ADS_1
"Iya tadi aku lupa bilang," ujarnya sambil menundukkan pandangan tergambar raut wajah yang tidak enak.
Aku hanya tersenyum, Kemudian menyuruhnya untuk memakai barang itu. istriku pun menurut dia masuk ke kamar mandi, tak lama dia pun keluar kemudian duduk di sampingku.
"Mau kopi, apa Teh?" tanyanya.
"Kopi boleh tuh!"
Mendapat jawaban dari suaminya dengan cepat Karla bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia keluar dari kamar kita, lama menunggu akhirnya istriku datang kembali sambil membawa kopi beserta pisang gorengĀ lalu disimpannya di atas meja.
"Kak!" panggilnya dengan lembut membuatku terngiang-ngiang, baru saja beberapa hari sifatnya udah terlihat berubah. sifatnya sekarang terlihat romantis, tak seperti biasanya yang sangat menyebalkan.
"Yah, kenapa sayang!" Jawabku sambil memasukkan goreng pisang ke mulut.
"Tadi ibu sudah bercerita banyak, tentang rencana kepergian kita ke Bogor. Namun aku belum menyampaikan kalau aku mau ke Sukabumi, lagian kalau ke Bogor sekarang Akunya kan lagi haid, nanti aku nggak bisa melayani Kakak sebagai suamiku."
"Oh begitu, ya sudah! nanti aku bilang sama ibu, kalau kita nggak jadi ke Bogor, kita jadinya ke Sukabumi."
"Iya! tapi nanti ya, kalau aku sudah nggak haid."
"Iya sayang!" jawabku sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, lalu mencium keningnya. kebahagiaan yang sempat menghilang, sekarang datang kembali Meski Bukan dengan orang yang sama.
Karla yang biasanya menyebalkan, jangankan dipeluk seperti itu, disentuh saja dia sudah akan melayangkan pukulan yang sangat menyakitkan. namun sekarang sifatnya 180 derajat berbeda dari biasanya, dia lebih manja seperti kucing yang sudah dipelihara sangat lama.
"Kak!" panggilnya sambil mendongakkan wajah menatap ke arah wajahku, sehingga membuat desiran-desiran aneh kembali mengalir ke tubuh.
"Iya kenapa sayang?"
"Nanti ke sananya hari Minggu aja! biar kita bisa ngajak anak-anak."
"Anak-anak siapa?"
"Pengajian!"
"Kan Acaranya berdua, nanti kita ke ganggu lagi."
"Sesekali boleh kali Kak, aku dari dulu sudah berencana mengadakan liburan bersama anak-anak, namun sampai sekarang rencana itu belum tercapai, Karena aku belum memiliki uang lebih."
Mendengar penuturan Istriku yang terlihat sangat menginginkan mengajak murid-murid pengajiannya untuk berlibur, membuat hatiku sedikit tersentuh. "Ya sudah tapi ajak Saiful juga, agar ada orang tua yang menjaga."
"Serius Kak?" Tanya Karla mata indahnya terlihat berbinar menatap ke arahku.
"Dua rius!"
"Terima kasih banyak Kak! terima kasih!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Karla, kemudian dia memeluk erat tubuhku seperti tidak mau kehilangan.
Akhirnya pagi itu, kita habiskan untuk mengobrol dan membahas rencana-rencana indah yang akan kita lalui ke depan bersama keluarga kecil sebagai kapal yang akan mengarungi bahtera rumah tangga, seperti yang diucapkan oleh pak Umar. hingga akhirnya obrolan ini terhenti sesaat sebelum waktu kantor dimulai. dengan cepat aku pun mandi, karena tidak ada urusan di rumah. aku memutuskan untuk masuk ke kantor mengontrol kinerja semua stafKu.
__ADS_1
Sebelum berangkat ke kantor, tak lupa aku menemui ibu terlebih dahulu, untuk menyampaikan keinginan Karla yang mau berbulan madu ke Sukabumi. Ibu Pun hanya tersenyum tanpa berani memaksa.