
Pov Farid
Setelah selesai membayar kopi yang kita minum, aku dan Dali pergi meninggalkan cafe yang berada di rumah sakit, kembali ke ruangan inap di mana bapak dirawat.
Sampainya di sana, terlihat Ira dan Vina mereka sedang mengobrol dengan penuh canda tawa, karena bapak terlihat sedang beristirahat.
Setelah Dali kembali mereka berdua pun berpamitan, untuk pulang ke rumahnya masing-masing. awalnya Ira memintaku untuk menginap menemani Bapak. namun aku tolak, karena merasa tidak enak kalau harus merepotkan atasan seperti itu, lagian dia juga punya ibu yang harus dijaga. sehingga akhirnya Dali dan Ira memintaku tetap mengabari kondisi bapak agar mereka tidak terlalu khawatir.
Selesai berpamitan mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang inap, sambil diselingi obrolan-obrolan ringan yang membuat Mereka terlihat layaknya seorang pasangan. namun prasangka itu aku buang jauh-jauh, lagian bukan urusanku, mungkin mereka memang sudah akrab dari dulu.
Seperginya Dali dan Ira. Aku dan Vina saling menatap mungkin kita berdua memiliki prasangka yang sama, namun tidak membahasnya.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Vina memecah heningnya suasana.
"Belum...., soalnya tadi di cafe kita hanya ngopi, Kamu sudah makan apa belum?"
"Belum juga...! tapi nanti saja ya, Aku mau menyuapi Bapak dulu, kebetulan makanan pemberian rumah sakit sudah datang. kamu makan dulu aja, nanti setelah makan Tolong kamu pulang ke rumah, ambil pakaianku dan ambil peralatan mandi kita, soalnya tubuhku terasa tidak enak karena belum menyentuh air."
"Mending kita makan dulu, nanti setelah makan baru kamu menyuapi bapak."
"Gak Papa! Kamu makan duluan saja, soalnya tadi sebelum berangkat aku makan bakso terlebih dahulu, jadi belum terlalu lapar."
"Ya sudah, kalau seperti itu!"
Akhirnya aku pun membuka bungkusan pemberian dari Dali, terlihat ayam bakar bersama nasi putih yang terlihat sangat pulen, membuat tenggorokanku naik turun ingin segera merasakan kenikmatan nasi itu. Sedangkan Vina Dia bangkit dari tempat duduknya kemudian mengambil makanan pemberian Rumah Sakit buat bapak, lalu dengan telaten dia mulai menyuapi bapak yang terlihat enggan seperti menolak.
Selesai makan, aku merapikan bekas makanku ke tempat sampah, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan inap. terlihat bapak yang sedang berbaring Sehabis makan karena Vina sedang berada di kamar mandi.
"Bapak....! jangan membuat hati Vina sakit, kalau Vina sampai mengadu ada perkataan bapak yang menyakitinya. maka aku tidak akan segan-senggan memutus tali persaudaraan kita, memutus hubungan antara anak dan bapak." ancamku dengan menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Bapak hanya membuka mata sebentar, kemudian menyunggingkan senyum sinis ke arahku. mungkin perkataanku memang sudah tak dianggap olehnya. kalau tidak berpikir ulang mungkin aku sudah pergi meninggalkannya sendirian.
"Sudah selesai makannya?" tanya Vina yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah Vin..!' jawabku yang menghampiri.
"Kalau sudah selesai makan Tolong kamu pulang ke rumah dan ambil pakaian serta alat-alat mandi kita, kayaknya kita akan menginap di sini. Apalagi Bapak mau dipasang ring nanti malam," ujar Vina.
"Emang nggak apa-apa, kamu sendirian di sini?"
"Nggak apa-apa Rid! Aku kan udah dewasa, aku sedikit banyak mengetahui tentang cara mengurus orang yang sedang dirawat di rumah sakit."
"Ya sudah kalau seperti itu, Aku pulang dulu sekalian ganti baju."
"Yah hati-hati di jalan!"
"Kamu juga hati-hati di sini, kalau kamu mendapat perlakuan tidak enak dari bapak. kamu jangan segan-senggan bilang sama aku, karena orang tua ini kalau tidak kita kasih pelajaran, Mungkin dia akan terus semena-mena memperlakukan kita." nasehatku sama Vina dengan menaikkan sedikit intonasi suara, agar perkataanku didengar oleh Bapak.
"Tapi kalau aku bekerja, kamu nanti sendirian."
"Iya nggak apa-apa, lihat besok saja. kalau bapak tidak membutuhkan perawatan yang ekstra, kamu boleh kerja. nggak enak kalau kita menyia-nyiakan pertolongan orang sebaik Pak Arfan dan Pak Dali," ujar Vina yang selalu mengingatkan.
Akhirnya aku pun pergi meninggalkan ruang inap, untuk kembali ke rumah, mengambil Apa yang dibutuhkan untuk menginap di rumah sakit. kira-kira pukul 18.30 aku sudah kembali ke rumah sakit, namun mataku menangkap ada suatu keanehan yang berada di ruang inap karena Arfan bersama istrinya sudah ada di situ.
Ketika mereka melihat kedatanganku, Arfan pun menyambut dengan senyum kemudian memelukku begitu erat dan mengucapkan berbela sungkawa atas kejadian yang menimpa bapak.
"Pak Farid harus sabar... Bapak harus tetap kuat! Anggap saja ini cobaan ketika Bapak mau menaiki derajat yang lebih tinggi," menasehat Arfan yang semakin ke sini semakin terlihat berwibawa.
"Baik Pak, tapi kenapa bapak repot-repot ke sini, karena menurut Pak Dali bapak sedang sibuk."
__ADS_1
"Gak Repot kok Pak Farid! tadi saya ngajak Dali, dianya yang menolak, karena menurutnya ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. mungkin nanti malam atau besok sebelum bekerja Pak Dali baru ke sini," jelas Arfan membuatku mengerutkan dahi, karena baru saja dali menjenguk bapak yang datang dengan Ira.
MeLihat ada keanehan yang tertangkap dengan indraku, aku tidak melanjutkan membahas. soal Ira dan Dali biarkan itu menjadi urusan mereka dan rahasia mereka. namun aku semakin yakin bahwa mereka memiliki hubungan yang tak biasa.
"Oh begitu....! Terima kasih Bapak sudah mau menjenguk orang tua saya," ujarku sambil mengajak Arfan untuk duduk di sofa karena tak pantas ketika kita mrngobrol sambil berdiri. sedangkan Vina bersama Bu Karla mereka terlihat asyik mengobrol, walaupun karla terlihat jutek namun dia mudah berbaur dengan orang lain.
"Ini kejadiannya seperti apa kok bapak bisa masuk rumah sakit?" tanya Arfan yang mulai membahas pokok permasalahan.
Aku Pun menerangkan kenapa bapak masuk ke rumah sakit dan kondisinya sekarang. hingga Arfan terlihat manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang aku sampaikan.
"Oh begitu, kasihan banget ya, kalau harus dipasang ring jantung," tanggap Arfan setelah mendengar ceritaku.
"Yah mau bagaimana lagi pak, ini buat kesembuhannya karena menurut keterangan tidak ada cara lain selain dipasangkan ring."
"kalau Pak Farid butuh sesuatu, Tolong bilang sama saya, atau sama Pak Dali. Insya Allah saya akan membantu sebisa saya, semampu saya."
"Terima kasih banyak Pak atas tawarannya namun untuk sekarang Insya Allah saya masih bisa menghandle semua kebutuhan bapak yang sedang dirawat, tapi entah kedepannya. sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ujarku yang tidak tahu harus berkata apa lagi karena kebaikan Arfan sungguh luar biasa, bak malaikat yang sedang mengepakkan sayap.
Akhirnya kita pun terlarut dalam urutan obrolan ringan seputar masalah yang sedang aku hadapi yang di dalamnya Arfan terus menawarkan bantuan, agar aku tidak malu ketika aku meminta pertolongannya.
Pintu ruang kamar pun diketuk, kemudian masuklah beberapa perawat yang membawa ranjang transfer pasien, mungkin Bapak mau dilakukan pemasangan ring jantung sekarang.
Aku dan Arfan pun membantu memindahkan tubuh Bapak keranjang transfer, setelah pindah ranjang itu didorong menuju ke ruangan operasi, namun menurut keterangan sekarang untuk pemasangan ring tidak harus melakukan bedah, melainkan menggunakan selang yang masukkan melalui pergelangan tangan. Aku pun tidak tahu persis yang seperti apa namun yang jelas sekarang tidak harus melakukan pembedahan di atas dada.
Sesampainya Di ruang operasi, kita berdua pun disuruh menunggu di luar, sedangkan bapak dibawa masuk ke dalam ruangan.
"Pak Farid...!" Panggil Arfan.
"Yah, kenapa Pak?" tanyaku sambil menghadap.
__ADS_1
"Sehubung waktu sebentar lagi mau Isya, saya izin pulang dulu. Saya doakan agar Pak Gufron diberikan keselamatan dalam operasinya, dan dia disehatkan seperti hari-hari sebelumnya."