
Pov Arfan
"Assalamualaikum!" Aku mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam! Silakan masuk!" jawab Pak Umar mempersilahkanku, untuk ikut gabung bersama mereka.
"Wah! kayaknya makan besar nih." ujarku Yang ngiler melihat makanan yang tersaji di atas karpet plastik yang sebagian sablonnya sudah mulai mengelupas.
"Alhamdulillah! keluarga saya sudah diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan. saya tahdus binikmat dengan apa yang diberikan oleh Allah kepada keluarga saya. selain Karla sudah pulih dari luka yang diderita, dia juga sekarang sudah diangkat menjadi supervisor di perusahaan, tempat dia bekerja. menggantikan posisi kosong setelah ditinggal oleh atasannya. karena ditahan di balik jeruji besi, mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ucap pak Umar, Kemudian beliau memimpin doa. mulai dari Tahmid, tasbih, serta dzikir. setelah selesai berdoa akhirnya Kami berempat makan dengan lauk pauk yang begitu banyak, selain sop yang tadi padi diceritakan oleh karla ketika ada di rumah Saiful. ada juga Ayam goreng dan ikan goreng, membuatku dan Saiful menambah nasi beberapa kali, walaupun yang punya rumah sudah selesai dari tadi.
"Maaf, Pak! Saipul laper banget, katanya." ujarku yang tersenyum merasa malu, ketika hendak menambah nasi.
"Nggak apa-apa! habiskan saja nasinya! biar nanti Karla masak lagi." ujar Pak Umar.
"Jangan dikasih hati Pak! nanti dia minta jantung lagi." Timpal Karla yang selalu seperti itu.
"Hush! Kamu nggak boleh ngomong seperti itu. ayo nambah jangan dengarkan ucapan anak saya. Nak Arfan juga udah paham kan dengan sikapnya."
"Iya pak! aku anggap angin lalu saja!" ujarku sambil terus menghabiskan sisa makanan yang ada di piringku.
Saipul yang dari tadi hanya menyimak, dia hanya tersenyum tanpa berbicara. dia tidak terganggu dengan keadaan sekitar, Dia sedang asyik di dunianya sendiri, menghayati makanan yang ada di piringnya.
Setelah selesai makan, seperti biasa Karla pun merapikan sisa makanan dan piring-piring kotor, kemudian dia naik ke lantai atas. sedangkan aku, pak Umar dan Saipul kita duduk sambil menikmati sebatang rok0k, benar semenjak aku tinggal di sini, aku mulai terbiasa dengan kebiasaan warga-warga di sini, Sehabis makan kalau tidak ada benda berasap, Rasanya ada yang kurang. seperti kita ber4k dengan ceb0k menggunakan tisu.
Sebatang rok0k pun sudah habis, menyisakan puntung yang tersimpan dalam asbak. aku dan saipul berpamitan ingin melanjutkan pekerjaan kita. menurut Saiful waktu masih siang, jadi kita bisa mengumpulkan barang lebih banyak, agar hasilnya juga lebih banyak.
Setelah sampai di rumah Saiful dengan bergegas kita berdua mengganti pakaian, dengan pakaian kerja kita. kemudian berangkat lagi mengais rezeki,dari tempat sampah satu ke tempat sampah yang lainnya. mencari barang yang bisa kami jual dan ditukarkan dengan makanan untuk terus bertahan hidup.
Pukul 16.00. aku dan Saipul sudah pulang dari tempat kerja. dengan cepat kita berdua membersihkan badan, kemudian menuju ke masjid untuk melaksanakan salat asar berjamaah. setelah selesai melaksanakan salat, kita pun merapikan hasil kerjaan kita. sambil menunggu waktu azan maghrib berkumandang.
Selesai melaksanakan salat magrib berjamaah, aku seperti rencana awal, Yang ingin belajar mengaji dan belajar ilmu agama kepada Pak Umar. aku sudah duduk di lantai bawah rumah pak Umar, bergabung dengan anak-anak kecil lainnya yang riuh. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menggunjingkanku, serta mencandaiku. karena sudah Setua Ini aku baru belajar ngaji. Namun itu tidak mematahkan semangatku, karena tekadku sudah bulat, ingin berubah menjadi lebih baik.
"Kamu belajar ngaji untuk tahap awal sama Karla, nanti kalau sudah paham Iqro. baru belajar tajwid sama Bapak!" seru Pak Umar memberikan arahan.
Aku hanya mengangguk, dan ikut mengantri dengan anak-anak berusia 6 tahun, dan yang lainnya. menunggu giliran untuk Belajar Alquran tahap awal.
Lama menunggu akhirnya tiba giliranku, aku pun bergeser menghadap duduk di hadapan Karla sebagai Guruku.
"Buka iqro-nya!" serunya yang terlihat sangat berbeda, ketika dia tidak sedang mengajar.
__ADS_1
Aku pun mengangguk, kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh karla.
"Kamu sudah tahu, huruf hijaiyah yang jumlahnya 28?" tanya Karla mungkin dia sedang mengukur sejauh mana kemampuanku, dalam mengetahui huruf-huruf Alquran.
"Hafal! namun lupa?"
"Ya sudah coba kamu baca yang ini!" ujar Karla sambil membukakan halaman terakhir dari Iqro pertama. kemudian dia mengetes pengetahuanku tentang huruf-huruf hijaiyah. dan Alhamdulillah aku pun masih ingat, karena dulu ibu suka meleskanku kepada Ustaz setempat. namun ketika membaca iqro kedua, aku mulai kesulitan. karena di situ hurufnya mulai disatukan, sehingga aku tidak paham.
Setelah mengetahui kemampuanku, tentang membaca huruf-huruf Alquran, karla pun mulai menjelaskan halaman demi halaman Iqro kedua. aku terus memperhatikan apa yang diajarkannya. agar tidak ada yang terlewat, dan bisa cepat mengerti tentang tata cara membaca Alquran.
Setelah selesai belajar mengaji Alquran. kami semua para murid pengajian yang ada di rumah pak Umar, Mulai menghafal bacaan-bacaan salat. dipimpin oleh murid yang paling besar. setelah selesai, baru kami semua pergi ke masjid, untuk melaksanakan salat Isya berjamaah.
Aku mulai membiasakan diri, hidup dengan anak-anak kecil, yang selalu riang. Yang kehidupany hidupnya dipenuhi dengan canda tawa, sehingga memberikan suasana baik dalam kehidupanku.
Selesai melaksanakan salat, karla pun berdiri di depan pintu masjid, Kemudian ia membagikan uang kepada para murid-muridnya.
"Bu Karla baik banget! terima kasih, ya!" ujar salah seorang murid yang dikasih uang oleh karla
"Doakan Ibu! agar selalu diberi kesehatan, dan kelancaran rezeki agar bisa terus berbagi kepada kalian." jawab karla sambil tersenyum lepas, membuatnya terlihat semakin manis. berbeda ketika dia meledekku yang sangat menyebalkan.
"Kamu sudah tua! Ngapain ikut ngantri? masih mau uang receh seperti ini?" tanya Carla ketika tiba giliranku.
"Nih, jangan boros!" ujar karla sambil memberikan uang lembaran Rp10.000.
"Siap bu guru!" ujarku sambil tersenyum kemudian keluar dari masjid.
"Ayo kita jajan!" ajak seorang anak ke anak yang lain.
"Jajan apa?"
"Sosis bakar! di rumah Bu Dedeh." jawab anak yang mengajak tadi.
"Ayo!" jawab yang lain serempak, akhirnya mereka pun berlalu, sambil terus bercanda. sama seperti anak-anak pada umumnya.
"Belum pulang nak Arfan?" tanya Pak Umar yang baru keluar dari masjid yanh diikuti oleh anaknya.
"Saya ingin belajar bacaan salat Pak! Masa saya kalah sama anak kecil, boleh nggak saya ikut menulis bacaan itu." jawabku menyampaikan maksudku.
"Boleh, Ya sudah! ayo masuk!" ajak Pak Umar.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Pak!" jawabku yang merasa senang.
Akhirnya Kami bertiga pun masuk ke dalam rumahnya. aku duduk di karpet plastik menunggu Pak Umar selesai mengganti baju. tak lama menunggu, akhirnya pak Umar pun turun dari lantai atas diikuti oleh anaknya. kemudian menghampiriku. sedangkan karl dia pergi ke dapur, tak lama dia pun datang sambil membawa makanan sisa tadi siang.
"Kita makan dulu! nanti setelah makan, baru kita mulai." ajak Pak Umar yang membuatku sedikit malu, karena aku terus merepotkan keluarganya. terfokus ingin belajar, sehingga aku sampai lupa bahwa selesai melaksanakan salat Isya, adalah waktunya mereka makan malam.
"Maaf, Pak! nanti saja saya datang ke sini lagi!" ucapku yang merasa tidak enak.
"Gak boleh nolak rezeki, dosa tahu! mungkin ini udah rezeki kita semua. ayo makan!" ujar Pak Umar sambil mengisi piring dengan nasi, Kemudian beliau menyimpannya di hadapanku.
"Iya! pakai malu-malu segala! kamu pura-pura kan ingin belajar bacaan salat, padahal ingin Numpang Makan enak." Timpal Karla yang kembali ke mode pabrik, dia mulai menyebalkan.
"Sudah jadi dengarkan! Ayo kita berdoa! Dan Kalau lagi makan, tidak boleh mengobrol!" jawab Pak Umar yang sudah tahu sifat anaknya.
Lagi asik makan malam, terdengar di luar ada orang yang mengucapkan salam. setelah menjawab salamnya, masuklah Saiful sambil tersenyum, menyapa Kami bertiga.
"Ayo makan full!" ajak Pak Umar.
"Sudah Pak! saya sudah makan. Saya datang ke sini, karena Arfan belum pulang, takut terjadi apa-apa!" jawab Saiful sambil duduk.
"Karla! Tolong ambilkan piring, buat saiful!"
"Ngambil sendiri saja, sih! Kan dia sudah biasa pak!"
"Karlaaaa!" ucap pak Umar sambil menatap tajam ke arah anaknya.
"Nggak usah, Pak! beneran Saya sudah makan, kalau saya belum, pasti Bapak tidak harus mengulang tawaran." ujar Saipul yang merasa tidak enak.
Namun Walau begitu, Karla tetap bangkit, kemudian dia menuju ke dapur. tak lama dia pun kembali, dengan membawa satu piring kosong, lalu menyimpannya di hadapan Saiful.
"Ayo makan!" tawar Pak Umar.
"Sudah Pak! terima kasih ." jawab Saiful Teguh dengan pendiriannya.
Setelah mendapat jawaban dari Saiful, Pak Umar pun melanjutkan kembali makan malamnya. sampai akhirnya makan malam itu selesai. etelah selesai makan malam seperti biasa Karla akan merapikan bekas makan kami, serta membuatkan kopi. kemudian dia naik ke lantai atas rumahnya. sedangkan aku, Saiful dan Pak Umar. duduk mengobrol sambil ditemani sebatang rok0k.
"Kapan saya, mulai belajar bacaan salat Pak?" aku mulai membahas tujuanku.
"Nak Arfan, bawa buku dan pensil?"
__ADS_1