Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 94 kemana saiful?


__ADS_3

Pov Arfan


"Sudah Saiful, Kenapa kamu memukul Arfan tanpa sebab?" tanya Pak Umar sambil terus memegang tangan Saiful.


"Kurang ajar banget dia pak! Gua sudah bilang beberapa kali sama dia! kalau sanpai dia membuat karla menangis, maka gualah orang yang pertama yang akan menghajarnya! saya tidak salah, karena saya sudah mengingatkannya beberapa kali."


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Pak Umar sambil menatap anaknya.


"Anu pak, eee, emmm, eeee." jawab Karla yang terlihat gugup.


"Ya sudah kalian jangan berantem! kalian cepat masuk ke rumah, lalu mandi! sebentar lagi azan maghrib berkumandang." seru pak Umar sambil membagi tatapan tajam ke arahku dan ke arah Saiful.


"Ayo bangun!" ajak Saiful sambil mengulurkan tangan yang terlihat cuek seolah tanpa dosa


"Kenapa kamu mukul saya?" Tanyaku setelah bangkit.


"Kenapa kamu bikin Carla menangis?"


"Aku nggak tahu kenapa dia menangis? emang orangnya cengeng saja!" mendengar jawaban seperti itu, Saiful melayangkan kembali pukulannya namun Karla yang dari tadi berada di samping Saiful, dengan cepat tangan itu ditahan.


plak!


Satu tamparan Karla daratkan ke arah pipi Saiful. "kamu kayak bocah mainnya main pukul! emang gua akan simpati sama orang yang ringan tangan. sekarang lu tahu kan kenapa gua nggak suka sama lu dari dulu, karena sikapmu yang tempramental."  Bentak Karla.


"Kamu tega La! kamu tega menamparku, hanya membela pria yang baru kamu kenal."


"Sudah kalian kayak anak kecil saja, kenapa bisa seperti ini sih?" Dengus pak Umar yang terlihat kesal karena melihat pertengkaran itu.


"Maafkan saya pak! kalau saya ada salah, jujur saya nggak tahu kenapa Karla menangis."


"Kamu nangis kenapa Karla?" tanya Pak Umar sambil menatap ke arah anaknya.


"Nanti pak! Sesampainya di rumah Karla akan jelaskan, nggak enak kalau di sini." dengan berat hati Karla memberikan jawaban.


"Ya Sudah! buruan kalian siap-siap! kalau kalian masih ribut jangan kenal lagi sama saya." ancam Pak Umar yang terlihat tegas, membuat aku dan Saiful menundukkan pandangan.


"SUdah buruan, Ngapain masih diam?"


"Aku masuk dulu Pak!" Jawabku yang terkaget karena baru pertama melihat Pak Umar semarah itu, ketika hendak aku mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya, Pak Umar menepis itu. Membuatku semakin merasa bersalah tanpa tahu kesalahannya apa. dengan menundukkan pandangan aku masuk ke rumah Saiful.


"Kamu masih belum bisa merubah sikap kamu yang temperamental, yang mengambil satu keputusan tanpa dipikir terlebih dahulu. saya malu kenal sama kamu!"  terdengar suara Karla yang mengingatkan.

__ADS_1


Tanpa berbicara Saiful pun masuk ke dalam rumah langsung menuju kamar tidur. entah mau apa, aku tak peduli. rasa kesal yang memenuhi hati membuatku enggan menyapanya.


Terdengar suara Pak Umar dan Karla yang meninggalkan teras rumah Saiful, mungkin mereka hendak pulang ke rumahnya. melihat Saipul yang tak kunjung keluar lagi dari kamar. aku pun memutuskan untuk mengambil air wudhu, karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.


Selesai mengambil air wudhu Saiful masih tak terlihat. merasa tidak penting memikirkannya aku segera memakai baju koko ku dan menutup kepala dengan peci. kemudian berangkat menuju ke arah mushola.


Setelah selesai salat magrib, seperti biasa aku belajar ngaji sama supervisorku. setelah isya aku pulang ke rumah saiful terlebih dahulu. karena kalau menunggu Pak Umar pulang, aku malu, karena sering ditawari makan malam. Makanya sekarang aku lebih memilih diam dulu di rumah Saiful, setelah kira-kira mereka selesai makan baru aku datang ke rumahnya untuk belajar salat.


"Assalamualaikum!" ujarku sambil membuka pintu rumah Saiful, namun tidak ada jawaban.


Walau tidak mendapat jawaban, aku tetap masuk ke rumah Saiful kemudian merapikan baju koko serta peciku ke paku yang sudah disiapkan.


"Saiful!" panggilku yang tak merasa dendam sedikitpun, perlakuannya tadi hanya secuil kalau dibandingkan dengan kebaikannya yang begitu besar. Emosiku sudah mulai mereda karena mungkin pertengkaran akan selalu ada dalam warna persahabatan.


Namun setelah aku memanggil beberapa kali, Saiful tetap tidak menjawab. "Aku nggak marah kok Pul! kebaikanmu kalau dibandingkan dengan nyawaku itu tidak sebanding, kalau kamu belum puas kamu boleh memukulku lagi." Ujarku sambil menatap ke arah pintu kamar yang tertutup gorden kain.


Merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Saiful di dalam kamarnya, aku coba menyingkap gorden penutup kamar Syaiful dengan perlahan, namun setelah gorden itu terbuka aku tidak melihat siapapun di sana.


"Ke mana dia?" tanyaku yang merasa khawatir karena tak seperti biasanya Saiful keluar dari rumah malam-malam. dia lebih sering menemaniku belajar bacaan salat kepada Pak Umar.


Setelah yakin bahwa Saiful tidak ada di kamarnya. aku berjalan menuju toilet berharap orang itu ada di sana, Namun sayang, Yang dicari tidak ada di dalam. Setelah yakin Saipul tidak ada di rumah. pikiranku mulai kacau, rasa khawatir mulai menghampiri, karena baru kali ini Saipul pergi keluar malam.


"Assalamualaikum!" Sapa sama kedua orang yang berada di Tengah rumah.


"Waalaikumsalam!" Dugaanku ternyata salah karena Pak Umar dan Karla mereka masih makan malam.


"Maaf mengganggu!"


"Nggak papa! ayo makan!" tawar Pak Umar sambil bangkit dari tempat duduknya, Namun Karla menahan, seolah tahu dengan apa yang dimaksud oleh orang tuanya. Ia pun pergi ke dapur untuk mengambil piring.


"Saya tadi sudah makan Pak! nggak usah repot-repot!" Tolakku sebelum Karla beranjak dari tempat duduknya. namun seperti biasa dia tidak akan menghiraukan penolakan itu, dia tetap pergi mengambil piring lalu menyimpannya di hadapanku.


"Gak boleh nolak rezeki, dosa!" tegas Pak Umar


"Terima kasih Pak! Namun Benar saya sudah makan."


"Apa kamu jijik dengan makanan kami, kamu kan orang kaya?" Tanya karla membuatku mengerinyitkan dahi.


"Maksudnya?


"Ayo makan! Jangan didengerin ucapan anak saya." ujar Pak Umar sambil mengisi piring yang tadi Karla ambil, lalu mengisinya dengan nasi. Kemudian menyimpan kembali di hadapanku.

__ADS_1


"Makan orang kaya!" seru Karla yang membuat aku semakin merasa aneh.


Mendengar ucapan Karla dengan terpaksa aku mengambil nasi yang ada di hadapanku, kemudian mulai melahapnya.


Selesai makan seperti biasa Karla akan naik ke lantai atas rumahnya  sedangkan aku dan Pak Umar duduk di lantai bawah, tempat biasa dijadikan oleh anak-anak belajar mengaji.


"Saiful nggak ada di rumah Pak?" Aku menyampaikan kekhawatiranku.


"Kok bisa! kemana?"


"Nggak tahu! Saya khawatir dia marah sama saya."


"Biarkan saja! nanti juga kembali, Mungkin dia butuh waktu untuk merenung." jawab Pak Umar yang Mungkin beliau sudah paham dengan sikap Syaiful.


"Nggak akan terjadi apa-apa Pak, sama dia?"


"Nggak! Lagian dia kan laki-laki. Ya sudah ayo mulai belajar salatnya, nanti setelah belajar Saya ingin berbicara dengan nak Arfan!"


"Berbicara apa Pak?" Tanyaku yang merasa heran.


"Ayo! ambil bukunya biar saya Tuliskan terlebih dahulu bacaannya." seru Pak Umar yang tak menghiraukan pertanyaanku.


Aku hanya manggut kemudian masuk ke dalam kamar yang biasa dijadikan tempat penyimpanan Alquran. mengambil apa yang diminta oleh Guruku, kemudian kembali ke hadapannya


Tanpa ada pertanyaan lagi Pak Umar pun mulai menulis bacaan salat, selanjutnya setelah tulisan itu selesai, Aku disuruh membacanya sampai lancar. karena menurut Pak Umar ketika menghafal kalau bacaannya belum benar, maka itu hanya sia-sia saja.


Setelah bacaanku lancar, Pak Umar biasanya akan menerangkan tata cara penggunaan bacaan yang baru saja aku pelajari, namun berbeda untuk malam ini dia tidak membahas itu.


"Maaf nak Arfan bapak boleh bertanya?"


"Boleh tentang apa? Oh iya, bapak sudah tahu kenapa Karla tadi menangis.


"Sudah! makanya Bapak ingin mengobrol serius dengan Nak Arfan. Bapak tidak ingin ada kebohongan sedikitpun, bukan apa-apa Bapak berbicara seperti ini. karena ini menyangkut keselamatan anak bapak yang sangat bapak sayangi, harta saya satu-satunya.


Mendengar penuturan Guruku, Aku hanya bisa mengerutkan dahi, karena tidak mengerti dengan apa yang hendak beliau sampaikan.


"Tadi sore sepulang kerja. Karla diancam oleh seorang wanita yang menurut keterangan wanita itu bernama Erni. Apa nak Arfan kenal dengan wanita itu?" tanya Pak Umar dengan perlahan Namun terdengar tegas.


"Ancaman seperti apa yang Karla dapatkan?" aku balik bertanya, karena merasa kesal dengan tingkah wanita itu. Entah Apa maksudnya sehingga dia melayangkan ancaman.


"Pertanyaannya bukan seperti itu! tolong jawab! apa Nak Arfan, kenal dengan wanita bernama Erni?"

__ADS_1


__ADS_2