
Pov Arfan
Setelah selesai makan, aku pun merapikan bungkusnya. kemudian membawanya ke dapur, untuk dibuang sekalian mengambil minum.
Mataku yang terus memindai ruangan dapur, yang nampak begitu sederhana. karena hanya dibatasi oleh dinding-dinding triplek. namun ada satu hal yang menarik perhatianku. di dinding triplek itu tergantung tongkat ketiak, perlahan aku mendekati tongkat itu. kemudian mengambilnya, lalu aku coba pasangkan ke ketiakku.
"Sopan nggak sih, kalau aku pinjam tongkat ini, untuk belajar berjalan." ujarku sambil terus memperhatikan kembali tongkat ketiak yang ada di tanganku.
"Nggak, kali! Pak Umar kan orangnya baik, masa pinjam tongkat saja, dia marah. ninggalin dan meminjamkan rumahnya, untuk aku tinggali, dia tidak marah." pikirku sambil mengenakan tongkat itu ke ketiak, kemudian aku mencoba berjalan. menggunakannya menuju Kembali ke tempat tidur.
Aku Hanya berdiam diri, tanpa melakukan apapun. merasa bosan, aku pun kembali mengambil tongkat itu, lalu dengan perlahan berjalan menuju arah luar rumah.
Dengan hati-hati, aku mulai membiasakan menggunakan tongkat itu. agar kakiku bisa sembuh dengan cepat, aku terus mengitari halaman rumah, yang tak terlalu luas. namun cukup untuk melatihku, agar segera cepat bisa berjalan.
Latihanku terhenti, sesaat sebelum azan ashar berkumandang. perlahan aku pun mulai kembali masuk ke dalam rumah, untuk mengambil air wudhu. kemudian berjalan mencari mushola untuk melaksanakan salat asar berjamaah pertamaku.
Tak susah mencari, karena ternyata mushola itu hanya terhalang beberapa rumah dari rumah pak Umar. aku ikut salat berjamaah, dengan duduk karena kakiku belum bisa digerakan. setelah selesai salat dilanjutkan dengan membaca tasbih, Tahmid dan istighfar. kemudian diakhiri dengan berdoa. setelah selesai berdoa, para warga yang mengikuti salat berjamaah, mereka saling bermushafahah, aku pun mengikuti apa yang menjadi Kegiatan warga Kampung sini.
Kemudian para warga pun kembali ke rumah masing-masing, sama sepertiku yang kembali ke rumah pak Umar. namun aku tak berdiam diri di rumah, aku terus melatih langkahku agar cepat sembuh. Aku tidak mau terlalu lama merepotkan keluarga Pak Umar, aku terus melatih kakiku, meski ketiakku sudah terasa sangat sakit menahan beban tubuhku.
Kira-kira pukul 17.00, terlihat Saipul menghampiri dengan menggunakan pakaian yang rapi.
"Assalamualaikum!" sapanya sambil tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam! pulang dari mana? Kayaknya rapi bener?" tanyaku yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
"Emang nggak boleh ya, gua berpakaian rapi?" tanyanya sambil memicingkan mata.
"Hehehe! Bukan begitu Bro, ya kan keluar dari kebiasaan." jawabku sambil tertawa kecil.
"Gua baru pulang nemenin Pak Umar di rumah sakit, namun Dia menyuruh gua pulang, untuk menemani lu." jelas saiful.
"Kenapa pulang? aku bisa kok, di sini sendiri." jawabku yang merasa tidak enak.
"Kaya yang nggak tahu Pak Umar saja seperti apa. Mana mungkin gua bisa menolak permintaannya." jelasnya sambil berjalan mendekati teras yang terbuat dari bambu. teras rumah pak Umar, kemudian ia duduk sambil menarik napas dalam, seperti sedang menghadapi masalah yang begitu berat.
Melihat Saiful duduk, aku pun dengan perlahan mendekatinya, kemudian ikut Duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaan karla?" Tanyaku yang merasa khawatir dengan kondisi gadis aneh itu.
"Sekarang dia sudah siuman, namun masih trauma dengan kejadian yang menimpanya."
"Trauma kenapa?" Tanyaku sambil menautkan alis.
__ADS_1
"Dia mau diperkosa oleh atasannya. kurang ajar banget! kalau gua ketemu tuh orang, gua nggak akan kasih ampun." ujar Saiful sambil mengepalkan tangan kanan, kemudian ditinjukkan ke telapak tangan kiri.
"Kok? perasaan Bos ATRI grup seorang perempuan." jelasku
"Tahu, dari mana?" tanya saiful sambil menatap lekat ke arahku.
"Tahu, mungkin saja begitu." jawabku tergagap.
"Entahlah! gua juga nggak tahu sebenarnya yang terjadi, cuma dia mau diperkosa di tempat kerjanya." jelas Saiful.
"Sudah bikin laporan ke pihak yang berwajib?"
"Gimana mau laporan, fan! kalau orang kecil yang melaporkan pasti tidak akan ditanggapi, kecuali viral terlebih dahulu."
"Iya, laporkan! laporkan saja! Diproses atau tidaknya itu urusan mereka."
"Susah! Lagian kita tidak tahu cara membuat laporan ke pihak yang berwajib itu seperti apa, tadi juga aku sudah membahasnya dengan Pak Umar dan Karla. namun Mereka menerima semua yang terjadi adalah cobaan. Karena Mereka takut kesalahan itu malah berbalik kepada diri sendiri, apalagi menurut keterangannya, dia sempat menghajar pria itu sampai tak sadarkan diri." jelas Saiful panjang kali lebar.
"Keren amat, hebat!" ujarku yang semakin kagum terhadap wanita aneh itu.
"Justru itu yang jadi masalahnya, kita sekarang memikirkan Bagaimana caranya Kita terbebas dari segala tuntutan. aku yakin pria itu akan menuntut Karla, karena mereka merasa di atas angin." ujar Saiful.
Mendengar penuturannya, aku pun hanya menghela napas sambil berpikir bagaimana cara menyelamatkan Karla dan mendapatkan keadilan atas semua yang menimpanya.
"Udah, tadi aku dikasih makan oleh ibu Narti, ternyata warga sini baik-baik semua ya, Ful." jawabku menjelaskan.
"Syukurlah! kalau sudah makan, Alhamdulillah warga sini semuanya kompak, karena kita satu rasa, ketika ada seseorang yang merasakan sakit, maka semua harus merasakan sakit yang diderita orang itu." jawab Saiful.
"Berarti warga sini kompak banget ya?"
"Yah begitulah! kira-kira. Oh ya, Gua mau mandi dulu, lu mau ikut mandi nggak, kalau mau mandi ayo bareng dirumah gua." ajak Saiful.
"Emang gue cowok Apakah? sampai harus mandi bareng segala!" Jawabku.
"Maksudnya bukan begitu, tapi lu mau mandi di rumah gua, apa kagak. Apa mau mandi di sini saja?" jelas Saipul sambil mendelik.
"Emang bolleh ikut mandi di rumah kamu?"
"Makanya gua ajak lu! itu berarti boleh."
"Ya sudah! aku ikut mandi di rumah kamu saja, nggak enak kalau mandi di sini, takut mengganggu barang Karla." jelasku.
"ayo!" ujar Saipul sambil bangkit.
__ADS_1
Melihat Saiful bangkit dari tempat dudukny, dengan dibantu tongkat, aku pun ikut berdiri. kemudian dengan perlahan kita berdua berjalan menuju rumahnya Saipul. tak lama berjalan, karena hanya terhalang empat rumah, kita sudah sampai di depan rumah milik Saiful.
Rumah yang terbuat dari triplek, dengan atap seng yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan. di depan rumah Saiful, terlihat Banyak sampah plastik. yang mungkin baru ia kumpulkan.
"Assalamualaikum!" Ujar Saiful sambil membuka kunci pintu rumahnya.
Tak Ada Jawaban dari dalam rumah, membuatku merasa heran, kenapa dia mengucapkan salam seperti itu.
"Kenapa berdiri? Ayo masuk!" ajak Saiful.
"Kamu mengucapkan salam, Padahal di rumah nggak ada siapa-siapa, terus kamu di sini tinggal sama siapa?" aku bertanya mengungkapkan semua rasa penasaranku.
"Ya nggak apa-apa! salam itu sunat. walaupun di rumah tidak ada siapa-siapa, karena yang akan menjawab salam kita, adalah makhluk Allah yang lebih mulia daripada manusia, yaitu para malaikat." jelas Saiful.
"Oh begitu! terus ke mana orang-orang rumah?" aku bertanya kembali.
"Aku tinggal di sini sendirian, orang tuaku sudah nggak ada." Jelas Saiful yang terlihat matanya mengembun.
"Maaf Kalau pertanyaanku, membuat kamu sedih."
"Enggak lah! hahaha. ngapain gua sedih, gua udah terbiasa hidup sendiri. ya sudah, buruan masuk! Anggap saja rumah sendiri." jelas Saiful.
"Nanti, aku boleh menjual rumah kamu full?"
"Maksudnya?"
"Katanya anggap aja rumah sendiri, berarti aku boleh ngapa-ngapain dong, di rumah kamu ini, di jual juga nggak apa-apakan!"
"Oh! hahaha. bercanda Ya, maksudnya. tapi dingin kayak kulkas." jelas Saipul.
"Jadi gimana boleh nggak dijual rumahnya?"
"Jual saja! orang gua nggak tahu, tanahnya milik siapa." jelas Saiful sambil berlalu masuk ke kamar, yang terbuat dari triplek. kemudian dia keluar kembali sambil membawa handuk.
"Nih handuknya! sorry agak dekil, maklumlah gua cowok." ujar Saiful.
"Gak Papa! yang penting gak ada kumannya." jelasku sambil menyunggingkan senyum.
"Mau siapa dulu yang mandi, lu apa gua?" tanya Saipul.
"Aku Aja dulu, nggak enak badanku lengket, setelah tadi berusaha belajar berjalan." aku meminta izin melakukan mandi terlebih dahulu.
"Ya sudah! kalau begitu. ayo aku antar ke kamar mandi." Ujar Saiful sambil berjalan menuju ke arah dapur, kemudian dia membuka tirai penutup kamar mandi. "Nih! ini toiletnya." ujar Saiful.
__ADS_1
Aku pun mengangguk, kemudian masuk ke dalam toilet yang hanya tertutup oleh gorden, yang terbuat dari sarung bekas. terlihat di dalamnya ada bak dengan air yang sedikit menguning, tidak jernih seperti di rumahku. kemudian aku memperhatikan peralatan mandi, yang dimiliki oleh Saipul. yang hanya memiliki sabun, sama sikat gigi dan odol. tidak ada sampo ataupun perawatan yang lainnya.